
"Fuuuh."
Rein menghembuskan napasnya. Ia tekah berhasil, namun kekuatan Angin, tepatnya mana berwarna abu-abu putih itu tidak tenang dalam tubuh Rein.
"Heh, tidak terlalu buruk." Ucap Rein melihat panel hologram itu.
"Namun, mana-mana itu terus bergerak tak tentu arah." Rein mengernyitkan dahinya merasakan mana Angin itu.
Hal ini tidak dijelaskan oleh Pak Hynra dalam petunjuknya.
"Karena ini mana dalam tubuhku, aku akan berusaha mengendalikannya."
Rein memejamkan matanya lagi. Sekarang ia ingin mengendalikan Mana Anginnnya itu.
Ia sudah bisa merasakan mananya. Sekarang, mana miliknya berwarna abu-abu putih. Perlahan, ia mengumpulkan mana itu di satu titik. Tepat di samping jantungnya, atau di tengah dadanya.
Ia mengumpulkan mana yang tak terkendali itu. Lalu dengan paksa menggerakkan mereka.
"Uhuk!"
Seteguk darah keluar dari mulut Rein. Namun ia tak terlalu peduli.
Perlahan, mana-mana itu berderak. Membentuk sebuah pusaran. Yang bergerak semakin cepat setiap detiknya.
Mana-mana itu terus berputar. Dan semakin lama, pusarannya terlihat semakin kecil. Namun semakin cepat dan semakin padat.
Pusaran itu berhenti mengecil setelah menjadi sebesar bola pingpong. Dan putarannya sekarang telah melambat.
Seluruh proses ini terjadi sangat lama, sekitar setengah jam lebih.
Merasa kalau mananya sudah tenang dan terkendali, Rein membuka matanya. Perasaannya lebih baik sekarang.
"Ah, tidak sia-sia aku menghabiskan waktuku mengendalikannya." Rein tentu senang dengan tambahan INT gratis itu.
"Karena ini Elemen pertamaku, aku harus terbiasa terlebih dahulu dengan perubahan jenis mana ini. Setelah itu, baru aku menyerap kekuatan Elemen kedua.
Aku akan melakukannya nanti sore saja."
Rein ingin berdiri. Ia sudah duduk dalam posisi bersila cukup lama.
Tubuhnya terasa agak nyeri. Namun setelah meregangkan tubuhnya, rasa nyeri itu berkurang.
Rein melihat jam di panel utamanya. "Sudah jam 5 pagi, aku harus keliar dari game dan bersiap ke kampus."
Rein keluar dari ruangan itu dan turun melewati tangga. Pak Hynra yang melihatnya langsung memeriksa mana Rein.
"Oh, kau sudah mendapatkan.... Eh?! Kau sudah dapat mengendalikannya?" Pak Hynra heran. Mana dalam tubuh Rein sudah terkumpul dalam satu titik. Artinya ia sidah mengendalikannya.
'Padahal aku kira ia akan meminta petunjuk untuk melakukannya seperti orang pada umumnya. Tidak kusangka ia bisa melakukannya sendirian.' pikir Pak Hynra melihat mana Rein berbentuk bola sempurna.
"Ehh, ya. Apa itu aneh?" Jawab Rein canggung.
Pak Hynra menggelengkan kepalanya. "Cukup. Tapi tidak terlalu. Selanat mendapatkan Elemen pertamamu, Rein."
"Ya, sama-sama Pak."
"Kalau kau turun sekarang.... Artinya kau tidak berencana melanjutkan penyerapan Elemen hari ini ya?"
"Ya, aku ada urusan sedikit di luar desa." Rein berjalan ke arah pintu keluar.
"Aah, aku mengerti. Kalau kau masih ingin menggunakan ruangan itu, datang saja lagi."
"Baik, terimakasih atas tawarannya Pak. Sampai jumpa lagi." Ucap Rein sebelum menutup pintu toko Pak Hynra.
*Cling
*Cklek
Pintu toko tertutup.
Omong-omong, jika kalian bertanya tentang Aksha, dia sedang tidak bersama Rein. Aksha berkeliling desa sambil mencari makanannya, yaitu dedaunan.
Rein tak melarangnya sama sekali. Lagipula, level Aksha sekarang adalah 4. Tak ada yang bisa menyerangnya selain penduduk desa. Dan penduduk desa tidak akan menyerangnya, selama Aksha masih dalam bentuk penyamarannya sebagai ular cahaya yang tidak berbahaya.
Rein segera berjalan ke sebuah gang. Atau tepatnya, lorong sempit diantara toko-toko yang berjejer di sana.
Setelah sampai, Rein langsung log-out dari Ainhra Online.
---
Ryn membuka matanya dan melepaskan Avera Gear.
"Pengalaman yang luar biasa. Tak mengherankan game ini dan Avera Gear laku keras."
Ryn sangat kagum dengan kemampuan Avera Gear. Perangkat Full Dive biasa tak dapat memproyeksikan hal seperti itu. Tepatnya, batuk yang mengeluarkan darah. Juga mensimulasikan ada hal yang berputar dalam tubuh.
Ryn meletakkan Avera Gear ke atas meja yang ada di samping tempat tidurnya. Lalu mengambil ponselnya yang ada di saku celana.
'Jam 5:03. Masih ada 1 jam 57 menit lagi. Tapi aku bersiap sekarang saja. Dengan begitu aku dapat membuat sarapan.'
Ia meletakkan ponselnya itu dia atas meja, tepat disamping Avera Gearnya. Lalu ia beranjak dari tempat tidurnya. Mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
---
Ryn telah memakai pakaian biasa. Kemeja biru dengan celana panjang putih. Sangat basic namun terlihat rapi dan tidak berlebihan.
Setelah memakai pakaiannya, Rein kekuar menuju dapur. Pagi ini dia ingin memasak nasi goreng.
Tak membutuhkan waktu lama untuk melakukannya. Hanya sekitar 15 menit. Selesai memasak, ia langsung memakannya.
Ryn gosok gigi terlebih dahulu sebelum kekuar dari apartemennya. Setelah itu baru dia memakai parfum dan kaos kaki.
Ryn mengambil ponselnya dari atas meja kecil. Lalu mengambil kartu e-moneynya dari dalam laci meja kecil itu.
"Oh iya! Aku sampai lupa akan hal itu!" Ryn mengambil sebuah flashdisk dari laci meja kecilnya. Iapun mengambil laptopnya dari dalam lemari.
Yah, zaman di mana Ryn tinggal adalah masa depan. Buku kertas sudah jarang dijumpai pada masa ini.
Tanpa menunda waktu ia langsung keluar dari apartemennya.
---
Pukul 13:00
Ryn telah kembali dari kampusnya. Hari ini ada 2 kelas yang harus ia jalani. Dan setiap kelasnya berdurasi 2 jam setengah. Karena dia tak mau repot bolak balik apartemen, dia menyelesaikan skripsinya saja di taman kampus saat menunggu kelas selanjutnya.
Ia melakukan hal itu demi cepat menyelesaikan kuliahnya.
Ryn melepaskan sepatunya. Lalu berjalan menuju kamarnya.
Ia meletakkan flashdisk dan kartu e-moneynya. Setelah itu meletakkan laptopnya dalam lemari.
Rein melepaskan kaos kakinya dan melempariannya ke keranjang baju kotor. Setelah itu ia langsung merebahkan dirinya di atas kasur.
"Wah, lelahnya. Kasur memang tempat terbaik."
Walaupun jadwalnya dia pilih dengan anjuran dosen, tetap saja itu melelahkan. Apalagi, selama satu semester ini ia harus serius.
CV? Ia telah membuatnya dua semester yang lalu. Kalau magang, ia sudah melakukannya juga di sebuah perusahaan swasta. Sedangkan nilainya, jangan ditanya, ia adalah salah satu yang terbaik.
Ia berdiam diri di sana selama beberapa menit. Sebelum ponselnya berbunyi, tanda notifikasi chat.
*Ting!
DosPem
Bapak ada waktu besok jam 8-an. Datang aja langsung ke ruangan bapak.
"? Aku kira akan lama sebelum DosPem itu ada waktu. Baguslah."
Ryn menjawabnya demgan pesan singkat.
Ryn
Oke pak
Setelah itu dia mengambil kembali laptopnya dan flashdisknya. Ia ingin memeriksa kembali skripsi yang telah ia kerjakan.
Sebenarnya, dia telah membuat skripsinya sejak tiga semester yang lalu. Bahkan saat dia masuh anggota organisasi kampus. Sudah sangat banyak judul dan revisi ia lalui, karena ia tak puas dengan hasilnya.
Setelah puas dengan sebagian besar isi skripsinya, Ryn memberanikan diri untuk kerja part time di sebuah cafe. Debgan begitu, ia bisa lebih santai di semester akhir ini.
Dan kalian tau kelanjutannya, ia kecelakaan. Saat dirawat di rumah sakit, ia masih mengerjakan skripsinya juga. Hingga akhirnya ia menyelesaikan hal itu hari ini.
Ryn memeriksa file skripsinya dengan teliti. Ia tak mau ada satupun typo atau kesalahan. Ia tak mau merevisi ulang skripsi yang telah ia kerjakan.
"Typo.... Typo.... Ugh, ada banyak typo juga ya."
Sambil ia mengecek, ia juga mengetik perbaikannya.
Setelah kurang lebih satu jam lamanya, Ryn selesai berkutat dengan laptopnya. "Bagus! Aku puas dengan hasilnya. Semoga dosenku baik dan membiarkanku tenang di semester akhir."
Ryn meng-save as file itu di dalam laptopnya. Juga meng-save filenya di flashdisk. Selain itu, ia mengirimkan file itu ke ponselnya. Supaya kalau salah satu perangkatnya rusak, ia masih ada yang lain.
Selesai memeriksa skripsinya, Ryn pergi keluar apartemen.
Lalu membeli sebuah tab kosong. Benda itu adalah pengganti kertas skripsi pada zaman Ryn.
Tab itu hanya bisa diisi satu file. Harganya juga terjangkau, hanya 35.000 per-tab.
Ia langsung mengisi tab itu dengan file skripsinya. Dan meletakkannya di dalam laci meja kecilnya.
"Sekarang sudah jam 2 siang. Aku masih ada banyak waktu luang hingga jam 8. Huh, kegiatan seperti ini juga termasuk olahraga bukan? Olahraga mental."
Ryn masuk ke dalam kamarnya. Lalu berbaring dan log-in ke dalam Ainhra Online.
---
*Zeet
Rein muncul di gang yang sama temlat ia log-out.
"Desa ini selalu terlihat hidup." Ucapnya keluar dari gang itu.
"Ssss!"
"Oh? Aksha? Kau kembali? Puas berkeliling desa ini?"
"Ss! Sssss!"
"Baguslah." Rein mengelus kepala ular kecilnya itu. Kemudian Aksha melilit tangan kiri Rein lagi, seperti biasa.
Rein pergi ke sebuah penginapan. "Fairy Inn" nama penginapan itu. Satu-satunya penginapan di Desa Gres.
Rein masuk ke dalam dan langsung memesan kamar lada resepsionisnya.
"Saya ingin memesan sebuah kamar untuk 3 hari dua malam." Ucap Rein lada resepsionis itu.
"Biayanya 1 koin emas tuan. Satu hari satu malam harganya 40 koin perak. Sudah termasuk biaya sarapan dan makan malam."
Rein menyerahkan sekeping koin emas. Resepsionis itu langsung mengambil sebuah kunci dari laci meja resepsionisnya.
"Ini kunci anda, kamar anda no. 17. Di lantai 2."
"Baik, terimakasih. Untuk hari ini tidak usah antar makan malam."
"Baik, akan saya beritahukan pada karyawan dapur."
Rein mengambil kunci itu dan langsung pergi ke lantai dua.
"15.... 16.... Ini dia kamar no. 17."
Rein membuka kunci kamar itu dan masuk ke dalamnya.
Di sana terdapat sebuah kasur single size, sebuah lemari panjang, sebuah kursi, lampu kamar, dan sebuah karpet merah di lantainya.
"Sss!"
"Ada apa Aksha?"
"Sssss sss ssssss, sss ssssss sssss ssssss." (Tempat itu (karpet) terlihat nyaman. Aku ingin tidur di sana.)
"Ooh baiklah lakukan apa yang kau mau. Namun tolong jangan menggangguku selama 6 jam."
"SSSS SSS!" (SIAP BOS!)
Aksha melepaskan tangan Rein dan langsung melingkar di atas karpet merah itu. Rein hanya bisa menggelengkan kepalanya. Aksha memang suka dengan permukaan yang lembut, alias fluffy.
Rein mengunci pintunya. Laku duduk bersila si atas kasur. Kali ini ia mau menyerap Elemen lain lagi.
'Baiklah, karena aku sudah menguasai Elemen Angin, Elemen lainnya akan lebih mudah. Karena Elemen Angin adalah Elemen yang memiliki hubungan tinggi dengan Elemen lainnya.' pikirnya, lalu meletakkan Elemental Rune di depannya.