Ainhra Online

Ainhra Online
Snakeu #7 (LAST)



Ular transparan itu menahan rasa sakit dari salep yang ku oleskan. Namun dengan salep ini, setidaknya efek dari luka yang ada di kepalanya.


Yah, aku membuatnya karena iseng. Dimensi ini memiliki banyak tanaman. Herb Leaf adalah salah satunya. Jadi ku buat saja bubuk.


(Cara : Keringkan dengan cara dijemur -> tumbuk hingga menjadi bubuk super halus dengan batu atau bisa juga dengan pisau tajam kalau niat -> campurkan sedikit air)


(A/N : Saya hanya membuat berdasarkan khayalan. Jadi tolong jangan dianggap serius :')


"Sudah selesai. Setidaknya rasa sakitnya berkurang, kan?" Kataku kepadanya.


Luka yang ada di kepala ular itu sudah tertutupi sepenuhnya dengan salep. Dan ekspresi si ular juga membaik.


Ular itu menoleh ke celah yang sudah menjadi lubang besar. "Ssssss!" Desisnya, seperti memanggil sesuatu.


Seekor ular kecil sepanjang tangan orang dewasa muncul. Dia juga transparan, sama seperti ular yang tadi. Ular kecil itu mendekati ular besar dan menggosokkan badannya ke tubuh ular besar. Lalu mereka seeakan membicarakan sesuatu.


Setelah itu si ular besar kembali melihat ke arahku. "Ssss, ssss?"




"Kau... Kakaknya? Dan kau ingin aku memeliharanya?" Tanyaku.


Ular itu mengangguk.


"Tapi, Apakah tidak apa-apa? Maksudku... Bukankah kau bisa lebih menjaganya dari pada aku?"


"Ya, namun adikku memiliki kepribadian yang ceria. Serta selalu ingin melihat dunia luar. Mungkin, dengan dia bersamamu, dia dapat melakukannya. Kalau bersamaku, hal tersebut tidaklah mungkin." Telepati ular itu.


'Eh, Telepati? Skill Telepati? Wah hebat sekali...' pikirku. Karena aku baru pertama kali merasakan 'ditelepati'.


"Baiklah. Jika itu yang kau inginkan, ehm, ular besar?"


"Namaku Sharen. Panggil saja Sharen. Adikku bernama Aksha."


"Baiklah, Sharen."


Sharen menoleh ke adiknya. Lalu ia memberi isyarat agar adik kecilnya itu mendekatiku. Lalu dia menelepatiku lagi. "Teteskan darahmu pada Rune yang ada di atas kepalanya. Lalu beri ia nama panggilan."


Aku mengangguk. Ular kecil, Aksha, memunculkan sebuah Rune diatas kepalanya. Aku mengambil pedangku. Untuk mengeluarkan 'darah' dari tubuh virtual, harus disayat dengan perlahan.



"Hmm, namamu Aksha kan kalau tidak salah... Aku tak pandai membuat nama. Jadi aku akan memanggilmu Aksha saja."



"Namamu Rein bukan? Jagalah Aksha dengan baik. Kau adakah satu-satunya orang yang tidak takut dengan kami. Bahkan menolongku, walau kau tau aku bisa menyerangmu."


"Ahh... Bukan apa-apa."


Sejujurnya, aku tak merasakan nafsu membunuh dari Sharen. Dia mungkin hanya ingin mengusirku dari gua. Tapi dia terluka tadi, aku cuma refleks membantunya.


Rein POV End.


Flashback end~


"Aksha, kau bisa keluar sekarang."


Seekor ular transparan keluar dari lengan kiri baju Rein. Ular itu memiliki panjang kira-kira 60 cm. Dia melilit tangan kiri Rein.


"Ssssss!"


Rein mengelus kepala Aksha. Ular kecil itu sudah tumbuh semenjak dia bersama Rein.


Rein masuk ke dalam gubuk pelan-pelan. Di dalam gubuk tak ada kristal cahaya, membuat tempat itu gelap. Untungnya Rein bersama Aksha. Tubuh Aksha dapat digunakan sebagai pencahayaan.


Di dalamnya terdapat sebuah rak buku, sebuah kursi, meja, kasur, serta sebuah peti harta.


Rein berjalan ke arah meja dan kursi. Dia mengusap meja itu dengan jarinya. Hingga terdapat banyak debu di jarinya sekarang.


"Tempat ini sudah ditinggalkan cukup lama." Gumamnya.


Di atas meja terdapat sebuah amlop yang tertutup debu. Rein langsung mengambilnya. Lalu ia membersihkan amlop itu dengan cara dikibaskan.


Rein memperhatikan amlop itu dengan seksama. Seperti amplop pada abad pertengahan. Berbentuk seperti amlop biasa dengan segel lilin. Di segel lilin itu terdapat lambang pohon rindang dan simbol yang tidak diketahui oleh Rein.


Rein membolak-balik amplop tersebut. Tak ada tulisan lainnya.


"Aksha, bisakah kau turun sebentar dari tanganku? Aku ingin membuka amlop ini."


Aksha mengangguk. Dia melepaskan lilitannya pada tangan kiri Rein dan melata di atas meja.


Rein membuka amlop itu. Terdapat selembar surat dan sebuah medali di dalamnya. Rein mengambil suratnya dan membacanya.



12/6/178 penanggalan Ev, Kerajaan Eglian, Benua Kryna.


Saat kalian, siapapun, membaca surat ini, seharusnya aku sudah berada dalam peti mati hitam itu. Kepada engkau yang membaca, ku harap negrimu selalu aman dan damai.


Surat ini ku tulis untuk memberitahukan kalian, para pemuda, tentang kenyataan Kerajaan Eglian. Kerajaan Elf yang terakhir. Tanah air tempat aku mengabdi dan mati.


Kerajaan Eglian, tidak di serang oleh kerajaan lain. Bukan pula hancur karena serangan monster dan bencana alam. Melainkan perang saudara antara 3 klan penguasa.


Sejarah telah diubah oleh seseorang. Sedikit demi sedikit, kegelapan mengambil alih kekuasaan di dunia ini. Membuat cahaya palsu dari bayangan. Mengubah sihir yang murni menjadi racun bagi penggunanya.


Semua bangsa telah dimasukinya. Tanpa terkecuali. Dia menghancurkan bangsa-bangsa yang ada dengan menanamkan bibit kegelapan dalam hati orang-orang.


Kalau tidak dihentikan secepatnya, kegelapan itu akan berakar dan tumbuh dengan pesat.


Aku telah meninggalkan medali Kerajaan dan buku-bukuku dalam gubuk ini. Aku harap, semua hal yang aku tinggalkan ini jatuh ke tangan yang tepat.


~ Grand Magus, Alexander D. Xyriam.







Rein membaca surat itu dengan seksama. Di sisi lain, Aksha, tidak mengerti apa yang ada di surat itu.


Rein diam, tak berkomentar apapun tentang surat itu. Dia sedang mencerna seluruh isi surat itu. Segala informasi yang terdapat di dalamnya membuat kepalanya pusing.


'Ugh... Grand Magus? Alasan keruntuhan kerajaan-kerajaan lama? Kegelapan yang tumbuh?' kepalanya berdenyut. Dia sungguh tidak percaya dengan isi surat yang ia pegang itu.


'Hal seperti ini pasti ada kaitan dengan Quest Utama nantinya. Sesuatu kata seperti 'Kegelapan' tampak terlalu 'besar' untuk tingkat Quest biasa.' pikirnya.


Aksha yang ada di atas meja kebingungan melihat Rein yang tampak kesakitan entah kenapa.


Setelah dirinya selesai mencerna total isi surat itu. Dia memasukkannya ke dalam storage. Lalu dia mengambil medali yang ada di dalam amplop.


Medali itu terlihat kotor. Rein memilih untuk memasukkannya ke storage juga sebelum membersihkannya di danau saat ia kembali nanti.


Rein melihat daftar storagenya. Terdapat beberapa jenis batu, Herb, pedangnya, surat, dan medali di dalamnya. Untuk sementara, item-item ini akan aman. Setidaknya selama fitur storage masih ada.


Rein berbalik badan dan berjalan menuju rak buka yang ada di sana. Ia memasukkan semua buku yang ada ke dalam storagenya. Karena buku-buku itu telah 'diwariskan' kepadanya, ia mengambilnya tanpa ragu.


Aksha masih ada di atas meja. Dia memainkan amplop kosong yang Rein tinggalkan.


Rein kemudian beralih ke peti yang ada di dalam rumah itu. Peti itu bukanlah peti mati. Melainkan seperti peti harta. Yang aneh, peti itu tidak memiliki lubang kunci dan tidak bisa di buka.


'Sepertinya disegel dengan sihir, aku akan membawa petinya langsung saja.'


Rein menaruh peti itu ke dalam storagenya. Lalu ia memanggil Aksha yang ada di atas meja. "Aksha, ayo pu- Aksha!"


Aksha yang ada di atas meja memakan kertas amplop itu. Rein segera menghentikannya untuk memakan habis sampai segel lilinnya juga.


"Aksha, jangan makan kertas ini. Sayuran yang ada di luar lebih enak. Ayo, kita harus kembali."


Aksha melihat Rein dengan kebingungan. Namun akhirnya dia masuk kembali ke lengan baju tangan kiri Rein.


Rein berjalan keluar dari gubuk tersebut. Namun tiba-tiba, tanah tempat ia berdiri bergetar hebat. Rein baru sadar, di dekat gubuk tersebut terdapat batu besar tertancap di tanah.


Batu itu mulai menunjukkan rupa aslinya. Yang tadinya hanyalah sebuah batu besar biasa, kini menjadi ular besar sepanjang kira-kira 15 m. Dengan kepala yang berdiri tegak dan mata kuning besarnya, ia menatap Rein dengan intens.


Lidah ular itu menjulur keluar. "SSSSSSSSSSS."


Getaran yang tadi sudah tidak terasa lagi. Sekarang hanya ada hawa mencekam dari makhluk besar berkulit keras ini.


Nama Monster : Stone Skin Giant Anaconda (15.5 m)


Level : 20


HP : 20000


ATK : 3000


DEFF : 1000


Rein mengeluh dalam hatinya. 'Status macam apa itu?!'


Dia bergerak mundur. Namun ekor ular besar itu menghancurkan gubuk tadi. Rein terjatuh, tersandung papan kayu yang berasal dari gubuk yang hancur.


"Ugh, " gumamnya. Tangannya kini menggenggam pedang.


Ular itu mendekati Rein. Awalnya kulit ular itu terlihat seperti batu biasa. Namun, batu itu retak. Memperlihatkan sisik-sisik ular hitam dengan motif yang indah.


"Hm? Kau membawa anaknya bersamamu?" Telepati ular itu ke Rein.


Rein menelan ludahnya. Namun dia tetap bergaram berdiri. Lalu ia menjawab dengan agak gugup. "Apa maksudmu? Tuan anaconda yang terhormat?"


"Engkau membawa seekor ular transparan, bukan? Elf kecil."


Rein menjadi waspada. Ular besar ini mengetahui keberadaan Aksha. "Benar. Saya membawa teman saya, Aksha."


Rein mengulurkan tangan kirinya. Aksha keluar dari lengan bajunya, namun masih melilit tangannya. Aksha tidak tampak gemetar, apakagi ketakutan. Dia hanya menundukkan kepalanya, tanda penghormatan kepada sang Anaconda.


"Aksha... Kau mengikuti Elf kecil ini? Kenapa?"


Aksha mendesis kepada sang Anaconda. Seakan ia sedang menjelaskan sesuatu. Tapi yang jelas, Rein tidak mengerti sama sekali.


"Oooh, seperti itu... Kalau begitu aku tak memiliki alasan untuk membunuh Elf kecil ini."


Aksha mengangguk, membenarkan perkataan sang Anaconda. Perkataan itu juga membuat Rein lega. Namun stelah itu Aksha kembali mendesis ke Anaconda itu.


"Huh? Kau yakin?" Ucap sang Anaconda setelah mendengar desisan Aksha.


Aksha mengangguk antusias. Lalu dia turun dari tangan Rein. Rein yang melihat kelakuan Aksha kebingungan.


"Aksha? Kenapa kau turun?" Tanya Rein


"Sebenarnya aku bisa membiarkanmu untuk keluar tanpa perlawanan. Namun Aksha ingin melihat pertarungan yang seru. Jadi, kita tetap akan bertarung. Kau bisa membunuhku, namun aku tak perlu membunuhmu. Bagaimana?"


"Hah? Apakah tidak apa-apa kalau aku membunuhmu?"


"Tidak apa-apa. Aku akan spawn lagi, haha. Kalian tidak spawn lagi, kan?"


"Ahahaha."


'Monster dalam dungeon alalagi dalam dimensi ini sepertinya kurang update...' pikirnya. Para pemain kan tidak akan mati selamanya dalam game ini.


"Ah, tapi, tidak ada batasan penggunaan item dan skill kan?"


"Tidak ada. Tenang saja. Levelmu hanya setengah dari level milikku. Oh ya, bisakah kau bergeser dari runtuhan gubuk itu? Aku mau menyingkirkannya."


"Eh? Oh, baiklah. Tapi bukannya gubuk itu milik Grand Magus kerajaan Eglian?" Rein berjalan menjauhi reruntuhan gubuk itu.


"Dia sendiri yang bilang gubuk ini harus dihancurkan setelah ada yang menemukannya."


Anaconda besar itu 'menyapu' reruntuhan itu dengan ekornya. Dia menyingkirkannya ke hutan.


"Nah, sekarang bisa kita mulai?"


Rein mengangguk. Kemudian dia maju untuk berhadapan dengan sang Anaconda. Anaconda itu memutuskan telepatinya dengan Rein.


Aksha Naik ke atas sebuah pohon di dekat mereka. Melihat dengan antusias.


"Kau bisa menyerang duluan."


Anaconda raksasa itu langsung mendesis. Dia melaju ke arah Rein dengan mulut terbuka.


Rein menghindarinya. Kepulan debu beyerbangan di sekitar Anaconda itu, karena tubuhnya yang besar. Rein mengambil beberapa beberapa batu. Dan melemparkannya ke Anaconda itu.


""


*Boom boom


Batu-batu itu tidak berapi biasa. Namun meledak dan menimbulkan api, seperti Flame Granade.


Kepulan asap muncul dari arah sang Anaconda. Rein masih berhati-hati. Dia tau Boss tak akan terbunuh semudah itu. Apalagi, Boss kali ini HP nya tebal sekali.


Dan benar saja. Anaconda itu masih di sana. Tanpa lecet sama sekali. Terlihat sama saja.


'Aku tau HP nya tebel... DEFF nya juga tinggi... Tapi ini tidak masuk akal! Aku melemparkan berapa tadi? 7?! Itu udah lebih dari 1000 loh Damage nya! Kenapa tidak...'


Anaconda itu kembali menyerang Rein. Namun karena dia besar dan berat, gerakannya tentu tidak secepat Rein yang kecil. Rein menghindar kembali.


Dia menaruh pedangnya ke dalam storage. Dia tau damage dari pedangnya sekarang tidak akan mempan. Jadi dia mengambil beberapa batu lagi.


Kali ini batu-batu itu tidak berwarna kemerahan saja. Terdapat batu biru dan merah di tangan kanannya, dan batu hijau di tangan kirinya. Selagi kepulan debu masih ada, Rein melemparkan batu biru dan merah yangbada di tangannya.


" " Ucapnya.


Bebatuan merah meledak terlebih dahulu. Barulah batuan biru meledak. Membuat kepulan asap di Anaconda itu. Kemudia dia melemparkan batu-batu hijau yang ada di tabagn kirinya.


"" Ucapnya untuk mengaktifkan batu-batu itu. Angin muncul darinya, membuat asap yang terbentuk semakin tebal hingga menutupi pandangan Anaconda.


'Kesempatan!'


Rein mengambil pedangnya kembali dan memakainya di tangan kanannya. Lalu dia juga mengambil beberapa batu di tangan kirinya.


" "