
Gerakan tangan Tanaka berhenti di suatu titik. Titik itu ialah sebuah hutan yang berada di tengah benua. Ia menyentuh dengan satu jari hologram itu. Dan memperbesarnya sehingga ia dapat melihat hutan itu lebih baik.
Hutan itu tidak memiliki nama. Juga, tidak ada monster atau hewan di sana. Hanya tumbuh-tumbuhan besar dan rawa-rawa saja.
Tempat itu sebenarnya telah dipersiapkan oleh Tanaka. Tempat kosong tanpa hewan dan monster.
Di tengah hutan itu, terdapat sebatang pohon yang sangat besar. Tanaka melamun sejenak. Mata hitamnya melihat pohon besar itu tanpa berkedip. 'Pohon ini.... Sangat mengingatkanku akan mereka.'
"Tanaka-sama, kita bisa memulainya sekarang!" Ucap Alice tiba-tiba. Ternyata Ia sudah berada dalam Ainhra Online.
Tanaka yang sedang melamun langsung tersadar. "Ah! Ya, baiklah."
Tanaka mengecilkan (zoom-out) map/permukaan Ainhra Online. Dia masih memperhatikan hutan, atau lebih tepatnya pohon itu. Namun segera mengalihkan perhatiannya ke hal lain.
Ia menekan sebuah tombol tak terlihat. Sebuah meja yang diatasnya terdapat cahaya biru timbul dari bawah, tepat di depannya.
Tanaka mengambil sebuah buku dari saku bajunya. Kemudian meletakkan buku tersebut di atas meja itu dengan posisi berdiri (vertikal).
Iapun menggambar sesuatu di depan buku itu. Sesuatu itu adalah lingkaran sihir berwarna hijau. Setelah itu, Tanaka mundur beberapa langkah.
Lingkaran sihir dan buku itu langsung bekerja. Cahaya yang sangat terang menyinari ruangan itu.
.
.
.
Apartemen W, Garuda Right Wing, Garuda City, Jakarta
Kamar No. 25
Ryn sekarang sedang bermain ponsel di sofa TV sambil rebahan. Tepatnya, scrolling di SNS. Apa lagi yang bisa ia lakukan? Ia tidak bisa bermain Ainhra Online sekarang. Materi-materi kuliah juga sidah ia pelajari.
Di saat ia scrolling SNS, terdapat sebuah post yang cukup menarik perhatian Ryn. Sampai Ryn terduduk. Isi post itu adalah sebuah video.
Caption video itu adalah, "Apakah ini sihir asli?"
Video itu sendiei berisi seseorang sedang berjalan di daerah Gaduda Body (Central Garuda). Orang itu iseng pergi ke daerah perbatasan Central Garuda dengan Gaduda Head (Restricted Area of Garuda City).
Tulisan video itu berisi, "Gaes, jadi aku iseng ke perbatasan Restricted Area dengan Central Gaduda."
"Aku dapat akses dari pihak berwajib kok untuk ke sini, jadi jangan langsung comment yang nggak-nggak ya 🙄"
Setelah itu, ia sampai di sebuah pintu besar setinggi gedung tiga lantai, yang diapsang di dinding setinggi gedung lima lantai. Pintu itu terlihat seperti pintu gudang berbahan besi yang sudah berkarat. Namun dinding di sekitar pintu itu masih terlihat sangat baru.
'Pintu itu seharusnya ada sejak awal abad ke 21, mungkin di dari tahun 2007 atau 2009. Namun dindingnya berwarna merah putih dan terlihat sangat baru, aneh.' pikir Ryn.
"Jadi ini gaes pintu perbatasannya. Gede banget ya..."
Orang itu kembali mendekati pintu itu. Hingga ia sampai di dekat sisi kanan pintu. Di sana terdapat sebuah kotak berwarna hitam.
"Keren banget perbatasannya gaes!" Tulis orang itu.
Namun, di bawahnya terdapat tulisan, "Sampai sini aja captionnya, kalian lihat sendiri apa yang terjadi! 😓"
Orang itu mencoba menyentuh kotak hitam itu. Namun....
Tiba-tiba sebuah lingkaran merah yabg tetlihat aneh muncul.
"Eh Anj*r!" Gumam orang itu, karena tangannya kesetrum setelah menyentuh lingkaran itu.
Kamera goyang, dan video itu berakhir.
Ryn diam membeku. Jujur saja, ia sangat shock. Sampai-sampai matanya terlihat kosong.
'Lingkaran itu.... Tidak salah lagi, lingkaran sihir. Sepertinya perkataan Bibi Mary ada benarnya.'
Ryn nelihat jumlah tayangan dari video itu. Jumlahnya 179,010. Iapun melohat kolom komentar dari video tersebut.
"Nampak kali bohongnya." Isi top comment. Lalu dibalas dengan netizen lainnya. "Iri bilang boss!"
Di bawahnya, terdapat komentar yang berisi, "Mirip banget sama lingkaran sihir yang di Ainhra Online."
Komentar itu dibuat oleh akun yang sudah terverifikasi dan dari pp nya, kelihatan bahwa ia perempuan. Balasan-balasan dari komentar tersebut sangat banyak. Seperti, "Widih, main AO juga neng?" Atau, "Holkay nj*r." Atau, "udah cantik, kaya lagi, ingat apa kata kang parkir?". Nah komentar itu dibalas dengan "Moondoor alias Mundur bos!"
Komentar yang ketiga adalah yang paling menarik perhatian Ryn. Karena isinya, "Sihir... Itu lingkaran sihir woy! Sihir beneran ada nj*r."
Ryn ingin sekali menjawabnya, namun ia urungkan niat itu dan lanjut scrolling di SNS lagi sambil rebahan.
---
Setelah beberapa menit scrolling lagi, Ryn melihat jam. 19:00 WIB. Iapun berhenti bermain SNS dan mematikan ponselnya. Meletakkannya di atas sofa lalu melangkah ke kamarnya.
Ryn ada janji untuk makan bersama dengan Bibi Mary dan suaminya, Paman Albert. Bibi Mary berkata kalau akan ada orang lain yang dia undang untuk makan bersama. Jadi, Ryn harus memakai baju yang formal.
Kali ini ia mengenakan jas hitam dengan kemeja putih dan dasi hitam garis abu. Sepatunya sepatu kulit biasa. Rambutnya ia style ala member boyband korea pada tahun 2017-an. Agar terlihat modis, ia juga menggunakan specs sebagai pelengkap.
Kalian tau bukan kalau Bibi Mary adalah orang kaya? Salah satu petinggi di QRYZ. Tepatnya Direktur Utama di sana. Sedangkan CEO nya sendiri adalah Tanaka.
Kalau ia mengundang seseorang, pastinya orang itu bukan orang sembarang. Apalagi, Bibi Mary mengajak makan malam di restoran bintang 5. Tidak mungkin orang itu orang biasa.
Sekarang sudah pukul 19:10. Ryn segera keluar dari apartemennya dan melaju ke lantai paling bawah.
.
.
.
Tya sedang duduk di depan komputernya. Sambil mendengarkan lagu, ia menulis sesuatu. Bukan sesuatu yang penting, hanya sebuah cerpen. Karena ia sedang tidak ada kerjaan alias GABUT GES.
Tiba-tiba saja, ponselnya berdering. Dari suara deringannya, Tya tau seseorang menelponnya. Tya melepaslan earphonenya lalu mengambil ponselnya itu.
Sebelum itu, ia melihat nama yang terpampang di layar. "Papa" tulisannya.
Tya langsung saja mengangkatnya. "Halo? Pa? Ada apa menelpon jam segini?" Tanyanya.
"Tya, bisakah kau segera bersiap? Hari ini ada acara makan malam dengan seorang yang penting. Kau harus ikut. Maaf baru memberitahukanmu sekarang." Jawab papanya di telpon.
"Jam berapa acaranya? Di mana tempatnya?"
"20:30, Restoran 55555, Central Garuda. Bisa kan?"
"Tentu saja, Tya akan ke ruangan papa setelah selsai."
"Bagus, cepatlah ya."
"Ya, Papa. Sampai jumpa di lantai 40." Tya menatikan telponnya. Ia segera meletakkan ponselnya dan pergi ke kamar mandi.
20 menit kemudian~
Tya telah selesai memakai bajunya dan memakai bedak serta lipbalm. Kali ini, ia mengenakan dress panjang di bawah lutut. Warnanya hitam polos tanpa lengan. Dress itu dilengkapi dengan dengan belt berwarna putih, kaus kaki putih, kalung bermotif tetesan air berlian, serta anting-anting bermotif sama. Rambutnya ia biarkan tergerai.
Tya mengambil tas selempangnya yang berwarna putih. Mengisinya dengan benda-benda sederhana. Uang, lipbalm, tisu, serta dompetnya yang berisi kartu-kartu penting.
Oh! Jangan lupa ponselnya yang ia tinggalkan di meja komputer. Tya langsung mengambilnya begitu keluar kamar. Dan memasukkannya juga ke dalam tas.
Tya berjalan ke pintu apartemen. Sebelum keluar, tentunya ia harus memakai alas kaki. Ia mengambil flat shoes warna hitam yang diujungnya terdapat pita putih dan langsung memakainya.
Tya membuka pintu itu dan langsung keluar. Pintunya ia kunci dengan sidik jari. Lalu ia langsung berjalan ke arah lift.
Ia menekan tombol lift. Setelah sampai, seprti biasa, lift terbuka dan isinya kosong. Tya masuk dan langsung mengatakan, "lantai 40."
"Lantai 40.... Suara terkonfirmasi."
Liftpun bergerak ke atas.
Ting!
Tya sampai di lantai 40. Ia segera menuju ke ruangan ayahnya. Namun ruangan kali ini bukanlah ruangan kerja, melainkan apartemen pribadi milik keluarganya.
Setekah sampai di depan pintu ruangan, Tya langsung menyentuh pintu itu dengan telapak tangannya. Dengan begitu, dia bisa langsung masuk tanpa ada izin dari orang tuanya.
"Sidik jari terkonfirmasi, silahkan masuk, Nona Anastasya."
Pintu itu langsung terbuka. Orang tua Tya yang ada di dalam menyadarinya. Mereka sedang bersiap juga.
"Tya! Kau sudah datang. Untunglah kau bukan tipe perempuan yang lama bersiap." Ucap mama Tya.
Tya menganggukkan kepalanya. "Ya, kali ini makan malam dengan siapa? Dan kenapa aku tidak dikabari terlebih dahulu?"
"Jangan tanya mama, ini karena Papa yang hampir lupa dengan makan malam ini." Setelah mengucapkan itu, mama Tya menatap tajam Pak Alden, alias, papa Tya.
Pak Alden tersenyum canggung, ia tak bisa membalas apa-apa karena memang betul ia lupa tentang makan malam ini. Dan jugaz tangannya masih bekerja mengancingkan baju Jendra, adik Tya yang masih berumur 7 tahun.
Tya disisi lain membuat ekspresi kebingungan. Tidak biasanya ayahnya lupa tentang makan malam, apalagi tempat makan malam kali ini restoran mewah. Kalaupun iya, Feng akan selalu mengingatkannya.
Daripada penasaranz Tya langsung saja menanyakan hal itu pada ayahnya. "Papa, bagaimana kau bisa lupa tentang makan malam ini? Apakah Feng tidak mengingatkanmu juga?"
"Yup, sudah!" Pak Alden selsai mengancingkan baju Jendra.
".... Papa...."
"Hm? Apa?"
Melihat ayahnya tidak menghiraukan pertanyaannya tadi, Tya menghela nafasnya. Lalu mebgulangi pertanyaannya. "Bagaimana bisa papa lupa makan malam ini? Apakah Feng tidak mengingatkanmu juga?"
"Aah, itu.... Sebenarnya makan malam kali ini adalah janji pripadi. Tidak ada hubungannya dengan perusahaan. Jadi Feng tidak mengingatkanku." Jawab Pak Alden.
Sebelum Tya menjawab perkataan ayahnya, Jendra berkomentar duluan. "Apa itu janji pribadi? Kenapa tidak ada hubungannya dengan perusahaan? Apa hubungannya dengan paman Feng?"
"Eh? Oh itu.... Jendra akan mengetahuinya setelah Jendrlebih besar nanti." Jawab Pak Alden.
"Yosh! Alden, Tya, Jendra, ayo kita pergi." Ternyata mama Tya telah selesai bersiap.
"Ya, ayo/hm/ayo!" Pak Alden, Rya, dan Jendra menjawabnya bersamaan.
Mereka berempat tidak turun ke lantai bawah, melainkan pergi ke ruangan yang lainnya di lantai 40. Yaitu ruangan alat transportasi udara milik keluarga mereka dan beberapa keluarga kaya lainnya.
Kali ini mereka menggunakan mobil terbang warna putih dengan jendela biru transparan. Mobil itu memiliki sistem auto pilot, sehingga tidak membutihkan seorang pengemudi. Terdapat 5 kursi di dalamnya, namun mereka hanya menggunakan 4 saja.
Setelah semuanya masuk dan mebgenakan sabuk pengaman, Pak Alden mengucapkan tujuan mereka.
"Restoran 55555, Central Garuda, Garuda City."
"Tujuan terkonfirmasi. Kencangkan sabuk pengaman anda. Alat Transportasi Udara no. 15 akan segera lepas landas."