
Di waktu yang sama, Gerbang Desa Yeff.
Alex, Fang, dan Daffa sudah berkumpul di gerbang Desa Yeff. Mereka bersiap untuk ke kota. Ingat? Mereka ingin membeli beberapa armor dan senjata untuk ke Dungeon Snake.
"Kalian dah siap?" Tanya Daffa.
"Dah/Yes!"
"Oke, kalau begitu kita langsung saja ke kota."
"Ok/Ou!"
Mereka bertiga pun meminta izin ke penjaga kota. Dan juga menyewa sebuah kereta kuda serta seorang supir kereta kuda. Mereka akan pergi ke kota terdekat dari Desa Yeff, Kota Greeaf. Perjalanan ke sana akan memakan waktu sekitar 1 jam.
Oh ya, omong-omong, tidak semua dari mereka bertiga adalah manusia. Lebih tepatnya hanya Alex yang manusia. Dia juga yang mendapatkan informasi tentang Dungeon Snake.
Alexlah yang satu-satunya manusia. Lalu... Fang dan Daffa?
Fang memilih ras dari bangsa Demon. Sedangkan Daffa memilih ras dari bangsa Beast-kin.
1 jam dengan cepat berlalu. Mereka bertiga pun turun dari kereta kuda dan membayar sang supir. Kereta kuda itu akan tetap tinggal selama satu hari.
"Haah, 1 jam yang luar biasa. Tadi itu seperti perjalanan ke Bandung bukan? Banyak sawah-sawah dan hutan." Ucap Alex.
"Benar, dan tanpa macet." Ucap Daffa. Fang hanya mengangguk membenarkan perkataan kedua temannya itu.
Merekapun berjalan masuk ke dalam kota. Hanya dengan membayar 2 Silver per-orang, mereka sudah dapat masuk. Seharusnya. Namun,
"Berhenti. Beast-kin itu, dia tak boleh masuk ke dalam kota." Ucap penjaga kota.
Alex dan Fang bingung. Sebelumnya, mereka juga sudah pernah masuk ke kota, walau bukan kota ini. Dan mereka bertiga selalu diizinkan masuk. Daffa, di sisi lain, wajahnya menggelap.
"Pak, kenapa teman saya ini tidak boleh masuk?" Tanya Alex pada penjaga itu heran.
"Walikota sudah melarang ras selain manusia untuk masuk ke dalam kota. Kecuali budak. Atau..." Ucap penjaga itu, menatap Daffa sinis.
"Dia ini budak?" Lanjutnya.
Daffa menahan amarahnya. Bagaimana bisa, seorang NPC yang hanyalah seorang penjaga kota, mengatakan bahwa dia itu budak?
Muka Alex dan Fang memerah karena marah. Awalnya mereka senang karena akan membeli beberapa hal baru. Namun itu dirusak oleh seorang NPC.
"Kenapa? Kalau dia itu budak, kalian berdua bisa membawanya masuk. Lagipula, kita manusia adalah bangsa yang sempurna. Mereka tidak pantas berada di satu tanah yang sama dengan kita." Ucap penjaga itu.
Wajah Fang dan Daffa kini benar-benar memerah. Walaupun mereka manusia di dunia nyata, dan hanya di sini mereka bukan manusia, tapi kata-kata itu membuat mereka marah.
"Pak, tolong jaga ucapanmu." Ujar Alex, menatap tajam penjaga kota itu.
"Untuk apa? Kau manusia, kenapa membela dia? Dia hanyalah manusia setengah binatang." Ucap sang penjaga.
Kemarahan Daffa kini sudah sampai ubun-ubun. Satu kali gertakan lagi, dia akan benar-benar mengamuk. Alex dan Fang menyadari hal itu.
"Pak, kalau TEMAN kami tidak dibolehkan masuk, kami permisi." Ucap Fang.
"Bang Goldst, ayo." Alex mengajak Daffa, alias Goldst, pergi dari sana.
Mereka bertiga pun pergi dari gerbang kota. Menghampiri kereta kuda yang tadi parkir di dekat hutan.
"Pak, apakah ada kota lain di sekitar sini?" Tanya Alex, satu-satunya yang masih tenang.
Fang dan Daffa masih menahan amarah mereka. Sehingga mereka tetap tidak berbicara, agar amarah mereka tidak meluap keluar.
"Ada, namun perjalanan ke sana akan memakan waktu 2 jam. Dan kita itu kota Beast-kin. Biayanya akan menjadi 3 silver." Ucap sang supir.
"Tidak apa-apa. Antar kami ke sana." Ucap Alex lalu mengajak Daffa dan Fang untuk naik ke kereta kuda.
---
2 jam yang mencekam berlalu. Daffa dan Fang menggerutu sepanjang perjalanan. Sedangkan Alex? Dia hanya bisa mendengarkan saja dan mengiyakan.
"Hish memang ya. Kenapasih dengan ras lain?" Gerutu Fang.
"Benar. Diskriminasi di sini terlalu kental! Para manusia itu terlalu meninggikan diri mereka." Ucap Daffa.
Alex yang manusia hanya diam. Namun dia segera sadar kalau mereka sudah hampir sampai.
"Tuan-tuan, kita sudah sampai di kota Gotfan." Ucap sang supir.
Wajah Alex yang buruk menjadi cerah kembali. "Guys, kita sudah sampai di kota Gotfan."
Daffa dan Fang yang tadinya menggerutu berhenti. Mereka tanpa basa-basi langsung turun dari kereta dan membayar sang supir lagi.
Mereka berjalan ke gerbang. Untungnya, di kota ini mereka diterima dengan baik. Jadi mereka segera masuk dan membeli apa yang mereka inginkan.
.
.
.
"... Bagaimana caranya?"
Rein sudah tau di mana jalan keluar dimensi aneh ini. Hanya saja dia tak tau bagaimana cara dia keluar.
"Aksha, apakah kau tau caranya?" Tanyanya pada Aksha yang ada di tangan kirinya.
Aksha menggelengkan kepalanya. Wajar saja dia tidak tahu. Bahkan, kalau tidak ada Rein, Aksha tidak akan pernah keluar dari gua.
"Hmmm... Pastinya butuh tenaga yang cukup untuk naik ke atas sana." Ucapnya.
Air terjun yang ada di dimensi itu saja tingginya sekitar 30m. Apalagi kabut tebal itu. Mungkin, tingginya mencapai 100m.
Rein bukanlah seorang yang panda panjat tebing. Bahkan dia belum pernah melakukannya. Jadi dia memang tidak bisa dan tidak mungkin memanjat tebing itu.
"Aksha, apakah kau bisa memanjat tebing itu?" Tanya Rein.
Aksha menggeleng tanda tidak tau. Namun dia segera melata ke arah tebing itu. Dia ingin mencobanya.
"Sssss!"
Awalnya, dia melata di tebing dengan cukup cepat. Namun, setelah beberapa saat. Dia mulai kelelahan dan malah terjatuh.
Rein berlari ke arah Aksha dan menggelengkan kepalanya. "Aksha! Kalau tidak bisa tak usah dipaksakan." Ucapnya. Dia menggendong Aksha.
Kemudian dia berjalan ke tempat awalnya tadi. Dia masih berpikir bagaimana cara keluar dari dimensi ini. Hingga hari di dalam dimensi aneh menjadi gelap.
Rein mengacak-acak rambutnya. "Haah, percuma aku tau jalan keluarnya tapi tidak tau bagaimana cara keluarnya!" Teriaknya kesal.
Setelah teriak seperti itu, dia menjatuhkan dirinya untuk berbaring. Hari sudah sangat gelap. Rein dapat melihat karena ada Aksha.
"Aksha, bagaimana kalau aku dan kau tak bisa keluar? Keinginanmu untuk melihat dunia luar tidak akan tercapai..." Ucapnya.
Aksha menggelengkan kepalanya. Dia lalu mendesis kepada Rein. Seakan mengatakan kalau hal itu tidak akan terjadi. Dia juga melata di tubuh Rein agar Rein tidak terlalu lesu.
"Ahhhaaahaha! Hentikan itu! Geli! Cukup!"
Akha menghentikan kelakuannya itu. Lalu mendesis kepada Rein.
Aksha mendesis senang. Lalu dia dan Rein tertidur di sana.
---
8 jam telah berlalu semenjak Rein tidur.
Rein terbangun dan meregangkan tubuhnya.
"Woah, ini adalah tidur terbaik di dimensi ini. Aku tidak diserang sama sekali kali ini, huh?" Ucapnya.
Walaupun monster dalam dungeon biasanya tidak menyerang orang tidur, namun tetap ada yang akan menyerang ketika orang itu bangun. Monster tersebut biasanya akan menunggu selama orang ini tidur dan akan langsung menyerangnya ketika bangun.
Namun karena Rein sudah memiliki title Snake Exterminator, monster-monster dalam dungeon ini tidak akan menyerangnya sembarangan.
"Ssssss!!"
Aksha mendesis ke Rein. Kemudian dia melata dengan cepat ke suatu benda berwarna hitam. Lalu mendesis lagi dan menunjuk benda itu dengan ekornya.
"Ada apa? Anaconda raksasa itu memberikan pesan lagi dengan sisiknya?" Ucapnya, kemudian berdiri dan berjalan ke benda hitam itu.
Aksha mengangguk. Rein mengambil sisik hitam itu dan membaca tulisan yang ada di sisik itu.
"Kalau kau mau keluar dengan mudah, tunggu sampai aku spawn kembali."
Rein barulah paham kenapa Boss Monster yang ada dalam dimensi ini masih bisa spawn walau pemain yang mengalahkannya masih ada. Padahal biasanya tidak.
"Aksha, apa kau tau berapa lama Anaconda itu spawn lagi?"
Aksha menggelengkan kepalanya. Dia tak pernah melihat Anaconda itu mati sebelum Rein membunuhnya.
"Hmmm, kalau begitu kita tunggu saja. Selama kita menunggu, ada baiknya kita berburu." Ucap Rein mengulurkan tangan kirinya. Aksha langsung melilitnya, lalu mereka masuk ke dalam hutan.
---
7 hari setelah itu.
Rein dan Akhsa masih belum keluar dari dimensi khusus. Boss Monster Itu belum spawn kembali.
Posisi mereka sekarang ada di sebuah kolam asam. Rein ingin berburu beberapa ular asam untuk mendapatkan batu asam. Batu asamnya habis saat bertarung bersama Boss Monster.
Aksha sendiri ingin memakan beberapa buah yang ada di sekitar kolam asam. Rasanya enak katanya.
Rein melihat kolam asam tersebut, dia menggenggam beberapa batu api. Dan menunggu ular-ular yang ada di dalam kolam asam keluar.
1... 2... 3... 4...!
""""KSSSSSSSHHHHHHHAAAA!!!!""""
*Syut-
*Boom! Boom! Boom!
"KHAAA...-!"
Ular-ular itu mati seketika. Damage yang diberikan oleh batu api cukup tinggi untuk ular ber-level 3. Pastinya, bahkan batu-batu itu bisa melukai monster ber-level 20.
Rein langsung saja mengambil batu-batu asam yang ada. Namun salah satu batu yang terjatuh memiliki warna yang berbeda dengan batu lainnya.
"Kalau batu yang bisa jatuh berwarna hijau lumut... Batu ini berwarna hijau tosca?" Ucap Rein heran.
Kemudian dia langsung menyentuh batu itu. Dengan tangan kosong.
"Hah? PH 0?"
Rein menyentuh batu itu dengan tangan kirinya. Tangan kirinya itu langsung terasa kesakitan dan meleleh sedikit-sedikit.
"?*+]?!*(?[%?*?!"
Rein langsung saja mengeluarkan Water Stone yang ada dalam storagenya dan membersihkan tangan kirinya itu.
"Gghah... Apa-apaan batu tadi?"
Rein melihat tangannya kembali normal. Sebenarnya dia pernah menyentuh batu asam, tapi biasanya batu itu tidak akan mengeluarkan asam saat tidak diaktifkan.
Rein kini tidak menyentuh batu itu lagi. Dia langsung memasukkannya ke storage.
"Batu yang aneh." Ucapnya.
Lalu dia teringat tentang suatu benda.
'Hmmmmmm, apa yang terjadi dengan sisik Anaconda raksasa jika terkena batu itu?' pikirnya.
Rein masih memiliki beberapa sisik hitam itu jadi dia mengeluarkan salah satunya. Lalu meletakkannya di tanah. Kemudian dia mengeluarkan batu asam yang tadi ke storage dan menjatuhkannya tepat ke sisik hitam tebal dan berat itu.
Apa yang terjadi? Sisik itu meleleh sedikit demi sedikit. Rein langsung mengambil batu itu kembali. Sekarang dia tau seberapa bahaya batu itu jika digunakan dengan tidak tepat.
Sesuatu menatap Rein tajam dari hutan. Kemudian dia pergi dari tempat itu. Rein Sama sekali tidak menyadarinya. Lalu...
"KSSHAA!"
Seekor ular besar menyerang Rein dan langsung melilitnya.
"Woah! Apa-..!"
"Khaha! Melihatmu terkejut cukup menyenangkan juga, Elf kecil."
"Nyonya Anaconda?!"
Ular itu masih melilit Rein. Namun dia tidak melilitnya hingga Rein kesulitan bernapas. Melainkan dia hanya melilit dengan ekornya saja untuk mengangkatnya.
"Yesss. Aku kembali! Tenang saja, aku tak akan memakanmu! Kau ingin keluar dari sini kan?"
"Benar. Tapi, bisakah kau turunkan aku?"
Anaconda raksasa itu menaruh Rein kembali ke tanah.
'Haah, jujur saja dililit olehnya tetap mengerikan. Walau aku tau dia tidak akan memakanku.'
"Terimakasih. Ternyata dibutuhkan waktu sekitar 7 hari untukmu Spawn lagi ya?" Ucap Rein.
"Yup. Aksha, Elf kecil, naiklah ke punggungku."
"Uuh... Punggungmu bagian mana?" Tanya Rein. Karena pada dasarnya tubuh ular hanyalah kepala, tubuh, ekor.
"Di dekat kepalaku saja."
"Oh, baiklah. Aksha, kemari." Rein memanggil Aksha dan menunduk, mengulurkan tangannya.
Aksha datang dan langsung melilit tangan Rein. Rein naik ke Anaconda itu.
"Pegangan yang erat. Aku akan bergerak dengan kecepatan penuh!"