
Rein duduk di bebatuan dengan napas yang masih belum stabil. Dia menyandarkan tubuhnya pelan.
'Memanglah.... Mid Boss macam apa itu?' gumamnya dalam hati. Bar HP miliknya sudah tersisa setengah. Terus bertambah dan berkurang. Mengingat dia masih Flu.
Rein berdiri lalu membersihkan sedikit bajunya yang bernoda. Mengambil pedang yang ada di sampingnya.
"Kalau tidak ada pedang ini... Dan aku tidak memiliki skill berpedang... Apa yang akan terjadi?" Lirih Rein, melihat pedang yang DUR nya sudah berkurang itu. DUR yang tadinya 200-an sekarang tersisa 189 saja.
Rein memasukkan kembali pedang itu ke dalam storagenya. Kemudian dia berjalan menuju hutan. Dia melompat ke salah satu pohon dan melihat sekitarnya.
'1, 2, 3, 4... 5.... 8... 16... Lebih dari 20 ular?' ucapnya dalam hati setelah memeriksa daerah sekitarnya.
'sssssssss'
Sesuatu mendekati Rein diam-diam. Hal itu bergerak dengan hati-hati. Setelah dirasa cukup dekat dengan Rein, hal itu langsung menyerangnya dari dahan atas.
"SSSAAAA!!!"
Rein yang menyadari hal itu langsung menggerakkan kakinya. "HIAT!!" Ucapnya menendang benda itu.
Hal yang tadinya ingin menyerang Rein diam-diam adalah seekor ular kecil. Rein jongkok untuk melihat ular itu dengan seksama.
Nama Monster : Little Leaf Snake (1m)
Level : 3
HP : 1000
ATK : 200
"Hanya ular kecil... Yasudahlah. Aku harus pergi lagi."
Rein kembali ke posisi berdiri. Dia melihat sebuah jalan kecil yang terbentuk karena kejar-kejaran tadi dengan Mid-Boss.
'Kalau aku mengikuti jalan ini, aku bisa kembali ke dekat danau.' pikirnya.
Rein mengikuti jalan kecil itu. Namun bukan dengan berjalan, melainkan dengan melompat dari pohon ke pohon lain. Dia ingin mengasah kemampuannya untuk melompat dari pohon ke pohon.
Setelah beberapa saat melompat, Rein sampai ke danau tempat dia mendarat. Dia tau hal itu karena ada satu Fire Stone yang masih menyala.
Rein turun dari pohon. Dia melihat ke sekelilingnya kembali. Tak ada yang berubah. Selain terbentuk satu jalan kecil di dekatnya.
Malam hari di dimensi ini sudah tiba. Rein sudah lelah dengan kejadian hari ini.
Rein memetik 3 lembar daun lebar dari pohon yang ada di dekatnya. Dia menggulung selembar dan menggunakan yang lainnya sebagai selimut. Lalu dia berbaring di atas tanah dan langsung tertidur.
Rein tidak khawatir ada ular yang ingin menyerangnya. Kenapa? Karena monster dalam dungeon tidak akan menyerangnya kalau dia sedang tertidur.
Monster dalam dungeon berbeda dengan monster di luar dungeon. Mereka agresif tapi tak akan menyerang orang yang tidur. Mereka bukan tipe yang pengecut.
Perlu diketahui juga, Rein tidur karena ingin mempercepat pemulihan HP nya.
---
7 jam telah berlalu di dimensi khusus semenjak Rein tertidur.
Rein terbangun dari tidurnya. Kemudian mengubah posisinya menjadi duduk. Barulah setelah beberapa detik, dalam keadaan masih setengah sadar, dia berdiri lalu berjalan.
Dia berjalan ke arah danau, namun tangannya membuat gerakan membuka pintu. Lalu dia membungkuk. Kemudian menggerakkan tangannya seakan ingin mengambil sesuatu.
'Huh... Mana gayungnya..? Berasaan aku gak ambil gayung di ember untuk hal lain..' pikirnya. Namun dia langsung saja mengambil air dengan menampungnya di tangan. Lalu dia membasuh mukanya.
Setelah membasuh muka beberapa kali dengan air danau (yang ia kira air dalam ember). Rein membuka matanya. Bayangannya muncul di air.
"HAAAA!!?? Telingaku kenapa?!" Teriaknya serelah melihat bayangannya yang ada di danau, dia terjatuh dari tempatnya berdiri. Untungnya bukan ke danaunya, tapi ke tanah yang ada di sekitar danau.
Rein terduduk sebentar. Barulah ia sadar tempatnya berada sekarang dan kenapa dia bisa memiliki telinga panjang.
"Astaga... Dimensi ini memang membuat orang merasa sial." Gumamnya.
Rein mengambil satu Fire Stone dari storagenya. Ia menaruhnya di dekat tempatnya tidur lalu mengaktifkannya untuk menghangatkan diri. Karena belum siang hari.
Di Ainhra Online, tidak ada rasa kantuk, lapar, haus, dan lainnya. Namun jika mau tidur, makan, dan minum, itu boleh saja. Untuk sementara.
Rein melihat panel itu dengan senang hati. Sebenarnya pengurangan HP 1/detik itu cukup mengganggu. Dan karena efek itu sudah hilang, dia bisa berburu di dalam dimensi ini dengan bebas.
“Fuuuh…. Dimensi ini dibuat agar bisa leveling dengan mudah, kan? Jadi…”
Rein berdiri dari tempatnya. Mengambil pedangnya dari storage, lalu pergi ke hutan dengan niat berburu.
.
.
.
Feather Garden, Garuda City, Jakarta Pusat.
Feather Garden adalah salah satu taman di Garuda City. Terletak di Garuda Right Wings tepatnya. Taman ini biasa digunakan untuk jogging, bersepeda, bermain bersama, atau sekedar ngumpul bareng temen.
Hal ini juga dilakukan oleh tiga orang pemuda yang sedang duduk di salah satu bangku taman. Mereka bersenda gurau dan tertawa sekali-kali. Namun hal itu berhenti setelah sebuah pertanyaan keluar dari mulut salah satu dari mereka.
"Bang Daffa, serius nih kita bakal menaklukkan dungeon itu? It’s not impossible but….”
“Ya… Ini dungeon pertama semenjak game ini liris, you know?? Gua gak mau kesempatan ini diberikan ke orang lain.” jawab laki-laki lainnya dengan nada malas.
“Yo, santai. Bukan tanpa alasan gua bilang kita melakukannya besok. Hari ini bakal kita persiapin. Kalian mau ikut kagak? Rencananya gua bakal ke kota buat beli armor dan senjata.” ucap Daffa, turun dari bangku taman itu.
“Kalau kek gitu, gua ikut lah bro. Jam berapa nih? Hari ini gua juga ada janji soalnya.” ucap laki-laki ‘lainnya lagi’.
“Ko, koko janjian sama siapa? Bukannya ko Fang gak punya pacar ya?” tanya laki-laki yang berdialog pertama kali.
Xia Fang, laki-laki ‘lainnya lagi’, langsung kesal dengan perkataan laki-laki itu dan memukulnya di kepala.
*Buk
“Addududuh…. ko Fang kenapa??”
“Lu kalau bicara jangan sembarangan dah. Gua, walaupun gak punya pacar, tetep aja gua punya temen.”
“Trus ko Fang janjian ama siapa coba??”
“Gebetan lah. Lu gak sadar juga Lex?”
“Yah, kan siapa tau ko Fang janjian ama kang cilok gitu. Buat video UTube trus bayarnya pake ex-”
Fang dan Alex malah makin ribut. Daffa yang melihat mereka hanya bisa menghela napas. Dia mengambil ponselnya dari saku celana dan melihat jam. “Hei, kalian sebaiknya berhenti. Sekarang sudah jam 11 siang. Gua mau meeting dulu, c ya.” ucapnya, meninggalkan Fang dan Alex yang masih bertengkar.
“Woy Fa! Jam berapa jadinya?!”
“Jam 2 siang! Di gerbang desa Yeff!” ucapnya sambil berjalan.
Daffa meninggalkan mereka berdua yang masih bertengkar dan berargumen. Untungnya taman sedang sepi hari itu.
Dia mengangkat ponselnya kembali dan menelpon seseorang. “Pak Henri. Jemput saya di Feather Garden. Saya ada meeting jam 11.30 nanti.”
“Baik, tuan muda.”
Daffa menutup telponnya dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya. Dia sekarang sedang menggunakan baju yang memiliki kesan ‘fak boi’. T-shirt putih tanpa lengan dengan kemeja kotak-kotak merah hitam. Celana jeans hitam dan jaket yang diikat di pinggang. Rambut yang di-style seperti K-Pop Idol serta beberapa piercing(s) di telinganya.
Fyi Daffa memiliki visual yang tidak biasa.
Daffa berjalan dan berhenti di gerbang Feather Garden. Tak lama setelah itu sebuah mobil hitam datang. Daffa memeriksa plat mobil itu. Setelah sudah dipastikan kalau itu mobilnya, dia langsung naik.
“Tuan muda, meeting akan dimulai 27 menit lagi. Saya akan membawa anda ke apartemen anda supaya lebih cepat.” ucap sang supir, pak Henri.
“Gas.”
“Baik tuan muda.”
“Tch. Ayah benar-benar tak masuk akal. Membuatku bertunangan dengan Anastasya? Sangat tidak masuk akal. Aku mencintai Salsa dan akan selalu begitu.” gerutu Daffa saat di mobil.
Tak lama mereka sampai. Daffa dengan cepat mengganti bajunya di apartemennya dan kembali setelah 10 menit. Ia memakai pakaian formal berupa sepatu hitam, celana hitam, kemeja putih dibalut jas hitam, dasi merah, serta tatanan rambutnya yang disisir ke belakang. Benar-benar bergaya anak orang kaya.
Kini Daffa tingga pergi ke gedung di Garuda City Main Area, Garuda Body. Tepatnya gedung pertemuan milik Garuda Jaya.
Daffa datang tepat 5 menit sebelum meeting di mulai. Dia masuk ke dalam gedung dan langsung menuju ruang meeting 1-5.
Sebuah scanner segera menyala setelah Daffa tiba di depan pintu.
Pintu ruang meeting tersebut terbuka secara otomatis. Daffa datang tepat pada waktunya. Orang-orang yang ada di sana sudah datang, termasuk ayah Daffa. Namun meeting belum dimulai.
“Mohon maaf atas keterlambatan saya.” ucap Daffa. Lalu dia duduk di samping ayahnya. Karena itu satu-satunya tempat duduk yang kosong.
.
.
.
“Hah? Meeting? No!”
Tya menolak untuk ikut meeting secara terbuka dan jelas. Namun ayahnya, Pak Alden tetap memaksanya.
“Tya, meeting ini sangat penting dan terkait denganmu. Kalau kau tidak ikut, meeting ini akan di-cancel.” ucap Pak Alden berusaha meykinkan Tya untuk ikut meeting.
“So what? Kan meetingnya gak ada hubungan sama Tya, Pa. “
Pak Alden menghela napas. ‘Meeting ini seharusnya melibatkan Avaryn dan juga gadis ular itu. Namun sayangnya Avaryn sedang tidak bisa log-out dan gadis itu sedang konser. Haih… padahal mereka akan menjadi alasan yang bagus untuk membuat Tya hadir di Meeting. Tapi apa boleh buat…’
Meanwhile ‘Gadis Ular’ di konsernya :
“*Hatchi!*” dia bersin saat sedang melakukan percakapan biasa dengan MC.
“Oh? Apa kau tidak apa-apa?” tanya sang MC padanya.
“Tentu saja! Cuma angin! Jangan khawatirkan putri Cleopatra ini!” ucapnya.
“Haha, kalau begitu kita lanjutkan ke lagu selanjutnya ya Fans! R u ready?! Dengarkan dengan seksama Title Song kita kali ini,The Snake Whisper!”
Kembali ke Tya dan Ayahnya.
“Tentu saja ada hubungannya denganmu.”
Tya membuat ekspresi kebingungan bercampur amarah. “Hmph! Kalaupun ada pasti cuma tentang keluarga.”
“Bukan… kali ini….”
TBC~