
Apartemen Y, Garuda Right Wing, Garuda City, Jakarta, 06 Januari 20XY, Pukul 14:00
*Poff
Ryn merebahkan dirinya di atas kasur. Ia telah menjalani bimbingan skripsi dan kelas siang.
"Padahal udah dicek ulang tapi masih ada typo."
Ya, dia disuruh merevisi lagi skripsinya. Ada satu typo yang luput dari pandangan Ryn kemarin.
Tapi ya, akhirnya Ryn melakukan pengeditan langsung di tempat dosennya.
Dosen Pembimbingnya tidak menyulitkan Ryn. Ia memberikan benerapa saran untuk skripsi Ryn.
Tidak ada hal penting selain itu yang terjadi di kampusnya. Untungnya, dia tepat waktu kemarin.
*Trerere rerereng
"Huh? Pesan dari siapa?"
Ryn mengambil ponselnya dan melihat notifikasi. Ternyata, itu pesan dari bibinya.
Bibi Mary
Ryn, tidak ada yang terjadi kan setelah malam itu?
Avaryn
Tidak ada, Bi.
Bibi Mary
Oh, baguslah. Kabari aku atau Albert kalau terjadi sesuatu ya. Atau kau bisa juga menggubungi Alden.
Avaryn
Tentu, Bibi.
Bibi Mary
👍
Selesai menjawab pesan dari bibinya. Ryn kembali merebahkan diri. Setelah 10 menit tidak melakukan apa-apa, akhirnya Ryn bermain Ainhra Online saja.
---
Rein muncul di dalam kamar no. 17. Aksha sedang tidur siang di dalam. Tak mau mengganggunya, Rein langsung duduk di atas kursi yang ada di sana.
Rein membuka Inventorynya, lalu ia mengambil Skill Book sihir yang ia dapat dari Pak Hynra.
Buku itu memiliki sampul warna hijau dengan tulisan berwarna kuning di atasnya, judul bukunya. "Basic Elemental Magic" itulah judul buku itu. Tak terlalu tebal, mungkin hanya 50-an halaman.
Iapun membuka buku itu. Terdapat 63 halaman di dalamnya. Di dalam buku itu terdapat 6 bab. Masing-masing bab berisi sihir dasar satu elemen.
Rein membuka Bab 1, yaitu Elemen Angin. Halaman pertama hingga ketiga hanya menjelaskan Elemen Angin. Untuk halaman keempat hingga terkahir bab itu berisi 3 sihir tingkat rendah. Blow, Wind Cutter, Wind Shield. Satu sihir biasa, satu sihir penyerang, dan satu sihir bertahan.
Untuk Elemen lainnya juga seperti itu. Namun untuk Elemen Cahaya dan Elemen Kegelapan hanya ada satu sihir tingkat rendah. Heal untuk Cahaya, dan Dark Thread untuk kegelapan.
"Tidak heran, Elemen Cahaya dan Elemen Kegelapan adalah Elemen yang sulit dicari sihirnya. Heal dan Dark Thread adalah yang paling umum."
Karena skill Fast Readingnya, Rein hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk membaca seluruh isi buku itu. Namun, ia hanya membaca saja. Memahami dan mempraktekkannya adakah hal lain.
"Baiklah.... Secara garis besar aku sudah paham."
Kemudian ia membacanya lagi dengan lebih teliti. Lingkaran sihirnya, mana yang dibutuhkan, pengendalian, dan lain sebagainya.
'Sihir tingkat rendah ini lingkaran sihirnya tidak perlu dibuat. Namun harus dibayangkan secara rinci. Dan kalau mananya tidak bisa dikendalikan dengan benar, sihirnya dapat dibatalkan secara paksa.'
Rein kemudian mencoba beberapa sihir biasa. Blow, Splash, Spark, dan Bump. Untuk Elemen Cahaya dan Kegelapan ia kesampingkan.
Lingkaran sihir biasa sangat 'biasa' seperti namanya. Hanya lingkaran dan ditengahnya terdapat lambang dari masing-masing Elemen. Jika lupa, pengguna dapat melihat lengan kanan mereka.
Di dalam kamar itu terdapat sebuah jendela, Rein menciba sihirnya di jendela itu. Dan dalam sekali coba, ia dapat melakukan semuanya.
'Ini adalah sihir anak umur 5 tahun di desa Elf, bahkan orang paling tidak berbakat sekalipun bisa melakukannya.'
Sebuah tiupan angin, percikan air, percikan api di jari, dan tanah yang menimbul. Sangat Basic dan mudah.
Ia membatalkan semua sihir itu. Lalu membuka lagi buku tadi. Kini ia ingin mencoba Sihir Penyerangan, Wind Slash.
Kebetulan, pemandangan di depan jendela kamar Rein adalah Hutan Agresia. Terdapat banyak pohon besar di sana. Rein dapat menggunakannya sebagai bahan latihan.
'Lingkaran sihirnya.... Sebuah lingkaran yang ditengahnya terdapat segitiga dan ditengah segitiga itu terdapat sebuah lingkaran yang didalamnya terdapat lambang Elemen Angin. Ini tiga kali lebih ribet daripada Blow.' komentar Rein melihat lingkaran sihir itu.
Ia mengarahkan tangannya ke pohon yang ada di depannya, menargetkan sebuah daun. Lalu mengumpulkan Mana Angin dan membayangkan lingkaran sihirnya.
*Syut
*Zrash!
Angin itu muncul, namun daun yang Rein jadikan target tidak terpotong menjadi dua.
"Gagal...."
Rein mencoba untuk yang kedua kalinya.
*Syut
*Zrash!
"Gagal lagi...." Kali ini ia tidak tepat. Angin itu hanya membelah Angin (?).
"Baiklah, sekali lagi!"
Ia mengendalikan Mana Anginnya lagi, dan membayangkan lingkaran sihir lagi.
*Syuut!
"Berhasil!"
Setelah itu ia mencoba menggunakan dua jarinya, jari tekunjuk dan jari tengah yang disatukan membentuk pistol.
Ia mencoba mengendalikan Mananya ke ujung jari itu. Lebih sulit daripada hanya di telapak tangan.
*Syuut!
"Bagus! Baiklah, aku mengerti bahwa pengendalian Mana, imajinasi pengguna, dan keakuratan adalah kuncinya."
Ia menarik tangannya kembali. Ia ingin mencoba tanpa harus mengarahkan tangannya ke pohon itu.
*Syuuu
Ia mengendalikan mananya keluar dari tubuh dan berkumpul di satu titik, lalu membayangkan tentang lingkaran sihirnya.
*Syuut!
"Baiklah, aku sudah menguasai Wind Slash dengan baik."
---
Pukul 17:00
*Zraaa!
Daun yang Rein jadikan target terbakar. Saat ini ia tengah mempraktekkan sihir Fire Ball.
Rein menghentikan latihannya sebentar. Lalu ia membangunkan Aksha yang sedang tertidur.
"Aksha! Aksha!"
Aksha membuka matanya. "Sss...?" (Apa...?)
"Waktunya makan. Ayo ke bawah."
"Ss, ssss!" (Oh, baiklah!)
Aksha melilit tangan kiri Rein seperti biasa. Lalu meleka keluar dari kamar itu.
*Cklek
Rein mengunci kamarnya. Lalu ia turun ke lantai bawah bersama Aksha.
Lantai bawah penginapan itu selain berisi beberapa kamar (tepatnya kamar no. 1-10), dan meja resepsionis, juga terdapat sebuah tempat makan di sana.
Tidak seperti penginapan novel bergenre Isekai atau Game VRMMORPG pada umumnya, tempat makan Fairy Inn ada di luar.
Makan di atas rumput dan hanya dilindungi payung setiap mejanya. Kalau hujan, sang pemilik penginapan akan membuat Barrier atau Wind Shield yang sangat besar.
Untuk cara memesannya sendiri langsung ke kotak besar (dapur) yang ada di sana. Untuk orang yang menginap, hanya perlu menunjukkan kunci kamarnya saja.
Hal ini dijelaskan di sebuah buku yang ada di setiap kamar Fairy Inn.
Rein pun menunjukkan kunci kamar no. 17.
"Kamar no. 17 ya, silahkan duduk terlebih dahulu Tuan, kami akan menyediakan makanannya segera." Ucap pegawai dapur.
"Baiklah, oh ya, apa kalian menyediakan buah atau sesuatu semacamnya?"
"Tentu Tuan, kebetulan side dish hari ini adalah potongan Buah Vic."
"Baguslah kalau begitu. Aku akan menunggu di meja."
Rein duduk di sebuah meja di sana, yang hanya menyediakan dua kursi.
Tak lama, makan malam hari ini datang.
"Makanan hari ini adalah Steak Daging Horn Rabbit dengan saus spesial, Blue Orengeade, dan potongan Buah Vic. Selamat menikmati makanannya." Ucap pelayan sambil menaruh makanannya di atas meja.
"Ya, terimakasih."
Pelayan itu menundukkan kepalanya lalu pergi melayani pelanggan lain.
"Baiklah, buah itu milikmu Aksha. Selamat makan!"
"Ssss~"
10 minutes later
*Clang
Rein meletakkan garpu dan pisaunya di atas piring secara horizontal, dengan ujung garpu dan pisau menghadap ke kanan.
Dalam table manners, atau aturan makan, artinya 'Menu makanannya lezat.'
Mengingat Rein (Ryn) jurusan Manajemen Bisnis, tidak heran ia juga mempelajari Table Manners. Saat ada pertemuan dengan relasi bisnis atau acara makan formal, Table Manners sangatlah diperhatikan.
Sekarang, ia melakukannya karena terbiasa. Walau ia tidak yakin kalau di Ainhra Online ada Table Manners.
Aksha sendiri masih makan potongan buah Vic. Karena potongan buah Vic itu sebesar potongan melon, membutuhkan waktu cukup lama sebelum Aksha dapat menghabiskannya.
"Permisi, apakah menu ini dapat dibawa ke kamar?" Tanya Rein. Ia ingin kembali ke kamar, namun Aksha belum selesai.
"? Oh, ya, Buah Vic? Tentu saja boleh. Wadah itu adalah wadah sekali pakai." Ucap sang pelayan.
"Baiklah, terimakasih. Ayo, Aksha, lanjutkan saja makannya di dalam kamar."
Aksha menghentikan kegiatan makannya. Lalu ia melilit tangan kiri Rein. Rein membawa potongan Buah Vic dengan tangan kanannya.
Iapun pergi ke kamarnya. Meletakkan buah itu di lantai untuk Aksha. Namun, Aksha tertidur lagi.
'Astaga, dia ini....'
Rein tak memarahinya, iapun melepaskan Aksha dari tangannya, lalu menaruhnya di dekat piring buah. Setelah itu, ia melanjutkan latihannya.
---
Pukul 19:00
*Krerkrkrkr
Ranting pohon yang ada di depan jendela kamar Rein bergerak sendiri. Padahal saat itu tidak ada angin.
Ya, itu karena Dark Thread milik Rein yang mengendalikannya.
Aksha sedang makan di sana. Ia tak terlalu mempedulikan keberadaan Rein dan fokus dengan makanannya.
Setelah tertidur sebentar, ia bangun. Seketika dia memakan buah yang ada di dekatnya. Oleh karena itu ia makan sekarang.
"Aksha."
"? Sss?" (Apa?)
"Aku akan pergi lagi ke Toko Pak Hynra. Apa kau mau ikut?"
Aksha memggelengkan kepalanya. "Sssss." (Tidak)
"Oh, baiklah kalau begitu. Kalau kau perlu bantuan telepati saja aku."
Aksha mengangguk tanda mengerti. Setelah itu ia melanjutkan makannya.
Rein keluar dari kamar no. 17, lalu menguncinya. Iapun keluar dari penginapan dan pergi ke toko Pak Hynra.
*Cling
Rein masuk ke dalam toko. Di sana, Pak Hynra tampak sedang membaca sesuatu di mejanya.
"Hm? Oh, Rein, kau datang. Apa kau sudah siap menjadi penyihir?" Tanya Pak Hynra pada Rein. Ia meletakkan apa yang ia baca lalu menghampiri Rein.
"Tentu saja, untuk apa aku datang kalau bukan karena ingin menjadi penyihir?" Jawab Rein santai.
Pak Hynra membalasnya denyan beberapa kemungkinan lain. "Mungkin kau ingin membeli potion? Atau membeli busur? Kan ada banyak kemungkinannya."
"Uuuh, untuk apa aku membeli potion? Berburu sekarang untukku tak akan berguna banyak. Level ku tidak akan bertambah. Dan lagi, aku bukan pemanah. Busur tidak berguna untukku. Untuk apa aku membeli sesuatu yang tidak berguna?" Rein tak kehabisan akal, ia membalas kembali semua itu.
Pak Hynra hanya bisa tertawa kecil, "hahaha, baiklah. Berdebat denganmu memang tidak berguna sama sekali."
Rein tersenyum mendengarnya. "Kembali ke urusan utama, aku ingin menjadi penyihir. Bagaimana caranya?"
"Oh ya, aku hampir lupa. Mari, ikuti aku ke belakang toko."
.
**Me : Yes! Tugas dah selesai, sekarang udah siang, saatnya menulis chapter baru. *Buka hp*
Google Classroom : 10 Notifications
Me : Bu-but...
Google Classroom : 10 NOTIFICATIONS
Me : TuT**