
"Daffa? That Daffa? Kalau dilihat dari mukanya benar sih..."
Ryn mengambil tisu dan mengelap mulutnya. Dia menyemburkan tehnya tadi, sangking terkejutnya.
"Kami dari "Hero Party" mendapat kesempatan melakukan penaklukan ke dungeon ini adalah sebuah kehormatan. Mengingat belum ada pemain yang pernah masuk ke dalam dungeon sejak awal perilisan Ainhra Online ini." Ucap Daffa.
"*Kalau begitu apa tujuan kalian melakukan penaklukan ini?"
"Kami ingin menambah pengalaman kami. Sekaligus membantu seorang teman*."
Mata sang pembawa acara berbinar, dari wajahnya, ia seperti mengatakan, 'gosip!'
"*Jika boleh tau, siapakah teman yang tuan muda sebutkan ini?"
"Mohon maaf, tapi dia tidak mau disebutkan namanya*."
"Mereka ingin menjadi pemain pertama yang masuk ke dalam dungeon? Sayang sekali... Aku sudah masuk terlebih dahulu." Ucap Ryn.
"Dan lagi, 'Hero Party'? Party Pahalawan? Hei, memangnya ini novel bergenre Isekai?"
"*Aah, baiklah kalau begitu. Kapan kalian akan melakukan penaklukan ini?"
"Kami sedang mempersiapkan diri untuk memasukinya. Kemungkinan besar, Raid akan dilakukan besok lusa."
"Besok lusa, apa kalian tidak takut akan ada pemain lain mendatangi dungeon itu terlebih dahulu*?"
Daffa berdiri dari kursinya lalu menghadap kamera dengan tatapan menantang, "Jika ada yang berani, maka kalian akan merasakan kemarahan tuan muda Rajawali ini!"
Ryn hampir menyemburkan tehnya sekali lagi.
"Hm, bagaimana wajahnya nanti ketika tau kalau dungeon itu sudah pernah ditemukan oleh pemain lain?" Ryn tersenyum miring, menurutnya Daffa ini terlalu percaya diri dengan statusnya.
Dia bukannya meremehkan. Namun ketika melihat orang seperti Daffa, dia hanya bisa tertawa. Ryn lanjut menonton acara televisi itu.
Berita dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Daffa di Ainhra Online. Ryn hanya melihatnya sebentar saja. Ia lebih memilih untuk log-in lagi dan lanjut menelusuri Dungeon Snake.
---
Rein berhasil log-in. Lokasinya saat ini masih di pertigaan, tempat pertarungannya dengan ular-ular merah.
Rein memeriksa statusnya lagi. Ia sudah naik ke level 7 tadi. Bar HP nya sudah penuh, staminanya juga telah kembali.
Panel hologram itu muncul saat Rein melihat bar HP nya. "Eh? Oh ya... 14 SP tadi ya. Aku akan menggunakannya sekarang." Ucapnya. Rein mengubah statusnya hingga menjadi seperti ini.
Nama : Rein
Ras : Elf
Level : 7
Title : Reader, Rabbit Hunter
HP: 8500/8500
MP : 2500/2500
STR : 25
AGI : 30 + 5
VIT : 15
INT : 45
LUC : 11
SP : 0
"Sekarang aku siap melanjutkan penelusuran ku di Dungeon ini. Hemm, jalan yang ada di sebelah kanan terasa lebih tidak teratur dari jalan lainnya. Elemental Snake memiliki banyak elemen, seharusnya dia ada di jalan sebelah kanan." Rein masuk ke jalan di sebelah kanan. Ia berjalan dengan santai saja.
Namun, dia tak mengetahui satu hal, lubang yang menjadi jalur masuknya menghilang.
Rein berjalan dengan santai sebelum ia mendengar suara riak air yang cukup kuat. Suara riakan air itu membuatnya diam sebentar dan memperhatikan sekelilingnya.
Tanah yang ia pijak sedikit bergetar. Rein menjadi lebih waspada. Takutnya ada ular besar yang mengincarnya. Rein menoleh dengan pelan ke kirinya, kanannya, atas, dan yang terakhir, ia menoleh pelan ke belakang.
*SSSHUUUAAAA!!!
Aliran air yang sangat deras ada di belakang Rein. Jauh, namun air itu menuju ke arah Rein dengan cepat.
Rein, tentu saja terkejut, ia langsung memasukkan pedangnya ke storage dan berlari sekuat tenaga.
"Apa-apaan air-air ini!!"
Rein terus berlari dan berlari. Sampai-sampai staminanya hampir habis. Namun dia masih harus berlari jika tidak ingin mati tenggelam dalam game.
Saat ia berlari, dari lubang-lubang yang ada di terowogan atau jalan, muncullah beberapa ekor ular merah kecil.
"Please let me stop! Agh, sudahlah. !” Rein mengambil kembali pedangnya dari storage dan menebas ular-ular itu.
""SSSSSSsssss!!"
Ular-ular itu terbunuh satu persatu karena Rein. Rein masih terus berlari dari air yang mengalir di belakangnya sambil menebas beberapa ular.
“Kapan air ini berhenti?!”
Rein melihat ke belakang. Air itu masih terus mengalir dengan deras, tanpa ada tanda-tanda berhenti. Sedangkan bar HP nya terus menurun.
Rein melihat ke depan kembali. Dia terkejut dan langsung berhenti dari larinya. Di depannya terdapat jurang. Rein melihat ke belakang lagi. Air itu tepat di depan matanya dan langsung mendorongnya ke jurang.
“Sh*t”
Rein terjatuh ke jurang itu.
.
.
.
Apartemen W, Garuda Right Wings, Garuda City, Jakarta Pusat, 01 Januari 20XY . Sehari sebelum Rein masuk ke Dungeon Snake.
“AAaah! Semua ini akan membuatku gila!”
Tya sekarang sedang ada di apartemennya, tentunya. Hari ini adalah hari dimana Server Ainhra Online dibuka secara global untuk para pemain. Tapi, Tya tak dapat masuk ke dalam game itu.
"Hiisss, bagaimana bisa Avera Gear milikku itu sampai rusak? Mana sinyalnya error lagi..."
"Ya Tuhan... Hamba harus bagaimana?"
Tya ingin menangis tapi tidak bisa. Dari jam 06.55 tadi ia sudah mencoba segala cara untuk masuk ke dalam game. Namun panel hologgram bertuliskan [ERROR] terus saja muncul.
"Terpaksa aku harus menelpon papa agar perangkat ini bisa diperbaiki."
Tya menekan alat di telinganya sekali. Alat itu menampilkan hologram di depannya. Hologram itu berbentuk seperti layar ponsel, namun lebih sedehana. Fungsinya kurang lebih sama dengan Smartwatch tahun 2020.
Ia menekan tombol berlambang telepon dan mengetik kontak bernama 'Papa'.
Biiip! Biiip! Biiip!
Tya langsung menelpon papanya lagi.
Lagi.
.
.
Dan lagi.
.
Dan berulang kali lagi.
.
.
"Ayolah papa! Kenapa tidak diangkat sih?!"
Tya menelpon papanya sekali lagi. Ini sudah yang ke-14 kalinya ia menelpon papanya.
"AAAggghhh!!! Haaah, hah, hah. *Menarik nafas* *membuangnya*, oke. Aku harus ke tempat ayah sekarang." Tya mengetuk alat yang ada di telinganya sekali, membuat panel hologram yang ada di depannya hilang.
Tya sekarang sebenarnya hanya memakai kaos putih lengan panjang bertuliskan surempe dan celana jeans panjang. Ia mengambil masker hitamnya dan langsung pergi keluar dari apartemennya. Menguncinya, berjalan ke arah lift, menekan tombol lalu menunggu sebentar.
Ting! Lift sampai di lantai 27. Karena hari ini adalah tahun baru. Tak ada orang di lift. Pintu lift terbuka. Tya langsung masuk dan menekan tombol 40.
Beberapa saat kemudian, Tya sampai di lantai 40. Ia langsung menuju kantor papanya dan mengetuk pintu dengan cukup keras.
Tok!! Tok!! Tok!!
"Papa! Ini Anastasya, biarkan aku masuk!" Teriak Tya ke dalam.
Seseorang membukakan pintu. Tya tanpa segan-segan langsung masuk dan berjalan lurus ke meja ayahnya.
"Tya, ada apa nak?" Tanya Pak Alden, papa Tya, masih fokus dengan kertas-kertas di atas mejanya.
Tya menghembuskan nafasnya lalu mulai berbicara, "Avera Gear di kamarku rusak."
Pak Alden menghentikan tangannya yang ingin menandatangani selembar kertas. Ia menatap anaknya heran.
"Bagaimana bisa rusak? Yang kau miliki adalah Avera Gear desain tahun 20XI, versi 1.5 dari perusahaan QRYZ, salah satu yang paling tahan banting. Bisa kau ceritakan kenapa benda itu rusak?" Tanya Pak Alden.
Tya mengangguk, "tadinya aku ingin log-in ke Ainhra Online. Tidak kusangka ketika aku ingin memasukkan chip game itu, Gear-nya malah error dan Chip Game nya tidak mau masuk." Terang Tya.
Pak Alden mendengarkan penjelasan Tya lalu menyandarkan tubuhnya, ia berpikir sebentar. Tya hanya berdiri di depan meja ayahnya dengan tatapan penuh harap.
“Perbaikannya akan memerlukan waktu yang tak sedikit. Minimal 3 pekan. Lebih baik kau membeli Avera Gear 3.0 saja.” ucap Pak Alden pada Tya.
Tya yang tadinya penuh harap menjadi murung. Walau perangkat itu bisa diperbaiki, dia harus menunggu selama 3 pekan. Yang berarti dia akan ketinggalan cukup banyak level dari pemain lainnya.
"Papa... Apakah benar-benar harus 3 pekan?"
"Ya, harus, bahkan biasanya lebih. Kau tau Avera Gear sangat susah diperbaiki bukan?"
"Huft, baiklah. Jadi bagaimana dengan game itu? Apakah Avera Gear yang baru bisa datang hari ini?"
"Tentu. Pabrik QRYZ cabang Indonesia kan terletak di wilayah Garuda City."
"Hmm, baiklah, kalau begitu Tya kembali dulu." Tya mengatakan hal itu lalu berjalan keluar.
Namun seseorang memeluk kakinya. "Kakak! Apakah kakak ada waktu hari ini? Jendra ingin main dengan kakak!" Ucap orang uang memeluk kakinya, alias adiknya, Jendra.
Tya tersenyum melihat tingkah adiknya itu. Ia mengelus kepala adiknya. "Tentu, kakak ada waktu. Bagaimana kalau kita bermain ligo hari ini?" Ucapnya tersenyum lembut.
Jendra gembira. Kakaknya ada waktu untuk bermain dengannya. Ia langsung mengiyakan ucapan kakaknya.
Pak Alden tersenyum tipis melihat tingkah laku kedua anaknya itu. Ia menelpon orangnya untuk segera mengirim Avera Gear untuk Tya. Kemudian ia lanjut bekerja.
.
.
.
Dungeon Snake, Hutan Agresia, Ainhra Online.
*BBYUURR
Rein jatuh ke dalam sebuah kolam yang cukup dalam. Ia membuka matanya perlahan dan melihat sekeliling.
'Aku belum mati? Hah? Di mana aku? Kolam? Eh, bukan, 'kolam' ini terlalu dalam untuk disebut sebuah kolam. Sepertinya aku jatuh ke danau. Syukurlah aku tidak mati.'
Setelah memikirkan hal itu, Rein langsung berenhang ke permukaan. Kekurangan oksigen juga dapat menbuat para Pemain atau para NPC mati.
*Splash!
Rein sudah sampai di permukaan. Ia melihat ke belakangnya. Lubang tempat ia jatuh tadi sudah berubah menjadi air terjun, entah kenapa.
Rein berenang ke pinggiran danau. Di sana terdapat banyak pepohonan. Ia memilih untuk duduk menyandar di salah satu pohon. Ia beristirahat selama beberapa menit untuk mengisi bar HP nya dan Staminanya hingga penuh.
"Huuft, benar-benar... Bagaimana bisa air tiba-tiba muncul. Untungnya di sini ada danau, kalau tidak, pasti aku sudah mati dan levelku berkurang." Ucap Rein menghela napasnya.