Ainhra Online

Ainhra Online
First Blood



"Penyihir" itu langsung menyerang Ryn dengan panah api.


Ryn berhasil menghindar dengan susah. 'Gerakanku di dunia nyata tidak secepat di Ainhra Online. Ck, aku harus lebih banyak berolahraga.'


"Hooo, kau berhasil menghindarinya. Bagaimana dengan ini!"


Penyihir itu menyerang Ryn lagi. Kali ini dengan 3 panah api.


'Dia sungguh ingin membunuhku?!'


Ryn mengaktifkan pedang portabelnya dan menahan panah-panah api itu dengannya. Untungnya, ia masih ingat cara memainkan pedang dari Ainhra Online.


"Kau masih bisa menghindarinya ya.. kalau begitu aku akan menambahkan seranganku!"


Penyihir itu kembali menyerang Ryn drngan panah api. Kali ini jumlahnya 5. Ryn masih bisa menghindari serangan itu.


'Fyuh, bola-bola api dari Fire Snake lebih ganas dari pada ini.' pikirnya. Ia melihat pedangnya. Warna pedang itu masih sama, namun tercium bau terbakar dari pedang itu. 'Dia memang ingin membunuhku ya... Karena tempat ini agak berbeda dengan dunia nyata, tidak apa aku juga membunuhnya, kan?'


Ryn mengambil ancang-ancang. Ia menunggu serangan selanjutnya dari si penyihir.


"Apa? Kau ingin melawanku? Khekhe, bahkan kalau kau hidup 100 tahun lagi, kau tak akan bisa mengalahkanku!"


Penyihir itu menyerang Ryn kembali dengan 5 panah api. Ryn berhasil menemukan batasnya. 'Jadi ia hanya bisa menembakkan 5 panah api ya.... Dan ada jarak sekitar 3-5 detik untuk mengaktifkan mantranya.'


Ia menghindari 3 panah dan mematahkan 2 panah lainnya dengan pedangnya. Wajah tersenyum di balik topeng sang penyihir, berubah menjadi wajah tidak senang.


'Bagaimana bisa dia menahan semua seranganku?! Manaku sudah tersisa sedikit, hanya tinggal 2 serangan lagi. Kalau ia tak menyerah juga, aku harus pergi dari tempat ini!'


Penyihir itu menyerang Ryn sekali lagi. Namun, Setelah panah pertama terbentuk, Ryn berlari ke arahnya.


*Zrash! Zrash! Zrash!


Panah-panah itu patah satu demi satu. Ryn semakin dekat dengan penyihir itu.


'Apa?! Dia bisa bermain pedang?!'


Penyihir itu tak dapat kabur. Ia diam di tempatnya, terkejut karena kemampuan Ryn. Kalau ia keluar dari tempat itu tanpa membunuh Ryn, Barriernya akan musnah dan Ryn bisa berteriak. Ia juga akan sangat lemah, karena mana nya tersisa sedikit.


"Ugh! Rasakan ini!"


Penyihir itu mengarahkan 5 panah terakhirnya ke Ryn. Namun sebelum ia dapat menembakkannya, jaraknya dan Ryn hanya tersisa 1 meter.


"Telat."


"TIDAK!!!"


Ryn menebas kepala penyihir itu.


*Shuuu


Bukannya darah yang keluar dari tubuh sang penyihir, melainkan 'tinta' warna ungu. 'Tinta' ungu itu menyembur keluar dari tubuh penyihir itu.


".... A.... Li... Ce...." Ucap penyihir itu terakhir kali, sebelum ia sepenuhnya mati.


Ryn melihat mayatnya dengan tatapan kosong. 'Alice.... Aku akan mengingat nama itu.'


Barrier yang ada di gang itu perlahan menghilang. Begitu juga tubuh sang penyihir. Berubah menjadi 'tinta' ungu dan terserap ke dalam tanah.


*Ajakslqnskspamaidna


Suara-suara dari luar gang kembali terdengar.


Ia melihat sekelilingnya, walau mayat sang penyihir sudah terserap Bumi, ia tidak bisa melupakan bagaimana 'tinta' ungunya itu menyembur keluar dari tubuh sang penyihir. 'Ugh.... Aku telah membunuh seseorang. Tapi dari perkataannya, sepertinya ia tidak sendiri. Mungkin, ini hanyalah pembunuhan pertama.'


Ryn menonaktifkan pedangnya dan mengambil ponselnya dari saku. Seketika banyak sekali notifikasi dalam ponsel itu.


'Missed call (12)'


'Apaapp Chat (39)'


"...."


Notifikasi itu terus bermunculan. Suaranya pun sangat bising. Setelah itu berhenti, barulah Ryn dapat melihat ponselnya.


"Pukul 21:07... Aku sudah telat."


Ryn tidak menjawab pesan-pesan yang bermunculan di ponselnya. Namun ia menelpon kembali bibinya yang sudah menelponnya sebanyak 12 kali.


.


.


.


*Bzzz bzzzz


Ponsel Bibi Mary berdering. Ternyata keponakannya menelponnya.


"Aku izin angkat telpon dulu." Ucapnya.


"Ooh, silahkan, silahkan." Ucap Selena.


Bibi Mary keluar dari ruangan VIP dan mengangkat telepon dari keponakannya.


"Halo? Bibi?"


"Ya! Ha-Lo! Kau ini darimana saja Ryn! Sampai telat setengah jam, temanku sudah datang duluan. Bikin malu saja."


Ryn menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Uuuh.... Ya... Bibi.... Sebenarnya ada sesuatu yang terjadi. Dan hal ini sangat penting dan rahasia. Berkaitan dengan perkataan Bibi beberapa hari yang lalu."


Bibi Mary terkejut, ia tak menyangka memang ada sesuatu yang terjadi dengan keponakannya itu. "Apa? Kalau begitu cepatlah datang kemari. Aku akan ada di ruangan VVIP. Berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga kau sampai?"


Ryn melihat sekelilingnya, lalu ia menjawab, "sekitar lima sampai sepuluh menit lagi aku akan sampai."


"Oke. Cepatlah dan jangan menunda. Pembicaraan tentang hal itu harus segera dibahas."


"Baik bibi, aku akan segera ke sana."


Bibi Mary mematikan telponnya. Ia segera ke meja resepsionis dan memesan ruangan VVIP 1. Dan memesan kepada sang resepsionis untuk mengantarkan seseorang bernama "Avaryn Jhonesson" ke ruangan itu.


.


.


.


Ryn, disisi lain berjalan menuju restoran 55555. Kali ini ia berjalan cepat, tidak seperti sebelum ia diserang. Trotoar yang ramai itu tidak menjadi hambatan untuknya.


Ryn sedikit lagi sampai di simpang tiga. Ia berlari ke simpang karena sedang lampu merah. Namun ia terlambat, sedetik sebelum ia sampai, lampu hijau telah menyala.


'Haish, aku harus menunggu sebelum lampu merah lagi.'


20 detik kemudian, lampu kuning menyala. Lalu lampu merah menyala. Namun masih ada mobil yang berjalan.


Setelah mobil-mobil itu berhenti, barulah Ryn bisa menyebrang.


Tak lama, ia sampai di Restoran 55555. Sebuah restoran besar dengan 5 lantai. Walau Ryn cukup terkesan, ia tidak punya banyak waktu.


Ryn segera masuk ke dalam dan langsung mengantri di meja resepsionis.


Di restoran ini, Ryn menjadi pusat perhatian. Karena di sana banyak orang tua yang sudah berumur 40-60 an tahun.


'Lihat, walau pakaiannya rapi dan tubuhnya tidak ditindik, dia mewarnai rambutnya.'


'Anak muda zaman sekarang. Memang tidak tahu aturan.'


'Ckckck, jangan mencontoh dia ya nak. Mewarnai rambut apalagi dengan warna putih sangat tidak sopan dan tidak bergaya.'


'Apa-apaan dia? Mentang-mentang wajahnya tampan, bisa seenaknya masuk ke Restoran ini dengan rambut seperti itu? Heh.'


Orang-orang membicarakan dia. Mengatakan ia 'tidak sopan', 'tidak patut dicontoh', dan lainnya.


Ryn tidak bisa mempedulikan mereka. Ia perlu berbicara dengan bibinya, itu yang penting.


Orang yang mengantri di depan Ryn telah selesai. Pada saat yang sama, seseorang datang. Menerobos antrian Ryn.


Ryn melihat orang itu dengan heran. "Permisi, tapi aku sudah mengantri terlebih dahulu. Tolong jangan memotong antrian." Tegurnya pada orang itu.


Orang itu membalikkan tubuhnya. Ia adalah orang Indonesia dengan wajah rata-rata. "Huh apa? Kau sudah mengantri terlebih dahulu? Apa hubungannya denganku? Kau yang salah! Tidakkah kau tau kalau dikalangan orang-orang kelas atas mewarnai rambut itu dianggap tidak sopan? Hei! Penjaga! Bagaimana bisa kau membiarkan orang ini masuk?!" Ucap orang itu pada Ryn.


"Maaf. Pak. Tapi saya sudah mengantri terlebih dahulu dan saya ada urusan penting di restoran ini. Tolong jangan menghalangi saya. Dan juga, rambut saya tidak diwarnai." Ucap Ryn, tegas. Ia ingin menyalip orang itu. Namun orang itu menghalanginya.


'Ini orang gak ada sopan santun ya?'


"Apa lagi pak? Bukankah sudah saya bilang kalau saya ada urusan penting di restoran ini?"


"Dasar tidak sopan! Aku masih berumur 30 tahun! Tidak pantas kau panggil pak! Penjaga! Bawa orang ini keluar!"


Para penjaga datang ke tempat Ryn dan orang tak dikenal itu.


"Ada apa, Tuan muda?" Ucap salah satu penjaga.


"Lihat! Orang ini sangat tidak sopan kepadaku! Cepat usir dia!!"


"Baik, tuan muda." Penjaga itu meraih tangan Ryn.


Ryn tersenyum miring. "Huh, kau tidak tau saja. Resepsionis, namaku Avaryn Jhonesson." Ucapnya pada resepsionis yang hanya memperhatikan dia dan orang tak dikenal (tuan muda) itu berseteru.


"Untuk apa kau menyebutkan namamu? Kau juga tidak akan diizinkan masuk! Penjaga bawa dia!"


Di saat yang bersamaan, resepsionis itu mencari nama Avaryn Jhonesson di komputernya. Penjaga itu berusaha menarik Ryn juga, namun Ryn tetap ditempat, tersenyum miring. Tatapannya lurus ke arah resepsionis.


"Penjaga! Jangan bawa dia!" Ucap sang resepsionis.


Si 'tuan muda' itu heran. "Kenapa resepsionis? Bukankah dia tidak pantas berada di sini? Penjaga! Keluarkan dia!"


Ucapan 'tuan muda' itu tidak dipedulikan. Malah sang penjaga melepaskan tangan Ryn.


Resepsionis restoran itu membisikkan sesuatu kepada pelayan yang bertugas mengantarkan tamu ke ruangan VIP atau VVIP. Pelayan itu langsung saja menghampiri Ryn dan memohon maaf kepadanya.


"Mohon maaf atas ketidaknyamanannya tuan Avaryn. Nyonya Mary sudah menunggu anda di ruangan atas." Ucap pelayan itu.


Ryn tersenyum ramah kepada pelayan itu. Lalu mengalihkan pandangannya ke si 'tuan muda'.


"Hati-hati dalam berbicara, 'tu-an-mu-da'." Ucapnya. Lalu dia pergi dari temoat itu, mengikuti pelayan yang tadi.


"Kau!-"


"Tuan muda Chandra, apakah anda masih akan memesan meja di sini?" Ucap sang resepsionis memitong ucapan Chandra.


Chandra hanya bisa memendam kekesalannya dalam hati. "Ya, masih." Jawabnya.


Ryn masuk ke dalam lift bersama sang pelayan. Ia mengambil ponselnya dari dalam sakunya. Dan mengechat Bibi Mary kalau ia sudah berada di dalam lift.


.


.


.


*Ting!


Sebuah notifikasi pesan muncul di ponsel Bibi Mary. Pesan itu berasal dari keponakannya, Avaryn.


Avaryn


Bibi, aku sudah berada dalam lift. Sebentar lagi sampai di ruangan yang sudah Bibi Pesan.


Bibi Mary


Bagus. Masuklah dulu. Aku akan menyusul nanti.


Bibi Mary menutup ponselnya kembali. Ia melanjutkan obrolannya dengan Selena, Alden, dan Albert.


Jendra sudah tertidur pulas. Wajar saja, ini adalah jam tidurnya. Ia tak bisa bangun terlalu lama setelah jam delapan malam.


Sedangkan Tya, ia hanya duduk diam dan mendengarkan percakapan para irang dewasa. Sambil sesekali berkomentar.


*Bzzz bzzz


Ponsel Tya bergetar. "Permisi semuanya, saya izin keluar sebentar." Ucapnya pada orang tuanya dan teman mereka.


"Silahkan Tya, jangan terlalu lama ya. Sebentar lagi hidangan utama akan datang." Ucap Pak Alden.


"Ya, Papa."


Tya pun keluar dari ruangan itu. Ia berjalan menuju toilet yang ada di dekat lift.


Suara ia berjalan tidak terdengar. Karena karpet yang terpasang di sepanjang koridor.


Namun ia mendengar seseorang berbicara.


'Di mana ruangannya?' ucap seseorang yang terdengar seperti seorang pria.


'Tinggal belok di sana, tuan.' ucap seseorang lagi yang terdengar seperti perempuan.


'Sepertinya ada yang datang ke area VIP.' pikir Tya. Namun ia tak terlalu peduli.


Ia terus berjalan. Saat di belokan, ia berpas-pasan dengan orang-orang yang ia dengar tadi.


Ia bertatapan dengan sang pria. Pria itu juga melihatnya.


'Pria berambut putih, namun terlihat masih muda, menarik.' pikirnya.


Namun ia segera melewati sang pria dan pelayan. Dan terus berjalan menuju toilet.