Ainhra Online

Ainhra Online
Tongkat Misterius



"Budi, kau pergi saja menjaga anak-anak. Biar aku yang mengajar Tasya sekarang." Ucap Kak Asih sambil menggerakkan tangan menyuruh Kak Budi pergi.


"Baiklah, kau ajar dia dengan benar, oke? Kita tidak bisa membiarkan calon priest diajari sesuatu yang salah." Ucap Kak Budi sebelum pergi meninggalkan Kak Asih dan Tasya.


"Ya, ya, ya. Kau tenang saja.!"


*Kriet, Cklek!


"Baiklah, sekarang kita akan berlatih menggunakan Elemental Stone yang kosong. Dengan latihan ini kau bisa lebih mengendalikan kekuatanmu." Ucap Kak Asih.


Lalu ia memgambil satu Elemental Stone yang dikeluarkan Tasya tadi. "Aku akan melakukannya sekali sebagai contoh. Perhatikan aliran manaku baik-baik."


Kak Asih memegang Elemental Stone di tangan kiri. Lalu ia mengarahkan jari telunjuk kanannya ke Elemental Stone itu.


Tasya memperhatikan aliran mana Kak Asih. Aliran mana itu mengalir dari bola mana ke tangan lalu ke jari telunjuk kak Asih.


Tampak, butiran mana putih di depan jari telunjuk Kak Asih. Laku butiran mana itu diserap oleh Elemental Stone. Setelah beberapa lama, Elemental Stone itu bercahaya terang.


Kak Asih menarik kembali tangannya. "Lihat? Itulah hasilnya jika kau berhasil! Elemental Stone kosong itu akan berubah menjadi Light Stone. Apa kau mengerti?"


"Sejauh ini, aku mengerti."


"Bagus! Aku akan melakukan peragaan lagi. Kali ini, aku akan menunjukkan yang gagal. Perhatikan saja aliran mananya, dan temukan perbedaannya dari peragaan yang sebelumnya."


Kak Asih kembali mengambil Elemental Stone. Kemudian ia mengarahkan jari telunjuknya ke arah batu itu.


Tak seperti ssbelumnya, Kak Asih mengalirkan mananya dengan sangat cepat dan tak terkendali. Butiran mana putih langsung terbentuk dalam waktu kurang dari sedetik. Namun kurang dari sedetik juga....


*Zrash!


Batu itu hancur menjadi debu.


"Seperti itulah hasilnya jika kau melakukannya secara berlebihan. Jadi, kau mesti melakukannya dengan perlahan. Tidak perlu tergesa-gesa. Oh ya, berapa Elemental Stone kosong yang kau bawa?"


"Sekitar 30-an. Dan baiklah, aku akan melakukannya perlahan."


"Bagus, bagus. Dengan bergitu kau bisa berlatih lama! Oh ya, walau aku mengatakan kau harus melakukannya dengan perlahan, bukan berarti kau harus selalu perlahan. Kau bisa menaikkan kecepatannya perlahan-lahan. Aku akan memperhatikanmu dari sini."


"Baiklah, kalau begitu aku akan mencobanya."


Tasya mengambil satu Elemental Stone. Lalu ia mencoba melakukan hal yang dicontohkan oleh Kak Asih. Namun ternyata hal itu lebih sulit dari yang ia kira.


*Zrashh


"Gagal...."


Ya, pada akhirnya percobaan pertamanya gagal. Elemental Stone itu berubah menjadi debu.


'Huft, tidak apa-apa. Aku masih bisa mencobanya lagi.'


Tasya mengambil Elemental Stone yang lain dan melakukan hal yang sama.


*Zrasshh


'Masih gagal.... Baiklah, tidak apa-apa!"


Tasya mengambil 5 Elemental Stone dari kantungnya. Lalu ia mengambil satu untuk dicoba kembali.


*Sriiing!


'Berhasil!'


Elemental Stone itu bersinar terang. Tanda bahwa Tasya telah berhasil.


Di sisi lain, Kak Asih membelalakkan matanya. 'Apa-apaan bakat yang dimilikinya?! Aku yang dikatakan genius oleh petinggi gereja pusat saja, bisa melakukan hal itu pada percobaan ke 11!! Hello?! Dewi? Dunia???'


Bayangkan, 3 banding 11, bukankah itu sangat jauh?


Namun Asih segera menahan keterkejutannya. 'Fyuh, untung saja dia bergabung dengan Church of Lumina. Kalau tidak, ia bahkan bisa langsung di rekrut menjadi Daughter of God di gereja lainnya! Oh Dewi, betapa beruntungnya anak-anak mu ini.'


Mungkin karena Kak Asih memuji Dewi Lumina, percobaan Tasya yang lainnya terus berhasil. Dan sekarang sudah batu ke-15 nya. Ia sudah bisa mengendalikan dengan tepat Mana yang ia keluarkan.


'Baiklah, Elemen Cahaya sudah selesai, sekarang aku bisa berlatih dengan Elemen Air.'


Tasya lanjut berlatih. Kak Asih tersenyum sendiri melihat perkembangan Tasya yang cukup pesat. Hingga tak terasa sekarang sudah jam 9, dan Elemental Stone kosong yang Tasya bawa habis.


*Sring, blub


"Baiklah, ini batu yang terakhir." Tasya terlihat senang dengan batu bitu yang dia pegang itu.


>



Ket : Dapat mengendalikan Mana Alam di sekitar pemain dalam radius 1 m. Pemain dapat mengubah Mana Alam itu menjadi tambahan Mana pemain.


Maks Tambahan Mana : 1000


*Prok prok prok


"Bagus, Tasya. Selamat, kau sudsh bisa mengendalikan Mana dalam tubuhmu dengan baik. Belajar sihir tingkat rendah seharusnya bukan maslaah bagimu." Ucap Kak Asih, menghampiri Tasya yang sudah selesai berlatih.


"Terimakasih, Kak. Kalau begitu, bisa kita lanjut ke prosedur selanjutnya?"


"Ya, tentu-ten."


*Kriet


"Priest! Priest! Tolong sembuhkan anakku! Dia digigit oleh seekor Lone Wolf yang tiba-tiba mendatangi desa!"


"Benar! Tolong sembuhkan anakku juga!"


Dua pasang ibu dan anak datang ke gereja. Terlihat anak-anak itu terluka cukup parah.


Kak Asih langsung menghampiri mereka. "Budi! Bantu aku!"


Kak Budi yang tadinya ada di luar langsung menerobos masuk ke dalam gereja. Mereka segera melakukan pertolongan pada anak-anak itu.


Tasyapun berdiri juga, walaupun ia tidak dapat melakukan apapun yang cukup berarti. Namun, ia bisa mengendalikan Mana Alam sedikit untuk membantu Kak Asih dan Kak Budi.


Beberapa menit kemudian, kedua anak yang terluka tadi sembuh.


"Terimakasih Dewi! Terimakasih Priest! Anak kami sudah sembuh berkat kalian." Ucap salah satu ibu.


"Ya, kami akan senang membantu." Ucap Kak Asih.


*Cklek


Kak Asih menghela napasnya. "Huft. Lone Wolf ya? Akhir-akhir ini semakin banyak kejadian monster datang ke desa. Padahal sebelumnya hal ini cukup jarang."


"Mungkin saja karena pertambahan penduduk secara signifikan. Karena itu juga monster disini bertambah." Kak Budi menanggapi ucapan Kak Asih.


Kak Asih membenarkan perkataan Kak Budi. "Hm, hm. Dan monster sekarang menjadi lebih agresif."


Tasya hanya diam mendengarkan. 'Monster tidak berkurang? Aneh, saat aku berburu jumlah monster berkurang sedikit demi sedikit. Apa update kali ini penyebabnya?' pikir Tasya.


"Oh ya, Tasya, untuk pendaftaran kartu identitasmu 4 hari lagi. Kau bisa beristirahat sekarang." Ucap Kak Asih pada Tasya.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan datang lagi besok atau nanti malam." Ucap Tasya, mengambil kantungnya dan berjalan ke luar gereja.


"Hati-hati di jalan. Semoga Dewi memberkatimu." Ucap Kak Asih dan Kak Budi bersamaan.


"Hm, semoga Dewi memberkati kita."


*Cklek


.


.


.


Desa Gres, Atheya Kingdom, Golden Rock Empire, 06 Januari 20XY.


Rein mengikuti Pak Hynra ke belakang tokonya. Yaitu sebuah gang kecil.


"Ehm, Pak, untuk apa kita melewati gang ini?" Tanya Rein.


Pak Hynra menjawabnya tanpa menoleh. "Tak ada yang spesial. Ini adalah jalan pintas ke jalan lain desa."


"Ooh, begitu." Rein diam kembali.


Setelah beberapa saat, merekapun keluar dari gang. Di sana, seperti jalanan desa yang lain, terdapat beberapa toko.


Salah satu toko itu adalah toko penjual senjata sihir.


*Kring


Rein dan Pak Hynra masuk ke dalamnya. Terlihat di dalam toko itu berjejer rapi macam-macam tongkat sihir. Yang panjang, pendek, atau bahkan yang bisa dikecilkan hingga sebesar kelingking.


Tongkat sihir berbeda dengan senjata pada umumnya. Karena tongkat sihir dibuat dengan kayu khusus yang dapat mengakirkan Mana. Tongkat sihir juga dilengkapi sebuah permata untuk meningkatkan daya serang sihirnya.


Mereka berjalan ke meja penjaga toko.


"Selamat datang di toko sihir Aneru. Ada yang bisa saya bantu, tuan?" Ucap sang penjaga toko.


"Ah, aku ingin mencarikan sebuah tongkat sihir pendek untuk anak ini. Elemen Netral." Ucap Pak Hynra sambil menunjuk Rein.


Penjaga toko itu melirik Rein. Kemudian ia mengangguk. "Baik, tunggu sebentar tuan."


Rein terkejut dengan perkataan Pak Hynra. "Pak, apa anda yakin? Bukankah tongkat sihir itu mahal?" Tanyanya.


"Mahal? Apakah 10 Gold mahal? Hahaha, ini adalah Desa Elf. Bukan Desa atau Kota Manusia. Kalau di sana, mungkin harganya mencapai puluhan bahkan ratusan Gold."


'Ah iya! Astaga, kenapa aku bisa lupa.' gumam Rein dalam hati.


"A-ah, iya juga, saya hampir lupa fakta itu."


Beberapa saat kemudian penjaga toko yang tadi menghampiri Rein dan Pak Hynra.


"Ini adalah lima tongkat sihir yang mungkin cocok dengan Tuan. Silahkan di lihat dulu."


Penjaga toko itu menjejerkan lima kotak drngan panjang berbeda-beda setiap kotaknya. Setiap kotak itu memiliki ukiran yang berbeda-beda pula. Namun semuanya memiliki lambang yang sama. Lambang Elemen Netral, artinya tongkat sihir itu bisa dialiri Mana Elemen apapun.


Rein melihat tongkat yang ada di urutan paling kiri.


"Itu adalah tongkat sihir sepanjang 26 cm. Terbuat dari kayu Pohon Red Devils. Cocok untuk penyihir level 10-50. Harganya 10 Gold." Ucap sang penjaga toko saat Rein menyentuj kotak itu.


Rein membuka kotak itu. Terlihat sebuah tongkat warna merah dengan permata warna oranye di atas pegangannya.


Tangan Rein bergerak menyentuh tongkat itu, berniat memeriksa statusnya. Namun ia terkena sengatan listrik sebelum dapat benar-benar menyentuhnya.


"Sepertinya tongkat ini tidak menyukai Tuan. Tuan dapat memilih tongkat yang lain." Ucap sang penjaga toko, lalu menutup dan menyingkirkan kotak tadi.


Rein mengangguk, lalu membuka kotak yang ada di samping kanan kotak sebelumnya.


"Tongkat ini memiliki panjang 23 cm. Lebih pendek dari yang sebelumnya. Terbuat dari kayu Yellow Ebony. Cocok untuk penyihir level apa saja."


Rein mencoba menyentuh tongkat itu lagi, namun tetap saja ia merasakan sengatan listrik.


"Tuan bisa membuka kotak yang lain."


Rein beralih ke kotak ke-3. Iapun membukanya. Sebuah tongkat berwarna putih dengan permata biru ada di dalam kotak itu.


"Tongkat ini memiliki panjang 28 cm. Terbuat dari kayu pohon...." Penjaga itu terlihat bingung melihat tongkat sihir di dalam kotak.


Pasalnya, seingatnya tidak ada tongkat warna putih di toko itu sebelumnya. Selain itu, ia tak ingat mengambil kotak sepanjang itu. Dengan kata lain, kotak itu tidak jelas asal usulnya.


"Kalau anda tidak ingat tidak masalah. Yang penting dia mendapatkan tongkatnya." Ucap Pak Hynra, lalu melirik Rein yang sedang ragu.


Rein merasa ragu untuk menyentuh tongkat itu. Karena ia telah terkena sengatan dua kali. Bagaimana jika tongkat yang tak diketahui asal-usulnya ini juga memberikan sengatan yang sama?


"Lakukan saja. Kalau tidak, kau takkan tau tongkat apa yang cocok untukmu." Ucap Pak Hynra, megakinkan Rein.


".... Baiklah."


Rein menyentuh tongkat itu. Kali ini ia tak merasakan sengatan listrik.


Nama Benda : White Scale Staf


DUR : ????


Ket : ?????


'Tanda tanya? Kenapa tongkat ini menunjukkan tanda tanya?' Rein bingung, namun ia tetap mengambil tongkat itu.


*Tuk


Rein kehilangan kesadarannya.