Ainhra Online

Ainhra Online
Rest Area



"AAAAAAHHHHHH!!!!!"


"KSSSSSSSSSHHHHH!!!!"


"Jangan sampai kalian pingsan!"


Rein, Aksha, dan Boss Dungeon Snake sedang 'berjalan' keluar dari dimensi khusus Dungeon Snake. Mereka sedang memanjat tebing tinggi yang ada di dimensi aneh itu.


"Elf kecil! Tutup matamu! Kita akan melewati portal dimensi!"


Rein langsung menutup matanya. Kalau tidak, bukan tidak mungkin otaknya bermasalah. Aksha sendiri berlindung di dalam lengan baju Rein. Merekapun masuk ke portal dimensi.


"Hei, bukalah mata kalian. Kita sudah sampai."


Rein dan Aksha membuka mata mereka. Sekarang dia sedang berada di tempat ia melawan Mini Boss api.


"Huah. Aku berada di tempat ini lagi." Ucap Rein seketika.


Aksha sangat antusias. Karena dia baru pertama kali berada di luar dimensi. Tidak heran dia langsung turun dari Rein dan berkeliling.


"Kalau begitu, aku kembali lagi. Akan bahaya kalau ada 2 Boss sekaligus dalam satu tempat."


"Baiklah, terimakasih telah mengantarku! Nyonya Anaconda raksasa!"


"SSS sss S!"


Rein dan Aksha mengucapkan selanat tinggal ke Boss Dungeon Snake itu dengan melambaikan tangan. Sang Boss Dungeon langsung kembali ke dimensinya. Setelah itu, pintu masuk dimensi itu menghilang.


Aksha naik kembali ke tangan Rein. Dia menarik-narik lengan baju Rein. "Aksha, Apa kau ingin melihat ular-ular yang ada di luar dimensi khusus?"


Aksha mengangguk. Dia memang ingin melihat ular-ular yang ada di luar dimensi khusus. Memang, ada beberapa ular yang tak tahan dengan perubahan waktu yang terjadi di dalam dimensi khusus.


"Kalau begitu ayo kita berjalan masuk ke dalam."


Rein dan Aksha masuk ke jalan yang ada di sebelah kiri. Karena Rein kemarin sudah memilih jalan kanan, kali ini dia memilih jalan yang kiri.


Jalan yang mereka tempuh itu cukup sepi. Ular-ular yang ada tidak menyerang Rein sama sekali. Karena titel yang ia miliki.


Bukan itu saja, tempat itu juga gelap. Kalau bukan karena ada Aksha, bisa dipastikan Rein Tidak dapat melihat.


"Aneh... Ada apa dengan jalan ini?" Rein merasa kalau jalan itu tidak biasa. Akhirnya dia tetap berjalan lurus.


"SSSSSSsssss!!"


Seekor ular menyerang Rein dari belakang. Rein yang menyadari hal itu langsung saja melemparkan batu api ke ular itu. Anehnya, tidak ada mayat ular di belakangnya setelah Rein menoleh.


"Aksha, coba kau turun dan mengarahkan cahayamu ke ular tadi." Ucap Rein.


Aksha mengangguk dan langsung turun dari tangan Rein. Kemudian dia melata ke tempat ular itu berada sebelumnya.


"?! Ular ini berwarna hitam?" Ucap Rein terkejut.


Nama Monster : Little Darkness Snake (1m)


Level : 5


HP : 500


ATK : 1000


"ATK... 1000?!"


Ular hitam, atau biasa dipanggil dengan Darkness Snake adalah jenis ular yang memiliki sihir kegelapan. Seperti namanya, dia biasanya tinggal di dalam kegelapan. Bukan hanya sisiknya saja yang berwarna hitam. Mata, daging, tulang, bahkan darahnya berwarna hitam.


Mereka tidak mendrop batu. Melainkan darah mereka. Dan itupun sangat langka.


Yang mengerikan dari ular ini adalah, karena dia bukanlah tipe monster yang akan berhenti tumbuh setelah mencapai level tertentu sepeti monster dungeon pada umumnya. Melainkan dia akan terus tumbuh dan berkembang selamanya. Cara menghentikannya? Membunuhnya.


Monster ini sangat-sangat agresif. Mereka akan menyerang siapapun, kapanpun, dan di manapun mereka berada. Hak itu membuat mereka adalah salah satu monster yang paling berbahaya. Bahkan, namanya tertulis di website resmi Ainhra Online. Sangking berbahayanya, monster ini memiliki dungeon dan daerah tersendiri.


Itulah keanehannya. Monster ini memiliki dungeon dan daerah tersendiri. Bagaimana bisa dia ada di Dungeon Snake? Yang notabenenya adalah sebuah dungeon level rendah?


Rein sangat beruntung berjumpa Darkness Snake yang masih kecil. Kalau tidak, dia bisa mati seketika. Monster ini memang OP alias Over Power.


"Ssss, ssss, ssss!! Ssss, ssss ss sss ss?"


Aksha Naik kembali ke Rein. Lalu dia menggigit-gigit Rein serta melilit tangannya dengan cukup kuat. Rein entah kenapa terdiam setelah melihat ular hitam itu.


"... E... Eh?! Ah! Aksha! Hentikan!"


Rein baru tersadar. Aksha melonggarkan lilitannya dan tidak menggigit Rein lagi.


"Ssss, ssss sss ss sss s ss! Sss... Ss sss s."


"Ya ya... Lain kali aku hentikan. Itu sudah menjadi kebiasaan." Ucap Rein. Dia memang terkadang melamun kalau terkejut.


Rein dan Aksha dapat mengerti satu sama lain. Namun orang lain tidak akan tau apa yang Aksha ucapkan.


Rein masih berpikir, bagaimana bisa monster seberbahaya itu masuk ke Dungeon level rendah. Namun akhirnya dia pikir itu cuma kebetulan atau monster itu nyasar.


Rein terus berjalan. Sampai akhirnya ia menjumpai jalan keluar lorong itu. Rein langsung saja berlari ke tempat itu.


"Woah."


"Ssss."


Sebuah tempat yang tampak seperti desa terlihat di depan mereka. Terdapat beberapa toko di sana. Ada toko makanan, minuman, armor, bahkan pakaian. Bahkan di sana juga terdapat penginapan.


"Ada tempat seperti ini di dalam dungeon?" Ucap Rein melihat tempat itu.



"Rest Area? Jadi ini Rest Area yang diberitahukan di website itu? Ah, makanya di sini ada banyak toko." Ucap Rein.


"Halo kak! Habis bertarung senjata rusak? Perbaiki saja di toko kami!"


"Sate sate! Sate sate! Sate ayam, sate kambing, sate ular, semua ada! Sate sate!"


"Peliharaan lelah? Tidak memiliki kandang? Titip saja di penitipan paling terpercaya di Atheya! Ghorns Pet!"


Para penjual di sana langsung mempromosikan produk yang mereka jual. Kebanyakan Rein lewati kecuali makanan.


"Oh, sate ayam ini kelihatan lezat. Berapa harganya?"


"5 bronze Tuan."


“Sss! Sss sss ss!” Aksha menarik-narik lengan baju Rein dan menunjuk buah yang ada di sebelah daging.


"Aku beli 10 tusuk. Oh, dan juga, buah ini berapa harganya?” Tanya Rein lagi. Dia tau dengan jelas kalau Aksha menginginkan buah itu. Buah merah berbentuk pisang.


“Kalau buah ini berharga 3 bronze/buah."


“Beri aku 10 buah juga. Berapa totalnya?”


"Baiklah. Totalnya 80 bronze."


Rein menyerahkan 1 gold pada penjual itu. Dia tidak mempunyai silver atau bronze, hanya 35 gold. "Maaf, saja tidak mempunyai pecahan koin yang lebih kecil..."


"Oh, tidak apa-apa. Tunggu sebentar."


Penjaga toko itu pergi ke belakang untuk mengambil kembalian Rein. Setelah beberapa saat, ia kembali membawa 2 buah kantung coklat.


“Ini kembaliannya. Kantung yang besar berisi 99 silver, sedangkan yang kecil berisi 20 bronze. Silahkan dicek kembali." ucap penjaga toko itu menyerahkan kedua kantung coklat tadi.


“Tidak perlu. Terima kasih.”


“Baiklah. Terima kasih telah membeli di Toko Pak Shen. Silahkan datang kembali.” ucap penjaga toko itu membungkukkan badannya. Rein mengagguk kemudian pergi dari toko itu.


Rest Area adalah suatu tempat di dalam dungeon yang tidak memiliki bayak mosnter agresif. Tempat ini seperti namanya dipakai sebagai tempat peristirahatan para NPC atau pemain yang masuk ke dalam dungeon.


Untuk Dungeon Snake sendiri, karena dia sering dimasuki oleh para NPC, di sini terdapat banyak toko. Tidak ada pemain di sana kecuali Rein.


Setidaknya untuk detik ini.


Tiba-tiba...


*Bugh


"Woy! Bing! Jangan gitu dong ah!"


"Yaelah kan elu yang takut sama kegelapan!"


"Tapi kan elu yang nakutin!"


“Bang, Ko, jangan kelai dalam dungeon!”


Tiga orang pemain masuk ke dalam Rest Area tersebut. Para NPC yang ada di sana langsung menghentikan aktivitas mereka karena ke-2 pemain yang berisik itu. Rein juga tidak jadi memakan satenya. Aksha berhenti memakan buah pisang merah atau Bame yang ada di tangan kiri Rein.


"E..eh, maaf kan kami semuanya. Saya akn menyuruh mereka berhenti sesegera mungkin." Ucap pemain yang manusia.


Kemudian para NPC segera mengalihkan perhatian mereka lagi. Sedangkan Rein menghampiri 3 pemain itu.


"Hei, apa kalian 'Hero Party'?" Tanya Rein, kemudian melahap sate yang ada di tangan kanannya. Aksha masih memakan Bame di tangan kirinya.


"Ah, ya. Anda adalah pemain yang pertama kali masuk ke sini, kan?" Ucap pemain yang manusia. Kedua pemain lainnya masih bertengkar.


"Benar. Hm, maafkan aku. Aku sudah masuk dungeon ini sebelum ketua kalian memberi pemberitahuan di TV." Ucap Rein, santai.


"Yah, tidak apa-apa. Sejujurnya itu hanya suruhan orang tua ketua kami. Kalau tidak, dia tidak peduli." Ucap pemain manusia itu.


"Oh, benarkah? Syukurlah kalau begitu. Omong-omong, bagaimana kalau kita berkenalan? Namaku Rein, senang bertemu denganmu." Ucap Rein memasukkan satenya ke dalam storage lalu mengulurkan tangannya. Tangannya masih bersih kok, dia tidak memegang daging.


"Xavier. Senang bertemu denganmu." Ucap pemain manusia itu membalas uluran tangan Rein.


"Xavier? Oh tunggu sebentar." Rein mematikan fitur penerjemah otomatisnya lalu berbicara menggunakan bahasa Inggris. "American or British?"


"American. Oh, you can speak English? Nice. But why are you using Indonesian? English is more universal."


"Of course I can. But it's not really comfortable actually, speaking English. I am used to Indonesian."


"Ooh, so that's why you're using Indonesian huh?"


"Yup." Rein kemudian menghidupkan kembali penerjemah otomatisnya.


"Ngomong-ngomong, Xavier. Kedua temanmu itu tidak apa-apa dibiarkan?" Tanya Rein melihat dua pemain lain berkelahi.


"Tidak apa-apa, tenang saja. Kami bertiga sudah terbiasa seperti ini.. haha." Ucap Xavier tertawa canggung.


Rein mengangguk. Ternyata Xavier adalah orang yang easy-going dan sangat ramah. Rein dan Xavier berbincang sebentar. Sangat mudah menemukan topik diantara mereka.


Setelah beberala lama, kedua teman Xavier masih belum berhenti bertengkar. Akhirnya Xavier menghentikan mereka.


"Bang Goldst, Ko Bing, kalau kalian masih bertengkar, aku akan menekan tombol keluar dari party ini." Ucap Xavier pada akhirnya. Dengan ajaib, Goldst dan Bing telerai.


"Xavier, jangan bercanda." Ucap Goldst. Pemain yang memilih ras dari bangsa Beast-kin.


Rein melihat pemain tersebut. Dia merasa tidak asing dengannya. 'Hmm, wajahnya mungkin diubah oleh AI. Tapi entah kenapa wajahnya familiar..."


"Aku tidak bercanda." Ucap Xavier.


Goldst menatap Xavier tajam. Namun dia menyadari ada seseorang dibalik Xavier.


"Kau... Mantan kekasih Salsa?" Ucap Goldst tiba-tiba.


"Huh? Apakah anda Tuan Muda Rajawali?" Tanya balik Rein.


"AH! Ternyata benar kau!" Goldst langsung saja menarik pedangnya dan menghunuskan pedangnya itu ke Rein.


"Woa- tolong jangan langsung menghunuskan pedang anda. Saya tidak menyetujui PK, melainkan Duel, tuan muda." Ucap Rein.


"Astaga... Aku hampir kelepasan." Goldst menyarungkan kembali pedangnya. "Kalau begitu bagaimana kalau kita lakukan duel itu sekarang?" Ucap Goldst.


"Oh, aku tidak keberatan. Namun..."