
Rein akhirnya sampai di dungeon "Snake" itu. Dengan petunjuk dari Pak Hynra tentunya. Kalau tidak, ia tak mungkin sampai ke dungeon ini.
Ryn turun dari atas pohon. Ia belum masuk ke dalam Dungeon itu. Melainkan memeriksa sekitarnya terlebih dahulu.
"Daerah ini cukup bau... Selain itu aku tidak melihat jejak kaki di sekitar sini." Gumamnya sebelum melangkah masuk ke dalam Dungeon.
<*Pemain pertama yang masuk ke dalam sebuah dungeon! 1 Lucky Box SR + 10 Gold didapatkan!>
Total Drop Rate : 200*%
Panel hologram itu muncul seketika setelah Rein melangkah masuk ke dalam Dungeon.
'Lucky Box dan... Uang? Apakah perusahaan seuntung itu?' pikir Rein. Melupakan fakta kalau game ini dijalankan oleh AI, bukan manusia.
"Yah, tak palah. Dengan ini kemungkinan aku mendapat Elemental Rune menjadi lebih tinggi."
Rein masuk lebih dalam. Baru sekitar 10 langkah, seekor ular merah kecil menyerangnya dengan bola api. Rein menghindari bola api itu dengan cukup mudah.
Nama Monster : Little Fire Snake (1m)
Level : 4
HP : 200
ATK : 400
Mov.SPD : 2m/s
"Cukup lemah." Rein menghabisinya dengan satu tebasan.
Namun tak lama setelah itu muncul seekor ular lainnya menyerang Rein dengan bola api yang sama namun sedikit lebih cepat. Rein sekali lagi menghindari bola api itu.
Nama Monster : Little Fire Snake (1.5m)
Level : 5
HP : 300
ATK : 500
Mov.SPD : 2m/s
Rein menebas ular itu dengan pedangnya, membuat ular itu mati dan berubah menjadi cahaya.
Rein berjalan lurus lagi. Namun ia mendengar suara desisan sesuatu. Lokasinya saat ini sarang ular, jadi hal itu seharusnya wajar. Hanya saja suara desisan itu terasa sangat banyak dan semakin kuat.
Rein menghentikan langkah kakinya. Ia memfokuskan pandangannya ke depan. Lalu menggerakkan tubuhnya membentuk kuda-kuda berpedang dasar. Ia tau suara desisan itu bukan pertanda baik.
Benar saja, tak lama setelah ia membentuk kuda-kuda, sekelompok ular-ular merah kecil seperti tadi datang. Mereka menyerang Rein dengan banyak bola-bola api.
"Merepotkan."
Rein dengan sigap mengelak bola-bola api itu dan berlari maju ke arah ular-ular yang menyerangnya. Ia menebas ular-ular itu satu persatu dengan Sword Mastery.
Di kanannya, di kirinya, di depannya, bahkan di atasnya terdapat ular-ular merah kecil. Rein Masih menebas ular-ular itu satu persatu hingga mati. Namun ular-ular itu tentu tidak diam kawan mereka dibunuh, mereka membalas Rein juga dengan bola-bola api.
Sambil menyerang, Rein juga mengelak bola-bola api itu. Tentu saja tak semua bola-bola api bisa ia elak. Sesekali dia terkena damage juga.
Karena damage itu, Rein semakin cepat bergerak menebas ular-ular merah yang mengerubunginya. Ia sudah mendapatkan banyak Little Fire Snake Leather, Little Fire Snake Meat, dan Little Fire Snake Bone. Hingga akhirnya ular-ular merah kecil itu habis tak tersisa di tangan Rein.
Lorong tempat Rein berjalan segera penuh dengan butiran cahaya dari mayat Little Fire Snake. Rein melangkah maju lagi ke depan.
Tibalah ia di sebuah pertigaan. Rein tidak melanjutkan langkahnya terlebih dahulu. Ia menghentikannya, mengambil nafas dan melihat ke satu-satu jalan yang ada.
Rein memfokuskan pandangannya dan panca inderanya ke jalan yang ada di kiri, terasa dingin. Selanjutnya ia memfokuskan panca inderanya ke jalan tengah, tercium bau lumpur yang samar dari sana. Terakhir, ia memfokuskan panca inderanya ke jalan yang ada di kanan, terasa bau dan tidak teratur.
Rein berpikir kalau Elemental Snake saharusnya ada di jalan sebelah kanan. Mengingat Elemental Snake memiliki banyak elemen. Namun, sebelum ia dapat melangkahkan kaki ke jalan yang ada di kanan, ia mendapat serangan dari atas.
"SSSSssssss" suara ular itu.
Rein menjadi waspada dan mengubah posisinya menjadi kuda-kuda.
Nama Monster : Fire Snake
Level : 7
HP : 1000
ATK : 800
Ular itu berwarna merah seperti ular-ular sebelumnya. Namun ia memiliki panjang sekitar 3m. Dan ular itu mampu melemparkan bola-bola api dengan banyak secara bersamaan. Di ekornya juga terdapat api.
Rein menghindari bola-bola api itu. Namun ia masih tidak sempat menyerang si ular merah. Gerakan ular merah itu sangat gesit dan lentur. Namun bahkan ukar merah itu punya batasan, bukan? Setelah beberapa saat, serangan ular merah itu berhenti.
Rein berlari maju ke ular itu dengan niat membunuhnya. Ular merah itu memiliki sisik yang tak terlalu tebal, membuat ia sangat mudah dipotong-potong menjadi beberapa bagian.
"Matilah."
"SSSSssss!!!" Ular itu berusaha menyerang Rein dengan ekornya yang panas, namun sayang, ia ditebas.
*Zzzrash!
Ular merah itu mati di tangan Rein. Rein mendapatkan beberapa EXP, Meat, dan sebuah baru kecil berwarna merah.
Rein menatap heran batu itu. "Batu apa ini?" Ucapnya, lalu menyentuh batu itu sekali.
Nama Benda : Fire Stone
Dur : 20
Ket : Batu merah yang bisa mengeluarkan api. Biasa dipakai untuk memasak oleh para petualang. Ucapkan 'Fire' untuk mengaktifkan batu ini.
'Fire Stone ternyata... Sepertinya batu ini yang ada di ekor ular itu. Batu yang sangat berguna, apakah ada Fire Snake lagi di sini?' ucapnya dalam hati.
Segera setelah ia mengatakan hal itu, terdengar lagi suara "sssss" dari arah atas. Segerombolan Fire Snake datang dan menyerang Rein. Ucapan Rein terkabul. Namun, jumlah ular-ular itu tidak main-main. Mungkin ada sekitar 10 sampai 20 ekor.
Rein menjadi bersiaga, untungnya ular-ular itu tidak menyerangnya membabi buta. Dia menghitung jumlah pasti mereka terlebih dahulu, '1... 2... 3... 4... 5... 7... 10... 13... 17. Ada 17 ekor.'
Setelah jarak antara Rein dan ular-ular itu cukup dekat, barulah mereka menyerang Rein dengan bola-bola api dan ekor mereka.
Rein mengelak beberapa bola api, dan sisanya mengenainya. Ia tak masalah, mengingat HP nya cukup tebal dibandingkan ular-ular itu.
Karena persimpangan itu luas, Rein dapat bergerak dengan leluasa walaupun terdapat 17 ekor ular berukuran 3m di sana menyerangnya. Rein menghindari bola-bola api itu sampai beberapa ular kehabisan mana.
Rein melesat maju dan menyerang mereka. ATK mereka tinggi, namun defense mereka sama rendahnya dengan Rein sepertinya.
Rein terus menebas mereka sampai mati.
*Zrash! Zrash! Zrash!
Sesekali ular itu mengelak dan menyerang Rein dengan ekor mereka. Rein terus menebas ular-ular itu hingga tersisa cukup sedikit, tinggal 8.
<*Anda naik level! SP +7>
"Bagus, tapi mereka masih ada."
Ular-ular itu melata menjauhi Rein. Namun sayang, Rein tidam akan sungkan apabila mereka sudah menyerangnya dahulu.
*Zrash! Zrash!
"""SSSSSSSSsssssss!!!"""
Ular-ular itu mati di tangan Rein lagi. Mayat-mayat ular yang sudah Rein 'bantai' berubah menjadi butiran cahaya.
"Terimakasih, sumber EXP."
Rein ingin melanjutkan perjalanannya. Namun sekali terdengar suara ular dari atas.
"Apakah mereka tidak ada habisnya??" Gumam Rein.
Monster-monster yang ada di dalam dungeon memang tidak akan pernah habis. Namun biasanya mereka muncul lebih lama dari monster di luar dungeon.
Rein kembali ke posisi kuda-kuda. Ia bersiap menyerang ular apapun yang datang kali ini.
"SSSsss!!"
*Sssshhh (debu berterbangan)
Seekor ular merah besar berukuran 10m ada di depan Rein. Cukup... Tidak normal.
Nama Monster : Lava Snake (Mini Boss 1)
Level : 10
HP : 3000
ATK : 800
"SSSSSSsssss!!!"
Ular itu mendesis kuat ke arah Rein.
Itu memiliki sisik merah cerah. Ekornya juga memiliki api, namun jauh lebih besar dari ular sebelumnya. Matanya cukup besar dengan warna coklat sepenuhnya.
'Apa kau bercanda? Siapapun yang menulis skenario ini? Mini Boss apa-apaan ini...'
Rein tidak bisa menahan keterkejutannya. Ular yang ada di depannya saat ini, benar-benar berada di level yang berbeda.
sempat Rein pulih dari keterkejutannya, ia telah diserang dengan bola-bola api yang jauh lebih besar dari yang sebelumnya. Walau besar, kecepatannya tidak jauh berbeda. Bola-bola api itu membuat Rein tersadar seketika dan menghindari mereka. Namun salah satu bola api itu berhasil mengenainya, dan mengurangi bar HP nya hingga 10%.
"Damage nya benar-benar tinggi!" Ucap Rein melihat bar HP nya. Kali ini ia tidak boleh main-main tentunya.
Rein maju menyerang ular itu dengan pedangnya. Kalau dari tadi ia hanya menggunakan Sword Mastery, kali ini ia menggunakan Triple Slash juga.
Dia menggunakan Triple Slash dan menebas daerah 'leher' ular itu. Namun saat itu juga ia diserang menggunakan ekor berapi.
"Agh! Aku harus cepat."
Rein menebas ular itu lagi dan lagi sambil mengawasi ekornya dan kepalanya. Beberapa saat kemudian, ular itu berhasil ia habisi dengan stamina yang sudah berkurang cukup drastis. Mayat ular itu akhirnya berubah menjadi butiran cahaya.
<*Selamat! Anda naik level! SP +7>
"Haaah, melelahkan. HP ku tersisa 20% dan staminaku habis. Aku harus menunggu beberapa menit sebelum masuk ke jalan selanjutnya."
Rein melemaskan otot-otot tubuhnya dan duduk di persimpangan itu. Ular-ular merah itu tak akan muncul lagi selama setidaknya 6 jam kedepan, mengingat Mini Boss sudah ia kalahkan.
Dia sudah berada di dalam dungeon ini selama kurang lebih sejam, namun ia masih belum menemukan satupun Elemental Snake. Bahkan dari tadi ia hanya melawan ular berelemen api.
Rein memutuskan untuk log-out sebentar. Menunggu sampai HP terisi penuh setelah berkurang 80% cukup lama dan membosankan tanpa teman.
---
Ryn melepaskan Avera gear nya dan keluar kamar. Ia berjalan ke dapurnya dan membuat secangkir teh hangat.
Ryn mengambil ponselnya dan duduk di atas sofa tv. Menggunakan aplikasi remote untuk menghidupkan televisinya dan membuka channel Ainhra TV.
"*Para pemirsa sekalian. Berita utama hari ini adalah keberadaan Dungeon leetama semenjak Ainhra Online dibuka.
Sekelompok pemain dengan identitas "Hero Party" sedang berusaha melakukan penaklukan sebuah dungeon bernama Dungeon Snake*."
"Pppffftt--"
Ryn menyemburkan teh yang ia minum.
"Hua-! Apa-apaan... Mereka juga ingin ke dungeon Snake?! Oi..."
"*Mereka mengetahui lokasi dungeon ini dari penduduk sekitar desa Yeff, sebuah desa Manusia di dekat hutan Agresia.
Tim kami berhasil mengubungi salah
satu anggota "Hero Party" ini. Selamat datang tuan muda Rajawali, terimakasih sudah datang di acara kami*." Ucap sang pembawa acara. Kameramen mengarahkan kamera agak lebih jauh, membuat orang di samping sang pembawa acara terlihat.
"Sama-sama nona. Saya merasa terhormat dapat hadir dalam acara ini."
Orang itu, adalah,
Daffa.