
Chapter 1 : The Accident
Jakarta Pusat, 31 Desember 20XX pukul 20.00 WIB
Malam itu, hujan dan badai terjadi. Angin kencang serta air yang menetes dari langit turun dengan drastis.
Pada saat itu, kondisi kota sama ramainya dengan rintik hujan. Mobil dan motor berlalu lalang, membuat keadaan menjadi lebih ramai dari yang seharusnya. Malam yang gelap dan dingin, terasa sangat terang dan pengap akibat dari banyaknya kendaraan.
Panel-panel hologram bersinar terang di gedung-gedung tinggi. Menyiarkan iklan-iklan atau berita. Beberapa kendaraan terbang kecil juga melintas malam itu.
Di era modern ini, para manusia hidup dengan cukup damai. Teknologi telah berkembang sangat pesat. Hingga ke titik dimana hologram serta VR umum dijumpai di manapun.
Di antara para manusia pada malam itu, terlihatlah seorang perempuan yang sedang berlari tergesa-gesa menuju suatu tempat. Ia mengenakan jas hujan yang menutupi sebagian wajahnya.
"Aaah! Habislah sudah, game itu pasti sudah terjual habis...!!!" Ucap perempuan itu.
Ia terus berlari, tak peduli dengan derasnya hujan dan ramainya keadaan. Hingga ia sampai di suatu tempat.
"Haah...hah...hah.. akhirnya aku sampai juga! Untunglah aku memakai jas hujan tadi, kalau tidak bajuku bisa basah semua." Ucap perempuan itu.
"Sekarang, aku harus fokus dengan tujuan utamaku, mendapatkan game VRMMORPG terbaru yang sangat terbatas itu." Perempuan itu langsung masuk ke dalam tempat yang ia tuju, yaitu sebuah toko yang menjual game dan alat-alatnya.
Ia segera melepas jas hujannya yang basah ketika masuk. Setelah wajahnya terlihat, barulah kita bisa mendeskripsikannya.
Ia adalah seorang perempuan yang cantik. Matanya hitam kecoklatan dengan rambut hitam mengkilap panjang yang dikuncir satu. Namun, sisa wajahnya tetap tak terlibat, karena ia mengenakan masker. Tubuh perempuan itu lumayan pendek, sekitar 150-155 cm. Tubuhnya ramping. Ia mengenakan kemeja putih dengan celana panjang berwarna cream.
Ia berjalan lurus menuju kasir toko itu. Lalu berkata, "Paman Hawk, cepat berikan game itu kepadaku!"
"Nona, anda terlambat. Game tersebut sudah terjual habis." Ucap kasir toko itu, Hawk, dengan wajah sedih.
"Ayolah paman, jangan bercanda. Dan jangan memanggilku dengan sebutan 'nona'." Ucap perempuan itu menatap tajam pada kasir toko.
"Pfft- haha! Baiklah-baiklah. Ini, Game yang kau mau, Tya." Hawk melemparkan sebuah kotak kecil seperti kotak anting-anting.
Perempuan itu, Tya, langsung menangkapnya dengan kedua tangan. "Hehe, terimakasih paman! Uangnya sudah aku kirim via E-money!"
"Ya ya, cepatlah pergi. Oh, manual gamenya akan langsung terkirim setelah kau scan game itu."
"Okay! Sekali lagi terimakasih paman!" Ucapnya dan seraya berlari keluar toko dan memakai jas hujannya kembali.
Kali ini, Tya tidak berlari lagi. Melainkan hanya berjalan santai. Di balik maskernya, Tya tersenyum lebar. Karena akhirnya game yang ia tunggu-tunggu bisa ia dapatkan.
Game VR berbasis Full Dive memang sudah biasa. Namun, game VRMMORPG itu sangat jarang, tidak, hanya ada dua sejak teknologi Full Dive diciptakan. Dan salah satu dari dua game tersebut ada di tangan Tya sekarang.
Mengingat betapa sulitnya membuat suatu dunia baru, perusahaan yang mengembangkan game VRMMORPG ini membuat satu AI khusus untuk menjalankan game ini. AI tersebut menjalankan hampir semua bagian dari game. AI tersebut bernama, "Anelie". Dan Game tersebut sendiri bernama, "Ainhra Online."
Ainhra Online adalah sebuah game VRMMORPG dengan tema dunia Fantasi. Klise memang. Namun di dalam game ini terdapat suatu fitur yang sangat berguna. Yap, mengubah uang dari dalam game menjadi uang sungguhan. Klise, namun benar-benar berguna apabila digunakan dengan tepat.
Tya, di sisi lain, tidak mengharapkan hal itu. Ia hanya ingin berpetualang. Lagipula, dunia di zaman Tya tinggal, membosankan menurutnya.
Tak lama setelah berjalan keluar dari toko, Tya sampai si sebuah kompleks apartemen dan terdapat 3 gedung apartemen di sana. Setiap gedungnya memiliki 40 lantai. Tya segera masuk ke dalam salah satu gedung apartemen itu. Ia melepas jas hujannya, dan segera berjalan ke arah lift.
Saat ia ingin menekan tombol di lift, terdapat satu tangan lagi yang juga ingin menekan tombol lift. Tya menarik tangannya, dan melihat siapa yang juga ingin menekan tombol lift itu.
Ternyata, dia adalah seorang laki-laki. Dari sudut pandang Tya, laki-laki itu lebih tinggi sekitar 20-25 cm darinya. Jadi tingginya harusnya sekitar 170-180 cm. Laki-laki itu memiliki mata biru, dan rambutnya... tertutup kupluk. Laki-laki itu juga menggunakan masker seperti Tya. Namun yang pasti, laki-laki itu lumayan menyeramkan dari sudut pandang Tya.
"Hallo, apakah kamu orang baru di sini? Saya tak pernah melihatmu." Tanya Tya.
"Ya." Jawab laki-laki itu singkat. Dia lalu menekan tombol lift dan segera masuk.
'Wa, dingin sekali. Tampilannya menyeramkan dan cara dia bicara dingin...' pikir Tya mendengar jawaban laki-laki itu. Dan saat ia berpikir seperti itu, laki-laki itu sudah masuk ke dalam lift.
"O-oh, tentu saja tidak." Lalu Tya masuk dan menekan tombol 27 di lift.
Laki-laki itu menekan tombol 36, membuat Tya terkejut. Seingatnya, 10 lantai paling atas adalah lantai dengan fasilitas paling wow dan harga masing-masing ruangan apartemennya wow juga. 'Walaupun dia dingin dan menyeramkan, aku tak boleh menyinggungnya.'
Suasana dalam lift sangat canggung. Tak ada yang buka suara. Rasa senang Tya langsung sirna karena laki-laki itu.
Tak lama, lift nya sampai di lantai 27. "Anu, terimakasih telah membukakan pintu." Ucap Tya, dan tanpa ragu-ragu keluar dari lift.
"Ya."
Pintu Lift tertutup. Tya hanya bisa bernapas lega. Dia langsung berjalan menuju apartemennya, no. 754.
Sesampainya ia di depan pintu. Sebuah scanner langsung menyala. "Scan wajah di mulai." Tya membuka maskernya, dan membiarkan alat itu meng-scan wajahnya. "Wajah telah terkonfirmasi, silahkan taruh tangan anda di pintu dan masukkan sandinya." Seketika terdapat sebuah gambar berbentuk tangan, dan angka 0-9 di pintu. Tya meletakkan tangan kanannya, dan mengetik sandi dengan cepat menggunakan tangan kirinya. Lalu, barulah pintunya terbuka.
"Home sweet home." Ucapnya.
Apartemen Tya cukup sederhana. Terdapat satu kamar tidur di lantai 2 (bukan lantai dua yang beneran, hanya saja tempat tidurnya di atas), satu kamar mandi, dapur, dan ruang tengah yang cukup luas untuk (sofa+meja+tv) + (meja+kursi computer) + 2 lemari di taruh dan menyisakan ruang kosong 2×2 m. Di ruang kosong itu terdapat sebuah kapsul besar. Ya, itulah perangkat Full Dive milik Tya.
"Hm... Pertama scan dulu gamenya, dapatkan manual dan baca. Game akan dimulai secara global jam 7 pagi besok. Fyuh, untunglah dosen ku sangat baik, memberikan kami waktu istirahat 3 hari karena game ini. Kalau tidak..." Tya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Yang penting sekarang, scan dulu gamenya."
Tya mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja komputer. Lalu menghidupkannya, scan sidik jari, lalu menekan sebuah aplikasi bernama "Scanner" dan membuka kotak game itu. Isinya sebuah chip kecil seukuran setengah jempol orang dewasa. Tanpa basa-basi Tya langsung meng-scan chip kecil itu.
"Saatnya membaca informasi game ini."
Beberapa bulan sebelum itu, Jakarta Timur, 19 Oktober 20XX pukul 11.00 WIB
Kondisi kota tidak terlalu ramai. Mengingat sekarang adalah jam kerja. Walau sekitar satu jam lagi jam makan siang akan dimulai.
Di sebuah perumahan, terlihatlah seorang laki-laki biasa, bukan, seorang pemuda yang lumayan tampan, tidak-tidak, dia memang tampan. Dia menggunakan kupluk, sebuah jaket hitam, dan celana abu-abu. Kalau orang melihatnya sekilas, mereka pasti akan berfikir, "apa ia tak kepanasan?" Karena siang itu matahari sedang terik-teriknya.
"Haah, aku senang sih dapat pekerjaan... Tapi persediaan indiemie ku habis. Sial memang. Mana cuaca sedang terik lagi. Padahal tadi mendung, bagaimana bisa menjadi terik seperti ini dalam waktu singkat?!" Ucap laki-laki itu pada dirinya sendiri.
Ia segera menuju kompleks pertokoan di dekat perumahannya (hanya berjarak 1 simpang 4 besar). Di sana berjejer ruko-ruko 3/4 lantai. Di antara ruko-ruko itu ada salah satu toko bernama INDOMEI. Pemuda itu langsung menuju toko itu dan membeli beberapa Indiemie goreng, membayarnya di kasir, dan segera keluar.
Pemuda itu berjalan santai di trotoar. Dan sampailah ia di simpang 4. Tiba-tiba, terdengar suara klakson besar. Dan terlihatlah sebuah truk melaju kencang, tanpa ada tanda-tanda mengerem. Di zebra cross, seorang anak kecil berusia sekitar 6-7 tahun terlihat ketakutan. Ibunya ternyata sudah menyebrang duluan.
"Rie! Rie! Cepat lari nak!" Ucap ibu anak itu.
'Oi oi, bukankah itu berbahaya?' pikir pemuda itu. Ia melihat dari sisi lain jalan.
Truk itu masih melaju, namun anak itu masih di sana. Ia sangat ketakutan, hingga ketika berlari saja, ia langsung terjatuh.
'Hei, tidak adakah yang mau menolongnya? Siapapun? Bahkan pengguna transportasi udara?'
Tak ada satupun orang yang mau menolong anak itu.
'Hei? Kemana rasa kemanusiaan kalian? Ah sudahlah, yang penting sekarang aku harus menolongnya!'
Pemuda itu melepaskan kantung belanjaannya, lalu berlari menuju anak itu. Namun sialnya, setelah ia berhasil menyelamatkan anak itu, di pinggir trotoar, ia tersandung sebuah batu.
'Sial, anak itu sudah selamat kan?'
Anak yang ia tolong tadi sudah berada di pelukan ibunya. Kesadaran pemuda itu mulai pudar. Di saat yang sama, truk yang melaju tadi menabrak lampu lalu lintas, dan bagian belakang truk itu menabrak si pemuda yang masih tengkurap dan kehilangan kesadaran. Serta membuat sebuah kobaran api karena tangki bensin truk itu bocor.
Tak lama, mobil polisi, ambulans, serta mobil pemadam datang, menolong semua yang terluka dan menginvestigasi kejadian perkara.