Ainhra Online

Ainhra Online
Update #2



Parkiran mobil terbang milik keluarga Pradhipta ada di lantai 40. Dari pada parkiran, tepatnya garasi.


Tya berjalan menuju apartemen milik keluarganya. Lalu ia menaruh sidik jarinya di pintu.


"Selamat datang Nona Anastasya. Tuan dan Nyonya sedang tidak ada di dalam. Sistem sedang dimatikan. Apa anda ingin saya menyalakan seluruh sistem dalam apartemen? " Ucap AI yang tertanam di apartemen itu.


"Tidak. Hanya hidupkan Air Con dan lampu saja. Sisanya tidak perlu."


"Baik Nona."


'Wah, AI di apartemen ini lebih pintar dari AI si Apartemen lain. Walau AI di apartemen lain pintar, tapi tak sampai seprti ini.' pikir Ryn saat melihat Tya berbicara dengan AI.


Tapi hal itu ia pikir masuk akal. Mengingat, apartemen pada umumnya hanya ditinggali satu orang. Jadi tidak seperti ini AI nya.


Tya pun masuk ke dalam apartemen itu. Saat masuk, telihat ada lapisan cahaya dilewati Tya. 'Sepertinya itu Scanner di sini.' pikir Ryn. Iapun masuk ke dalam.


*Ting ting!


"Nona, apa anda membawa tamu?" Ucap sang AI.


"Ya, dia adalah temanku dan ayahku. Jendra ada bersamanya juga. Namanya Avaryn Jhonesson, panggil saja dia tuan muda Avaryn."


"Baiklah Nona."


"Rara, arahkan dia ke ruang tidur Jendra." Ucap Tya.


"Baik Nona. Tuan muda Avaryn, silahkan ikuti lampu yang ada di lantai." Ucap Rara -sang AI. Lampu putih yang ada di lantai menyala ke arah ruang tidur Jendra.


"Baik."


Ryn berjalan sesuai lampu itu. Iapun tiba di sebuah ruangan kecil. Pintu ruangan itu langsung terbuka.


"Tuan muda, ini ruang tidur Tuan Muda Jendra."


Ryn mengangguk. Iapun membaringkan Jendra dan memakaikannya selimut. Setelah itu, ia mematikan lampu di dalamnya.


Ryn keluar dari ruangan. Tya sedang duduk di salah satu kursi yang ada.


"Sudah selesai Ryn?"


"Sudah. Apa kau akan tetap di sini?"


"Tidak, aku akan ke apartemenku sendiri. Jendra bisa diurus oleh Rara."


"Ooh, begitu. Kalau begitu ayo keluar."


'AI itu serbaguna juga ya.' ucap Ryn dalam hati.


Mereka berduapun keluar dari apartemen itu. "Nona, bolehkah saya tau kapan sekiranya Tuan Besar dan Nyonya Besar kembali?" Tanya Rara sembari menutup pintu apartemen itu.


"Sekitar pukul tiga sampai lima pagi. Sementara itu, matikan saja lampunya. Jangan matikan Air Con nya." Jawab Tya.


"Baik Nona."


Tya dan Ryn pun meninggalkan lantai 40. Mereka masuk ke dalam lift.


Tya menekan nomor 27. Sedangkan Ryn tidak menekan tombol apa-apa. Melihatnya, Tya bertanya pada Ryn. "Apakah apartemen Ryn di lantai 27?"


Pintu lift tertutup. Perlahan lift bergerak turun.


"Tidak." Jawab Ryn singkat.


"Lalau kenapa Ryn tidak menekan tombol lain?"


"Aku harus mengantarmu. Walaupun ini gedung apartemen milik kekuargamu, tetap saja bisa jadi ada orang jahat di sini. Karena sekarang sudah sangat larut."


Tya baru teringat sekarang jam berapa. "Aah, begitu.... Terimakasih." Ucapnya.


"Tidak masalah. Oh iya, ngomong-ngomong, bukankah kita pernah bertemu sebelumnya?"


Tya kebingungan. Benar ia merasa pernah bertemu dengan Ryn sebelum ini, namun ia tidak tau kapan.


"Sepertinya iya. Tapi aku tak ingat kita pernah bertemu di mana."


"Ooh, begitu."


'Ia tak mengingatnya ya.... Tapi melihat ia di apartemen lantai 27. Kemungkinan besar iya.' pikir Ryn.


*Ting!


"Lantai 27."


"Sudah sampai." Ucap Tya. Lalu dia keluar, diikuti dengan Ryn.


Ryn berjalan di belakang Tya. Sejauh ini, tidak ada halangan atau orang jahat sama sekali.


Tya berhenti di apartemen no.70. Iapun membiarkan scanner mengscan dirinya.


*Ting!


Pintu apartemen itu terbuka. Tya masuk ke dalamnya.


"Ryn, terimakasih telah mengantarku." Ucapnya sebelum menutup pintu.


"Ya, sama-sama."


*Cklak


Pintu tertutup. Ryn beranjak pergi dari lantai itu.


---


*Cklak


Ryn menutup pintu apartemennya.


"Fyuh. Lelahnya." Ucapnya. Ia langsung berjalan menuju sofa dan merebahkan tubuhnya ke sana.


Air Con yang ada di dalam apartemen itu ia hidupkan. Setidaknya, ia tak merasa kepanasan.


Ryn mengambil ponselnya. Pukul 23:36, tertulis di layar ponsel itu.


'Masih jam segini. Hmmm, apa Ainhra Online telah selesai di update?' pikirnya. Lalu ia membuka ponselnya dengan sidik jari.


Ia melihat notifikasi yang ada. 'Tak banyak....'


Iapun pergi ke kamarnya. Mengganti bajunya dengan hoodie hitam dan celana hitam pendek.


Ia kembali duduk di sofa. Menyalakan televisi dan menonton acara tentang alam liar.


.


.


.


Pukul 17:57


Di sisi lain Bumi, Tanaka masih mengupdate Ainhra Online.


Setelah Alice sampai dalam Ainhra Online, Tanaka langsung berkutat dengan komputernya.


Ia harus mengetik kode yang tepat agar Alice dapat melakukan tugasnya.


Ainhra Online yang tadinya terlihat di dalam ruangan itu mulai memudar. Sebuah lingkaran sihir terbentuk di atasnya. Melingkupi seluruh Ainhra Online.


*Ctek


Tanaka menekan kode terakhir. Lalu ia membuang napas lega. "Selesai juga kode ini."


Iapun menekan tombol enter. Satu persatu angka dari kod eyang ia buat kulai keluar dari panel hologram. Melingkari dunia Ainhra Online.


*Ting!


Pukul 18:00


Angka-angka dan lingkaran sihir itu mulai berputar. Membuat sebuah pusaran yang ditengahnya terdapat dunia Ainhra Online.


"Saatnya dunia ini menjadi lebih sempurna." Ucap Tanaka melihat pusaran itu.


---


6 jam yang sunyi berlalu


Pusaran itu mulai mereda. Tanda bahwa update akan segera selesai. Perlahan, Ainhra Online mulai terlihat kembali.


"Akhirnya tiba saatnya untuk sentuhan terakhir."


Tanaka membuka telapak tangan kanannya. Lalu dengan tangan kirinya ia membuat lingkaran sihir.


Sebuah bola cahaya sebesar telapak tangan terbentuk di tangan kanan Tanaka.


Setelah itu, Ainhra Online terlihat seperti biasa. Alice berjalan keluar dari Ainhra Online. Tugasnya telah selesai.


"Saya sudah selesai. Tanaka-sama."


"Bagus, kembalilah. Server akan ku buka sekarang. Jangan lupa event-event tadi akan segera diluncurkan."


"Siap laksanakan Tanaka-sama!"


Alice kembali ke panel hologram dan mengurus event-event itu.


Tanaka lalu keliar dari ruangan. Iapun kembali ke wujudnya sebagai orang tua.


.


.


.


Apartemen W, Garuda Right Wing, Garuda City, Jakarta, 05 Januari 20XY Pukul 00:00


Ryn masih menonton televisi. Tiba-tiba saja terdapat notifikasi di ponselnya.


Ainhra Online telah selesai di Update!


"Hah? Sudah?"


Ryn melihat detail notifikasi itu. Ternyata E-mail dari QRYZ. Artinya, notifikasi itu benar.


Iapun membaca keseluruhan e-mail itu. Isinya tak terlalu penting. Namun, pean di bagian akhir e-mail itu yang penting.


Tulisannya, untuk para pemain yang mati dalam game sebelum update, sudah bisa masuk kembali ke dalam server walau belum waktunya untuk kembali ke server.


Ryn tersenyum senang melihat notifikasi itu. "Hehe, kalau begitu aku bisa bermain sekarang!"


Ia langsung menuju kamarnya. Tak lupa ia mematikan televisinya.


Iapun memakai Avera Gear miliknya dan log-in ke dalam Ainhra Online.


---


Rein kembali ke dalam Ainhra Online. Sekarang posisinya di gerbang Rest Area Dungeon Snake.


Saat ia ingin memeriksa statusnya, sebuah panel pengumuman menyambutnya.


> Detail Status.>





Rein melihat event-event itu dengan tatapan senang. Ia dapat menaikkan levelnya dengan lebih mudah dengan event-event ini.


Namun pada saat yang sama. Terjadi ledakan mana entah dari mana.


*Duar!


Ledakan itu terasa di seluruh penjuru Ainhra Online. Semua pemain merasakan hal tersebut.


Namun tidak ada yang benar-benar mempedulikannya. Mereka mengira kalau ledakan mana itu terjadi karena event-event yang dibuat oleh QRYZ.


Apa para NPC tidak menyadarinya? Tidak, mereka menyadarinya. Namun mereka tidak terlalu mempedulikan hal itu. Karena mungkin saja ledakan mana itu terjadi karena monster-monster yang terbunuh bersamaan atau karena ada orang yang gagal dalam membuat ramuan sihir. Mereka tidak merasa hal itu aneh.


Di sisi lain, Rein tidak berpikir seperti itu. Mengingat dirinya ada di dalam Dungeon.


'Ledakan mana? Dan lagi ledakan itu mencapai bagian dalam sebuah Dungeon? Ledakan itu pasti sangat kuat. Kalau monster mati, setidaknya monter grade A, dan kalau ada orang gagal membuat ramuan, hadusnya itu ramuan tingkat tinggi.


Hal-hal ini sangat berbahaya. Tidak mungkin seorang amatir membunuh banyak monster grade A hingga inti sihir mereka meledak, dan membuat ramuan tingkat tinggi tanpa pemahaman yang cukup.' begitulah pikir Rein.


Ia tahu hal-hal tersebut dari perpustakaan desa. Kerena menurutnya pengetahuan tentang monster itu penting.


Rein merasa aneh, namun ia akhitnya tidak mempedulikan hal itu.


"SSSSSSssssss!!!!"


Seekor ular bermata merah menghampiri Rein. Ya, itulah Aksha.


"Aksha."


Rein mengulurkan tangannya. Membiarkan Aksha melilitnya.


"Kau tidak apa-apa kan selama aku tidak ada? Kau juga tidak membuat masalah kan?"


Aksha menggelengkan kepalanya. Ia terkihat tidak berbohong sama sekali. Namun ia menunjuk ke arah mulutnya.


"Ah, kau lapar?"


Rein mengambil beberapa herb leaf dari inventorynya ke Aksha.


Rein mengusap kepalanya, "baguslah kau baik-baik saja, hanya lapar."


Iapun melanjutkan memeriksa statusnya. Melihat apa yang terjadi setelah update.


[STATUS]


Nama : Rein


Ras : Elf


Level : 10


Title : Reader, Rabbit Hunter


HP : 9000/9000


MP : 3000/3000


Buff : 0


--


SKILL







--


ITEM


Bronze (×20)


(+ Lihat selengkapnya)


--


EQUIPMENT


--


Begitulah status Rein sekarang. Tak banyak yang berubah, namun detail dari status itu tidak banyak.


'Hmmm, tidak masalah. Detail Status sekarang tidak terlalu penting juga. Mengingat kekuatan pemain dapat bertambah walau level tidak bertambah.' pikir Ryn melihat statusnya.


Ia pun melihat Aksha. Dan mengingat kalau ia masih ada quest yang harus diselesaikan.


Ia pun pergi dari gerbang Rest Area. Langsung ke sebuah toko/tempat penitipan hewan atau monster peliharaan.


"Permisi, aku ingin menitipkannya, apakah bisa?" Ucap Ryn, menunjukkan Aksha yang ada di lengan kirinya.


Pegawai tempat itu menjawab. "Tentu saja bisa. Berapa ukurannya?"


"70 cm."


"Baik, kalau begitu biayanya 7 koin perak per jam. Anda ingin bayar di tempat atau saat pengambilan kembali?"


"Aku akan membayarnya saat sudah selesai Quest."


"Baiklah."


Akshapun diserahkan kepada sang pegawai. Yah, sebenarnya ia dibiarkan saja tidak apa-apa. Namun akan lebih baik ia berikan kepada orang yang berpengalaman agar Aksha tidak kelaparan.