Ainhra Online

Ainhra Online
Desa Awal, Nix



Chapter 36 : Desa Awal, Nix


Desa Nix, Haezel Kingdom, Blazing Fire Empire, 05 Januari 20XY, Pukul 05:40 WIB.


Desa Nix, adalah sebuah Desa Awal untuk ras Elf di Haezel Kingdom, Blazing Fire Empire. Seperti desa awal pada umumnya, Desa Nix memiliki jumlah penduduk serta fasilitas lebih rendah daripada desa biasa.


Namun Desa Nix dan Desa Gres terlihat jauh berbeda. Penampakan alam Desa Nix lebih normal daripada Desa Gres. Karena Desa Nix memfokuskan kegiatan ekonominya pada sektor pertanian dan perkebunan, tidak seperti Desa Gres yang kegiatan ekonominya bergantung pada monster, tumbuhan, dan dungeon dari Hutan Agresia.


Seperti yang kita ketahui, Tya alias Tasya memulai perjalanannya di Desa Nix. Saat ini ia sedang berjalan ke arah gerbang desa sambil membawa sebuah kantung kain coklat di tangan kirinya.


Ia tak ada kelas pagi hari ini. Hanya kelas sore, setelah makan siang. Jadi ia memutuskan untuk bermain saja. Walau waktu masih subuh.


"Berhenti. Tolong tunjukkan isi kantung itu. Kami harus memeriksanya agar tidak ada barang berbahaya masuk ke dalam desa." Ucap penjaga gerbang.


Tasya dengan santai memberikan kantung kain coklat itu. Toh, ia tak membawa barang-barang berbahaya.


"Hmmm...."


Penjaga itu melihat isi dalam kantung, lalu melirik Tasya yang masih memakai baju novice.


"Tidak ada barang-barang berbahaya dalam kantung ini. Kau boleh masuk." Ucap sang penjaga, menyerahkan kembali kantung itu pada Tasya.


"Baik, terimakasih."


"Sama-sama. Namun hati-hati nona. Copet ada di mana-mana."


"Ya, tentu."


Tasya melanjutkan perjalanannya. Ia ingin pergi ke rumah Kak Asih. Setelah beberapa hari dia ada di Ainhra Online, ia dan Kak Asih sudah menjadi teman dekat.


Untuk menuju ke rumah Kak Asih, Tasya harus melewati jalan utama terlebih dahulu. Lalu melewati beberapa bidang sawah. Rumah Kak Asih ada di dekat Gereja.


Benar, Kak Asih adalah seorang priest. Gereja yang ada di dekat rumahnya adalah Gereja Lumina.


"Kak Tasya! Kak Tasya!" Panggil beberapa orang saat Tasya sedang melewati sawah. Ternyata, itu adalah sekelompok anak-anak yang sedang menanam padi di sawah yang kosong.


"Iyaa!!" Tasya membalas sapaan mereka.


"Hehe, apa kakak akan menemui Kak Asih lagi?" Tanya seorang anak laki-laki berambut merah.


"Iya, apa Kak Asih ada di rumah?" Tasya menjawab dengan suara agak keras.


"Kak Asih ada di rumahnya kok! Ketuk saja!" Seorang anak perempuan berambut blonde menjawab pertanyaan Tasya.


"Ooh! Baiklah, terimakasih ya! Hyun! Rina! Kakak pergi dulu. Hati-hati ya kalian!" Ucap Tasya, berniat melanjutkan perjalanannya.


"Yaa! Daa daa~!" Anak-anak itu melambaikan tangannya. Lalu melanjutkan pekerjaan mereka.


Anak-anak itu adalah anak-anak yatim piatu yang dijaga oleh Gereja Lumina. Selain menjadi lebih dekat sengan Kak Asih, Tasya juga menjalin hubungan dengan Gereja Lumina. Juga dengan anak-anak yang ada di sana.


Kemarin, ia tak dapat mendatangi Gereja Lumina. Tentu saja karena hujan deras yang melanda seluruh kekaisaran. Hal itu membuatnya hanya bisa diam di restoran yang ada di jalan utama.


Tasya sudah sampai di rumah Kak Asih. Iapun mengetuk pintunya.


*Tok tok tok


"...."


Namun tidak ada yang menyaut dari dalam. 'Aneh, kata Rina, Kak Asih ada si rumahnya. Apa Kak Asih sedang ada di gereja?'


Tasya berjalan ke gereja. Sesampainya ia di sana, terdengar suara orang berbicara di dalam. Tasya tidak jadi masuk.


Gereja Lumina adalah gereja yang sederhana. Sebuah bangunan yang terbuat dari bata. Di halamannya terdapat tanaman dan sebuah kolam ikan.


'Hmmm, sepertinya ada orang yang terluka. Makanya Kak Asih tidak ada di rumahnya....' pikir Tya.


Lalu, dia berjalan ke arah sumur. Mengambil penyiram bunga, mengisinya dengan air, lalu menyiram tanaman yang ada di halaman Gereja Lumina.


Setelah beberapa menit, Tasya selesai menyiram tanaman. Setelah itu ia mengambil pakan ikan. Pakan ikan itu diletakkan di dekat sumur juga.


Ia memberi makan ikan-ikan yang ada di kolam itu. Lalu, karena tak ada pekerjaan lain lagi yang bisa ia lakukan, ia menunggu saja di dekat pintu masuk gereja.


*Kriet


Pintu gereja terbuka. Seorang pria paruh baya keluar dari gereja.


"Terimakasih ya, Asih, Budi. Kaki saya sekarang sudah kembali sehat." Ucap pria itu pada orang yang ada di dalam gereja.


"Sama-sama Pak. Tidak perlu sungkan. Dewi Lumina akan senang kalau kami membantu orang-orang." Ucap seorang laki-laki, yang sepertinya bernama Budi.


"Hahaha, kalian tetap sederhana seperti biasa, ya. Yah, kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa." Pria itu kemudian pergi dari Gereja Lumina.


"Sampai jumpa. Hati-hati di jalan." Ucap dua orang, laki-laki dan perempuan.


Setelah itu, pintu gereja dibiarkan terbuka. Barulah Tasya masuk ke dalam.


"Permisi, Kak Asih, Kak Budi." Ucap Tasya setelah masuk ke dalam.


Asih dan Budi yang ada di sana langsung mengarahkan pandangannya ke Tasya.


"Tasya datang rupanya. Kenapa kemarin kamu tidak datang ke gereja?" Tanya Kak Asih pada Tasya.


"Ish, Asih, kamu lupa ya? Kan kemarin itu hujan sangat lebat. Bahkan beberapa daerah di kekaisaran kita kebanjiran." Ucap Kak Budi pada Kak Asih yang melupakan kejadian kemarin.


"Eh? Memangnya hujan lebat terjadi di seluruh kekaisaran?"


"Astaga, kau ini, iyaaa Asiiih. Untung teman, kalau tidak...."


"Kalau tidak apa?"


"Tidak ada. Kau juga dapat menyembuhkan dirimu sendiri. Jadi walau aku mematahkan tanganmu tidak ada yang terjadi- eh." Kak Budi membisu. Ia telah mengatakan sesuatu yang salah.


Kak Asih membelalakkan matanya.


'Aduh, seperti biasa, Kak Budi mengatakan sesuatu yang salah.' Tasya hanya bisa tersenyum canggung melihat Kak Asih dan Kak Budi.


"Tidak-tidak, aku hanya bercanda."


"Sudah-sudah, tidak baik berkelahi di dalam gereja. Dewi Lumina tidak akan menyukainya." Ucap Tasya, mengingatkan mereka berdua.


Ia sudah menebak kalau Kak Asih memiliki kepribadian yang ceria dan bersemangat dari cara bicaranya. Tapi tetap saja, untuk seorang priest seperti itu.... Agak tidak disangka.


Kak Asih dan Kak Budi diam. Kemudian Kak Budi bertanya pada Tasya. "Oh ya, Tasya, untuk apa kantong coklat itu?"


Tasya juga baru mengingat tentang kantonh coklat yang ada di tangannya. "Ini ya? Aku.... Ingin belajar menjadi priest."


"Apa?! Benarkah?" Kak Asih menghampiri Tasya. Ia memperhatikan setiap sudut dari Tasya. "Kau tidak kerasukan sesuatu kan?" Ucapnya, dengan nada heran.


"Tidak! Tentu saja! Astaga, apakah seaneh itu? Haaah." Tasya menghela napasnya di akhir.


"Sebenarnya tidak. Asih saja yang terlalu terkejut." Ucap Kak Budi.


"Ya.... Memang sih. Tapi, Tasya benar-benar ingin menjadi Priest Church of Lumina?" Tanya Kak Asih, kali ini dia sungguh bertanya pada Tasya.


"Tentu saja. Lagipula, bukankah lebih baik seperti ini? Aku bisa dengan tenang berada di Church of Lumina tanpa merasa membebani kalian berdua dan tuan Gerin."


Memang, hanya Asih dan Budi priest di Church of Lumina Desa Nix. Wajar saja, penduduk di Desa Nix hanya terdiri dari puluhan kepala keluarga. Dan tidak setiap harinya ada orang terluka. Dua orang saja cukup untuk menangani semuanya.


Tuan Gerin sendiri adalah pendeta tingiat tinggi dari Church of Lumina. Dia bertugas mengatur segala hal di Church of Lumina Desa Nix. Asalkan tidak ada orang yang terluka hingga anggota badannya terlepas, Tuan Gerin tidak turun tangan.


"Ah.... Seperti itu ya. Kalau begitu apa isi kantong coklat itu? Memangnya kau tau barang-barang yang dibutuhkan untuk menjadi priest?" Kak Asih bertanya lagi.


"Tentu saja aku tahu. Kan kakak pernah mengatakannya padaku. Apa kakak tidak ingat?"


Tasya pernah menanyakan tentang barang-barang untuk menjadi priest pada Asih. Tapi sepertinya, ia tak ingat.


"Benarkah? Hmmm, aku tak merasa pernah memberi tahumu." Kak Asih berpikir sebentar.


Lalu tiba-tiba ia berteriak. "Aa! Hari itu! Baiklah-baiklah, sekarang aku ingat. Kalau begitu kau membawa semuanya?"


"Ya, 2 Elemental Rune dan beberapa Elemental stone kosong bukan?"


"Yap! Selain itu?"


"Kalau sudah menggunakan barang tadi. Ke tempat pembuat kartu identitas, ya kan?"


"Benar, benar, lalu?"


Tasya menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. "Uuh, waktu itu kakak hanya mengatakan sampai situ."


"Selanjutnya kau harus pergi ke ibukota bersama kami berdua atau Tuan Gerin. Semua priest Church of Lumina Blazing Fire Empire harus mendaftarkan diri di sana." Kak Budi melanjutkan ucapan Tasya yang sebelumnya.


"Ya! Kalau begitu kita bisa mela-"


"Kak Asih! Kak Budi! Kami telah siap menanam padinya~!" Ucap seseorang, langsung masuk ke dalam gereja tanpa mengetuk pintu.


Itu adalah sekelompok anak-anak tadi. Mereka sudah selesai menanam padi. Dan kini di sekujur tubuh mereka dipenuhi lumpur.


"Astaga! Kalian harus mandi sekarang!" Kak Asih segera mengarahkan mereka ke tempat mandi.


"Tasya! Kau berlatih sama Budi dulu ya! Aku mengurus mereka dulu!" Ucapnya keluar dari gereja sambil menggiring anak-anak ke tempat mandi.


*Cklek


"...."


Keheningan terjadi untuk sementara waktu. Namun dengan segera dipecahkan eh Kak Budi.


"Tasya, kau ingin berlatih di mana?"


"Eh..? Oh, itu, di sini saja."


"Baiklah, tunggu sebentar ya."


Kak Budi pergi ke arah lemari. Ia mengambil selembar kertas. Lalu menyerahkannya pada Tasya.


"Ini adalah petunjuk untuk menggunakan Elemental Rune. Kau bisa melakukannya sendiri bukan?"


Tasya membaca terlebih dahulu petunjuk itu. Lalu mengangguk mengerti. "Ya, aku bisa melakukannya sendiri. Kakak pergi saja bantu Kak Asih."


"Bagus. Kalau begitu aku pergi dulu. Aku dan Asih akan selesai membersihkan tubuh mereka semua dalam dua jam." Ucap Kak Budi sebelum akhirnya pergi ke arah yang sama dengan Kak Asih.


"Baik." Balas Tasya singkat. Lalu ia segera melakukan apa yang ada di petunjuk itu.


---


2 jam kemudian~


Tasya membuka matanya. Laku melihat pergelangan tangannya. Lambang Elemen Air dan Cahaya tampak di sana. Ia juga dapat merasakan dalam tubuhnya terdapat dua bola yang berwarna putih dan biru.


"Baiklah, lalu setelah selesai menggunakan Elemental Rune.... Mencoba mengalirkan mana ke Elemental Stone? Baiklah."


Tasya sudah membawa banyak Elemental Stone kosong di dalam kantung coklatnya. Lalu ia mengambil 5 batu.


Sebelum ia dapat menggunakam batu itu, dua orang masuk ke dalam gereja. Kak Asih dan Kak Budi. Mereka sepertinya sudah selesai membersihkan tubuh anak-anak tadi. Terlihat dari baju mereka yang agak basah.


"Memandikan mereka benar-benar melelahkan! Untung saja hanya 4 orang yang dimandikan, sisanya bisa mandi sendiri." Ucap Kak Asih meregangkan tubuhnya dengan mengangkat tangannya.


"Benar. Sebentar lagi dua dari mereka juga akan bisa mandi sendiri." Kak Budi membalas ucapan Kak Asih.


"Benar benar~ hm? Tasya, kau sudah berhasil mendapatkan kekuatan Elemen?" Kak Asih merasakan mana dalam tubuh Tasya berubah. Iapun menghampirinya.


Tasya yang awalnya mendengarkan saja menganggukkan kepalanya, menunjukkan lambang Elemen Air dan Elemen Cahaya di tangannya.


"Bagus! Bagus! Sepertinya kau memiliki bakat dalam bidang sihir!" Ucap Kak Asih menepuk bahu Tasya pelan.


Apa yang Kak Asih katakan tidak salah. Tasya sungguh berbakat dalam bidang shir. Karena ia tau, satu Elemen saja membutuhkan waktu setidaknya tiga jam dan tiga percobaan untuk diserap kekuatannya. Tasya melakukannya hanya dalam dua jam untuk dua Elemen.


Artinya dia menyerap setiap Elemen dalam satu percobaan saja! Dan untuk orang yang baru mempelajari sihir, hal itu bisa dibilang berbakat.