Ainhra Online

Ainhra Online
Wizard (?)



Mobil terbang yang menbawa keluarga Pradhipta sudah lepas landas. Tinggal beberapa menit lagi sampai mereka tiba di restoran.


.


.


.


Ryn sudah sampai di lantai paling bawah. Suasana di lantai bawah, alias Lobby, sangat sepi. Mungkin, karena hari ini adalah hari Sabtu.


*Bzzz bzzz


Ponsel Ryn yang ada di sakunya bergetar. Ia mengambilnya dan membaca pesan apa itu.


Bibi Mary


Ryn, apa kau sudah sampai di lantai paling bawah?


Ryn


Sudah, Bibi. Sekarang Bibi ada di mana?


Bibi Mary


Bibi sudah ada di restoran. Kau naik saja kendaraan umum untuk ke Central Garuda. Lalu jalan kaki ke restorannya.


Restoran itu dekat di perbatasan antara Central Garuda dengan Gaduda Right Wing.


Ucapkan saja namamu, nama panjangmu, ke resepsionis di sana. Kau akan dibawa ke meja yang sudah aku pesan.


Ryn


Baik, Bibi.


Selesai menjawab pesan Bibinya, Ryn langsung keluar dari gedung apartemen. Iapun memesan sebuah taksi online.


Tak berapa lama, taksi itu datang. Mobil kecil berwarna biru muda, dengan tulisan "TAXI" di atasnya dan angka no. 12. Di dalamnya hanya terdapat satu tempat duduk.


Ryn segera masuk ke dalam Taksi itu. Suara dari AI autopilot Taksi ini berbunyi.


"Jumlah penumpang, 1 orang. Tujuan, Central Garuda. Harap konfirmasi hal ini di ponsel anda."


*Ting!


Sebuah pesan muncul di ponsel Ryn. Berisi tombol konfirmasi dan ganti detail pemesanan. Ia langsung menekan tombol konfirmasi.


"Pemesanan dikonfirmasi. Tolong pakai sabuk pengaman anda. Waktu hingga tujuan, 20 menit."


Ryn memakai sabuk pengamannya. Lalu taksi tanpa pengemudi itu berjalan.


---


20 menit yang hening kemudian


"Telah sampai tujuan. Harap lepas sabuk pengaman anda. Dan silakan konfirmasi pembayaran dengan ponsel anda."


Ryn mengambil kartu atmbya dari saku celana. Lalu ia meletakkannya di bagian belakang ponsel untuk di scan.


*Bzzz!


"Pembayaran terkonfirmasi. Terimakasih telah memilih Go-Taksi robo sebagai sarana transportasi anda. Silahkan beri rating bintang 5 jika anda puas dengan pelayanan kami."


Ryn memberikan buntang lima pada Taksi no. 12 itu. Lalu ia keluar sari taksi. Dan berjalan menuju restoran 55555.


Ia talah sampai di pinggir jalan besar Central Garuda. Di sana ada banyak orang. Mengingat daerah Central Garuda adalah pusat perbelanjaan dan perkantoran di Garuda City.


Ryn berjalan di trotoarnya. Tidak ada yang mempedukikan penampilannya. Tentu saja, karena pada zaman ini fashion atau penampilan sudah tidak jadi bahan pergunjingan lagi di kalangan anak muda hingga orang-orang umur 30 tahunan. Untuk yang lebih, mungkin masih ada.


Ryn berjalan biasa, tidak berjalan cepat. Lagipula, restoran 55555 hanya berjarak 100 meter dari perbatasan Central Garuda dengan Garuda Right Wing.


Masih ada banyak waktu hingga jam 20:30, sekarang saja masih 19:40.


Di jalan ini, terdapat banyak toko, tempat makan, karaoke, dan lainnya. Terdapat juga toko elektronik di sana. Ada pula pedagang kaki lima di bagian depan toko-toko itu. Hal ini membuat jalanan sangat terang dan bising.


'Jalanan yang sangat ramai. Banyak juga orang-orang dari luar Jawa ke sini. Memang Paman Alden tidak berbohong kalau biaya Rumah Sakit dan apartemen itu kecil.' pikir Ryn saat melintasi jalan itu.


Ia juga melihat-lihat toko-toko yang ada di sana. Dan ada satu toko yang menarik perhatiannya. Toko itu menjual bermacam-macam barang elektronik. Namun, bukan barang elektronik biasa yang menarik perhatian Ryn.


Melainkan, 'Pedang.... Portable?'


Ya, terdapat sebuah pedang di sana. Bahkan dipajang di jendela toko. Pedang itu memiliki gagang sepannjang 10cm. Untuk mata pedangnya sendiri dapat diatur, terlihat atau tidak. Panjang totalnya hanya 1.1 meter. Pedang itu juga tahan panas hingga 500°C.


'Harganya 300.000 rupiah. Ada diskon 20%? Oh, barangnya baru launching seminggu yang lalu.'


Ryn berdiam sebentar di sana. Setelah beberapa saat, akhirnya ia memutuskan untuk membeli pedang itu.


---


Selesai membeli pedang itu, Ryn kembali berjalan menuju Restoran 55555. Pedang yang telah ia beli dimasukkan ke dalam saku celananya.


Untuk ke sana, ia harus menyeberang terlebih dahulu. Lalu belok kiri di simpang besar. Atau, ia berjalan sampai simpang besar, lalu menyeberang di sana dan berjalan lurus.


Karena Ryn tak mau terlalu repot, ia memilih berjalan hingga simpang besar.


Ryn berjalan santai. Tidak ada hambatan. Walau saat itu jalanan sedang ramai.


Tiba-tiba


*Syut


Seseorang menarik tangan Ryn. Prang itu menariknya hingga masuk ke dalam sebuah gang kecil.


"?!"


Tentu saja Ryn langsung menberontak. Dengan tangan kirinya, ia melepaskan tangan orang itu dari tangan kanannya.


Orang itu menyadarinya, ia ingin menarik Ryn kembali. Tapi Ryn sudah mundur 3 langkah darinya.


Ryn segera berlari keluar gang itu. Namun, saat ia ingin kembali ke trotoar, terdapat sebuah dinding tak kasat mata menghalanginya.


"Cih, apa yang kau lakukan?!" Teriak Ryn pada orang yang menariknya ke gang. Diam-diam ia mengambil pedang portabel yang baru ia beli di saku.


Orang itu memakai jubah hitam. Ryn tidak dapat melihat wajahnya. Karena wajah orang itu tertutup topeng.


Orang itu mdnjawab dengan nada meremehkan. "Apa yang aku lakukan? Mengurungmu di sini."


Suara orang itu tidak bisa diidentifikasi gendernya. Suaranya maskulin, namun juga feminim. Ryn tidak biaa mengenalinya sama sekali. Suara itu tidak pernah ia dengar. Bahkan suara AI, tidak seperti itu.


Ryn menggenggam pedangnya di tangan kiri. Sebisa mungkin ia menghindari kekerasan, namun ia harus tetap berjaga-jaga. "Keluarkan aku! Untuk apa kau mengurungku di sini?!"


Orang bertopeng itu penjawab. "Hmmm, untuk apa ya? Oh! Untuk membunuhmu, tentunya."


'Orang ini.... Apa dia sudah gila?'


"Takut? Tentu saja tidak! Orang-orang itu tidak akan bisa mendengarmu. Aku telah memasang barrier kedap suara, Hahaha!!"


'Barrier..? Orang ini.... Bisa sihir? Apa dia salah satu orang-orang dari Restricted Area?'


Ryn menelpon nomor polisi itu, namun...


"Tiit! Tiit! Tiit! Tidak terdapat sinyal!"


Ryn mengernyitkan dahinya, 'Apa?! Pada zaman ini sinyal ada di mana-mana! Apalagi di daerah yang merupakan pusat perbelanjaan.'


"Hooo, kau mencoba menelpon polisi ya? Cerdik juga. Menurunkan volumenya agar aku tidak mendengarnya. Namun sayang, kau lupa menurunkan volume notifikasimu. Haha." Orang itu berbicara dengan nada sarkas.


Ryn menatap orang itu dengan mata birunya.


"Apa? Bingung meminta pertolongan hah? Hendry kecil?"


Ryn semakin menajamkan matanya. Ia tak percaya apa yang baru saja dikatakan oleh orang itu.


'Bagaimana bisa dia tau nama ayahku?!'


"Kenapa? Bingung aku bisa tau nama ayahmu? Khekhekhe."


"Cih, cepat sebutkan apa maumu! Aku tidak bisa bermain-main denganmu lebih lama!" Ryn memindahkan pedang portabelnya ke tangan kanan secara perlahan.


"Khekhekhekhe, apa aku lupa bilang kalau waktu di sini berjalan 3 kali lebih lambat dari dunia nyata? 1 menit di sini sama dengan 3 menit di dunia nyata. Kau sudah berada 10 menit di sini...." Di balik topengnya, orang itu tersenyum miring.


Ryn terkejut, namun ia tidak bisa menunjukkannya. 'Jika apa yang ia katakan benar adanya.... Maka waktu telah berjalan 30 menit, artinya sekarang sudah Jam 20:20. Bibi Mary pasti mencariku?'


.


.


.


Pukul 19:50


Pak Alden, Istrinya, serta Tya dan Jendra sudah sampai di Restoran 55555. Mereka segera turun dari mobil terbang.


Pada saat itu, parkiran di sana penuh. Tya agak terkejut melihat banyak sekali mobil terbang di sana. Semuanya memikiki warna yang berbeda-beda, bahkan ada yang berwarna emas!


Ekspresi terkejut Tya sangat terkihat di wajahnya. "Tya, kau terkejut? Ini karena Restoran ini sangat terkenal. Tentu saja pada malam Minggu seperti ini akan penuh." Ibu Tya menjelaskan hal itu kepada Tya.


"... Oh...."


"Mama! Mama! Apa tidak ada parkiran biasa di sini? Semua mobil ini adakah mobil terbang!" Tanya Jendra dengan antusias. Ini adalah pertama kalinya ia datang ke restoran semewah ini.


"Tentu saja, tidak ada!"


"Waah, berarti yang datng ke sini orang-orang yang sangat kaya ya Ma? Hebat sekali!"


Pak Alden tersenyum melihat kelakuan anaknya itu. Lalu ia mengajak mereka masuk ke dalam restoran. "Benar, restoran ini memang hebat. Sekarang ayo kita masuk ke dalam."


Merekapun masuk ke dalam. Seketika mereka masuk, udara dingin dari AC terasa. Pemandangan restoran yang mewah juga terlihat. Dengan karpen kotak-kotak coklat, dinding coklat krem, dan lampu oranye dan beberapa hiasan mahal, membuat restoran ini benar-benar terkesan 'mahal'.


Di sana terdapat sebuah meja resepsionis. Yang melayani tamu di sini adalah manusia. Bukan robot. Hal ini berarti restoran ini salah satu yang terbaik. Karena hanya restoran bintang 5 tingkat tinggi yang dibolehkan menggunakan tenaga manusia sebagai pegawainya.


Tidak ada antrian di meja resepsionis, Pak Alden dan keluarganya langsung saja berjalan ke sana.


"Selamat datang Tuan Alden, Nyonya Selena, Nona Tasya, dan Tuan muda Jendra. Apa yang bisa kami bantu?" Tanya sang resepsionis.


"Di mana meja Mary dan Albert? Keluargaku ada janji makan malam bersama mereka."


"Nyonya Mary dan Tuan Albert ada di meja VIP 1 tuan. Apa perlu kami tunjukkan mejanya?"


"Tidak perlu, terimakasih. Ayo, kita ke ruang VIP 1."


Pak Aleen dan keluarganya pergi ke area sebelah kanan. Tempat ruangan-ruangan VIP berada. Kalau sebelah kiri itu tempatnya seperti Restoran pada umumnya.


Merekapun sampai di ruangan VIP 1. Pak Alden mengetuk pintunya 3 kali sebelum membukanya.


"Maaf kami agak terlambat, Mary, Albert." Ucap Pak Alden setelah masuk ke dalam ruangan VIP 1.


Mary ternyata sedang meminum teh. Sedangkan Albert hanga duduk di sana, tak melakukan apa-apa. Mary yang menyadari kehadiran keluarga Albert segera meletakkan cangkir tehnya.


"Tidak masalah, Alden. Kalian tidak terlambat, malah tepat waktu." Ucap Bibi Mary pada Pak Alden.


Setelah Pak Alden masuk, barulah Istrinya dan Jendra masuk. Terakhir, barulah Tya masuk.


"Hai! Selena, apa kabarmu?"


"Mary, kabarku baik, bagaimana denganmu. Sudah lama kita tidak tatap muka begini."


"Aku baik-baik saja, aii Jendra sudah besar ya sekarang!"


"Halo Bibi Mary!"


"Halo juga, oh Tya! Ah, Tya sudah sebesar ini saja. Terakhir kali aku berjumpa denganmu saat umurmu masih 19 tahun."


"Ya, Bibi."


Bibi Mary dan Bu Selena (dan jendra) mengobrol. Tya hanya diam mendengarkan percakapan mereka.


Pak Alden dan Paman Albert hanya bisa tersenyum canggung melihat kelakuan istri mereka (dan Jendra).


"Hei Albert, kenapa kalian belum memesan makanan satupun?" Tanya Pak Alden.


"Ah, kami masih menunggu satu orang lagi. Keponakan kami." Jawab Paman Albert.


"Ya, entah kenapa dia belum datang. Apa ada sesuatu yang terjadi padanya ya?" Ucap Bibi Mary, menyambung ucapan Paman Albert.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak, kita pesan makanan saja dulu. Sambil menunggu dia datang." Usul Bu Selena.


"Ide bagus, sepertinya dia terjebak macet. Ayo kita pesan makanan dulu." Ucap Bibi Mary.


Merekapun memesan makanan sambil menunggu keponakan Bibi Mary datang.


.


.


.


"Kenapa diam, kelinci kecilku? Bukankah semua ini sangat menarik? Aku menyiapkannya khusus untukmu lho."


Ryn merapatkan giginya. "Ck, sebenarnya apa maumu?!


"Bukankah sudah aku bilang? Aku ingin membunuhmu!"


**PS : Apa kalian menemukan kejanggalan? Yap, nama ibu Tya berubah.


Nama aslinya Mei Hua. Selena adalah nama yang ia gunakan saat bertemu dengan relasi bisnis dari Amerika dan Eropa**.