
Rumah Sakit XXX, Jakarta Pusat, 30 November 20XX
Ryn sudah sembuh total. Hari ini ia akan dikeluarkan dari rumah sakit.
Hari-harinya di rumah sakit tidak seburuk yang ia bayangkan. Jendra selalu datang setiap ada waktu. Jadi ia tak kesepian.
Hari ini, ia akan pulang ke rumah, dia masih akan tinggal di rumah itu selama 3 pekan sebelum pindah ke apartemen yang Pak Alden janjikan.
Perumahan Y, Jakarta Timur, 21 Desember 20XX
Tok tok tok!
Ckrek!
"Ya ada apa?" Ucap Ryn.
"Kami dari jasa pengiriman Garuda Jaya. Benar dengan pak Avaryn?"
"Ya, benar."
"Baiklah, kami diperintahkan oleh Tuan Alden untuk segera memindahkan barang-barang tuan ke apartemen baru. Silahkan tuan menunggu di luar sebentar."
"Aah, baiklah."
Ryn menunggu di luar, sementara para pekerja melakukan tugasnya. Namun yang membuat Ryn terkejut adalah, barang-barang yang dibawa oleh para pekerja hanyalah baju-bajunya serta laptopnya. Sisanya tidak dibawa dan malah ditinggalkan begitu saja.
"Eeh, pak, apakah barang-barang saya yang lain tidak perlu dibawa?"
"Tidak perlu, hanya baju saja dan barang penting. Tuan Alden telah menyiapkan barang-barang yang lainnya di apartemen."
Ryn mengangguk. 'Aku harus berterimakasih kepada Paman Alden nanti.' pikirnya.
Setelah semua baju-bajunya sudah di masukkan ke kontainer. Laptopnya ia bawa di dalam tas. Kotak kontainer itu cukup kecil, lalu menggunakan magnet di taruh di atas mobil. Ryn dan beberapa pekerja (well cuma 2 orang) langung melaju ke lokasi apartemen Ryn yang berada di Jakarta Pusat.
Ia pun sampai di satu gedung, tidak, sebuah kompleks apartemen.
Kompleks apartemen itu terletak di daerah Garuda Right Wings, Garuda City. Garuda City adalah suatu daerah besar milik perusahaan Garuda Jaya.
"Baiklah, aku akan tinggal di sini mulai saat ini." Ucap Ryn. Para pekerja tadi tengah memindahkan barang-barangnya ke apartemennya yang baru.
Saat masuk, ia terkejut. Salsa, mantan pacarnya, ada di sana dengan seorang laki-laki.
"Kau! Apa yang kau lakukan di sini!" Ucap Salsa saat melihatnya.
"..."
"Rakyat Jelata sepertimu tidak pantas berada di tempat ini!"
"..."
Ryn diam. Ia hanya berdiri dengan tatapan kosong ke arah Salsa. Tak lama, seorang laki-laki bertubuh besar dengan kacamata hitam menghampiri Ryn, dan berbisik kepadanya bahwa Pak Alden memanggilnya di lantai 40. Ryn mengikuti orang itu tanpa memperdulikan Salsa.
"Kau! Beraninya kau mengabaikanku!"
Ryn berhenti, lalu menoleh ke arah Salsa dengan tatapannya yang dingin seperti es. Matanya yang biru sangat mendukung hal tersebut.
"Sayang, tenangkan dirimu. Kau Ryn bukan? Mantannya? Sampah, kau lebih baik melakukan apa yang dia inginkan sekarang atau... Hidupmu tak akan tenang." Ucap laki-laki yang sedang bersama Salsa.
Ryn masih tetap diam, ia menatap dingin kedua orang itu. Lalu ia menghela nafas, "Kau, siapa?"
"Huh! Aku adalah Daffa Rajawali! Kau pastinya tau kalau keluarga Rajawali dekat dengan keluarga Pradhipta!"
'Apa katanya? Keluarga Rajawali? *Sigh* siapapun yang menulis cerita ini pasti sudah kehabisan ide nama.' pikir Ryn.
(Author (Ryu) : Ya maaf, saya tak punya bakat dalam memberi nama :(
'Yah, apapun alasan kenapa keluarganya bernama 'Rajawali' aku tak peduli. Tapi orang ini terlalu sombong... Bahkan untuk seorang bangsawan atau orang dari kasta atas.'
"Okay, Tuan Muda Rajawali, benar? Maafkan saya kalau mengganggu, namun saya sedang terburu-buru sekarang."
Ryn dan orang berbadan besar itu lalu menaiki lift dan tidak melanjutkan pembicaraan dengan Daffa dan Salsa.
"Ingat namaku! Golden Dust! Akan ku tunggu kau di game "Ainhra Online"! Ku tantang kau berduel!" Ucap Daffa sebelum pintu lift tertutup.
"Bagaimana jika aku menolak?" Ucap Ryn.
Daffa tersenyum miring. "Kupastikan kau dan orang-orang terdekatmu tidak hidup tenang selamanya."
Ryn diam. Tatapan matanya yang dingin menjadi lebih dingin. Dia tak membalas lagi ucapan Daffa dan berjalan ke lift.
Setelah masuk ke dalam lift dan pintu tertutup, pria berbadan besar menekan tombol 40. Dalam waktu cukup singkat, mereka sampai di sana.
Avaryn dan pria berbadan besar keluar dari lift, lalu berjalan lurus menuju sebuah pintu bertuliskan "Alden Aditya Pradhipta".
Tok tok tok!
"Tuan besar, tuan Ryn telah sampai." Pria berbadan besar mengetuk pintu.
"Oh? Ya, silahkan masuk." Ucap seseorang dari dalam.
Ckrek!
"Ryn, akhirnya kau datang." Ucap Pak Alden.
"Kak Ryn! Kita berjumpa lagi!" Ucap Jendra saat melihat Ryn, ia langsung berlari dan memeluk kaki Ryn.
Ryn mengelus kepala Jarden sambil tersenyum lalu bertanya kepada Pak Alden, "paman, apa yang membuatmu memanggilku?"
"Ah, itu, apakah kau baru saja bertemu dengan Daffa?"
"Eh? Benar. Bagaimana paman bisa tau?"
"Tentu saja aku tau. Daffa langsung meminta informasi tentang dirimu dari orang di sana. Orang yang dimintanya adalah orang dari Garuda Jaya."
Ryn mengangguk paham. Lalu dia bertanya pada Pak Alden. "Paman, baru saja aku ingin memberitahumu tentang hal itu. Apakah keluarga Rajawali memang dekat dengan keluarga Pradhipta?"
Pak Alden menggelengkan kepalanya. "Tidak juga. Keluarga itu adalah salah satu keluarga bawahan Pradhipta. Tepatnya, mereka adalah keluarga cabang untuk gedung-gedung Mall. Mereka yang membangun serta mengaturnya."
Ryn mengangguk paham. Kini dia tau alasan kenapa Salsa, mantannya, seperti itu.
"Membeli apa?"
"Ehmm, Game Ainhra Online dan Avera Gear untuk memainkannya." Avera Gear adalah alat untuk memainkan game VR dari QRYZ dan iklannya ada di mana-mana semenjak Ainhra Online diumumkan.
Pak Alden diam sebentar dan berpikir. Ryn dan Jendra yang ada di sana tidak diam saja, mereka bermain tentunya.
"Oke! Tak masalah, Avera Gear dapat dikirim ke apartemenmu sekarang. Namun Ainhra Online harus kau beli dari toko." Ucap Pak Alden tiba-tiba saja.
"Haih, bisakah ayah tak mengejutkanku dan kak Ryn?" Ucap Jendra melihat ayahnya.
"Eh, ah, iya maaf kan ayah."
Ryn yang mendengarkan saja langsung angkat bicara. "Paman Alden, apakah tidak apa-apa? Avera Gear... Bukannya cukup mahal?"
Harga satuan dari Avera Gear adalah 20.000.000 rupiah untuk versi yang paling murah dan sekitar 40.000.000 rupiah untuk versi yang paling mahal. Harga yang cukup fantastis.
"Nak Ryn tidak usah sungkan sekali lagi. Setelah beberapa hari ini, aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri. Lagipula, sepertinya bagi Jendra kau seperti pengganti kakaknya saat kakaknya tidak ada."
"Benar! Kak Ryn, apakah kak Ryn tidak ingin menjadi kakakku?" Jendra menjadi agak cemberut.
Ryn hanya bisa diam saja, dia memang tidak bisa menolak. 'Hadeh, padahal aku hanya menolak diberikan. Kebapa bawa-bawa Jendra? Kan aku jadi tidak bisa menolak.'
"Jendra, tentu saja aku ingin menjadi kakakmu." Ucapnya sambil tersenyum. Jendra yang mendengar itu kembali ceria.
Yah, dia hanya bisa pasrah. Namun mendengar kata-kata "pengganti kakaknya" membuat Ryn bertanya-tanya.
"Paman Alden, kemana sebenarnya kakak Jendra? Anak pertamamu?" Tanya Ryn.
Pak Alden menghela nafas palu menjawab pertanyaan Ryn, "dia fokus kuliah. Oleh karena itu, setiap ia ada jam kuliah, Jendra selalu ke tempatmu jika ada waktu."
Ryn menganggukkan kepalanya.
Pak Alden melanjutkan perkataannya, "dia juga tinggal di apartemen ini. Harusnya kau akan segera bertemu dengannya. Kalau kau bertemu dengannya, bisakah kau berteman dengannya?"
Ryn, tanpa ragu-ragu, berkata, "Ya, tentu saja."
Paman Alden tersenyum puas. Ia kemudian bertanya kembali pada Ryn. "Ngomong-ngomong, Ryn, apa yang kau lakukan sehingga Daffa ingin mencari informasi tentangmu?"
Ryn tersenyum canggung, "itu..."
"Lupakan. Kalau kau tak mau mengatakannya tidak apa-apa." Ucap Pak Alden setelah melihat Ryn kesusahan menjawab pertanyaannya.
"Ehm, terimakasih paman." Ucap Ryn, dia bersyukur Pak Alden bukan tipe yang memaksakan kehendak.
"Ah, sebentar lagi aku ada meeting. Ryn, kau akan tinggal di lantai 36 no. 25. Ini kunci apartenmu. Aku akan mengantarmu menuju lift."
Ryn, Pak Alden, dan Jendra berjalan menuju lift. Jendra terus menggenggam tangan Ryn agar ia tak pergi. Sesampainya di lift, pak Alden langsung menarik Jendra, "Jendra, kak Ryn harus mengatur barang-barangnya, ingat? Ayo kita pergi."
Jendra, dengan ragu-ragu, melepaskan tangan Ryn.
"Jendra, tidak apa-apa kau selalu bisa mengunjungiku ketika aku tidak ada jam kuliah." Ryn tersenyum.
Lalu, mereka berpisah. Ryn sudah masuk ke dalam lift.
Dengan cepat, ia sampai di lantai 36. Lalu berjalan di lorongnya mencari kamarnya. Dan sampailah ia di kamar no. 25.
Ryn meletakkan kartu yang diberikan oleh Pak Alden. Lalu ia masuk. Ia tidak terlalu peduli dengan tempat tinggalnya yang baru itu. Ia langsung menyalakan lampu, mencari kamar tidur, lalu berbaring. Ia sangat lelah.
Saat berbaring, ia tiba-tiba teringat sesuatu.
"Oh iya, paman memintaku untuk berteman dengan anaknya. Namun ia tak pernah mengatakan ciri-cirinya bahkan namanya saja tidak. Aku bahkan tak tau dia cewek atau cowok." Gumamnya.
'Ah, lain kali sajalah aku tanyakan ke paman.'
Kesadaran Ryn mulai pudar, lalu ia tertidur pulas.
.
.
.
Beberapa saat sebelumnya, ketika Ryn sudah masuk ke dalam lift untuk kembali ke apartemennya.
Ruang CEO Garuda Jaya
Pak Alden duduk lagi di kursi meja kerjanya. Ekspresinya berubah dari ekspresi paman yang ramah menjadi seorang CEO berwibawa.
"Feng, beritahu aku apa yang terjadi di lobi bawah tadi." ucapnya.
Feng, pria berbadan besar dan berkacamata hitam itu menjawab. "Baik, Pak." Ia adalah orang yang mengantarkan Ryn ke lantai atas. Sekaligus orang yang bertugas mengawasinya.
Setelah mendengar penjelasan Feng, Pak Alden kini berubah geram.
"Rajawali! Orang 'itu' tak mengawasi anaknya dengan baik. Ryn adalah seorang tamu penting keluarga Pradhipta. Dengan seenaknya anak itu melakukannya..."
Pak Alden berdecak kesal. Lalu ia melihat kertas yang ada dibatas mejanya. Di sana tertulis sebuah "Permintaan Pertunangan" dari keluarga Rajawali.
Pak Alden tersenyum miring. "Kau bilang anak itu bersama dengan seorang wanita. Dan wanita itu mantan pacar Ryn, benar?" tanyanya pada Feng.
"Benar, Pak."
"Hmph. Sifatnya sangat buruk. Mereka masih berani ingin mengajukan pertunangan dengan anakku? Tak tau diri.
Avaryn tidak beruntung berurusan dengan keluarga ini." ucap Pak Alden.
Dia mengambil kertas itu dan sebuah korek api di atas mejanya. Lalu membakarnya hingga menjadi debu.
"Orang-orang seperti mereka harus dihancurkan dari akarnya. Feng, berikan aku semua dokumen kontrak keluarga Rajawali. Suruh beberapa bawahanmu untuk mengambil dokumen-dokumen berharga mereka. Lakukan secara sembunyi dan hati-hati. Cepat."
Feng memberi hormat kepada Pak Alden lalu segera pergi.
P.S : para pembaca ada yang sudah atau masih kuliah? Kakak-kakak yang tau, bisa kasih tau saya bagaimana sistemnya? Bagaimana jam belajarnya, dosennya, ujiannya, tugasnya, dan lain-lain.
Saya sendiri masih belum kuliah. Jadi kurang tau bagaimana sistem atau cara belajarnya. Apakah beda dengan sekolah biasa? Atau sama aja?
Kalian bisa mengatakannya dengan bergabung di grup Ryu. Sampai berjumpa lagi di lain chapter.