Ainhra Online

Ainhra Online
Snakeu #6



"... Kalau tak ikut, bukan tidak mungkin kau bertunangan dengan Daffa."


Tya langsung mengubah posisinya yang tadinya mengalihkan pandangan dan kesal, menjadi terkejut dan kebingungan.


"Hah? Bertunangan?"


"Ya, baru-baru ini kepala keluarga Rajawali ingin kau bertunangan dengan cucunya."


"Bertunangan... Kok kayak jaman dulu banget..."


Pak Alden menghela napasnya, "ya... Makanya aku membutuhkanmu untuk ikut dalam meeting ini. Supaya kalian tidak perlu bertunangan."


"Uuhm, gimana kalau Tya kasih tau pendapat Tya di sini saja. Nanti papa yang-"


"Harus kau sendiri yang datang ke sana. Mau tau? Rajawali bukan keluarga yang percaya dengan omongan saja."


Kali ini Tya yang menghela napas. Kemudian ia menganggukkan kepalanya. Tanda setuju kepada ayahnya. Walau, hal itu harus dipaksa.


.


.


Ruangan Meeting 1-5


Di dalam ruangan terdapat 6 orang. Kepala keluarga Rajawali, kakek Daffa. Direktur perusahaan Garuda Jaya, Ayah Daffa. Daffa sendiri. CEO perusahaan Garuda Jaya, Pak Alden. Nyonya besar keluarga Pradhipta, istri Pak Alden. Dan Tya.


“Baiklah. Karena semuanya sudah datang dan waktu sudah menunjukan pukul 11.30, kita mulai pertemuan kali ini.” ucap Pak Alden membuka pertemuan.


Suasana yang ada dalam ruangan cukup intens. Namun salah satu dari mereka berenam, terlihat sangat senang. Yaitu kepala keluarga Rajawali, alias kakek Daffa.


“Hoho, kalau begitu aku langsung mulai saja. Kami, dari keluarga Rajawali, berniat menjodohkan anak kami, Daffa, dengan Anastasya dari keluarga Pradhipta." Ucap kakek Daffa dengan senyum miring dan menuh kemenangan, dia menyerahkan sebuah chip kecil ke keluarga Pradhipta.


"Kami juga ingin menawarkan sesua-"


Namun Pak Alden, istrinya, dan Tya tidak menunjukkan ekspresi sama sekali. Mereka dengan serempak mengatakan, "ditolak."


Ayah Daffa mematung. Kakeknya Daffa juga. Hanya Daffa yang memiliki ekspresi sedikit senang.


"Mohon maaf. Tapi apa alasan kalian menolak lamaran ini?" Tanya ayah Daffa.


'Apa yang membuat mereka menolak? Cih.' pikir Kakek Daffa. Dia sudah menyiapkan sebuah pidato singkat agar keluarga Pradhipta menerima tawaran mereka. Tapi akhirnya ditolak mentah-mentah.


"Menurutmu?" Tya mengatakan itu dengan nada dingin.


"Kau! Jangan tidak sopan ka-" ayah Daffa ingin berdiri dan membentak Tya.


"Tuan Besar Rajawali. Apakah pantas kau berkata seperti itu?" Pak Alden menatap tajam ayah Daffa.


*Gulp* ayah Daffa kembali duduk dan meminta maaf. "Maafkan saya."


"Nah, sekarang seharusnya sudah jelas. Apapun yang kalian tawarkan pada kami, kami tak akan memberikan anak perempuan kaki sebagai gantinya. Kelau begitu, kami permisi. Alden, Tya, ayo." Ibu Tya berdiri dari kursinya dan mengajak suami serta anaknya.


Pak Alden dan Tya mengikutinya dan langsung keluar dari gedung meeting. Meeting berjalan sebentar, namun hal itu cukup untuk membuat kepala keluarga Rajawali berhenti memaksa.


"Benar-benar, orang tua Bangka itu tak tau diri! Mereka merasa kalau Garuda Jaya membutuhkan Rajawali." Gerutu ibu Tya. Dia sangat kesal dengan kelakuan kakeknya Daffa.


Pak Alden berusaha menenangkan istrinya itu. "Hua'er, tenanglah. Bukankah kenyataannya adalah sebaliknya? Kita tak perlu mempedulikan mereka."


Nama ibu Tya atau istri Pak Alden adalah Mei Hua. Chinese? Yes.


Tya hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku kedua orang tuanya itu. Lalu melihat ke pintu ruangan meeting.


""


Mata kiri Tya yang tadinya hitam seperti mata manusia biasa berubah menjadi seperti mata robot. Terdapat beberapa jaringan komputer kecil di matanya.


Kini Tya dapat melihat apa yang dilakukan oleh keluarga utama Rajawali itu. Dia telah menaruh alat perekam kecil dalam ruangan, jadi dia juga dapat mendengar apa yang mereka bicarakan.


*Bang!


Kakek Daffa memukul meja meeting dengan keras. "CIH! Keluarga itu sangat tidak tau diri! Kalau bukan karena Rajawali, apa itu Garuda Jaya? Orang-orang sialan!" Ucapnya.


Ayah Daffa juga begitu, dia sangat marah kepada keluarga Pradhipta. Tapi dia paling menggerutu tentang Tya. "****** kecil itu memang sama dengan orang tuanya! Tidak tau diri!"


Mereka masih marah-marah dalam ruangan meeting 1-5. Tya yang melihat dan mendengarnya tidak terkejut atau marah sama sekali. Ekspresinya masih sama seperti tadi.


"Mama, Papa, apakah tidak ada orang atau keluarga yang bisa menggantikan jabatan Direktur Rajawali?" Tanya Tya pada orang tuanya.


Namun tak ada yang menjawab.


"Ma..? Pa..?" Tya menonaktifkan nya.


"Tya! Kami sudah di bawah!" Teriak seseorang dari bawah.


"Kalau begitu aku akan ke sana secepatnya!"


Tya segera turun dari lantai 5. Menggunakan lift. Karena terlalu lama melihat apa yang terjadi, dia sampai lupa harus kembali ke rumah.


Tya sampai di bawah dan segera menghampiri orang tuanya. "Mama, Papa, apakah tidak ada orang lain yang dapat menggantikan jabatan keluarga Rajawali?" Tanyanya langsung.


Pak Alden terlihat berpikir sebentar. Sedangkan istrinya hanya diam saja memperhatikan.


'Ryn kuliah jurusan bisnis... Seharusnya dia bisa diandalkan. Namun Mary mungkin tak memberi izin. Ah! Dia bisa magang di sana sementara setelah lulus. Dengan surat rekomendasi dariku seharusnya tidak apa-apa.'


"Ada, namun belum sekarang. Kita hanya bisa mengurangi status mereka untuk sekarang." Ucap Pak Alden pada akhirnya.


Tya mengangguk. Lalu mereka kembali ke gedung apartemen yang ada di Garuda Right Wings.


.


.


.


"SSSSSSSSSSS!!??"


*Slash! *Slash!


<*Blue Fire Snake Terbunuh>





"Huah, masih belum ya?"


10 hari telah berlalu dalam dimensi khusus ini. Artinya sudah sehari berlalu di dunia nyata maupun Ainhra Online.


(Waktunya sama dengan waktu meeting. So, yeah.)


"Hmm, Blue Fire Snake. Apakah tidak ada Black Fire Snake gitu?" Gerutu Rein.


Rein memiliki banyak sekali batu-batu seperti Fire Stone, Blue Fire Stone, Little Storm Stone, Hard Stone, Green Water Stone (PH 2), dan lain-lain.


Yah, dia mendapatkan hobi baru dalam tempat ini. Yaitu mengumpulkan beberapa batu dari ular-ular yang telah ia kalahkan. Dia juga berkeliling sebagian tempat di dimensi ini. Hari ini rencananya ia ingin berkeliling lebih lagu dan mencari jalan keluar.


"Aku masih belum menemukan Elemental Snake... Sebenarnya mereka ada di mana sih?" Gerutu Rein kesal. Dia masih belum menemukan Elemental Snake Sama sekali sejak masuk dalam dungeon.


Rein kembali melomoat dari pohon ke pohon. Sekarang lompatannya sudah lumayan lancar. Setidaknya cukup untuk seseorang yang baru belajar 12 hari melakukannya.


Banyak ular saat di perjalanan, tentu saja. Itu masihlah dungeon ular. Rein memilih untuk tidak membunuh mereka asalkan tidak menyerangnya.


Rein mendarat di satu pohon dan melihat ke sekitar. Dia sudah agak jauh dari pohon yang ia beri tanda.


Namun tiba-tiba pandangannya terhenti lada suatu hal. Sebuah gubuk kecil. Seperti gudang tepatnya.


Rein turun dari pohon itu. Dia berjalan perlahan ke gubuk itu. Menggenggam pedangnya erat. Dan dengan hati-hati mendekatinya.


Rein bergerak cepat ke samping pintu gubuk itu. Membelakangi gubuknya. Lalu secara perlahan membuka pintu gubuk tersebut.


"SSSSSHAAAA!!!"


Seekor ular Sepenjang 2m keluar dari gubuk tersebut. Untungnya Rein Tidak tepat di depan pintu, jadi dia tidak langsung terserang.


Nama Monster : Wood Snake (2m)


Level : 4


HP : 1500


ATK : 800


Rein segera menyerang balik ular itu. Walau kulitnya kayu, dagingnya masih daging 'normal'. Jadi tak butuh waktu lama sebelum Rein menghabisin ular itu.


Omong-omong, stetus Rein sudah berubah. 10 hari tentunya bukan waktu yang singkat. Rein leveling dengan cukup baik.


Nama : Rein


Ras : Elf


Level : 10


Title : Reader, Rabbit Hunter


HP: 9000/9000


MP : 3000/3000


STR : 30


AGI : 35 + 5


VIT : 17


INT : 55


LUC : 13


SP : 0


Luc nya sudah bertambah 2. Itu karena secara tidak sengaja Rein menjumpai ular ini :


Nama Monster : Transparent Snake (5m)


Level : 6


HP : 3000


ATK : 200


Transparent Snake sepanjang 5 meter yang sangat langka. Ular ini memiliki badan yang transparan dan tidak memiliki kulit yang tebal. Juga, ular ini Glow-In-The-Dark.


Dia tak menyerang Rein waktu itu. Dan juga, ular ini termasuk ular yang jinak. Jadi dia tak terlalu berbahaya. Bahkan Rein bisa berteman dengannya.


Flashback~


Rein POV


Ini adalah hari ke-7 aku berada dalam dimensi tak jelas ini. Rencananya, hari ini aku akan pergi ke sebuah gua yang aku temukan kemarin.


"Hari ini pun cuacanya bagus... Dungeon memang tempat yang hebat."


Balik lagi ke dimensi aneh. Aku sudah menemukan gua itu. Aku mengetahuinya karena aku sudah memberi tanda VI di sana.


Dengan langkah pelan, aku memasuki gua. Tempat itu gelap dan hampir tidak ada pencahayaan. Untungnya terdapat beberapa batu cahaya kecil di dalam.


"Apakah tidak ada ular satupun di sini?" Seruku. Biasanya, monster akan datang kalau kita berisik dan mengganggu.


"HEEEEEEIIIIII!" Teriakku lagi. Namun tidak ada satupun monster muncul dari dalam gua.


Aku memutuskan untuk terus berjalan saja. 'Mungkin, gua ini kosong.' pikirku. Namun aku tetap memasuki tempat itu.


Benar saja, aku sampai di ujung gua. Namun tidak ada satupun makhluk yang menghampiriku.


"Gua ini benar-benar ko... Hm? Celah?"


Terdapat sebuah celah di ujung gua itu. Mataku memang tajam dari sananya. Daripada penasaran terus-menerus, aku melihat ke dalam celah itu.


"Hua!"


Di celah itu terdapat mata merah yang cukup besar. Menatapku balik saat aku melihat ke dalam celah.


*Ggrrrggrdgr


Celah tersebut terpecah. Membuat lubang yang lebih besar.


Aku mundur tiga langkah. Seekor ular besar transparan muncul dari celah itu. Aku bersiap-siap untuk melawannya balik. Namun tak ada tanda-tanda ular itu akan menyerangku.


"Sssssss..."


Aku menarik kembali pedangku. Ular yang ada di depanku ini terlihat jinak. Dan... Kesakitan. Aku memperhatikan seluruh tubuhnya.


Daging dan kulit transparan. Kepalanya seperti ular putih biasa. Organ-organ yang terlihat dengan jelas. Serta sebuah luka di kepala.


"Huh? Hei, kau melukai diri sendiri untuk membuka celah itu?" Tanyaku. Tentu saja dia tak menjawab dengan bahasa manusia, melainkan desisan.


"Ssssss..." Ucapnya, menggerakkan badannya sedikit. Membuat luka yang ia miliki terlihat jelas.


"Tunggu sebentar. "


Bubuk berwarna hijau dan sebuah batu biru muncul di kedua tanganku. Bubuk di tangan kiri dan baru di tangan kanan. Aku mengucapkan setelah itu muncul tetesan air dari batu itu. Aku mencampurnya dengan bubuk hijau tadi hingga menjadi salep.


Aku berusaha mendekatinya. Namun dia menghindar. "Turunkan kepalamu sedikit. Jangan takut. Aku tak akan menyakitimu." Ucapku berusaha meyakinkannya.


Aku melangkah maju lagi mendekatinya, namun dia masih menghindar. "Jangan takut, tenanglah."


Ular itu tidak menghindar lagi. Aku mendekatinya perlahan. Aku melihat luka yang ada di kepalanya, lalu membersihkan nya dengan air dari Water Stone.


"Tahan sedikit ya, ini akan terasa sakit."


Aku mengoleskan salep ke lukanya.


"Sssss!"


"Bertahanlah."


**P.S : kalian ada yang menebak Daffa Antagonisnya? Yah... Bisa benar, bisa juga salah.


Mau tau kebenarannya? Stay tune di Ainhra Online**!