Ainhra Online

Ainhra Online
Keluar



Sang Anaconda mendesis kesakitan. Kombinasi dari api, air, dan angin (3A) membuatnya kwalahan. Ditambah dengan serangan dari pedang Rein dan tambahan api lagi.


Setelah menyerang beberapa kali, Rein mundur dari ular besar itu. Karena api yang ia lempar tadi mulai padam.


Awalnya Anaconda itu meremehkan Rein. Karena level Elf kecil itu hanya setengahnya. Namun ternyata hal itu adalah pilihan yang salah. Karena Rein memiliki banyak trik untuk melawannya.


'Untungnya aku mempunyai banyak sekali Fire Stone (lvl.2) dalam storage ku. Memburu banyak dari Fire Snake ada gunanya juga.' gumamnya dalam hati, melihat keadaan sang Anaconda.


Rein tekah memburu banyak Fire Snake yang ada dalam dimensi khusus ini. Berbeda dengan monster di Ainhra Online pada umumnya, monster dalam dungeon akan terus spawn setelah mati selama 24 jam. Jadi dia bis berburu sebanyak-banyaknya.


Selain itu, dungeon memiliki fitur Dynamic Difficulty atau Adaptive Difficulty. Jadi ketika sang pemain atau party membunuh banyak musuh, musuh yang berdatangan akan semakin kuat. Namun kalau dia sering mati, musuh akan melemah.


Rein, seseorang yang belum pernah mati dalam dungeon ini, tentu saja mendapat tingkat kesulitan yang lebih.


Anaconda itu masih terlihat kesakitan. Namun tak lama, dia tenang kembali. Rein mengecek HP ular itu.


HP : 17500/20000


'??*!"+#(;£+@?!'


Walaupun terdapat luka lecet di tubuhnya, ular itu tetap bisa memperlihatkan sisik-sisiknya. Kelihatannya dia juga baik-baik saja.


Anaconda itu berbalik ke arah Rein. Dia setengah terkejut dan bingung, setengah lagi malu dan marah. Di satu sisi, dia tak percaya Elf kecil itu, dengan level setengah darinya dapat melukainya dan bagaimana caranya? Di sisi lain, dia malu dan marah karena walau dengan levelnya yang dua kali dari Elf kecil, dan HP serta Defense yang tinggi, bar HP nya berkurang 1/8.


Anaconda itu menatap Rein tajam. Rein menelan ludah karena tatapan itu. Dia menggenggam pedangnya dengan erat. Juga menggenggam beberapa Fire Stone di tangan kirinya.


"SSSSSSHAAAAAA!!!!"


Anaconda itu melaju ke arah Rein. Kali ini dia benar-benar serius. Mulutnya yang besar terbuka lebar ingin menggigit Rein. Lajunya kali ini tidak main-main.


Rein yang terkejut dan tidak siap tergigit olehnya.


"GAAAAAAAAAGGGGGHHH!!!"


Rein menebas Anaconda raksasa itu dengan pedangnya berkali-kali. Namun ular itu tidak juga melepasnya. Hingga satu sayatan...


*Slash!


Mengenai mata Anaconda raksasa itu. Membuatnya melepaskan gigitannya dari Rein.


"KKKHSSSSAHHHHASSSA!"


*Bugh


Rein terjatuh dari ketinggian 3 meter. Dia memeriksa bar HP nya.


'Hanya tersisa sepertiga? Damagenya besar banget!!' pikirnya setelah melihat bar HPnya itu.


Sang Anaconda masih cukup kesakitan. Rein mengambil kesempatan itu untuk menyerang ular itu lagi. Dia menggunakan strategi yang sama. 3A, api, air, dan angin.


*Boom! Boom! Boom!


Anaconda raksasa itu kembali kehilangan penglihatan sementara. Dengan mata yang hanya tersisa satu, dia tak bisa berbuat banyak. Bahkan HPnya hanya tersisa 16000, saja.


Rein menggunakan kesempatan itu untuk melempar beberapa batu berwarna hijau lumut.


""


*Splash!


Semburan air asam mengenai tubuh Anaconda yang sudah terkena api. Membuat luka itu semakin besar dan menyakitkan.


"KHHAAAA!!"


Ular itu semakin kesakitan. Sisik-sisiknya yang terkena asam meleleh.


Setelah Rein melempar batu-batu itu ke Anaconda raksasa, dia kembali maju menyerang dengan pedang. Juga membawa beberapa Fire Stone (lvl.2)


" " Ucapnya, menyerang anaconda dengan pedang dan melemparkan 3 batu ke bagian ular yang agak jauh agar dia tak terkena api.


Rein menjauhi ular itu lagi. Sebelum api padam sepenuhnya, ia kembali melemparkan batu kombinasi 3A. Membuat ular itu kembali kehilangan pandangan.


Rein kembali mendekatinya dan menyerangnya dengan cara yang sama. Namun, ular itu meronta-ronta dengan sangat kuat. Membuat Rein berhati-hati saat mendekatinya


*Slash! Slash! Boom!


Setelah itu dia kembali melemparkan beberapa batu asam. Lalu melemparkan batu api, air, dan angin kembali. Namun ketika dia ingin mengambil batu asam lagi, batu-batu itu sudah habis.


'Cih, aku harus menyerangnya dengan pedang sekarang!'


Sayatan demi sayatan Rein berikan pada boss monster itu. HP monster itu berkurang dengan cukup cepat. Rein secara terus menerus melemparkan batu kombinasi 3A ke Anaconda itu. Hingga HP Anaconda itu tersisa 10000.


'Ayolah! Matilah! Matilah! Aku tak mau tersiksa begini!'


Rein masjh menyayat Anaconda itu dengan pedangnya. Sampai-sampai DUR pedangnya itu tersisa 110 poin saja.


Selain ia melakukan serangan kombinasi itu, dia juga berpindah pindah posisi agar tak mudah diserang oleh sang Anaconda raksasa. Namun dia membuat luka hanya beberapa. Mengingat menembus pertahanan ular ini sulit, Rein menyayatnya di tempat yang sama di bagian tubuh itu, setiap kali ia menyerang.


'Matilah! Ular besar mengerikan, Boss Monster, Anaconda raksasa!'


*Slash! Boom! Boom! Slash! Slash!


Rein terus melemparkan batu kombinasi 3A juga. Hingga batu-batu koleksinya tersisa sedikit. Namun... Sialnya,


Tiba-tiba...


*Ssyut!


Ekor Anaconda raksasa itu 'menyapu' Rein. Membuatnya terlempar ke arah lainnya.


"AAAGH!"


Rein terpelanting ke arah lain dengan kuat. Sampai-sampai membuat debu yang ada di tanah beterbangan.


Rein terbaring. Dia dengan hati-hati dia menggerakkan tubuhnya. Namun dia hampir tidak memiliki tenaga lagi. Staminanya telah banyak berkurang. DUR pedangnya, kini hanya tersisa 70 poin. HP nya sendiri tersisa setengah.


Itu sudah sangat beruntung mengingat levelnya.


Oh, bagaimana kabar Aksha? Dia menikmati pertarungan ini sambil memakan daun pohon. Ya, dia herbivora.


Rein memerlukan waktu terlalu lama untuk bangun kembali. Debu yang menutupi pandangan Anaconda raksasa itu sudah menghilang. Anaconda itu langsung saja melaju ke arah Rein yang sedang berusaha untuk bangun.


"KSSSSSSHHHAAAAAAA!!!"


Ia membuka mulutnya lebar-lebar. Rein yang melihat serangan itu langsung membuat posisi bertahan dengan pedang dan tangannya.


"SSHAK!"


*Sring...


Pedang Rein bersentuhan dengan kulit Anaconda itu. DUR pedang tersebut berkurang sedikit demi sedikit. Rein yang menyadari hal itu langsung mengambil beberapa batu lagi dengan tangan kirinya.


Setelah mendapatkan batu-batu itu, dia langsung melemparnya ke dalam mulut ular yang terbuka lebar.


"


Batu-batu itu terbakar dalam tenggorokan Anaconda raksasa.


"KHHHSSHHAAA!!!"


Anaconda itu meronta-ronta. Rein, yang pedangnya masih ada di mulut sang ular, juga ikut bergelantungan.


"Wo...a..ah!"


Dia terguncang-guncang karena ular itu terus meronta-ronta. Namun dia terlempar karena ular itu juga melepaskan gigitannya dari pedangnya.


HP pemain -990




Level skill Over-Limit milik Rein sudah B-3. Membuat efeknya menjadi sangat luar biasa.


Rein melihat statusnya meningkat. 'Ini kesempatanku untuk menghabisinya.'


Rein melihat Anaconda raksasa itu. Dia masih meronta-ronta. Namun dia agak lebih tengang sekarang. Rein melihat DUR pedangnya.


'Tersisa 30 poin... Aku memiliki satu kesempatan untuk critical hit'


'Sekarang!'


Rein berlari menuju ular itu. Dia melompat ke atas kepalanya. Dan setelah itu dia langsung menusuk mata satu lagi ular itu. Awalnya dia hanya menusuk sedalam 20 cm. Namun dia tekan pedang itu hingga menembus kepala ular besar itu.


"KKKHHAA-!"


Ular Anaconda Raksasa itupun, mati. Begitu pula dengan pedang Rein. Pedang itu patah.


*Bugh!


Rein terjatuh dari ketinggian. Dia hampir mati. Bahkan HPnya hanya tersisa 2%.






<1 Giant Anaconda Scale didapatkan!>





Efek : ATK +50% ke monster tipe ular. STR +5 dan VIT +3 secara permanen. Monster tipe ular yang bukan rekan/peliharaan pemain akan menyegani pemain.




Panel-panel hologram itu muncul di depan Rein. Rein yang tubuhnya masih lemah tidak dapat melihatnya dengan jelas.


'Ugh... Aku tak dapat bertahan lagi..'


Kesadarannya mulai pudar. Lalu ia pingsan. Pertarungan tadi sudah ia menangkan.


Aksha yang melihat hal itu langsung menghampiri Rein.


---


3 jam kemudian~


Rein terbangun dari pingsannya. Dia masih berada di tempatnya bertarung tadi.


Rein memegang kepalanya. Masih agak sakit. Perlahan, ia menggerakkan tubuhnya ke posisi duduk. Melihat seluruh tubuhnya, lalu memeriksa HP nya.


'Sudah penuh. Baguslah.'


Rein melihat sekeliling. Bekas-bekas pertarungannya dengan Boss Dungeon Snake tadi masih ada. Mulai dari bekas kebakaran, air, dan asap-asap.


"Wah... Pertarungan tadi benar-benar menguras tenaga dan pikiran." Ucapnya mengingat pertarungan itu.


"Sss! Ss!"


Aksha ada di sebelahnya. Rein mengelus kepala Aksha. Namun dia langsung mengingat alasan kenapa dia bertarung dengan Boss itu. Dia langsung menggenggam Aksha.


"Sss?!"


"Aksha, kalau saja kau tidak mengatakan sesuatu padanya ketika itu. Haah..." Ucap Rein dingin. Namun akhirnya dia melepaskan Aksha juga.


"Ssss... Sss!" Aksha segera menjauh dari Rein. Dia memanggil Rein dan menunjuk sesuatu benda berwarna hitam.


"Ada apa? Kau ingin aku ke sana?"


Aksa mengangguk. "SSSSSsss! Sss!" Dia mendesis seperti itu. Menuruh Rein agar cepat ke sana.


"Ya, ya, sebentar." Rein berdiri. Lalu dia meregangkan tubuhnya.


Dia berjalan ke tempat Aksha. Aksha langsung menunjukkan benda itu lagi.


"KSSSSHH! SSSS!" Aksha menunjuk benda itu dengan ekornya.


"Kenapa dengan benda itu? Sampai-sampai kau ingin aku memeriksanya dengan cepat?"


Rein mengambilnya. Benda berwarna hitam itu ternyata sangat berat. Rein langsung memeriksa status benda itu.


Nama Benda : Giant Anaconda Scale (Sisik Anaconda Raksasa) +


Berat : 15 kg


Ket : Sisik dari ular Anaconda raksasa. Sangat berat dan kuat. (+) Terdapat tulisan di atas sisik ini.


"Huh? Tulisan?"


Rein membalik benda hitam yang ternyata sisik itu. Di atasnya benar-benar ada tulisan berwarna putih.


"Pintu keluar Dimensi ini ada di atas."


"Di atas? Eh, Langit siang hari dimensi ini... Berwarna hi..jau?"


"Aku tak memperhatikan hal itu. Dan, langit itu sendiri seperti bukan langit. Malah seperti kabut tebal yang menutupi dimensi ini. Dengan tebing yang mengelilingi... Dimensi ini terlihat seperti jurang." Gumamnya.


Dia masih mendongakkan kepalanya. Memperhatikan 'langit' yang ada di atasnya.


"Hmmm, masuk akal. Tapi aku penasaran. Di mana sih Elemental Snake yang aku cari?!"


*Syut- buagh!


HP pemain -200


Sebuah sisik jatuh lagi dari langit. Benda itu jatuh tepat di atas kepala Rein.


'Siapa sih yang jatuhin benda ini?!' gerutu Rein dalam hati. Namun dia langsung mengambil sisik itu. Ternyata, di sisik itu juga terdapat tulisan.


"Elemental Snake ada di luar dimensi ini. Masih di dalam dungeon. Ada di sekitar Boss Area yang ada di dungeon."


"Boss Area? Memangnya Boss dalam dungeon ini ada berapa?"


*Syut-


Rein menghindar. "Aku tak akan kena dua kali!"


Dia mengambil sisik hitam itu. Lalu membacanya.


"Ada dua. Satu di dimensi ini dan satu lagi di luar dimensi."


"Ooh, Oke. Terimakasih tuan Anaconda Raksasa!"


Rein ingin beranjak pergi dari tempat itu. Namun satu sisik lagi terjatuh. Rein akhirnya mengambilnya dan menbaca tulisan yang ada di sana.


"Hei! Jangan panggil aku tuan lagi! Aku perempuan!"


Rein langsung mengubah ucapannya tadi. "Ohh, kalau begitu terimakasih nyonya Anaconda raksasa!"


Rein berjalan pergi dari tempat itu. Dia memeriksa bar HP nya.


'8800/9000.. tak penuh? Ah sudahlah. Tapi seharusnya cukup untuk melawan sesuatu berlevel 0-10.' pikirnya.


"Aksha, ayo kita kembali."


Rein menunduk, membiarkan Aksha melilit tangan kirinya. Aksha mengangguk dan langsung melilit tangan kiri Rein.


Rein berjalan menuju Hutan. Dia naik ke dahan salah satu pohon yang cukup tinggi. Lalu mengambil sebuah baru dari storagenya. Dia menuliskan 'XI' pada pohon tersebut.


Kemudian Rein melompat dari ranting ke ranting pohon. Dia sudah cukup terbiasa melakukannya. Aksha juga sudah terbiasa di tangan Rein ketika Rein melompat dari ranting ke ranting.


Beberapa saat kemudian, Rein dan Aksha sampai di danau tempat Rein terjatuh. Kemudian Rein melihat tebing tempat air terjun yang masih mengalir itu berasal.


"Akhirnya aku bisa keluar dari dimensi ini! Tapi..."


P.S : Haha! Wah, 1111 kata? 1111 kata adegan pertarungan? Saya salut dengan diri saya sendiri.