Ainhra Online

Ainhra Online
Elemen Pertama



Rein dan Aksha berjalan ke Desa Gres. Karena mereka di pinggir hutan, tidak ada banyak monster di sana.


Mereka sampai di depan gerbang desa. Di sambut oleh para penjaga gerbang.


"Anak muda! Selamat datang kembali! Apa yang kau dapatkan dari 4 hari berburu ini?" Tanya Penjaga 1.


"Oh, aku mendapatkan beberapa potong daging ular."


"Haha! Bagus-bagus, mendapatkan beberapa potong daging ular saja sudah bagus! Oh ya, sepertinya kekuatanmu meningkat ya?"


"Benar, tuan Penjaga. Kalau begitu apa aku bisa masuk sekarang?"


"Tentu saja, tentu saja, silahkan masuk."


Rein tersenyum ke arah penjaga itu. Lalu dia langsung masuk ke dalam desa.


Suasana desa seperti biasanya. Beberapa penjual menjajakan dagangannya dan ibu-ibu yang memilih-milih dagangan tersebut. Beberapa anak kecil terlihat bermain di jalan.


Rein tersenyum melihat pemandangan itu. 'Betapa bagusnya kalau di dunia nyata seperti ini.'


Di sisi lain, Aksha terlihat antusias. Ini adalah pertama kalinya ia melihat sangat banyak orang di satu tempat.


Beberapa menit kemudian, Rein sampai di tokonya Paman Hynra.


*Cling


Seperti biasa, lonceng yang ada di atas pintu toko berbunyi saat dibuka.


Seorang pria berbadan biasa sedang melihat-lihat busur sambil menanyakan harga dengan Pak Hynra.


"..... Kalau yang ini?"


"Yang ini 200 Gold, jika kau mau membayarnya di tempat, aku akan berikan diskon 10 persen."


"Tawaran yang bagus. Baiklah, aku beli busur ini dan 50 anak panah perak."


"Baiklah, harga busurnya 180 Gold dan 50 anak panah perak harganya 25 Gold, karena kau membayar sekarang, maka aku akan berikan diskon juga 5 Gold. Totalnya 200 Gold."


"Hahah, penawaranmu memang tidak pernah mengecewakan Hynra."


Orang itu memberikan sebuah kantong coklat ke Pak Hynra. Pak Hynra langsung mengambil tongkat sihirnya dan membuka kantong itu. Lalu mengarahkannya ke kepingan logam emas di dalamnya.


Satu persatu logam emas keluar dari kantong. Di saat yang bersamaan muncul angka hologram di depan Pak Hynra.


"199.... 200, pas. Baiklah, langsung saja ambil busurnya dan kantong panjang yang ada di kotak bertuliskan 50." Ucap Pak Hynra selesai menghitung koin-koin emas itu.


Pria itu langsung mengambil busurnya dan sebuah kantong panjang yang ada.


"Terimakasih telah belanja di toko ku."


"Yap, tak masalah Hynra."


Pria itu lalu keluar dari toko. Di dekat pintu, Rein hanya berdiri saja sambil mendengarkan.


Pak Hynra yang menyadari keberadaan Rein langsung menyapanya. "Oh? Rein? Kau sudah mendapatkan Elemental Rune?"


"Ya, tentu saja. Kalau belum aku tak akan kembali."


"Heeh, cepat juga kau kembali. Hmmm, dari yang aku lihat kau sudah berlevel 10 ya?"


"Ya, seperti yang Pak Hynra lihat."


"Ah.... Kau tidak bisa naik level kan? Ya, masalah lama, pasti kau belum mendapatkan Job. Tenang saja, kau akan mendapatkannya hari ini."


Rein tersenyum senang mendengarnya. Walau, senyumannya itu tidak terlihat jelas. Seperti senyum tipis.


"Yah, abaikan itu dulu. Berapa Elemental Rune yang kau dapatkan?"


"Oh, itu, tunggu sebentar."


Rein membuka Inventory nya dan mengeluarkan 7 lembar kertas kulit yang diatasnya tergambar sesuatu. Setelah ia menunjukkan itu ke Pak Hynra, ia langsung memasukkannya kembali ke dalam Inventory.


"Aku mendapatkan 7 Elemental Rune. Dan...."


"7? Apa kau berencana menggunakan semuanya? Kalau kau beruntung, kau bisa mendapatkan 1 Elemen khusus."


"Ya, aku berencana menggunakan semuanya. Apakah mungkin?"


"Tentu! Tapi tentu tidak semuanya akan rata. Akan ada satu atau dua elemen yang lebih unggul dari yang lainnya.


Dan juga, kalau yang terakhir tidak bisa berhasil, kau bisa menjualnya kepadaku. Kalau gagal Elemental Rune masih bisa digunakan hingga 3×.


Harganya 40 Gold, setara dengan senjata Rare. Jadi kau tak perlu khawatir."


"Oke. Hm, ada Elemen yang unggul dan tidak? Apakah ada tingkatannya?"


"Ya, seperti benda pada umumnya, afinitas elemen tentu saja ada tingkatannya. Lemah, sedang, dan kuat.


Menyerap semua elemen tidak akan membuat masalah. Hanya saja mungkin akan ada Elemen yang tidak terlalu berguna.


Tidak akan berpengaruh, karena kalau Elemen itu lama tidak digunakan, ia akan menghilang sendiri dari tubuh."


"Baguslah kalau begitu. Oh ya...."


Rein membuka Inventory nya kembali. Ia mengambil sebuah botol berisi cairan hijau. Mata Pak Hynra terkejut saat melihat botol itu.


"Aku mendapatkan Poisonous Tree Snake's Venom saat ada di Dungeon. Aku pikir, tak ada salahnya aku memberikannya kepadamu untuk dibuat menjadi Poison. Hitung-hitung sebagai hadiah atas informasi keberadaan Dungeon Snake." Ucapnya memberikan botol itu ke Pak Hynra.


"Kau berhasil mendapatkannya? Keberuntunganmu cukup bagus. Karena kau dengan sukarela memberikannya, aku tak akan menolaknya." Pak Hynra mengambil botol itu dan meletakkannya ke atas meja.


"Ya, cukup bagus, haha." Rein tertawa canggung mendengar kata cukup bagus itu. Menurutnya, hal itu bisa salah dan bisa tidak. Mengingat ia harus kejar-kejaran dulu sebelum mendapatkan bisa ular itu.


Rein teringat sesuatu. "Oh ya, kalau begitu, bagaimana cara menggunakan Elemental Rune itu?"


"Ah, iya, biasanya orang akan mendapat benda ini sebagai bonus membeli Elemental Rune." Pak Hynra membuka sebuah laci lemari dengan sihirnya. Ia mengambil sebuah buku di sana.


"Apa itu buku petunjuk?"


"Bukan, ini hanya buku catatan biasa. Aku akan menuliskan petunjuk nya di sini." Pak Hynra menulis sesuatu di buku itu, tentunya dengan tongkat sihir.


Selesai menulis, ia menutup bukunya dan memberikannya pada Rein. "Ini, petunjuknya ada di dalam. Buku itu ku gratiskan saja. Bagaimanapun, Bisa ular itu berharga."


Rein menerimanya, "terimakasih banyak. Aku akan pergi sekarang."


"Benarkah? Apa Pak Hynra tidak keberatan?"


"Ya, ruangan itu juga kosong. Kau tidak perlu membayar."


Rein jadi merasa tidak enak. "Ehm, saya ingin menggunakan ruangan itu. Tapi kalau tidak membayar...."


"Baiklah-baiklah. Aku tak ingin berdebat. 1 Gold. Itu cukup."


Rein langsung mengeluarkan satu keping koin emas dari Inventorynya. "Ini Pak, anda bisa tunjukkan jalan ke atas sekarang."


Pak Hynra mengambil koin itu dan meletakkannya ke laci mejanya. Ia mengisyaratkan Rein untuk mengikutinya.


Rein mengikutinya tanpa ragu. Mereka pergi menaiki tangga. Lalu tiba di sebuah ruangan kosong setinggi 2 meter. Rein hampir terhantuk atap ruangan itu.


"Oke, ini ruangannya. Pakai selama yang kau mau. Aku akan ada di bawah." Pak Hynra berjalan pergi.


"Baik."


Sekarang Rein sendiri di dalam ruangan. Ia duduk bersila di tengah ruangan itu. Lalu membuka buku yang diberikan oleh Pak Hynra.


Duduk, tenangkan diri.


Letakkan Elemental Rune di depanmu. Hanya letakkan satu.


Pejamkan mata, tarik napas dan buanglah. Rasakan mana yang ada di sekitarmu.


Bayangkan Elemen yang ingin kau dapatkan.


Lalu bayangkan rasanya ada di dalam Elemen itu.


Pikirkanlah satu kalimat yang paling cocok dengan Elemen itu.


Diam, tenangkan diri. Kekuatan Elemen dari Elemental Rune akan mereda setelah beberapa saat.


Setelah kekuatan itu benar-benar mereda, bukalah matamu dan rasakan elemen itu sekali lagi.


Lihat pergelangan tanganmu. Apabila berhasil, tanda dari sang Elemen akan muncul.


Rein membaca itu dengan hati-hati. 'Cukup rumit.... Melakukan semua ini akan membutuhkan waktu lama.'


Sembilan tahapan dan harus dicoba setidaknya 7×. Itupun kalau Rein berhasil di percobaan pertama. Yang mana, hal itu sulit.


'Hm, aku akan mencobanya dulu. Kalau tidak berhasil, tidak masalah karena ini percobaan pertama.'


Rein yang sudah duduk langsung mengambil napas, dan membuangnya. Agar dirinya tenang dan tidak memikirkan hal lain.


Lalu ia mengambil Elemental Rune dari Inventory nya. Seperti petunjuk, ia meletakkan kertas kulit itu tepat di depannya.


Selanjutnya, ia memejamkan matanya. Lalu merasakan mana yang ada.


Seketika muncul banyak cahaya kecil disekitarnya. 'Ini yang dinamakan mana? Persis seperti di novel fantasi.'


Memang daerah desa Elf itu adalah daerah yang padat akan mana, jadi jangan heran ada banyak cahaya kecil di sekitar Rein.


Karena ini masih percobaan pertama, Rein membayangkan Elemen angin. Salah satu Elemen yang cukup umum dan tidak sekuat Elemen lainnya.


Setidaknya itu yang ada dalam pikiran Rein.


Ia membayangkan Elemen angin itu.


Elemental Rune yang ada di depannya bersinar. Menampakkan cahaya berwarna abu-abu putih yang cukup terang. Perlahan rune atau lingkaran sihir itu mengambang di depan jantung Rein.


'Hmm, terlalu santai. Mungkin angin ini bisa lebih kuat lagi.'


Perlahan, angin yang dibayangkan Rein membesar hingga sebesar angin topan. Semakin membesar san membesar. Hingga berhenti saat angin itu bertiup secepat 300km/jam dengan diameter 5 km.


'Sangat kuat! Bagaimana bisa Elemen ini sekuat itu?! Aku memang meminta agar tidak terlalu lemah, tapi tidak sekuat ini!"


Rein mulai panik. Elemen yang harusnya mudah dikendalikan malah sebaliknya.


'Aku harus tenang!'


Rein kembali menenangkan dirinya. Tahapan selanjutnya adalah tahapan yang paling susah.


'Ugh, baiklah!'


Rein membayangkan dirinya ada di dalam angin topan yang tadi. Ia ingin berteriak, namun tidak bisa karena mulutnya tidak bisa dibuka karena angin.


*SSYYUU SYUUU SYUUU


Angin itu bertiup kencang. Rein yang ada di salamnya terasa sesak. Dan rasanya ia ada di tempat yang sempit. Angin itu juga perlahan membentuk pisau yang tajam, menusuk tenggorokan Rein.


Ia sangat panik dan hampir pasrah. Namun dengan cepat ia ingat akan satu hal. 'Oh ya, ini kan alam bawah sadarku. Aku harusnya bisa mengendalikannya.'


Rein membayangkan kalau angin itu semakin mengecil. Hingga sebesar angin kencang biasa. Ia juga tidak merasa sesak lagi. Pisau itu juga tidak menusuknya.


Iapun membayangkan angin sepoi-sepoi yang nyaman dengan dia di tengahnya.


'Bagus, aku sudah bisa mengaturnya.'


'Tahapan selanjutnya. Angin ya? Hmmm, terlihat lemah namun sangat kuat!'


Sesaat setelah Rein mengucapkan itu, Elemental Rune yang ada di depannya bersinar terang dan membesar.


Angin yang mengelilingi Rein juga kembali membesar. Rein tidak khawatir lagi, karena kalau angin itu menyerangnya lagi, ia akan membatalkan lingkaran sihirnya dengan membuka matanya.


Angin besar itu tidak menyerang Rein sama sekali. Rein di alam bawah sadar juga hanya memejamkan matanya.


Elemental Rune membesar hingga dapat menutupi Rein.


*Syuut!


Elemental Rune itu berubah menjadi partikel cahaya abu-abu putih dan masuk ke dalam dada Rein, tepatnya jantungnya.


"Uhuk!"


Rein terbatuk, mengeluarkan darah segar dari mulutnya.


Ia tak peduli dengan itu, tanpa basa-basi ia langsung mengecek telapak tangannya.


"Lambang angin! Aku berhasil!"