
Rein dan Goldst berdiri bersebrangan dengan luka di sekujur tubuh mereka. Xavier, Bing, dan para NPC yang melihat mereka langsung berdigik ngeri. Terutama Xavier dan Bing. Karena mereka tau kalau luka yang terlihat seperti luka asli adalah luka yang dibuat perlahan.
“Ha…. ha…. Rein, apa kau tidak mau beristirahat?” Tanya Goldst.
“Tuan muda juga sama, tidakkah tuan muda ingin beristirahat?” tanya balik Rein.
Para NPC mulai bubar. Mereka tau kalau duel itu akan segera berakhir. Tinggal Xavier dan Bing saja yang melihat Rein dan Goldst.
‘Menyerahlah, taun muda. Waktuku tersisa 10 detik sebelum aku mati.’
10
9
8
7
6
5
‘Kumohon!’
4
3
“Hahaha! Baiklah, aku menyerah.” Goldst mengangkat tangannya.
2
‘Bagus..lah.’
Rein tumbang. Sesaat kemudian, tubuhnya berubah menjadi butiran cahaya merah.
"?!" Xavier, Bing, dan Goldst yang melihat itu terkejut.
"Dia... Mati?" Tanya Xavier.
"Kelihatannya begitu." Jawab Bing.
Goldst memikih diam dan tak menjawab. 'Dia terlihat lebih baik dariku, oleh sebab itu aku mengalah, tapi dia yang mati?' pikirnya melihat tempat Rein berada sebelumnya.
Di sisi lain, Aksha, menghilang dari tempatnya. Selama Rein ada, Aksha akan selalu ada. Selagi Rein tidak ada, Aksha akan berada di dimensi lain.
---
Ryn membuka matanya. "Gah! Aku menang di saat-saat terakhir. Tapi tetap saja aku mati, huh." Ucapnya membuka Avera Gear sambil berganti posisi dari baring menjadi duduk.
*Crak
Ryn memegang pinggangnya. "Ugh. Aku sudah tidak makan, minum, mandi, dan bergerak selama 2 hari. Sampai-sampai tubuhku menjadi agak kaku."
Ryn ingin duduk di pinggir kasur, jadi menggerakkan tubuhnya perlahan. Walaupun begitu, suara 'crak' dari tulangnya yang bergesekan tetap terdengar.
Ryn mengambil ponselnya yang ada di atas meja dekat kasur. Lalu dia melihat jam dan tanggal. 'Sudah jam 5 sore... Hari ini tanggal 4 Januari. Kemungkinan besok aku langsung ada kelas.'
Benar saja, sebuah notifikasi pesan muncul di layar ponsel Ryn.
(Dosen)
Ryn menghela napas. Perjalanannya untuk dapat pekerjaan baik di dunia nyata maupun Ainhra Online sangat buruk. Ketika ia memdapat kerja sampingan di cafe saat itu, dia langsung dipecat lagi karena tidak datang di 3 hari pertama. Ya, karena dia kecelakaan.
Ryn mengambik handuknya lalu pergi ke kamar mandi. Walau badannya tak sebau itu, karena dia tak bergerak, tapi tetap saja tidak nyaman.
Selesai mandi dia langsung mengeringkan badan dan memakai bajunya. Kaos lengan panjang abu-abu dengan celana pendek warna hitam.
Ryn keluar dari kamarnya. Lalu dia berjalan menuju dapur untuk memasak sesuatu. Sesuatu yang sangat legendaris. Indiemie dengan telor ceplok. Dia juga memasak ayam goreng lagi karena bahan kemarin masih ada.
Setelah itu dia hanya memainkan ponselnya sambil makan. Hanya menonton Utube atau melihat SNS.
Tiba-tiba, Beep Beep Beep! Seseorang menekan bel apartemen Ryn.
Ryn yang belum selesai makan melihat jam di ponselnya lagi dan melihat ke arah pintu. 'Siapa yang datang ke sini sore-sore gini?' pikirnya.
Tapi dia menyadari ada sesuatu yang janggal. 'Hmm... Perasaan tidak ada temanku yang tau kalau aku tinggal di sini. Ah, tapi yasudahlah siapapun itu.'
Ryn meninggalkan makanannya lalu mencuci tangan. Kemudian dia berjalan ke pintu apartemen dan membukanya.
"Siapa?" Ucapnya seraya membuka pintu.
...
Hening, tidak ada orang di depan pintu. Ryn melihat ke bawah. 'Mungkin ada paket.' pikirnya. Tapis sayang, tebakannya salah. Tidak ada apapun di sana.
Ryn melihat jendela yang ada di dekat pintu apartemennya. Apa kalian ingat kalau apartemennya ada di ujung lorong? Yah, walaupun begitu, hasilnya tetap sama. Jendela itu tertutup rapat.
'Aneh sekali.' gumam Ryn dalam hati. Akhirnya dia masuk kembali ke dalam apartemennya.
Ryn tidak mengunci pintu apartemennya itu. Dia hanya menutupnya tapi masih memegang gagang pintunya. Untuk beberapa saat, Ryn beluk beranjak dari tempatnya berdiri.
Sekali lagi, Beep! Beep! Beep! Bel apartemen Ryn berbunyi.
Dengan cepat Ryn membuka pintu itu. "Siapa?!" Teriaknya, melangkah keluar dari apartemennya.
'Haah, tadi yang menekan bel siapa si?' pikirnya saat menutup pintu.
Rym menutup pintu tanpa menoleh ke belakang. Dia berjalan mundur dan tidak mengalihkan matanya dari pintu itu. Dia kembali berdiri di dekat pintu seperti tadi.
...
1 menit berlalu. Tidak ada bunyi bel lagi. Ryn melepaskan genggaman tangannya dari gagang pintu.
'Hmm, sepertinya sekarang sudah tidak ada orang atau hewan atau robot. Aku bisa menghabiskan makananku.' pikirnya sambil menutup matanya.
Ryn membalikkan badan untuk berjalan kembali ke dapur. Setelah berbalik, dia membuka matanya. 'Seseorang' yang ada di depannya membuatnya mematung.
'...'
Di depannya terdapat seorang perempuan berambut putih yang tergerai panjang menutupi wajahnya. Dari postur tubuhnya, tampak ia seorang wanita paruh baya yang akan menginjak usia lansia. Bajunya putih dan tanpa noda.
"A... Va... Ryn..." Ucapnya dengan suara yang terdengar seperti bisikan.
. . .
"Bibi?" Ucap Ryn melihat orang itu. Tidak terlalu terkejut. Karena dia sudah melihat bibinya di TV.
Orang itu menghela napas. Kemudian ia merapikan rambutnya yang terurai ke depan menjadi terurai biasa. "Ya."
Ia adalah orang yang sama dengan yang ada di TV beberapa chapter yang lalu. Bibinya Avaryn, Mary. Seorang wanita 60 tahunan. Rambutnya yang putih alias beruban menjadi buktinya. Walau dari wajahnya ia terlihat masih seperti wanita berumur 40-an awal.
Rambutnya itu putih karena sudah tua. Tidak seperti Ryn yang memiliki keanehan pada rambutnya.
She is a normal old lady.
"Ryn! Kenapa kau tidak bilang alamatmu yang lama?! Kenapa juga kau tidak bilang kalau kau kecelakaan hah?! Udah gitu main pindah rumah lagi! Kau ini tidak tau apa kalau aku khawatir? Setidaknya kau bilang alamatmu sehingga kami bisa mengunjungimu! Setelah kami mendapatkan alamat rumahmu, betapa terkejutnya kami ketika tau perumahan itu akan digusur dan kau tidak ada di rumah! Kau tau seberapa sulit kami mencariku hah?! Aku benar-benar khawatir dengan keadaanmu kau tau?!" Wanita itu berteriak ke Ryn tanpa jeda.
But still energetic.
Ryn hanya bisa mendengarkan hal itu pasrah. Betapa tidak sopan kalau dia menyela ketika bibinya masih berbicara. Setelah bibinya tidak melanjutkan ocehannya, barulah ia mengatakan sesuatu. "Bibi, ayo masuk dulu."
Ryn mengantar bibinya ke ruang tv. "Bibi di sinj dulu. Kalau mau tanya sesuatu langsung tanya saja." Ucapnya. Kemudian dia berjalan ie dapur yang terletak tepat di samping ruang tengah atau ruang tv.
"Ya." Jawab bibinya.
Ryn mengecek kulkasnya. Di sana ada beberapa buah-buahan yang untungnya masih bisa dimakan. Dia mengambik apel dari buah-buahan yang ada. Lalu mengupasnnya dan memotongnya.
Selagi Ryn mengupas apel, bibinya menanyakan sesuatu ke Ryn. "Ryn, jawab pertanyaan bibi yang tadi. Kenapa kau tidak mengabari kami tentang keadaanmu?"
"Karena aku tak mau bibi dan paman khawatir." Jawabannya, masih mengupas apel.
Mary mengambil ponselnya dan langsung menyalakan TV. Ia menggunakan ponselnya sebagai remote. "Kalau kau tidak mau kami khawatir, lebih baik beritahu kami! Apa kau tau aku sudah mencarimu ke seluruh Asia?!" Ucapnya kesal.
"Bibi mencariku ke seluruh Asia?" Ucapnya bingung.
"Ya! Tentu saja! Kau hanya mengatakan akan pergi ke Asia." Jawab bibi Mary.
Ryn selesai mengupas apelnya. Kini dia sedang memotongnya menjadi dadu. "Kalau begitu bagaimana bibi tau Ryn ada di Indonesia?" Tanyanya, kemudian dia menaruh apel yang sudah dipotong ke piring.
"Rahasia." Ucap bibi Mary sambil mengganti channel tv dengan ponselnya.
"Oooh. Baiklah. Kalau begitu apa ada alasan bibi mencariku? Saat aku berkata ingin pergi dari Amerika, bibi hanya mengatakan, 'Oh, pergilah.'" Ryn berkata dengan tenang dan santai. Kemudian dia menaruh sepiring apel potong di meja depan bibinya.
Mary menghela napas. Kemudian dia mengambil sepotong apel dari piring itu. "Ada sesuatu yang sangat buruk terjadi."
Ryn berjalan kembali ke dapurnya, tepatnya ke arah lemari. "Memangnya seburuk apa sampai mencariku ke seluruh Asia?" Ucapnya sambil membuka lemari itu dan mengambil sebotol sirup. Kemudian dia menaruh botol itu di meja dapur.
"Hei! Jangan mengejekku! Ingat kalau aku lebih tua 40 tahun darimu!" Ucap Mary jengkel dengan perkataan Ryn.
Ryn tertawa kecil. "Hahaha, baik bibi." Ucapnya berjalan ke rak piring. Dua mengambil dua gelas bening berukuran 300 ml. "Tapi bi, sebenarnya seberapa buruk keadaannya?" Tanyanya lagi sambil meletakkan dua gelas itu di meja dapur. Kemufian dia mengambil botol sirup itu dan membukanya.
"Mungkin, seburuk ketika kedua orangtuamu meninggal."
Ryn berhenti sejenak. Kemudian dia hanya tertawa canggung. "Ahahaha, tidak mungkin seburuk itu. Kalau seburuk itu dunia akan dalam bahaya, bukan?" Ucapnya sambil menuangkan sirup ke dalam gelas. Setekah itu dia mengambik air biasa dan menuangkannya juga.
"Ryn, dengarkan aku, kejadian ini benar-benar buruk." Mary mengubah nada bicaranya yang pemarah menjadi serius.
"Ya, aku mendengarkanmu, bibi." Ucap Ryn sambil mengaduk sirup yang ada di gelas.
Mary menoleh ke belakang. Dilihatnya Ryn sedang mengambil es batu dari dalam freezer. Dia mulai menggerutu. "Hei, tidak bisakah kau berhenti sebentar dan mendengarkan?"
Ryn menjawab dengan pasti. "Tidak bisa, bibi."
Kemudian dia langsung meletakkan es di dua gelas itu. Setelah itu dia mengembalikan sirup dan es sisa ke tempatnya semula. Akhirnya dia mengantarkan kedua gelas itu ke meja yang ada di depan bibinya.
"Minum dulu, bi." Ucap Ryn ramah.
Mary mengambil salah satu dafi gelas itu. "Oh, thank you. Kalau begitu aku bisa mulai ceritanya, kan?"
Ryn mengangguk. Dia juga mengambil gelas berisi sirup itu. Sambil mendengarkan Mary bercerita, dia meminum sirup buatannya sendiri.
Mary mulai bercerita tentang sesuatu. "Gheegkh, kau mungkin tak percaya ini Ryn. Tapi....
.... Saat itu....
.... Mereka....
.... Sehingga....
.... Begitulah ceritanya."
Ryn membatu mendengar semua perkataan Mary. Sampai-sampai,
*Clank!
Gelas yang ada di tangannya jatuh hingga pecah.
"Bibi, apa yang kau katakan itu kebenaran?"
"Tentu saja. Kalau tidak, aku tidak akan mencarimu sejauh ini, Ryn."
**P.S : Selamat Hafi Raya Idul Fitri 1441 H!
Mohon Maaf Lahir dan Batin 🙏**