
Chapter 21 : The Duel
"... Apakah anda tidak mau berkeliling tempat ini dulu? Sate di tempat ini enak lho. Cobalah." Rein memunculkan satu tusuk sate lagi di tangannya, untuk ia berikan ke Goldst.
"..." Goldst tidak bisa berkata apa-apa dengan perlakuan Rein.
Kali ini Rein tidak menatapnya dengan dingin seperti ketika di apartemen. Malahan bersikap sangat ramah kepadanya. Membuatnya heran.
Bing melihat Goldst dengan aneh. Tidak biasanya temannya itu tidak tergerak karena makanan.
"Aku saja yang mencobanya." Bing mengambil tusuk sate dari tangan Rein.
"Hei-!"
*Nyam nyam
Wajah Bing yang tadinya datar menjadi cerah. "Sate ini enak!" Ucapnya.
"Benarkan? Sayang kalau langsung berduel tanpa mencobanya dahulu." Rein melahap satenya kembali.
Goldst kemudian mengambil sate yang ada di tangan Bing dan langsung memakannya. "... Benar, ini enak." Goldst menghabiskan satu tusuk sate itu selagi Bing masih mengunyah.
Akhirnya mereka bertiga menghabiskan 10 tusuk sate yang di beli Rein. Niat bertarung yang ada dalam diri Goldst sirna.
Aksha yang ada di tangan Rein tidak bersuara. Dia memakan buah yang ada di tangan Rein dengan pelan. Sehingga tiga pemain yang makan sate itu tidak menyadarinya.
"Rein, kau tidak sedingin yang aku bayangkan. Kenapa kau menatapku tajam ketika itu?" Tanya Goldst setelah memakan sate terakhirnya.
"Bukankah anda yang awalnya mengatakan saya sampah?" Jawab Rein heran.
Bing dan Xavier yang mendengar hal itu langsung terbelalak. "Goldst! Kau bilang dia sampah?! Itu tidak seperti kau yang biasanya." Ucap Bing.
"Benar. Aneh sekali. Apa yang kau pikirkan ketika itu?" Lanjut Xavier, menatap Goldst tidak percaya.
Goldst yang mendengar ucapan Rein malah bingung. "Hah? Aku tidak ingat memanggilmu sampah." Ucapnya. Lalu dia membuat pose berpikir. Tanpa dibuat-buat.
Rein melihat Goldst aneh. "Apa? Kau tidak ingat?"
"Goldst! Kalau kau berbuat salah jangan seperti itu juga bohongnya!" Bing membentak Goldst dan menatapnya tajam
"Sungguh, aku tidak ingat. Aku hanya ingat menantangnya berduel. Sungguhan, aku tidak berbohong." Ucap Goldst. Dari nada bicaranya, Rein, Xavier, dan Bing tau kalau dia tidak berbohong.
'Aneh, kalau dia tidak ingat, apa yang terjadi?' pikir Rein. Dia tau kalau Goldst tidak berbohong sama sekali.
Bing dan Xavier memarahi Goldst. Mereka jadi adu mulut selagi Rein berpikir.
Buah Bema yang ada di tangan kiri Rein habis. Aksha menarik-narik lengan baju Rein. Membuat Rein yang sedang berpikir berhenti sebentar dan mengambil buah Bema dari storagenya. Membukanya lalu memberikannya ke Aksha. Aksha menolaknya dan malah mendesis ke arah Rein.
"Sss!"
"Huh? Kenapa? Apa kau tidak mau?" Tanya Rein kebingungan.
"Ss ss. Ss, sss ss ssss!" Aksha menunjuk tiga pemain tadi yang bersiap ingin bertarung.
"Ah! Goldst! Bing! Xavier! Jangan berkelahi di sini!" Rein menghentikan ketiganya.
Aksha lanjut memakan buah Bame.
"Tapi bang Rein, bang Goldst tidak mau mengaku kalau dia memanggilmu sampah!" Ucap Xavier mengambil sebuah Talisman.
"Hoi! Aku benar-benar tidak memanggil Rein sampah!" Bantah Goldst.
"Lihatlah. Dia masih tidak mau mengaku." Bing menumbuhkan taringnya, bersiap untuk menggigit Goldst.
Rein yang melihat itu menggelengkan kepala. "Dengar, aku yang baru mengenal Goldst saja tau kalau dia tidak berbohong, bagaimana bisa kalian yang sudah mengenalnya sebelum aku malah mengeroyoknya seperti ini?" Rein menatap mereka bertiga dengan tajam.
Xavier dan Bing terdiam. Mereka menarik kembali senjata mereka. Goldst yang tadinya ingin mengambil perisai yang ada di punggungnya juga tidak jadi. Tatapan Rein membuat mereka membeku. Bahkan Aksha merasakan kalau Rein mengeluarkan hawa dingin.
"Yah. Satenya sudah habis. Kalau begitu mari kita lakukan duelnya, tuan muda." Rein berkata dengan senyuman. Kemudian dia menyuruh Aksha untuk melihat dari pepohonan. Aksha langsung pergi.
"*Gulp* eh..." Goldst menoleh ke arah Xavier dan Bing.
Tatapannya yang menyedihkan seakan berkata 'Save me'. Namun Xavier dan Bing malah membuat tatapan 'Sorry'. Hal itu membuat Goldst ingin kabur. Namun tertahan karena harga diri lebih tinggi dari itu.
"Tuan muda, apakah anda akan diam saja di sana?" Tanya Rein.
"O-oh, gak gak." Goldst kemudian membuka panel hologramnya lalu membuat permintaan duel.
"Terima."
Tidak boleh saling membunuh
Pemain dapat menggunakan item apapun dalam duel
Duel selesai ketika salah satu pemain menyerah
Rein dan Goldst berdiri berhadapan satu sama lain dengan jarak 3 meter.
Para NPC menyadari kalau ada duel di Rest Area. Mereka lalu berdiri tidak jauh dari Rein dan Goldst untuk menonton.
<3>
<2>
<1>
Goldst maju menyerang Rein dengan pedang besarnya. Rein tentu saja menyadari hal itu dan langsung menghindarinya.
"Lamban."
Rein berlari ke belakang Goldst yang tidak dilindungi perisai. Dia langsung melemparkan 3 buah Fire Stone lv.2.
"" gumam Rein.
*Boom! Boom! Boom!
"Gghah!"
Bagian belakang Leather Armor yang digunakan oleh Goldst terbakar.
Goldst langsung berbalik dan menyerang Rein dengan pedang besarnya.
""
Rein Masih bisa menghindari tebasan Goldst. Namun Goldst langsung menyerangnya lagi dan lagi.
" !!!"
Goldst terus menyerang Rein. Namun Rein selaku berhasil menghindarinya. Dia sudah terbiasa dengan kecepatan ular. Kecepatan seorang tanker seperti Goldst tidak seberapa.
Rein masih menghindari serangan-serangan Goldst, namun dia masih bisa berbicara, "Apa kau tidak bisa lebih cepat?"
"CIH! "
Sebuah lapisan berwarna abu-abu tua melapisi pedang Goldst. Membuatnya menjadi lebih berat, kuat, dan tajam.
Goldst terus menyerang Rein membabi buta. Rein terus menghindari serangan-serangan itu juga.
"Tch-! Tidak bisakah kau tidak menghindar terus? !"
Rein menghindari serangan pedang besar yang kuat itu. Lalu dia berpindah tempat ke bagian belakang Goldst yang tidak terlindungi.
*Boom! Boom!
"KGHARH!"
Tubuh Goldst terbakar. Namun dia masih belum mati.
'HP ku yang 12000 tersisa 4000? Dia bahkan tidak menggunakan senjata sebenarnya! Hei! Cheat apa ini!' rasanya Goldst ingin muntah darah karena kekuatan Rein. Namun dia tidak bisa karena dia masih dalam pertarungan.
"Jangan melamun. "
*Srarsh-
Tubuh Goldst yang tadinya sudah terbakar kini semakin terasa sakit karena asam. HP Goldst berkurang drastis. Efek dari 'combo' itu adalah HP -8/detik.
Goldst menutarkan badannya dan menebas pedangnya. Berharap kalau pedang itu melukai Rein setidaknya sekali. Sayangnya, Rein bisa menghindari hal itu dengan mundur tiga langkah.
Goldst masih memegang erat pedang dan perisainya. "Menyerahlah!" Teriaknya pada Rein. Kemudian ia maju menyerang Rein lagi. Yang pada akhirnya juga dihindari oleh Rein.
"Siapa di sini yang seharusnya menyerah?"
Rein melemparkan beberapa Fire Stone lagi. Membuat HP Goldst berkurang kembali.
'HP ku tersisa 2000... Dia hanya menggunakan batu api dan asam untuk menyerangku. Tapi HP ku yang termasuk tebal berkurang sebanyak ini...' Goldst tisak ingin menggunakan item penyembuhan. Hal itu akan membuatnya malu. Rein bahkan tidak banyak terluka.
Yah, sebenarnya Rein tetap terluka. Namun lukanya tidak banyak dan HP nya masih tersisa 95%. Stat nya yang paling tinggi adalah INT dan AGI. Dia dapat memprediksi dan menghindari serangan Goldst, pemain yang mengutamakan statusnya di STR dan VIT.
Goldst terus menyerang Rein. Berkat staminanya yang tinggi, dia masih dapat bertahan.
Di sisi lain, Rein mulai kwalahan. 'Uh... Kapan dia berhenti? Staminaku hampir habis.' Walau dia dapat menghindari serangan-serangan Goldst, dia menbutuhkan stamina untuk terus melakukannya. Membuat staminanya berkurang secara signifikan.
"Hiyat!"
"Ha!"
"Terima ini!"
Goldst masih menyerang Rein. Entah sudah berapa kali dia menyerang Rein.
Stamina Rein terisa 20. Hanya menghindari saja sudah membuat dia kwalahan. Dia tidak bisa menyerang balik secara langsung. Mengingat pedangnya hancur saat melawan Anaconda Raksasa.
'Gawat... Kalau staminaku habis, aku akan kalah!'
Rein mungkin terlihat baik-baik saja. Namun sebenarnya ia sangat kelelahan menghindari serangan Goldst yang bertubi-tubi. Sebaliknya, Goldst masih bisa terus menyerang Rein tanpa ada tanda-tanda berhenti.
HP Rein berkurang sedikit demi sedikit. 'Bahaya. Aku harus mengakhiri pertempuran ini secepat mungkin!'
Rein mengambil batu api, air, dan angin dari storagenya. Dia segera melemparkan 3 jenis batu itu ke Goldst.
"Ggah! *Uhuk* Asap dari mana ini?!"
Asap itu mengelilingi Goldst. Membuatnya tak dapat melihat. Xavier dan Bing serta para NPC yang sedang menonton mereka berduel juga tak dapat melihat apa yang terjadi.
"*Uhuk uhuk* Apa yang terjadi?!" Bing mengibaskan tangannya.
Rein dengan segera mengeluarkan 10 batu api lagi. Ia langsung melemparkannya ke Goldst yang masih terbatuk-batuk.
"AGH! Apa-?!"
Rein terus mengulanginya. Setiap asapnya mulai memudar, ia akan melemparkan batu api, air, dan angin lagi. Lalu menambah damage dengan tambahan batu api dan asam.
Strategi itu cukup bagus. Hanya saja, stok batu airnya terisa 6. Sedangkan batu anginnya gersisa 3.
'Tinggal 2 kali serangan lagi...'
Di sisi lain HPnya tersisa 1750. Dia menguras banyak HP nya saat menyerang.
*Syut-
HP pemain -1000
"Gah! Apa-apaan?!"
Goldst menyerangnya selagi Rein masih berpikir. Dari tadi Goldst terus menyerangnya, namun tidak semua serangan itu mengenainya karena asap yang ia buat.
Rein mundur 3 langkah. Dia langsung melemparkan batu api, air dan angin ke Goldst. Lalu melemparkan batu api dan asam ke arah itu juga.
*Boom!
"Serangan itu lagi?!"
Goldst menenas Rein lagi. Rein mundur 3 langkah lalu menyerang Goldst dengan batu-batu nya yang tersisa.
"Terima ini!"
*Boom! Boom! Srarsh-
-300
-478
-680
-259
Panel-panel hologram itu muncul di depan Goldst.
"Haah, haah, haah." Napas Rein memburu. HP nya tersisa 500 poin dan terus berkurang setiap detiknya. Dengan staminanya yang habis, dia bahkan tak dapat bertahan kurang dari 1 menit.
(Warning! Paragraf setelah ini berisi adegan gore. Harap tidak membaca kelanjutan bab ini kalau anda tidak tahan dengan gore, atau mudah membayangkan suatu tulisan. You have been warned.)
.
.
.
.
.
.
.
Asap yang dimunculkan oleh Rein mulai memudar. Terlihat, Goldst sudah sangat babak belur. Terutama bagian punggungnya yang terdapat banyak luka bakar dan dagingnya meleleh karena asam. Kulit kaki kirinya terkelupas. Menampakkan daging yang merah dan berdarah-darah. Bahkan, di tangan kanan, pahanya, serta punggungnya, terdapat luka yang menembus daging.
Rein sendiri juga babak belur, luka bakar dan sayat dimana-mana. Baju Rein robek dan terbakar di berbagai bagian. Kedua tangannya terbakar dan sedikit meleleh, karena memegang batu api dan asam. Bahkan salah satu telinganya hilang karena tersayat.
Para penonton (NPC) yang melihat luka mereka langsung berdigik ngeri. Pertandingan antara level 10 saja se-mengerikan itu.
‘Astaga… kalau aku tidak tau level mereka yang asli, mungkin aku akan mengira mereka berlevel 30-an.’ gumam Xavier dalam hati melihat hasil pertarungan antara dua orang itu.
Bing sendiri terdiam melihat luka-luka yang ada di tubuh Goldst dan Rein. ‘Mereka masih bertahan dengan luka seperti itu?’
Di sisi lain, Aksha malah bertepuk tangan(?) dengan pertarungan mereka.
"Huuh, luar biasa. Kau dapat bertahan sejauh ini, Rein." Ucap Goldst. Dia masih kesakitan karena punggungnya terluka parah.
Rein menjawab dengan suara terbata-bata. “Kau, juga, sangat luar biasa, Goldst…..”
---
P.S : Woa, novel ini sudah mencapai 100+ like...
Cukup hebat mengingat novel ini tidak banyak saya promosikan hahahaha
Well, thank you so much for your support!