
Dalam ruangan hitam itu, pandangan Rein mulai berubah.
---
Suatu hari, di dunia dengan berbagai ras dan sihir, dua orang anak bermain bersama. Salah satu dari mereka memiliki telinga panjang, serangkan yang satu lagi memiliki duri di pundaknya.
Mereka adalah Arvias dan Yolandra. Kedua jenius dari ras yang berbeda, Elf dan Monster.
Berbeda dengan ras yang lainnya, hubungan Ras Elf dan Monster cukup kuat. Dikarenakan kedua Ras itu tinggal di area yang sama, Hutan.
Namun siapa sangka, Ras Monster, termasuk Yolandra, mengkhianati ras lain. Ras Monster memulai perang secara besar-besaran.
Ras yang pertama merasakan dampaknya adalah Ras Elf. Seperti yang diceritakan dalam Cerita Awal. Bahkan, sangking ganasnya Ras Monster saat itu, sang ratu Elf, ibu dari Arvias turun tangan langsung ke medan perang.
Arvias juga ikut berperang bersama kaumnya. Berbekal pengetahuan sihir dan tongkatnya, ia melawan para monster itu.
Setelah beberapa tahun lamanya, perang hampir berakhir. Namun belum ada tanda kemenangan dari pihak manapun.
Di atas tanah yang tinggi, Arvias bersama ketiga jenius yang lain berdiri. Tepat di depan jenius Monster, Yolandra.
Penampilan Yolandra sudah sangat berubah. Duri yang dulunya hanya ada di pundaknya, kini ada di punggungnya. Sorot matanya sangat tajam. Dan mata hitamnya kini berwarna merah darah.
"Yolandra...." Arvias mencoba memanggil sahabat masa kecilnya itu.
"DIAM!" Bentak Yolandra, kondisinya kini sangat kacau.
"Dengar, peperangan ini sia-sia, kau tau itu." Ucap Arvias lagi.
Tak ada jawaban dari Yolandra. Namun hawa kegelapan merembes keluar darinya. Menbuat semua krang yang ada di sana menjadi waspada.
"Hahaha.... HAHAHAHAH!!" Tawa jahat keluar dari mulut Yolandra.
Setelah beberapa saat, tawa itu berhenti. Namun Yolandra menoleh ke arah Arvias. Menatapnya dengan mata merah nan menusuk.
"Kau pikir, jika bukan karena kau, PEPERANGAN INI AKAN TERJADI, HAH?!" Duri yang ada di punggung Yolandra semakin menajam. Menandakan kalau ia sudah sangat marah.
Arvias bingung dengan perkataan Yolandra, "Apa maksudmu.... Yolandra?"
"Kau sama saja seperti mereka.... KAN?! HANYA KARENA AKU SEORANG MONSTER, KALIAN MENANGGAP DIRI KALIAN PALING TINGGI???!!!"
Keempat orang yang ada di depan Yolandra terkejut. Terutama Arvias.
"Yolandra.... Apa maksudmu? Aku tak pernah membedakanmu. Kau adalah sahabatku." Ucap Arvias pada Yolandra yang perlahan melayang.
"Heh, sahabat? PERSETAN DENGAN SAHABAT!! KALAU KAU MEMANG SAHABATKU, RAS MU TAK AKAN MEMBANTU RAS LAIN MENHANCURKAN KAMI!!!"
*JDERRR
Badai petir muncul. Membuat suasana di sana semakin menegang.
"Yolandra, Ras mu lah yang pertama kali menyerang Ras ku! Apa kau tak tau?"
Kali ini, petir seakan menyambar Yolandra. "A... Pa?"
"Penyerangan itu terjadi di pusat kota! Apa kau tidak ingat?"
Yolandra tak dapat mengingat apapun tentang penyerangan itu. Sleingatnya, ayahnya mengatakan kalau para Monster hanya menyerang Ras selain Elf. Oleh karena itu, saat ia tau kalau Ras Elf ikut memerangi Ras Monster, ia sangat marah.
Yolandra mengirimkan telepati ke ayahnya. Apakah benar ada penyerangan ke Ras Elf saat mereka menyatakan perang.
Ayahnya yang saat itu sedang sibuk dan tak peduli dengan siapa ia ditelepati, langsung menjawab iya. Jawaban yang tak pernah Yolandra duga.
Yolandra yang awalnya melayang di udara perlahan turun. Matanya terbuka lebar. Fakta yang baru saja ia dapatkan membuat hatinya terguncang hebat.
'Kalau begitu.... Untuk apa peperangan besar ini?! Untuk apa usahaku membasmi para Elf itu?! Unfuk apa usahaku menghancurkan ras lain?!'
Yolandra frustasi. Dan karena hal itu, tubuhnya meledak.
Keempat orang yang menyaksikan itu melihatnya tidak percaya. Namun saat sebuah cahaya kecil terbang dari temlat tubuh itu meledak, Arvias langsung mengambilnya menggunakan botol khusus. Itu adalah jiwa Yolandra.
Dengan jiwa sang jenius Monster di tangan Ras lain, Ras Monster semakin minim jumlahnya. Namun tetap saja, kehancuran dunia itu tak dapat dihindari.
Keempat jenius lainnya sepakat untuk membangun dunia baru. Yaitu Ainhra, dunia game itu, menggunakan jiwa Yolandra. Sehingga di dunia Ainhra terdapat monster yang sangat banyak jumlahnya.
---
"Seiring waktu, jumlah mereka terus berkurang akibat urbanisasi Ainhra. Namun setah ledakan Mana itu, jumlah Monster tidak berkurang sama sekali." Akhir cerita Arvias.
Rein mendengarkannya dengan seksama. Ia tau, karena hal ini, ia akan mendapatkan sesuatu yang besar. Entah itu quest tingkat tinggi atau hal lain.
"Karena kekuatanku belum pulih sepenuhnya, aku tak dapat memeriksa ledakan mana itu. Namun beruntungnya Hynra bertemu denganmu." Lanjut Arvias.
"Dengan bakatmu dalam kekuatan Elemen dan pengendalian Mana, menurutku kau adalah kandidat yang cocok untuk mewariskan kekuatanku. Dan juga memeriksa ledakan Mana itu. Apa kau bersedia melakukannya?" Tanya Arvias.
Setelah mendengar, tepatnya melihat sendiri kisah Arvias. Ia tau kalau setidaknya, Job Arvias adalah Job Special dan Quest yang akan ia berikan adalah Quest tingkat S.
Namun karena cerita dan penjelasan Arvias juga, Rein tidak bisa menolaknya. "Baiklah, aku menerimanya."
"Bagus, sekarang aku ingin beristirahat lagi."
*Zzep!
Rein menghilang dari ruangan hitam itu tepat setelah ia menerima tawaran Arvias.
"Fuh, ku harap ia menyelesaikannya dalam waktu setahun." Ucap Arvias, sebelum kemudian menghilang dari ruangan itu juga.
---
"Ugh...."
Rein terbangun. Ia ada di sebuah ruangan tak dikenal. Bukan kamarnya, bukan juga kamar no. 17, bukan juga kamar rumah sakit, ruangan yang sama sekali tak dikenalinya.
Kemudian ia melihat jam. Bertapa terkejutnya ia kalau ia hanya 10 menit berada di ruangan hitam itu. Sekarang baru pukul 19:12.
Rein mengubah posisinya menjadi duduk. Di tangannya masih ada tongkat putih berpermata biru itu.
Setiap Naik Level : STR +2, AGI +3, VIT +2, INT +5. HP +1000, MP +2000.
Permintaan sang Legenda, Arvias (I)
Tingkat : S
Ket : Periksa asal muasal ledakan Mana pada malam Ainhra kembali dibuka!
Pemeriksaan (0/1)
Batas Waktu : Tidak ada.
Hadiah : ???
Tingkat : Myhtic
Ket : ???
Jenis : Sihir Aktif
Mana yang dibutuhkan : 100-10000
Ket : Magic Art yang terdiri dari banyak Magic Art Elemen. Fire, Water, Air, Earth, dan gabungannya.
Pengguna dapat menggunakan sihir Elemen tingkat paling rendah untuk saat ini.
Pengguna Magic Art ini dapat melakukan sihir Elemen apapun selain Cahaya dan Kegelapan setelah mencapai tingkat Master.
Jenis : Skill Aktif
Stamina yang dibutuhkan : 400 - 1000
Ket : Sword Art dari keluarga kerajaan Flestria. Tempat asal sang jenius atau legenda, Arvias sebelum direinkarnasi dan membuat Ainhra.
Terdapat 10 bentuk dan tingkatan Sword Art ini. Semakin tinggi tingkatannya, semakin sulit untuk dipahami dan dikuasai.
Efek : ???
Ket : ????
(+) Hanya bisa terbuka saat pengguna berlevel 25
Ket : Galaxy Ring yang memuat ruang sebesar 7.000.000m³. (700m × 100m × 100m)
Status : 100% terpakai
(+) Hanya dapat terbuka saat pengguna berlevel 20. Namun pengguna dapat melakukan kontrak dengannya sekarang.
Ket : Space Ring yang memuat ruang sebesar 25m³.
Cara Pakai : Bayangkan benda yang ingin kau masukkan atau keluarkan. Benda itu akan masuk atau keluar sendiri tanpa disebutkan namanya.
Status : 0% terpakai
Loading.... 20%.... 50%.... 70%.... 100%
"...."
Rein tak dapat berkata-kata melihat panel-panel hologram itu. 'Terlalu panjang.... Siapapun yang membaca ini kemungkinan besar melewatkannya.' pikir Rein melihat panjang panel hologram itu.
Di saat itu juga, dua buah cincin muncul di udara.
Satu terlihat elegan dan mewah. Dengan warna perak cincin dan permata berwarna hitam seperti langit malam, semua orang tau kalau cincin itu sangat berharga.
Sedangkan yang satu lagi memiliki kemiripan. Namun warna permatanya biru. Menandakan kalau kualitasnya berbeda dengan yang satu lagi.
Rein memakai cincin berpermata biru itu di salah satu jarinya. Sedangkan cincin satu lagi ia simpan dalam cincin itu.
Tak lama, seseorang masuk ke dalam ruangan.
Ralat, bukan satu, melainkan dua. Pak Hynra dan satu orang lagi tidak dikenal Rein.
"Rein! Kau sudah sadar!" Ucap Pak Hynra ketika melihat Rein duduk di atas tempat tidur.
"Lihat kan, Hynra. Dia baik-baik saja." Ucap orang yang datang bersama Pak Hynra.
"Ya, ya, ya, Doriya. Sekarang kembalilah ke tokomu." Ucap Pak Hynra sambil membuat gerakan tangan 'Syu! Syu!' agar orang yang bersamanya tadi, Doriya, pergi.
"Baiklah-baiklah. Aku pergi sekarang." Pak Doriya itu pergi dari ruangan tempat Rein terbangun.
Pak Hynra mengalihkan landangannya ke Rein. "Rein, kau baik-baik saja kan?"
"Ya, aku baik-baik saja."
"Syukurlah. Oh ya, apa tongkat tadi menerimamu?"
"Tongkat putih ini?" Rein menunjukkan tongkat putih di tangannya. "Dia menerimaku."
"Berita baik! Namun, dari yang aku perhatikan kau sudah memiliki Job ya. Stat Job mu tidak kosong lagi. Namun aku tak dapat melihat apa."
"Ah... Itu...." Rein ragu-ragu untuk mengatakannya. Dia rasa lebih baik orang tidak tau Job nya untuk saat ini.
"Tidak apa, kau tidak harus mengatakannya kepadaku."
"Kalau begitu terimakasih untuk tidak memaksa."
"Tentu. Oh ya, Rein, kamar ini adalah kamar tamu di rumah Pak Tua Doriya. Jika kau penasaran."
"Ooh, begitu ya.... Pantas saja aku tak familiar dengan ruangan ini."
"Haha, ya. Omong-omong karena kau sudah mendapatkan Job mu, apa kau akan pergi ke kota? Seperti orang dari dunia lain lainnya. Mereka bahkan sudah pergi sebelum mendapatkan Job."
"Hm.... Tidak, aku ingin menguatkan diriku terlebih dahulu. Lagipula, daripada di kota yang damai, leveling di desa ini lebih mudah." Jawab Rein.
Perkataannya benar, Leveling di Desa Gres, tepatnya Hutan Agresia jauh lebih mudah daripada di dekat kota. Karena monster-monster di Hutan Agresia dan Dungeon Snake.
"Baguslah, karena kau sudah sadar, kau boleh kembali ke rumah atau penginapan tempat kau tinggal."
"Hm, Aksha juga pasti sudah menungguku. Aku akan kembali ke tokomu esok hari, Pak Hynra." Ucap Rein seraya bangkit dari tempat tidurnya.