
Bibi Mary menggelengkan kepalanya. "Ya, tetap saja kau bertemu dengan saah satu dari mereka karena aku. Mereka melihat wajahku. Pastinya mereka memiliki mata-mata di area bisnis."
'Tcih. Para penyihir jahat itu sampai menyerang Ryn.
Huh, sihir yang seperti di novel fantasi itu benar ada. Membangkitkan manusia yang sudah mati? Dan lagi menyelinap ke dunia bisnis? Apa mereka tidak ada otak?
Aku harus membicarakan ini dengan Albert, Selena, dan Alden juga. Mengingat kalau mereka juga mengetahui hal ini.' Bibi Mary menghela nafasnya.
"Hmmm, kalau begitu jumlah mereka sekarang pasti sudah banyak..." Komentar Ryn.
"Tidak pasti. Aku sudah melakukan pengecekan atas hal itu selama setahun. Setiap hari. Namun, totalnya hanya dua kali mereka melakukan pembangkitan. Artinya jumlah mereka pasti masih kurang dari 100."
Ryn diam. Dia terlihat berpikir sebentar. "Kalau begitu hal ini harus dibahas lain kali lagi. Akan menjadi sangat lama kalau mendiskusikannya sekarang."
"Ya, kau benar juga. Pamanmu sudah menunggu. Oh, oku juga mengundang orang lain. Sahabat karibku sekaligus rekan bisnisku. Aku ingin mengenalkanmu padanya. Kau jurusan manajemen bisnis kan? Relasi dengan pebisnis berpengalaman akan sangat menguntungkanmu." Ucap Bibi Mary. Lalu ia beranjak dari kursinya. Ia ingin keluar dari ruangan itu.
Ryn menghabiskan air putih yang disediakan untuknya. Lalu ia keluar dari ruangan itu juga.
Bibi Mary mengambil kartu kreditnya dari dalam saku. Lalu ia menggesekkannya di samping pintu ruangan itu. Membayar biaya sewa ruangannya.
Ia dan Ryn berjalan menuju ruangan VIP 1.
Ryn teringat akan sesuatu. 'Kalau aku ingat-ingat, Nona muda yang berpas-pasan denganku tadi.... Bukannya dia perempuan yang aku temui di lift? Dari tatapan mata dan rambitnya, terlihat sama.'
Bibi Mary langsung membuka ruangan itu. "Hei hei~ kalian tidak lupa denganku kan? Sepertinya asik sekali mengobrol di sini. Aku tadi menjemput ponakanku, kami juga mengobrol tadi. Jadinya agak lama." Ucapnya seketika masuk ke dalam ruangan.
"Oho, tentu saja tidak Mary. Kau menjemput keponakanmu ya?" Ucap Selena.
Ryn masuk dan memperkenalkan dirinya sambil membungkuk. "Halo. Saya Avaryn Jhonesson. Senang bertemu dengan anda."
Alden yang sedang makan serimping langsung berhenti. "Eh? Ryn?" Ia terdiam sejenak.
"Paman Alden?" Ucap Ryn. Ia tak menyangka kalau sahabat karib dan rekan bisnis Bibi Maru adalah Paman Alden.
'Dari sekian banyak pengusaha di Indonesia.... Paman Alden?' pikir Ryn.
Pandangannya lalu tertuju pada seorang wanita berambut hitam panjang. Ya, dia adalah nona muda yang berpas-pasan dengan Ryn.
Setelah melihat wajahnya dengan benar. Ryn teringat dengannya. Perempuan yang ia temui di lift apartemen. "Nona....?"
Keheningan terjadi. Ruangan VIP 1 yang tadinya memikiki suasana ceria menjadi awkward. Tiba-tiba ponsel paman Albert berdering. Bunyinya sangat keras. Sampai Jendra dibuatnya bangun.
"Ehh, aku permisi angkat telpon sebentar." Ucap Paman Albert.
"Euhm.... Eung? Kenapa ada Kak Ryn di sini?" Ia langsung menyadari keberadaan Ryn.
"Ah! Kau! Yang menolong Jendra bukan?" Ucap Selena. Ia tadi sempat berpikir sebentar. Baru ia tersadar setelah Jendra mengucapkan nama Ryn.
"Ah... Iya..."
'Dunia memang sempit' pikir Ryn.
"Senang bertemu dengamu kembali! Apa kakimu sudah baik-baik saja sekarang?" Tanya Bu Selena.
"Eh? Ah, iya, kakiku sudah baik-baik saja sekarang."
"Ryn.... Kau keponakan Mary?" Tanya Paman Alden. Sekalipun ia tau banyak hal tentang Ryn, tak banyak informasi tentang keluarganya.
Bibi Mary bingung. Awalnya, ia ingin mengenalkan Alden dan Selena dengan Avaryn. Namun ternyata ia sudah bertemu dengan mereka.
"Kakimu memangnya kenapa Ryn? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Bibi Mary. Dari kemarin ia melihat Ryn, kakinya tidak masalah. Tapi kenapa Bu Selena menanyakan hal itu?
"Tidak, tidak ada. Bukan masalah besar. Itu sudah kejadian berbulan-bulan yang lalu." Jawab Ryn agak gugup. Karena ia tidak memberitahu Bibinya tentang kecelakaan itu.
"Hmmm, baiklah kalau begitu. Kau duduk dulu." Ucap Bibi Mary pada akhirnya. Ia jembali duduk di tempatnya tadi.
Ryn lalu duduk di sana. Ia tidak banyak berbicara. Karena dia sedang memikirkan sesuatu.
Tatapan mata Tya masih tertuju kepada Ryn. 'Jadi dia keponakan Nyonya Mary? Aku seperti pernah meilhatnya. Tapi di mana ya?' ia berusaha mengingat-ingat kejadian-kejadian yang terjadi, namun tidak bisa.
Pak Alden menyadari tatapan putrinya itu. Lalu ia mengenalkan Ryn di depannya. "Tya, kau masih ingat dengan seseorang yang aku ingin kau berteman dengannya? Ryn adalah orangnya." Ucap Pak Alden pada putrinya itu.
Tya yang tadinya menatap Ryn langsung tersadar. "Ah? Ya? Ooh, jadi dia orangnya ya?" Ucap Tya.
Ryn yang tadinya memikirkan sesuatu pun melirik Pak Alden dan Tya. Namanya disebut, tentu saja ia akan menyaut.
"Namaku Anastasya Nerissa Pradhipta, kamu bisa memanggilku Tasya. Salam kenal." Ucap Tya sambil menundukkan kepalanya.
Ryn mengangguk, "Kamu pastinya sudah mendengar namaku tadi. Tapi kuulangi lagi, namaku Avaryn Jhonesson. Kamu bisa memanggilku Avaryn atau Ryn saja. Salam kenal juga."
Pak Alden tersenyum. Ia menepuk punsak Ryn tang duduk di sampingnya. "Kalian mengobrollah. Oh ya, Ryn, makan saja yang ada di depanmu. Aku akan ada bersama para orang tua."
"Baik, Papa/Paman." Ucap Tya dan Ryn bersamaan.
Pak Alden pergi bergabung dengan Bu Selena dan Bibi Mary. Paman Albert juga sudah masuk ke dalam ruangan setelah mengangkat telpon sebentar.
Jendra yang sempat terbangun tadi kembali ditidurkan oleh ibunya, Selena.
Ruangan itu cukup besar. Bernuansa kunong emas. Sofa disusun letter U menghadap ke pintu. Di samping pintu itu juga terdapat televisi dan speaker.
Dari sudut pandang pintu, para orang tua adan tepat di depannya. Sedangkan Jendra ditidurkan di sofa bagian kanan. Telinganya ditutup dengan headphone yang tidak ada suara. Ryn dan Tya sendiri ada di sofa bagian kiri, dekat dengan TV.
Para orang tua itu mengobrol dan makan dengan meriah. Mereka bahkan tidak peduli kalau mereka sedang ada di restoran bintang lima. Toh, mereka teman. Dan juga dindingnya dibuat kedap suara.
Ryn dan Tya? Hmmm, mereka masih canggung. Tya menundukkan pandangannya, ia bingung mau bicara apa. Ponselnya juga tidak ia mainkan. Karena itu tidak sopan. Sedangkan Ryn, ia memikirkan bagaimana memulai pembicaraan.
"Tasya." Panggilnya.
"Ya?" Jawab Tya.
"Kamu masih kuliah kan? Kuliah di univ mana?"
"Universitas X."
"Universitas X? Aku juga kuliah di sana. Jurusan apa?"
"Kedokteran. Kamu juga kuliah di sana ya? Kalau kamu jurusan apa?"
"Manajemen Bisnis."
"Manajemen Bisnis? Sepertinya Bibimu ingin mengenalkanmu pada ayahku karena itu."
"Sepertinya iya."
Mereka terus mengobrol. Ternyata banyak hal yang mirip di antara mereka berdua. Juga, karena meraka berdua sama-sama orang yang easy-going.
Jam telah menunjukkan pukul 23:00 WIB. Tak terasa, sudah dua jam lebih meraka ada di sana. Berbagai makanan dan minuman juga sudah mereka santap.
Selena melihat jam. Wajah terkejutnya sangat terlihat. "Sekarang sudah jam 11 malam? Waktu berjalan dengan cepat sekali. Sangat tidak terasa." Ucapnya.
"Apa? Sudah jam segitu? Perasaan masih jam 10 malam...." Ucap Bibi Mary.
Pak Alden dan Paman Albert hanya mengangguk setuju. Ya.... Mereka biasa saja sih dengan kata "jam 11 malam", namun waktu memang berjalan dengan cepat.
"Uuh, padahal aku masih ingin berbicara banyak dengan kalian. Tapi memgingat anak-anak...." Bibi Mary melirik Jendra yangs udah tidur. Juga melirik Tya dan Ryn, kebetulan Tya sedang menuap.
"Ya, mereka harus pulang." Ucap Paman Albert.
Ia melirik Ryn yang masih terjaga. Tak terlihat tanda-tanda mengantuk di wajahnya. Hal itu membuat Paman Albert memiliki ide. "Bagaimana kalau Ryn mengantarkan Tya dan Jendra ke apartemen? Bukankah kalian tinggal di satu apartemen?"
Pak Alden langsung mengangguk setuju. "Benar, kita masih bisa di sini sampai pagi menjelang."
"Eh... Tapi Jendra? Bukankah dia masih sekolah dasar? Tidak apa-apa membiarkannya tidur sendirian?" Ucap Bibi Mary.
Bu Selena menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Jendra sudah terbiasa tidur sendiri walau masih kecil."
"Oooh, kalau begitu aku setuju dengan usulan Albert. Bagaimana dengan kalian? Ryn? Tya?"
Ryn dari tadi mendengarkan juga pembicaraan mereka. Walau ia sendiri sedang mengobrol dengan Tya. "Aku setuju-setuju saja."
Tya hanya mengangguk pelan. Ia sedikit mengantuk, namun masih bisa ia tahan.
"Bagus, kau pakai saja mobilku. Aku bisa pulang dengan Albert dan Mary." Ucap Pak Alden, melemparkan kunci mobil terbangnya ke arah Ryn.
Ryn menangkapnya dengan santai. "Baik." Ucapnya.
Lalu ia beranjak dari tempat duduknya. Iapun menggendong Jendra yang amsih tidur. Baru memberi isyarat ke Tya untuk pergi.
"Kami duluan ya, Paman, Bibi." Ucap Ryn.
"Ya, hati-hati di jalan." Ucap para orang tua bersamaan.
Tya tidak mengucapkan apa-apa. Ia hanya mengikuti Ryn keluar.
Pintu ruangan VIP 1 itu ditutup. Di dalam, para orang tua kembali makan dan mengobrol.
"Tasya, bisa kau tunjukkan di mana mobil keluargamu?" Tanya Ryn.
"Tentu." Jawab Tya singkat. Lalu mereka berjalan menuju parkiran mobil terbang.
Ryn mengambil kunci dari sakunya. Karena dengan itu ia bisa masuk tanpa sidik jari.
Ia meletakkan Jendra di kursi dan memasangkan sabuk pengamannya. Lalu mempersailahkan Tya masuk. Barulah ia sendiri masuk.
Merekapun pergi kembali ke gedung apartemen.
---
20 menit berlalu. Mereka bertiga sampai di parkiran mobil terbang gedung apartemen Y.
Ryn turun terlebih dahulu. Baru membuka pintu untuk Tya.
"Terimakasih." Ucap Tya saat turun.
Ryn hanya menanggapinya dengan senyum, lalu ia menggendong Jendra kembali.
Ryn mengunci mobil terbang itu. Lalu bertanya kepada Tya, "Tasya, bisa kau tunjukkan di mana ruangan Jendra?" Ucapnya.
"Ya, bisa. Apa Ryn tidak capek menggendong Jendra? Dia cukup berat loh." Tanya balik Tya.
"Tidak apa-apa. Dia tidak berat sama sekali."
"Baiklah kakau begitu. Ikuti aku ke ruangannya."
Merekapun berjalan masuk ke dalam gedung. Dengan Tya di depan dan Ryn yang sedang menggendong Jendra mengikutinya.