
Pak Hynra dengan sigap menahan tubuh Rein. "?! Penjaga! Panggil pemilik toko ini! Pak tua Doriya itu!"
"B-be-baik Tuan!" Penjaga itu langsung lari ke bagian belakang toko.
Tak lama kemudian, seorang Elf yang terlihat sudah sangat tua datang. Walau dia terlihat tua, namun dia masih bisa berlari ke tempat Rein pingsan.
"Ada apa ini, Hynra?" Tanya Pak Tua itu.
"Dia pingsan setelah memegang tongkat sihir itu. Jelaskan padaku Pak Tua, kenapa dia bisa pingsan hanya karena memegang tongkat itu?" Ucap Pak Hynra sambil menunjuk tongkat putih yang ada di lengan Rein itu.
"Apa?! Bagaimana bisa tongkat itu ada di sini?!" Pak tua Doriya menatap tajam penjaga tokonya.
"Ma-maafkan saya, Bos! Saya hanya mengambil tongkat di rak Elemen Netral saja." Ucap penjaga itu, gugup.
Pak tua Doriya menghela napas. "Dengar, Hynra. Tongkat itu tersegel. Aku sendiri tidak tau kenapa, dan bagaimana bisa tongkat itu ada di rak tongkat yang dijual. Tapi seharusnya dia akan baik-baik saja."
"Baiklah, kau harus menjaga ucapanmu itu. Jika dia terluka atau mati, aku akan membuat perhitungan denganmu, Doriya." Kini Pak Hynra menatap Pak tua Doriya dengan tajam dan nada bicaranya penuh ancaman.
"*Gulp* baiklah, Hynra."
---
Di sisi lain, sebuah ruangan hitam gelap.
Rein perlahan bangkit dari tidurnya. Kepalanya terasa sangat sakit. Iapun menyadari kalau ia tak dapat melihat apa-apa. "U-ugh.... Di mana ini?"
Dengan susah payah, Rein berdiri. Di saat itu juga ia menyadari di tangannya terdapat suatu hal.
"Huh? Sepertinya aku masih memegang tongkat sihir itu." Gumam Rein.
Ia melihat sekelilingnya. Hampa. Tak ada suara, barang, bahkan cahaya sedikitpun dalam ruangan itu.
Rein mencoba membuka panel hologramnya.
*Ting
'Berhasil!'
Rein kemudian mencari tombol log-out. Setekah berhasil, ia langsung menekan tombol itu. Namun, ia tak dapat keluar. Mau berapa kali pun ia menekan tombol itu, kesadarannya tetap tidak tertarik ke dunia nyata.
'Aneh sekali. Ini bukan dimensi khusus kan?'
Tiba-tiba, pandangannya kabur. Kesadarannya seakan tertarik ke suatu tempat.
Rein membuka matanya perlahan. Siluet seorang perempuan muncul di depannya. Perasaan familiar dapat ia rasakan. Namun ia tak dapat melihat dengan jelas wajah perempuan itu.
"Hei Arv! Jangan tertidur di sini! Ayo masuk!" Ucap perempuan itu, menarik tangan Rein yang baru saja terbangun.
"Huh? B-baiklah Lila." Ucap Rein, bangkit dari tidurnya karena ditarik perempuan itu. Dapat ia lihat kalau dia ada di sekitar hutan.
Namun dengan segera, Rein terkejut dengan dirinya sendiri. Di titik itu ia sadar, bahwa yang ditarik bukanlah tubuhnya. Yang ia rasakan sekarang adalah ingatan seseorang.
'Dia' atau 'Arv' pergi bersama perempuan itu. Terlihat, mereka bersenang-senang bersama di dekat hutan.
'Sepertinya perempuan itu teman masa kecil pemilik tubuh ini.' pikir Rein, melihat kebersamaan mereka.
Namun tiba-tiba, 'kepingan' ingatan itu berganti. Kini, tubuhnya lebih besar dari sebelumnya.
Namun pemandangan yang disuguhkan di sana sungguh menyeramkan dan menegangkan. Ia sekarang sedang berada di sebuah kota, tepatnya balkoni sebuah rumah. Kota itu ada di tengah hutan, seperti Desa Gres.
Daripada sebuah kota, lebih tepat disebut sebuah negara. Terdapat sangat banyak orang di sana dan hampir semua gedung dan rumah terbakar.
Hutan yang ada di sekeliling kota terbakar. Perlahan, api menjalar ke rumah-rumah warga. Hingga sampai ke rumah paling besar di kota itu, rumah'nya'.
Dapat ia rasakan, 'Arv' sedang ketakutan. Sangat ketakutan. Hingga tubuhnya bergetar hebat.
"AYAH!! IBU!! KAK AZRI!! KAK ERZA!!" Teriak 'Arv' melihat api mulai memasuki kamarnya. Ia tak dapat turun dari balkon, karena api juga membakar rumput yang ara di delan rumahnya.
"KYAAAA!!"
"TOLONG KAMI!!"
"AAAAAAAK SELAMATKAN KAMI!!"
Orang-orang di kota itu berteriak. Rumah mereka, toko mereka, lahan mereka, semuanya terbakar.
"Aku tak dapat membiarkan api ini begitu saja!"
'Arv' mengeluarkan tongkat sihirnya. Tongkat sihir yang sama dengan yang Rein lihat di toko. Tongkat sihir berwarna putih dengan permata biru di tengahnya.
"!!!"
*Groooaaaaar
Sebuah naga besar muncul di langit. Naga itu terlihat transparan, selerti ukiran es. Sangat indah namun mengintimidasi.
"!"
*Syuaaaaa
Air keluar dari naga es itu. Membuat api sedikit demi sedikit padam.
"!!"
Suara gemuruh awan muncul. Dan membuat awan hitam yang tebal. Butiran salju jatuh dari awan itu. Membantu agar api itu cepat padam.
Dibalik semua itu, Rein yang melihat semuanya menyadari sesuatu. 'Gawat! Dia semakin kehabisan Mana!'
Tubuh 'Arv' mulai terasa lelah. Staminanya juga semakin menipis.
"Ugh! Aku tidak tahan lagi! "
*Sriing
Sebuah lingkaran sihir besar ada di bawah kota itu, namun tidak mencangkup 'Arv' sendiri.
Semua penduduk kota 'Arv' teleportasikan ke kota terdekat. Sekarang, ia dapat menggunakan sihir tingkat tinggi tanpa mengkhawatirkan keselamatan penduduk.
"!! !!"
Lingkaran sihir biru besar muncul di batas bagian hutan yang terbakar. Lingkaran sihir itupun menjadi banyak karena mantra multiple. Hingga sanggup mengelilingi seluruh area yang terbakar.
""
*SWOOSH
Gelombang besar datang dari setiap lingkaran sihir itu. Membuat seluruh area yang terbakar menjadi padam. Namun dengan begitu gedung dab rumah warga juga hancur tak tersisa.
*Grrggrrrgrrr
Balkon itu bergetar. 'Arv' tau, kalau rumahnya akan segera rubuh.
""
Itu adalah mantra terakhir yang ia ucapkan. Sebelum, tubuhnya hilang terbawa arus.
Jiwa 'Arv' masih ada di negri itu. 'Setidaknya, semua penduduk itu masih dapat hidup dengan layak.' pikir 'Arv'.
Namun sayang, harapan 'Arv' tidak menjadi nyata. Terlihat dari 'kepingan' ingatan lain yang Rein lihat.
Penduduk-penduduk itu diperlakukan dengan sangat rendah oleh warga kota tempat mereka dikirim. Mereka semua sampai di kota yang berbeda-beda, namun perlakuan yang mereka dapatkan sebagian besar sama. Hanya beberapa orang beruntung yang terkirim ke kota berpenduduk ramah.
Mereka disiksa. Dikatakan makhluk rendahan. Makhluk terkutuk. Dan lain sebagainya oleh penduduk kota itu. Bahkan, kebanyakan dari mereka akhirnya menjadi budak.
Hingga Ras mereka punah di dunia itu.
Tak disangka, 'Arv' bereinkarnasi kembali. Ia menjadi seorang jenius di dunia itu.
Sekarang Rein sadar, kalau 'Arv' dalam kepingan ingatan yang ia lihat adalah, Arvias. Sang jenius yang ada di cerita awal.
Masih dengan tongkat yang sama, Arvias melindungi kaumnya dari serangan monster. Di saat yang bersamaan, ia juga menjadi seorang panglima perang.
Hingga akhirnya, dibangunlah dunia Ainhra.
Arvias meninggalkan satu pusakanya di dunia itu. Yaitu tongkat putih dengan permata biru itu. Yang sekarang ada di genggaman Rein.
'Jadi.... Tongkat ini sudah menemani Arvias selama dua kehidupan dan tiga dunia.' Rein menatap tongkat di tangannya dengan tatapan terkejut, kagum, dan disaat yang bersamaan, bingung.
"Bagaimana bisa tongkat ini ada di toko Desa Awal?" Gumamnya, tak mengalihkan pandangannya dari tongkat putih itu.
*Prok prok prok
Sura tepuk tangan terdengar entah dari mana. "Pertanyaan yang bagus nak." Ucap seseorang.
Rein mengalihkan pandangannya dari tongkat itu. Kemudian dengan perlahan ia memeriksa sekelilingnya. Namun ia tak bisa menemukan siapapun di sana. Kegelapan masih menyelimutinya.
"Maaf tuan, tapi siapa anda? Dan dimana anda sekarang?" Tamya Rein pada suara tak dikenal itu.
Tiba-tiba, muncul bintik-bintik cahaya di sekelilingnya. Cahaya-cahaya itu kemudian terbang ke depannya. Dan perlahan menyatu, membentuk sosok seorang pria.
Pria itu tampak masih muda, tidak jauh lebih tua dari Rein. Hanya saja, dari auranya Rein dapat tau kalau pria yang ada di depannya ini adalah orang yang kuat, sangat kuat. Namun di saat yang bersamaan hangat dan memberikan rasa nyaman.
"Maaf mengejutkanmu. Aku adalah Arvias, pemilik sebelumnya tongkat itu." Ucap pria itu dengan nada tenang.
"Tuan Arv...ias? Pemilik sebelumnya dari tongkat ini? Kalau begitu, pastinya anda memiliki alasan kenapa aku sekarang di sini." Ucap Rein, tak menunjukkan rasa takut. Karena ia tau, pria itu tak akan menyerangnya.
"Benar, Avaryn."
'???!!! Pria ini tau nama asliku?'
Rein menjadi waspada. Selama ini di Ainhra Online, ia tak pernah mengatakan nama aslinya pada siapapun. Sehingga fakta bahwa Arvias mengetahuinya tidak dapat ia terima.
"Jangan takut. Aku tau namamu karena aku adalah salah satu dari orang yang membangun dunia ini, Ainhra ini. Bersama dengan 4 temanku yang lain." Ucap Arvias, mencoba meyakinkan Rein untuk tidak terlalu waspada terhadapnya.
'.... Dapat diterima. Tapi....'
"Apa maksud anda 'Dengan 4 temanku yang lain'. Bukankah hanya ada 4 orang yang membangun Ainhra? Kenapa dari perkataan anda, terdapat 5 orang?" Tanya Rein, ia sangat penasaran akan hal itu.
Wajah pria itu menunjukkan kesedihan. Rein yang menyadari hal itu langsung mengatakan, "tidak apa-apa kalau Tuan tidak mau menjawabnya! Saya hanya penasaran, jika anda tidak mau membeberkan alasannya, saya tidak masalah."
Arvias menggelengkan kepalanya. "Aku memang mau memberitahumu tentang hal itu. Salah satu temanku. Si tengil itu, huft, dia telah dipengaruhi oleh kegelapan.
Hal itu membuat ia dan bangsanya menjadi kuat, namun di saat yang bersamaan membuatnya menjadi kehilangan akalnya. Seharusnya, dari penjelasanku itu kau tau bangsa mana."
"Satu-satunya bangsa yang tidak memiliki akal namun sangat kuat, Bangsa Monster."
"Benar sekali, Avaryn. Oleh karena itu Bangsa Monster tidak berkurang. Dan malahan, sejak ledakan mana dua malam yang lalu, Bangsa Monster sama sekali tidak berkurang, dan terus muncul di areanya."
Rein hampir tidak percaya dengan perkataan Arvias. "Tidak berkurang? Bagaimana bisa? Hanya karena ledakan Mana itu?"
Arvias menghela napasnya. "Ya. Karena itu, aku akan menceritakan sebuah kisah. Apa kau mau mendengarnya?"
Rein terlihat berpikir sebentar. Lalu akhirnya ia memutuskan untuk menerima tawaran Arvias.
"Tentu, Tuan Arvias."