
Sepuluh butir koin emas K berikan kepada pria itu sebagai imbalan atas bantuannya menemukan Stein.
Dia lalu mendekati pria yang tampaknya memiliki usia yang sama dengan Federick.
Klik!
K sama sekali tak terkejut ketika Stein berbalik sambil menodongkan senjata laras panjang di kepalanya.
Hal tersebut sangat normal dilakukan oleh seseorang yang tiba-tiba didekati oleh orang asing seperti yang tengah dilakukan oleh K sekarang.
Lagipula sudah terlalu banyak K berada di kondisi yang serupa hingga todongan sebuah senjata sama sekali tak membuatnya takut.
Stein memicingkan matanya. Dia mengamati K dengan seksama setelah yakin bahwa dirinya tak pernah bertemu dengan pria di hadapannya ini sebelumnya.
"Siapa kau?"
"Tampaknya Tuan Federick merekomendasikan orang yang tepat."
"Federick?"
Mendengar nama sang sahabat disebut, Stein pun langsung menurunkan senjatanya.
Dia lalu teringat sesuatu sehingga merangkul bahu K dan bicara dengan setengah berbisik.
"Sungguh kau dikirim oleh Federick?! Itu artinya kau adalah salah satu senjata bernyawa yang ku ceritakan tempo hari!"
"Senjata bernyawa? Apa.."
"Tunggu-tunggu!"
Stein lantas melihat sekeliling dimana sekarang di dalam ruangan itu sedang ramai pengunjung.
Dia lalu mengajak K untuk pergi ke ruangan pribadinya di lantai dua.
Ceklik!
"Baiklah! Kita bisa bicara dengan bebas di sini! Jika kau memang dikirim oleh Federick, berarti kau salah satu dari mereka, bukan?!"
"Mereka siapa?"
"K dan Q! Benar, kan?! Jadi kau ini K atau Q?"
"Apa Tuan Federick tidak menjelaskannya di telepon?"
"Ah.. Pria itu selalu menjelaskan sesuatu dengan setengah-setengah dan hal tersebut sangat lah menyebalkan. Karena itu aku menanyakannya secara langsung padamu tuan..?"
"Aha! Akhirnya aku bertemu dengan salah satu dari dua legenda petarung yang terkenal itu! Kau tidak tahu bahwa telah lama ku nantikan momen ini!"
..
Stein pun melirik ke arah K dimana pria tampan itu hanya diam sambil memperhatikannya.
(Dia lebih pendiam dari yang kukira!)
"Ehem.. Maafkan aku. Aku terlalu antusias dengan pertemuan ini sehingga mengesampingkan tujuan awalmu yang jauh-jauh mencari ku sampai ke tempat ini. Jadi apa yang bisa ku bantu?"
"Aku membutuhkan detektor bom."
Stein pun mengangguk dan tanpa basa basi lagi dia menggeser salah satu dinding dimana setelah dinding itu terbuka, K melihat berbagai macam persenjataan di dalam sana.
Senjata yang ada di dalam dinding rahasia itu bahkan mengalahkan koleksi senjata yang terpajang di ruang bawah tanah rumah Federick.
Stein kemudian menuju ke salah satu brankas besar di ruangan itu. Diapun mengambil sebuah pena untuk diberikan pada K.
"Apa ini?"
"Detektor bom."
"Di dalam sebuah pena?"
"Ya. Ku lihat sepertinya kau mempunyai pengalaman buruk dengan bom yang ku yakini bahwa hal itu adalah ulah dari Salvador. Jika demikian, maka detektor bom berukuran normal seperti yang beredar di pasaran akan merepotkan dirimu karena harus membawanya ke mana-mana. Karena itu kuberikan yang sudah ku modifikasi untuk memudahkan pekerjaanmu."
K lalu tak sengaja menekan tombol kecil yang berada di ujung pena dan sebuah sinar berwarna hijau pun menyala.
Melihat K yang tidak berkomentar serta gelagat dari pria itu yang tengah melihat detektor bomnya dengan alis berkerut, sontak membuat Stein bicara kembali.
"Hei.. Jangan meremehkan benda kecil itu, Tuan K.."
"Aku tidak meremehkannya. Aku bahkan tidak berkomentar sama sekali."
"Tapi ekspresimu itu seolah mengatakan bahwa aku membual! Ketahuilah! Walau kecil, pena ini bisa mendeteksi bom yang berjarak seratus meter darinya! Ini merupakan salah satu maha karyaku yang tak sembarang orang bisa menyentuhnya!"
"Ya ya.. Aku percaya."
"Lalu mengapa kau masih berekspresi seperti itu?"
"Aku hanya berpikir, bisakah kau membuat turet laser juga?"
"Hmm.. Apa kau sedang menguji pria tua ini, Tuan K?"