A Tale Of 'K&Q'

A Tale Of 'K&Q'
Permintaan



"Arnold.."


"Jawab pertanyaanku! Ini bukan pertama kalinya aku melihat mereka berdua terluka! Bahkan kali ini luka mereka lebih parah daripada yang sebelumnya! Perjanjian macam apa yang telah kalian sepakati hingga mereka mau mempertaruhkan nyawa demi negara orang lain?!"


Arnold yang biasanya merupakan sosok yang cukup tenang sudah tak bisa membendung kemarahannya.


Ditambah lagi gadis yang dia rindukan selama ini tiba-tiba muncul dengan kondisi yang hampir mati.


"Arnold.."


"Sebesar apapun masalah yang melanda Astoria, tidak seharusnya kau membuat orang lain yang menjadi korban! Bagaimana bisa.."


"Tenanglah!"


Suara tegas yang terucap dari bibir Federick itupun membuat Arnold tak meneruskan kalimatnya.


Pria tua itu lantas memegang kedua bahu Arnold sambil menatapnya dengan sorot mata sedih.


"Jika saja aku bisa menangkap para bedebah itu dengan tanganku sendiri. Jika saja mereka tak membantai para prajuritku. Jika saja mereka hanya penjahat biasa. Percayalah Arnold.. Jika semua yang telah kukatakan tadi adalah kenyataannya, maka aku tak akan pernah mencari kedua orang ini hingga ke negeri seberang. Aku pun tak ingin mengambil resiko dengan memberitahu orang awam sepertimu tentang apa dan mengapa Astoria begitu mencekam belakangan ini."


"Beritahu saja, Tuan Federick!"


"Tidak."


"Mengapa?! Apa kau takut mereka akan membunuhku jika aku tahu apa yang terjadi?! Ku beritahu padamu, aku sama sekali tak takut pada mereka dan aku tak takut mati!"


"Kau tak mengerti tentang apa yang sedang kau bicarakan ini, Arnold."


"Karena itu beritahu aku agar aku mengerti!"


"Ah.."


Sontak hal tersebut membuat kedua pria yang tengah berdebat itupun segera menghampirinya.


"Nona Q? Bagaimana keadaanmu? Apa yang kau rasakan?"


"Kau masih harus berbaring, Nona Q! Tulang bahumu belum tersambung kembali!"


Q lalu menatap Arnold dengan mata birunya yang indah. Dia pun tersenyum walau sebenarnya senyuman itu sedikit dipaksakan.


"Apa tersenyum juga bisa menyebabkan tulang bahuku terluka, dokter?"


Perkataan santai dari Q tersebut membuat Federick menjadi takjub. Namun hal itu berbanding terbalik dengan Arnold yang amarahnya kembali tersulut.


"Bagaimana bisa kau masih tersenyum padahal mendapat luka separah ini?! Apa kau kebal terhadap rasa sakit?! Apa kau kira menyambung tulang itu bisa dilakukan dengan menggunakan lem?! Apa kau tidak kuatir bahwa nyawamu akan melayang jika terjadi infeksi karena serpihan-serpihan tulang di bahumu itu tak segera diambil?!"


Q pun membelai pipi Arnold yang membuat pria itu berhenti bicara. Jemari Q lalu mengusap bibir Arnold dengan lembut sejengkal demi sejengkal.


"Maaf."


Satu kata yang keluar dari bibir Q itu rupanya mampu memusnahkan amarah Arnold yang meluap-luap.


Dia pun memejamkan mata dan menikmati sentuhan jemari Q yang berjalan-jalan menjelajahi bibirnya.


"Aku tak pernah mengkhawatirkan diriku semenjak mengenalmu, Arnold. Justru aku lebih mengkhawatirkan keselamatanmu jika mereka mengetahui bahwa kau terlibat denganku, Tuan K, dan Tuan Federick. Dengarkan apa kata Tuan Federick. Bantulah dia dengan tidak memaksanya untuk mengatakan sesuatu yang memang tak seharusnya kau ketahui. Aku masih memerlukan bantuanmu sehingga kau harus tetap hidup sampai aku menyelesaikan urusanku. Tak hanya dirimu, bahkan aku juga meminta hal serupa pada Tuan Federick. Tenang, jangan mencari tahu apa yang terjadi, dan jangan katakan pada siapapun bahwa kau mengenalku dan Tuan K. Jadi bisakah kau melakukan hal itu, Arnold?"


Arnold membuka matanya. Dia memandang mata biru dihadapannya itu lekat-lekat sebelum menjawab pertanyaan dari Q.


"Mengapa aku selalu tak bisa menolak permintaanmu?"