
"Selamat datang bos!"
Sekitar tiga puluh orang yang berada di ruangan itu langsung berdiri untuk menyambut seseorang yang memasuki ruangan.
Sosok itu berjalan santai saat menuju ke kursi besar yang khusus disediakan untuknya.
Tap!
Diapun tiba-tiba berhenti di depan salah satu pria yang tampak menunduk.
"Gagal?"
"Maafkan aku bos!"
"Hah.. Anak buah yang terlatih, persenjataan, bahkan tempat untuk berkamuflase. Aku telah mengabulkan semua permintaanmu. Tapi mengapa masih selalu gagal? Sayang sekali.."
Sosok itu lantas menodongkan pistol ke kepala pria yang dia ajak bicara. Sorot matanya bahkan menunjukkan bahwa nyawa orang di hadapannya itu sama sekali tidak berharga.
"Bos.."
"Kau sudah mendengar sendiri pengakuan tentang kegagalannya itu dan masih mau membelanya, Lucas?"
Lucas pun menghela napas. Tangannya juga masih memegang moncong pistol dari bos yang mulai menunjukkan kekesalannya.
"Kau tahu betul aku bukanlah orang yang bermurah hati. Tapi bos coba pikirkan lagi. Jika kau terus membunuh orang-orang kita yang gagal saat menjalankan misi, lalu siapa yang akan bekerja denganku? Kau tahu kan betapa tidak mudahnya merekrut orang terlatih yang tidak takut mati seperti orang-orang Federick?"
"Haish.. Astorian bukan lawan yang sulit bagiku. Lagipula jumlah mereka sudah berkurang jauh saat ku ledakkan bom di beberapa kota di negara ini. Jadi apa yang harus ku takutkan?"
Sang bos pun urung menembak anak buahnya. Dia lalu berjalan ke kursinya dan duduk sambil menyalakan rokok.
"Aku tidak membicarakan tentang Astorian."
"Keluar."
Semua orang yang berada di sana pun bergegas keluar saat mendengar instruksi itu.
"Bukan Astorian? Apa maksudmu?"
"Kau ingat tentang penyerangan markas kita yang berada di Suiden? Aku pergi kesana secepat mungkin saat menerima kabar itu dan kutemukan semua anak buah kita terkapar di tanah. Saat kutanya tentang siapa pelakunya, mereka semua menjawab bahwa penyerangan itu dilakukan oleh dua orang."
"Apa?! Mengapa kau tidak melaporkan hal itu padaku?!"
"Hah?!"
Sang bos begitu terkejut mendengar penjelasan panjang lebar itu dari Lucas.
"Lalu mengapa kau bisa yakin bahwa mereka adalah orang-orang Federick?"
"Karena aku melihat mereka berusaha menyelamatkan Federick ketika berada di Zoya."
"Berarti kau tahu wajah mereka, bukan?! Tunggu apalagi, segera cari dan bunuh mereka!"
"Bos.. Aku memang melihatnya, namun aku rasa itu bukan wajah asli mereka. Aku melihat gerak gerik mereka dari jauh dan bisa disimpulkan bahwa mereka profesional. Apa kau pikir seorang profesional akan dengan mudah menunjukkan wajah aslinya di depan umum? Tidak bos! Tidak semudah itu.."
Alis sang bos pun berkerut. Dia lalu berjalan mondar mandor di depan Lucas hingga membuat pria itu terdiam karena bingung.
"Sial! Apa baru Suiden saja yang diserang?"
"Benar."
"Berarti markas kita yang lain masih belum terendus oleh mereka termasuk tempat ini, bukan?"
"Kurasa begitu mengingat sampai sekarang tempat ini masih dalam keadaan tenang."
"Bagus. Kalau begitu aku mau kau tingkatkan penjagaan di markas kita yang tersisa. Setiap orang yang masuk maupun keluar harus menunjukkan 'itu'. Jika tak bisa menunjukkannya, langsung tembak karena bisa jadi mereka telah berada di dalam markas."
"Aku mengerti."
Lucas pun undur diri untuk segera menginformasikan hal tersebut ke markas Salvador yang lain.
Dia lalu mengajak beberapa orang untuk ikut dengannya termasuk salah satu orang yang tengah mengelap mobil.
"Amore."
"Baik, tuan."
Orang itu lalu menutup pintu saat Lucas sudah masuk ke dalam mobil. Diapun bergegas menuju kursi pengemudi.
"Tolong gunakan sabuk pengaman mu tuan."
"Tak perlu." jawab Lucas sambil melihat ke kaca depan mobil dimana sepasang mata berwarna biru tengah menatapnya.