A Tale Of 'K&Q'

A Tale Of 'K&Q'
Insting



"Hei, Tuan K.."


Melihat pria tampan itu yang hanya bergeming, Q pun tak kuasa menahan tawa.


"Ahaha.. Apa yang sedang kau pikirkan, Tuan K? Mengapa kau tiba-tiba membalikkan badan seperti itu?"


"Diam."


"Astaga.. Apakah sekarang punggungmu bisa berbicara hingga aku harus bicara dengannya? Hai punggung.. Wah kau terlihat sangat lebar jika dilihat dari sudut pandang ini."


"Jadi kau lebih suka aku berbalik dan melihatmu tanpa busana?"


"Hah? Aku tidak berbusana? Oh, ayolah! Aku tak tahu kau menganggap ku segila itu, Tuan K. Berbalik lah dahulu sebelum berasumsi!"


K pun akhirnya berbalik perlahan dan rupanya sang rekan masih memakai pakaian di tubuhnya.


Hanya baju bagian luarnya saja yang Q tanggalkan dan gadis itu masih memakai pakaian walau dengan model tanpa lengan.


Q masih terkekeh lalu duduk sambil menyiramkan sebotol cairan ke tubuhnya. Segera setelahnya, mulailah terlihat luka-luka di beberapa bagian tubuh Q yang memerah.


"Apakah luka itu berasal dari pertarungan di hutan lalu?"


"Ya."


"Mengapa kau begitu ceroboh, Nona Q?! Bagaimana bisa luka sebanyak itu tercetak di tubuhmu padahal kau begitu lincah saat bergerak!"


"Ah.. Kau masih memarahiku bahkan setelah melihat rekanmu terluka seperti ini? Kau benar-benar sungguh tak berperasaan.!"


Q terus mengomel sambil mengoleskan obat di atas lukanya. Ada satu atau dua luka yang terletak persis di tengah punggung Q dan karena tangan gadis itu tergolong kecil, dia sedikit kesulitan menjangkau sisi itu.


Beberapa detik kemudian Q terdiam ketika sebuah sentuhan mendarat lembut di bahunya.


Wajah tampan K pun melintas begitu saja saat Q menoleh ke samping sehingga dia bisa melihat dengan jelas bentuk rupawan sang partner dari jarak yang begitu dekat.


Q masih terpaku menatap K hingga tak sadar bahwa peralatan medis yang dia bawa telah berpindah tangan.


...


"Mengapa kau memaksa ingin mengobati luka ini sendirian padahal kau bisa meminta bantuanku.? Lihat? Jangankan untuk mengobati, tangan mungilmu itu bahkan tak dapat menjangkau luka ini. "


"Salvador sudah cukup merepotkan mu. Aku tak ingin masalah luka kecil ini juga turut membebani dirimu."


K hanya diam mendengar ucapan dari Q. Bukan karena ucapan dari gadis itu tentang Salvador, namun fokus K justru tertuju pada luka-luka di bahu dan punggung Q.


(Sudah berapa lama kau hidup seperti ini Nona Q, hingga ada begitu banyak bekas luka di tubuhmu?)


"Tentang Salvador."


K lantas tersadar dari lamunannya begitu Q menyinggung kembali tentang Salvador.


"Kenapa? "


"Aku rasa pria yang kutemui tadi akan memberikan sedikit petunjuk."


"Pria yang mana? "


"Sang penyelenggara pesta, Lucas. Aku tak tahu apakah kau percaya pada sebuah insting. Tapi Tuan K, aku selalu mempercayai insting ku dan dia mengatakan bahwa pria itu akan menuntun kita selangkah lebih dekat dengan Salvador."


Mendengar hal tersebut, K pun di dalam hati membenarkan ucapan Q.


"Kalau begitu akan kucari dimana pria itu tinggal. Jika dugaanmu benar, aku pasti akan mendapatkan sesuatu yang menarik di kediamannya."


"Berikan tugas itu padaku. Aku rasa akan lebih mudah jika aku yang mencari tahu karena sepertinya dia lemah terhadap wanita."


"Dan membiarkannya menciummu dengan sesuka hati? Jangan harap, Nona Q."


Spontan K mengatakan hal tersebut setelah melihat ada sebuah bekas merah di leher Q yang pastinya merupakan bekas ciuman.


"Kau kesal?"