
"Apa yang kau punya?"
Lucas pun tersenyum mendengar pertanyaan itu. Dia lalu meneguk minuman yang tanpa dia ketahui Q telah menambahkan obat bius dengan sedikit halusinogen ke dalamnya beberapa saat tadi.
"Bangunan megah, perhiasan, relasi, dan kekuasaan. Apakah semua itu masih belum cukup bagimu, Lucy?
Q pun beranjak ke arah jendela sambil berpura-pura meneguk minumannya.
Melihat betapa cantiknya Q yang wajahnya disinari oleh sinar bulan membuat Lucas tak dapat membendung ketertarikannya terhadap gadis itu.
Q lalu melirik ke arah Lucas yang berjalan terhuyung-huyung ke arahnya.
(Oh.. Obatnya sudah bekerja)
Pluk!
Lucas lantas memeluk Q dan menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu.
"Rupanya aku yang terseret dalam permainanmu, cantik." ucap Lucas sambil mencium leher Q.
"Bukankah kau yang memulai permainan ini, Lucas?"
Lucas pun tersenyum. Tak dapat dipungkiri dia begitu tertarik dengan gadis di hadapannya itu. Bahkan kecerdasan dari Q semakin menjerat Lucas ke dalam hasrat yang dinamakan cinta pada pandangan pertama.
Q lalu membalikkan tubuhnya yang membuat Lucas hampir mencuri sebuah ciuman dari gadis itu.
"Hmm.. Tidak semudah itu, tampan." ucap Q sambil menutup bibir Lucas dengan jemari lentiknya.
"Apa yang harus kulakukan untuk mendapatkan bibirmu?"
"Ah.. Sebuah liontin akan terlihat bagus di sini. Tentunya aku ingin liontin itu memiliki ciri khas yang bisa mengingatkanku padamu."
Dalam pandangan yang buram, Lucas melihat leher jenjang yang ditunjuk oleh Q. Pria itupun tersenyum.
"Kepala naga."
Q lantas memandang Lucas yang semakin tak bisa mengontrol kesadarannya.
Gadis cantik itu tahu bahwa obat yang dia berikan telah bekerja secara sempurna sehingga tercetuslah sebuah ide untuk lebih menggali informasi lebih jauh dari Lucas.
"Kepala naga akan sangat bagus untuk liontinku. Tapi mengapa kepala naga itu akan mengingatkanku padamu, Lucas? Apakah itu semacam simbol keluarga atau mungkin simbol organisasi rahasia?"
"Kepala naga.. aku.. Oh.. kau sungguh.."
Bruk!
Q hanya bisa menghela napas sambil menatap tubuh Lucas yang ambruk di atas lantai. Dia lalu berjongkok dan menepuk-nepuk pipi pria itu.
"Lucas? Oh, ayolah.."
**
"Astaga.."
Sepanjang perjalanannya kembali ke kandang kuda yang kini telah menjadi tempat persembunyiannya, Q terus mendengus kesal.
"Apakah aku terlalu banyak menaruh obat bius di minuman Lucas? Kenapa dia cepat sekali roboh?! Aku bahkan belum mendapatkan informasi apapun darinya!"
Kriet..
"Tuan K, aku tahu kau pasti akan memarahiku. Tapi aku sudah berusaha menggali informasi dari.."
Mata Q seketika terbelalak saat melihat pemandangan yang ada di dalam kandang kuda. K tengah mengacungkan pistol ke arah Federick dan dari wajah K terlihat jelas bahwa pria itu tengah menahan amarah.
"Apa tujuanmu sebenarnya jika ternyata kau sendirilah yang berada di balik semua ini?!"
"Sudah kukatakan padamu bahwa kau salah paham, Tuan K! Aku datang ke pesta itu karena mendapatkan undangan, tidak lebih!"
"Tuan K, tenangkan dirimu.." ucap Q sambil berusaha menenangkan sang partner.
K pun dengan paksa menarik kerah kemeja Federick yang ternyata pria tua itu tengah memakai liontin.
Ketika Q memperhatikan lebih jauh, liontin itu adalah jenis liontin yang berpasangan.
K segera menjajarkan liontin yang ditemukan oleh Q dengan liontin Federick kemudian menjajarkan kedua liontin itu yang rupanya benar-benar berpasangan.
"Bagaimana kau menjelaskan tentang ini, Tuan Federick?!"