A Tale Of 'K&Q'

A Tale Of 'K&Q'
Memulai Permainan



Puk puk..


Q menepuk pipi K beberapa kali untuk menyadarkan pria itu. Namun karena K tak bergeming, sang partner lantas melakukan apa yang biasa dia lakukan.


"Ought! Sepertinya menarik rambutku sudah menjadi salah satu kesenanganmu, Nona Q."


"Tentu! Lagipula kenapa kau terus menatapku? Kau jadi membuatku takut!"


"Hipnotis. Kau menguasai hipnotis. Apa aku benar?"


"Hmm.. Aku terkesan kau tahu salah satu keahlianku itu, Tuan K. Tapi bagaimana kau bisa tahu sedangkan aku tak pernah mengatakannya?"


"Karena kau baru saja melakukan keahlianmu itu."


"Kapan?"


"Saat menari."


"Menari?"


Q pun menyilangkan kedua tangan sambil menyandarkan tubuhnya di batang pohon.


Dia lalu melihat sekeliling untuk memastikan bahwa di tempatnya sekarang hanya ada dirinya dan K.


"Sebenarnya Tuan K, hipnotisku bukan terletak pada gerakan tubuh terutama tarian."


Gadis cantik itupun mengarahkan jari telunjuk ke salah satu matanya. Dia lalu melepaskan lensa kontak yang dia pakai.


"Aku menggunakan hipnotis lewat bagian dari tubuhku yang paling indah, mata. Dan seperti yang kau lihat, saat ini aku sedang memakai lensa kontak sehingga praktis aku belum melakukan hipnotis apapun. Karena itu aku takjub kau bisa mengetahuinya padahal aku belum melakukannya."


Perkataan Q tersebut tentu membuat K terkejut. Jika memang Q belum melakukan hipnotis, lalu mengapa dia tak dapat memalingkan wajahnya barang sedetikpun ketika Q menari?


Melihat K yang sibuk dengan kebingungannya, Q pun tersenyum. Dia lalu memakai kembali sebelah lensa kontaknya.


"Sejujurnya aku pun bertanya-tanya mengapa kau tiba-tiba tertarik untuk ikut menari bersamaku, Tuan K. Tapi apapun alasannya aku baru tahu bahwa kau penari yang hebat. Mungkin lain kali kau bisa menyamar sebagai penari juga. Ha ha.."


Gadis cantik itu lalu menunjuk kantong celana K dimana dia menyimpan liontin yang kemarin Q berikan. Dia lalu berbalik kembali menuju pesta untuk melanjutkan rencananya.


(Hati tidak bisa dibohongi, Tuan K.. Jika kau terus menyangkalnya, kau akan semakin terjebak di dalamnya)


"Jadi kau menerima pesanku?"


Lucas masuk ke dalam ruangan dimana di sana sudah ada Q yang menunggu. Pria itupun tersenyum melihat gadis yang sedari tadi diincarnya kini telah berdiri di hadapannya.


"Kau punya selera yang bagus terhadap tata ruang."


"Tak hanya tata ruang, aku juga memiliki selera yang bagus dalam memilih gadis." ucap Lucas sambil mencium tangan Q.


Lucas lalu membimbing Q menuju meja makan. Rupanya pria itu telah mempersiapkan berbagai macam hidangan untuk menyambut sang tamu.


"Aku sudah sering melihat tarian dari berbagai tempat. Tapi aku baru melihat tarian yang seanggun dan seindah tarianmu tadi. Kalau boleh kutahu, darimana kau belajar gerakan-gerakan indah itu?"


"Jika aku memberitahumu, apakah kau akan mengikuti kelas tari itu?"


"Ha ha ha.. Selain cantik, selera humormu juga mengagumkan nona.."


"Lucy."


"Senang bisa berbincang denganmu, Nona Lucy. Kau bisa memanggilku Lucas saja karena sepertinya usia kita tak berbeda jauh. Aku harap kau menikmati hidangan yang ku suguhkan."


Q pun tersenyum. Dia lalu meneguk minuman di hadapannya dan segera tahu bahwa minuman itu dicampur dengan sesuatu.


(Ah.. Rupanya kau ingin bermain denganku..)


"Hmm.. Dilihat dari penampilan dan caramu berbicara, bisa ku tebak bahwa kau bukan orang sembarang. Benar begitu, Lucas?"


"Kau terlalu memuji.. Kenyataannya aku hanya seorang pebisnis biasa."


"Sungguh? Jadi pebisnis biasa ini mempunyai ballroom pribadi megah dan juga bisa menyelenggarakan pesta yang begitu mewah dengan para tamu yang rata-rata adalah miliarder? Kau sungguh sangat biasa.."


Ucapan Q tersebut membuat Lucas semakin tertarik padanya. Setiap kata yang keluar dari bibir Q berhasil membuat Lucas berpikir bahwa gadis itu memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata.


Hal itulah yang membuat Lucas semakin mencondongkan tubuhnya ke arah Q.


"Katakan apa yang kau inginkan?"