A Tale Of 'K&Q'

A Tale Of 'K&Q'
Sulit Dimengerti



K pun memilih untuk tidak menanggapi pertanyaan dari Q.


Kesal? Tentu saja dia kesal. Setelah Arnold kini muncul pria lain yang bahkan berani mencium bagian tubuh Q.


"Seharusnya kau tak perlu sampai sejauh itu."


"Itu hanya ciuman yang tak berarti bagiku, Tuan K."


"Tak berarti?"


K lantas menghentikan pergerakan tangannya yang sedang mengobati luka Q.


"Jadi maksudmu kau akan berciuman dengan pria manapun, begitu? Kau merelakan bibirmu bersentuhan dengan pria-pria itu?"


"Ya.. Sebenarnya bisa lebih."


"Lebih?! Kau sudah gila?! Kau akan melakukan yang lebih dari sebuah ciuman dengan sembarang pria termasuk tidur dengan mereka?!"


"Ah.. Tidur dengan mereka? Mengapa aku tak pernah memikirkan ide itu sebelumnya? Idemu benar-benar bagus, Tuan K. Tentu aku bisa dengan cepat menggali informasi dari pria-pria yang tidur denganku, bukan? Aku perlu mencobanya.."


Grab!


Kedua tangan K sontak mencengkeram bahu Q yang duduk memunggunginya. Q bahkan bisa merasakan getaran yang cukup kuat dari cengkeraman tangan K.


(Dia marah?)


"Jangan menguji kesabaranku, Nona Q."


Q yang kini tersenyum kecil pun menyentuh salah satu tangan K yang berada di bahunya.


"Bagian ini baru saja berlubang dan belum sembuh sepenuhnya, Tuan K. Mungkin akan berdarah lagi jika kau mencengkeram ku sekuat ini."


Q lalu memutar badannya sehingga kini dia dan K saling berhadapan. Gadis itu masih tersenyum sambil memperhatikan K yang tertunduk.


"Mengapa aku harus memakai tubuhku jika dengan hanya melihat mataku saja para laki-laki sudah bertekuk lutut di hadapanku? Aku memang gila dan orang-orang yang pernah memakai jasaku pasti tahu bahwa aku akan menggunakan cara apapun untuk mendapatkan yang kuinginkan. Tapi percaya atau tidak, baru kaulah laki-laki yang ku ijinkan untuk melihat punggungku tanpa dibatasi oleh selembar kain."


Mendengar hal tersebut, K pun perlahan mengangkat kepalanya yang segera disambut oleh senyuman manis dari sang rekan.


"Mengapa kau sangat marah?"


Whuss..


Kuatnya hembusan angin tersebut membuat lilin yang menyala seketika menjadi padam. Suara petir yang disertai badai yang menerjang setelahnya pun membuat Q terkejut hingga refleks membuat matanya membulat.


Beberapa detik kemudian terdengar suara korek api yang dinyalakan disusul dengan munculnya cahaya kecil dari korek yang berhasil mengeluarkan api.


"Tuan K?"


Q mengartikan tatapan mata K yang menggambarkan bahwa sang empunya kaget dan bingung. Namun gadis itu juga melihat ada sedikit kebahagiaan dari sorot mata sang rekan.


"Tuan K?"


Pria itu masih diam yang membuat Q berniat untuk melakukan sesuatu yang biasa dia lakukan jika K dalam kondisi seperti sekarang.


"Kali ini aku tak akan membiarkanmu melakukannya." ucap K sambil menahan tangan Q yang sudah akan menarik rambutnya.


"Hentikan kebiasaanmu yang tiba-tiba mematung seperti itu, Tuan K! Kau sungguh membuatku takut!"


K pun langsung berdiri dan pergi begitu saja.


"Ada apa dengannya?"


**


Mata tua yang sudah letih itu menerawang jauh. Diantara tumpukan buku dan ditemani dengan cahaya redup dari lampu meja di sampingnya, Federick terus asyik menjelajahi pikirannya.


Kenangannya bersama sang istri tercinta terlalu sulit untuk dia lupakan begitu saja hingga dia bisa duduk selama berjam-jam karena teringat akan kenangan itu.


Federick lalu membuka kotak dimana di dalamnya terdapat sepasang liontin. Kening pria itupun mengernyit saat mencoba mengingat momen ketika benda berkilau tersebut dikirimkan.


"Ah! Mengapa tak terpikirkan olehku sebelumnya?!"


Federick kemudian meraih gagang telepon dan menekan beberapa angka.


Tuut..


...


Tuut..


...


"Mengapa tidak ada yang menjawab?"


Komandan Astoria itu lalu meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya. Dia baru ingat bahwa saat ini hampir tengah malam yang artinya semua kantor pasti sudah tutup.


"Baiklah! Jika tebakanku benar, besok aku akan mendapatkan sesuatu dari tempat itu!"