A Tale Of 'K&Q'

A Tale Of 'K&Q'
Menyerah



Q masih belum menyadari bahwa K telah siuman sehingga dia tetap bicara sendiri sambil menggenggam tangan sang partner.


"Aku sudah terbiasa terluka di bagian manapun pada tubuhku. Jadi tak masalah bagiku untuk terluka lagi. Mengapa kau malah melindungi ku? Lihatlah bagaimana perban ini membungkus kepala dan wajahmu yang tam..pan? Tuan K?"


Saat Q menoleh pada K, saat itulah dia baru menyadari bahwa pria tersebut telah membuka matanya.


Mata itu begitu sayu. K pun hanya menatap Q yang didalam pandangannya saat ini, wajah Q terlihat buram.


Hanya semerbak wangi mawar lah yang tercium dengan jelas dari gadis cantik itu.


Namun entah mengapa hati K begitu tenang ketika tahu bahwa Q lah orang pertama yang dia lihat saat terbangun dari tidur panjangnya.


Hal tersebut sontak membuat K tersenyum sembari masih tetap setia menatap Q.


(Syukurlah kau baik-baik saja)


Berbeda dengan K, Q justru membulatkan matanya dan spontan membelai kembali pipi K.


"K-kau tersenyum? Tuan K? Kau sedang tersenyum padaku?"


Pria tampan itu ingin sekali tertawa saat mendengar pertanyaan aneh dari Q.


Namun jangankan untuk tertawa, dia bahkan tak punya tenaga sama sekali untuk berbisik.


Lelah, letih, dan mengantuk lebih mendominasi tubuh K sekarang yang membuatnya hanya bisa tersenyum tipis.


"Oh, astaga! Tuhan, apa kepalanya terluka begitu parah?! Mengapa dia tersenyum?! Dia bahkan tak pernah tersenyum setampan ini saat sehat!"


Q pun berjalan mondar mandir sambil seolah -olah sedang berbicara dengan Tuhan.


Dia tak mengerti arti dari senyuman K yang dia rasa merupakan hal langka selama mereka berdua bekerjasama.


Tingkah Q tersebut makin membuat K ingin tertawa, namun rasa sakit di kepalanya mengalihkan perhatian K dan membuat alisnya berkerut.


"Kenapa?! Apa kepalamu sakit?! Tunggu sebentar aku akan memanggil Arnold!"


"D.. d.."


Q urung melangkah pergi. Dia lantas mendekatkan wajahnya ke arah K yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu.


Pria tampan itupun berusaha mengumpulkan tenaga supaya suaranya dapat didengar oleh Q.


"D- diam.. Te.. tap.. d-di.. sini.."


"Tuan K.. Saat ini Arnold lah yang bisa membantumu. Kau lebih membutuhkan dia daripada aku yang hanya bisa membelai wajah dan kepalamu. Jadi tunggulah sebentar.."


Q lalu merasakan genggaman tangan K sedikit menguat seolah pria itu enggan untuk melepas tangan mungilnya.


"Hah.. Mengapa kau tetap keras kepala dalam kondisi seperti ini?"


Sayangnya tenaga K sudah habis sehingga dia hanya menanggapi pertanyaan itu dengan cara menatap Q melalui matanya yang mulai berat.


Q pun menghela napas lalu membelai kepala K dengan perlahan.


"Kau adalah pria paling keras kepala yang pernah kukenal. Baiklah.. Aku tetap disini. Aku akan terus membelai wajah ini dengan lembut hingga kau tertidur. Jadi istirahatlah pria tampan.."


Sentuhan demi sentuhan yang Q berikan itu semakin membuat mata K menjadi lebih berat.


Dari sekian banyak gadis yang mencoba menyentuhnya, K tak pernah merasakan ketenangan dan kenyamanan seperti yang dia rasakan sekarang.


Mati-matiin dia menyangkal perasaannya terhadap Q. Namun pada akhirnya K menyadari bahwa dia telah kalah.


Perhatian dan kelembutan dari Q yang selama ini dia kenal sebagai gadis jahil yang suka berbuat semaunya sendiri itu telah membuat K menyerah dan dalam keadaan yang setengah sadar sebuah katapun terucap lirih dari bibir K.


"Cinta."