A Tale Of 'K&Q'

A Tale Of 'K&Q'
Tragedi Roti



Sruut..


"Sampai kapan kita akan berdiam diri di sini, Tuan K?"


K masih sibuk membaca surat kabar sambil santai menikmati kopinya. Pria itu bahkan tak memperdulikan bahwa partner cantiknya sudah sejak tadi ingin melompat dari tempat duduk.


Bagaimana tidak, sudah sekitar tiga puluh menit mereka berdua duduk di sebuah tempat makan bukan untuk makan sesuatu melainkan hanya minum secangkir kopi.


Hanya duduk seperti itu tentu membuat Q yang biasanya tidak bisa diam pun menjadi bosan.


Dia lalu mencoba mengikuti K yang membaca surat kabar untuk mengusir kantuk. Namun beberapa saat setelah membolak-balikkan halaman, gadis itu tak menemukan hal yang menarik sehingga segera saja dia melemparkan kertas-kertas itu di atas meja.


"Bisakah kau sedikit lebih tenang?"


"Aku sudah tenang sejak tiga puluh menit yang lalu Tuan K. Kau ingin aku melakukan apalagi?"


"Kau bisa mulai meminum kopi yang dari tadi tidak kau sentuh."


Q mengacuhkan ucapan K. Gadis itu lantas berdiri dan berjalan menuju meja kasir lalu menunjuk ke rak di belakang kasir itu. Sang kasir pun lalu memberikan sebuah roti coklat yang Q tunjuk.


"Terima kasih. Pria yang di sana akan membayarnya."


K hanya tersenyum ke arah kasir wanita yang menoleh ke arahnya.


Senyuman yang bahkan meluluhkan hati sang kasir tersebut nyatanya tidak berlaku untuk Q yang sudah terlanjur kesal. Gadis itu lantas melenggang keluar sambil menggigit roti.


Namun hari ini sepertinya nasib sial masih terus mengikuti Q. Baru saja akan menikmati manisnya coklat dari roti gemuk yang dipegangnya, sang roti terjatuh ke atas tanah ketika seseorang tak sengaja menabrak Q. Gadis itu lantas membungkam mulutnya sambil berjongkok.


"Ah.. Tuan roti.."


"Astaga! Maafkan aku nona! Kau baik-baik saja?"


"Bagaimana bisa kau membuat sebuah roti tak bersalah mengalami pendarahan seperti ini tuan? Kau begitu kejam.."


"Pen.. darahan?"


Pria yang menabrak Q itu melihat roti yang dimaksud oleh Q dimana coklat meluber keluar setelah roti itu patah menjadi dua bagian.


Melihat hal tersebut, pria tersebut tak bisa menahan senyum yang membuat Q justru menjadi bingung.


"Ahaha.. Ehem.. Maafkan aku.."


Pria itu lalu mengulurkan tangannya ke arah Q.


"Namaku Arnold. Lalu bagaimana aku harus memanggilmu nona?"


Q menolak jabat tangan dari Arnold dengan memalingkan wajahnya dari pria itu. Dia lebih tertarik memandangi roti coklat daripada pria tampan di hadapannya.


"Kau begitu kesal hingga tak sudi melihat wajahku?"


Senyum Arnold semakin melebar ketika Q masih tak merubah ekspresinya.


Gadis itu tetap cemberut karena tak berhasil memakan roti coklat. Arnold pun lalu berjalan memasuki tempat makan itu dan beberapa saat kemudian dia kembali menghampiri Q yang masih berjongkok.


"Aku harap sekantung roti ini bisa menggantikan tuan roti yang baru saja ku bunuh."


Dengan sekejap senyum pun mengembang dari bibir Q. Dia lantas mengambil kantong roti yang diberikan oleh Arnold.


"Kutarik kata-kataku tadi, kau sungguh dermawan.. Terima kasih."


"Tunggu!"


Arnold hanya bisa menghela napas saat tak berhasil menahan kepergian Q. Pria itu lantas tersenyum sambil terus memandangi punggung Q yang perlahan mulai menjauh.


"Dia begitu senang hanya karena roti? Sungguh menggemaskan.."


K melihat seluruh kejadian tersebut dengan jelas. Dia bahkan tak melepaskan pandangannya sedikitpun dari Arnold.


Entah mengapa interaksi antara Q dan Arnold tak menyenangkan hati K sehingga pria itupun melangkah keluar bermaksud untuk menyusul sang partner.


Saat K berpapasan dengan Arnold di pintu, tanpa sengaja K mendengar Arnold tengah bergumam.


"Jika bertemu lagi, aku tidak akan melepaskan nona itu."


Brak!