
"Hei.. Tuan K?"
K merespon panggilan tersebut dengan tersenyum.
"Hah.. Rupanya air putih saja tidak cukup untuk mengembalikan kesadaranmu. Oh! Astaga.."
Q terperanjat saat melihat sobekan gaunnya yang melilit luka tembak di dada K kini telah berubah warna menjadi merah.
Gadis itu lalu melihat sekeliling untuk mencari sesuatu yang bisa membawanya dan pasiennya itu untuk meninggalkan Zoya secepatnya.
Q terus sibuk melihat sekeliling hingga dirinya tak menyadari bahwa K dari tadi terus menatapnya.
"Cantik."
Sontak satu kata yang terucap dari pria yang hampir kehilangan kesadarannya itu membuat Q memalingkan wajah ke arah sang partner.
"Hmm?"
"Kau cantik."
"Pantas saja setiap wanita yang bertemu denganmu ingin merampas kesadaranmu. Apa kau selalu semanis ini saat setengah sadar?"
"He.. he.."
Q lalu membelai wajah K dengan jemarinya yang lentik sembari tersenyum.
Entah mengapa hatinya senang ketika pujian itu terucap dari bibir K padahal jika kata yang sama terucap dari orang lain Q merasa biasa saja.
Q pun semakin dibuat terkejut ketika K menoleh ke arah dimana telapak tangan gadis itu sedang bertengger dan menciumnya.
(Apa dia sedang merindukan seseorang hingga mengira aku adalah orang itu? Atau pujian dan perlakuan manisnya ini memang ditujukan untukku?)
Q memperhatikan bagaimana pria itu mencium tangannya dengan sepenuh hati hingga sesaat Q menghayal tentang sesuatu yang mustahil terjadi.
"Ah.. Apa yang kupikirkan?!"
Gadis itupun teringat kembali akan lubang di dada K dan segera membuang semua perasaan romansa yang timbul akibat ulah sang partner.
Brug!
Bunyi sesuatu yang keras itu segera mengalihkan perhatian Q dimana Lynn tiba-tiba turun dari pohon. Kucing besar itu menggeram lirih dan mengusapkan tubuhnya ke kaki Q.
Mengabaikan pertanyaan dari Q, Lynn justru mendekat ke arah K. Diendusnya pria itu beberapa kali sebelum akhirnya meletakkan kepalanya yang besar diantara kaki dan tangan K yang terkulai sehingga tangan pria tampan itu berada di atas kepalanya.
"Grrr.."
"Kenapa?"
Lynn lalu menggigit lembut tangan Q lalu mengarahkannya ke tubuh K selagi dia merunduk.
"Kau ingin aku menaikkan Tuan K ke atas punggungmu?"
Mata Lynn menyiratkan bahwa kucing besar itu mengatakan 'ya'.
Q pun baru menyadari bahwa Lynn telah tumbuh hampir setinggi kuda. Tanpa ragu, Q akhirnya menaikkan K ke atas punggung Lynn.
"Kau memang bisa diandalkan kawan. Aku janji akan menyuruhnya berburu dua ekor kijang sebagai imbalan atas bantuanmu malam ini. Bawa Tuan K ke orang ini dan berikan juga surat ini padanya.
Sambil menyisipkan secarik kertas ke saku K, Q menyodorkan topi Federick ke arah hidung Lynn.
Tak ayal kucing besar itu segera berlalu pergi ke tempat Komandan Astoria yang tengah menunggu kedatangan mereka berdua.
"Baiklah.. Ayo mulai main detektifnya."
Q kembali masuk ke dalam Zoya. Saat Q menggeledah setiap mayat, tanpa sengaja gadis itu tertarik pada sebuah kotak dari kantong salah satu mayat yang tergeletak di sana.
Kilauan cahaya menyilaukan segera terlihat begitu Q membuka kotak itu yang ternyata isinya adalah sebuah liontin.
Kriet..
Dalam waktu yang hampir bersamaan, seorang pria dengan gerak gerik mencurigakan mengendap-endap masuk ke dalam Zoya.
Sayangnya dia memakai topi dan masker sehingga Q tak bisa melihat dengan jelas wajah pria itu dari tempat persembunyiannya.
"Bangs*t! Dimana kau menyimpannya?!"
Dia dengan kasar menendang tubuh mayat yang sama dengan yang Q periksa dimana dia menemukan liontin indah itu.
(Wah.. Sepertinya aku menemukan sesuatu yang menarik)