
Q menoleh kembali ke arah pedagang perahu di pinggir sungai. Hampir saja dia merebut dayung seorang pria jika saja pedagang itu tak segera kembali.
"Lima puluh keping emas dan perahu itu menjadi milikmu."
Q mengikuti arah telunjuk pria tersebut dimana sebuah perahu kecil bersandar di pinggir sungai.
"Tiga puluh."
"Ah.. Tidak ada penawaran nona.. Jika kau tak punya uang, jangan berlagak dan cepat pergi dari hadapanku!"
Srat!
Darah pun mulai menetes dari luka di pipi pedagang perahu itu dimana sebuah pisau baru saja menyerempet kulitnya.
"Aku sudah berusaha bicara dengan sopan padamu mengingat kau sudah tua. Namun rupanya kau meremehkan gadis kecil ini tuan. Lagipula bukankah kau terlalu serakah untuk harga sebuah perahu pengangkut mayat?"
Pria itupun terdiam. Hanya butiran-butiran keringat di keningnya yang bisa menggambarkan ketegangan dalam dirinya.
(Bagaimana dia bisa tahu?!)
Q lalu melemparkan sebuah kantong kecil ke pria itu dan segera menaiki perahu. Pedagang itupun membuka kantong dan terlihatlah butiran-butiran benda berkilau di dalamnya.
"Mutiara hitam?! No-Nona..!"
"Ssttt.. Diamlah! Kalau tidak kau akan menarik perhatian para penjahat untuk mencuri bahkan membunuhmu karena benda itu! Aku tidak punya waktu untuk mengantisipasi hal tersebut sekarang! Jadi berikan kembaliannya jika kita bertemu lagi!"
Bibir pria itu tak mampu berkata sepatah katapun. Dia hanya memandang Q yang semakin menjauh dengan perahunya.
Pedagang itupun menghitung jumlah mutiara hitam yang rupanya berjumlah 100 butir.
Diapun berpikir bagaimana dia bisa memberikan kembalian jika harga sebuah mutiara hitam yang Q berikan setara dengan seratus keping emas?!
"Ya Tuhan.. Kemana aku harus mencari sembilan ratus lima puluh keping emas untuk dikembalikan padanya?"
Di sisi lain Q dengan cepat mendayung perahu ke arah Mounte.
Begitu tiba di pinggiran sungai Mounte, Q lantas berlari menuju penjara. Dia memandang ke arah langit mendung sambil terus berlari.
Gadis yang biasanya suka sekali dengan hujan kini berdoa di dalam hati agar langit tak memuntahkan isi perutnya di atas bumi.
Diapun mempercepat laju larinya hingga terlihatlah gerbang yang begitu besar tak jauh dari Q.
Hup!
Dengan sekali lompat, Q berhasil memanjat tembok penjara dan berlari di atasnya. Para penjaga yang menyadari kedatangan gadis itupun sontak kaget.
"Hei! Berhenti!"
Selusin penjaga langsung berlari mengejar Q. Karena sudah terlatih ditambah lagi memiliki postur tubuh kecil, Q tentu dengan mudah menghindari para penjaga.
Hatinya semakin berdegup kencang tak karuan ketika mendengar suara letusan senjata dari gudang belakang kantor Edzard dimana pria itu biasa menghabiskan waktu untuk membaca.
"Tidak!"
Suara kencang pria tua itu lantas memaksa Q untuk mendobrak pintu gudang.
Brak!
Dengan napas terengah-engah, Q pun memandang keadaan di dalam gudang yang berantakan. Dia mencari sosok Edzard yang rupanya tengah berdiri di atas meja sambil memandang Q dengan bingung.
"Tuan Edzard? Kau.. masih hidup?"
"Apa maksudmu? Tentu saja aku masih hidup! Lalu sedang apa kau di sini? Kau bahkan merusak pintuku!"
"Dunia memang sempit ya nona.. Tak kusangka aku bertemu denganmu lagi secepat ini.."
Q pun semakin bingung saat melihat Arnold juga berada di sana.
"Tunggu sebentar.. Ada yang bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi sekarang? Kenapa tempat ini berantakan? Kenapa pria ini ada di sini? Lalu apa bunyi letusan senjata tadi?"