A Tale Of 'K&Q'

A Tale Of 'K&Q'
Terusik



"Itu kau bukan?"


Q masih santai berjalan seolah tak mendengarkan pertanyaan dari K. Saat ini mereka berdua pergi ke arah sungai untuk kembali menuju Astoria.


Diamnya Q tersebut membuat K menjadi tidak sabar. Pria tampan itupun menahan tangan Q yang berjalan di depannya.


Ketika Q menoleh ke arah K, pria itu tampak menatapnya dengan tajam.


"Jawab pertanyaan ku."


"Tidak mau."


K lalu mendorong tubuh Q ke arah pohon dan merapatkan tubuhnya ke gadis itu.


"Ini sudah yang kedua kalinya kau bersikap agresif seperti ini terhadapku Tuan K.. Sungguh aku lebih suka kau yang agresif daripada terus menahan diri seperti biasanya."


"Jangan mempermainkan ku Nona Q.. Jawab saja pertanyaanku."


"Hmm? Tanyakan dengan jelas."


K menghela napas dalam. Perkataan Edzard pada K sebelumnya memang benar dimana dia harus memiliki kesabaran yang luar biasa untuk menghadapi Q. Ditambah lagi pria itu harus terus bersama Q sampai pekerjaan mereka usai.


"Tuan Edzard bercerita tentangmu yang kabur dari penjara beberapa kali. Mata biru ini, harum ini, dan lagi kau selalu mengajukan dua pilihan sebelum memutuskan sesuatu. Tidak salah lagi, kaulah gadis yang meninggalkanku di rumah pohon waktu itu."


"Kau yakin? Kau melihat wajahku?"


Mendengar pertanyaan dari Q, K pun hanya terdiam. Wajah, hanya wajah lah yang kurang dari kejadian waktu itu karena K sama sekali tak mengingat wajah orang yang telah menolongnya. Pandangan pria itu buram dan hanya terlihat mata dari gadis yang menolongnya tersebut.


Keraguan yang terlihat di mata K tentu membuat Q tersenyum. Dia lalu mendorong tubuh K untuk menjauhinya.


"Jika kau saja tidak tahu wajah orang yang telah menolong mu, bagaimana bisa kau yakin bahwa orang itu adalah aku? Ah.. Sudahlah Tuan K.. Siapapun itu seharusnya kau berterima kasih bukan? Mengapa kau malah marah seperti ini?"


Memang seharusnya seperti itu. Namun rupanya K telah menyimpan sebuah perasaan terhadap orang tersebut setelah gadis itu mencuri ciuman pertamanya.


Q lalu menaiki perahu dan duduk manis di dalamnya sambil memperhatikan K yang masih berdiri mematung.


(Benar Tuan K.. Coba temukan kebenarannya. Kau sangat menarik saat berpikir keras seperti itu..)


**


"Oleh siapa? Astorian?"


"Sepertinya bukan."


"Kalau begitu dari pasukan mana? Aku tahu banyak mengenai pasukan baik yang berada di Astoria maupun yang di luar. Tidak sulit bagiku untuk menghancurkan mereka."


Pria itu lanjut menghisap rokoknya. Dia lalu meneguk kopi yang tersaji di meja seraya terus mendengarkan apa yang dilaporkan oleh anak buahnya.


"Hmm.. Bukan pasukan bos."


Pria itupun menoleh ke arah anak buahnya yang tertunduk.


"Apa maksudmu?"


"Dua bos, hanya dua orang yang menyerang markas kita di Suiden dan salah satunya adalah wanita."


"Apa?"


Pria itu begitu kaget mendengar informasi tersebut. Dia sampai menjatuhkan cangkir kopi yang dia pegang dan tak memperdulikan panas kopi telah membakar kulit kakinya.


"Yang menyerang markas di Suiden hanya dua orang?"


"Be-benar bos.."


Plak!


Sang bos lantas menampar anak buahnya tersebut.


"Bukankah di sana ada lebih dari dua puluh orang?! Mengapa mereka semua bisa dikalahkan hanya oleh dua orang?!"


"Informasi yang kudapatkan cara bertarung mereka mengerikan dan di atas rata-rata bos. Mereka seperti sudah sering bertarung sebelumnya. Mereka lincah dan mengincar titik lemah lawannya."


"Hah.. Bagaimana tampang mereka?"


"Tidak ada yang tahu bos karena mereka memakai penutup wajah dan hoodie."