
"Maafkan aku karena harus menyelenggarakan pesta di tempat yang tidak semestinya. Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku sungguh tak bisa menahan keinginanku untuk mencari kerang hias."
Gurauan kecil itupun membuat semua tamu tertawa dan membuat K tersenyum sinis.
Pria muda itupun memberi isyarat ke salah satu sisi pantai dimana ada sekitar lima gadis yang kini berjalan anggun mendekatinya.
K menghela napas dalam. Begitu dalam hingga dia harus memejamkan matanya untuk menenangkan diri.
(Gadis ini benar-benar..)
Di sisi lain, Q yang ternyata ada diantara lima gadis itupun mengedipkan sebelah matanya ke arah sang partner.
Pria muda penyelenggara pesta itupun mencium tangan para gadis penari satu per satu. Dia langsung terpaku menatap Q.
"Tuhan begitu baik padaku hingga memberiku kesempatan untuk bisa melihat makhluk rupawan sepertimu. Darimana asalmu? Mungkin kita bisa berbicara lebih lanjut setelah pesta ini karena sepertinya kau dan aku akan cocok. Bahkan warna mata kita pun serupa."
Q yang memang tengah memakai lensa kontak berwarna abu-abu itupun tersenyum. Jemari lentiknya mulai membelai wajah pria tersebut dengan lembut.
"Eimai apascholimenos." *1)**
"Maaf? "
Q tersenyum genit sambil mendorong lembut dada sang pria setelah membisikkan sesuatu.
"Glyko katse." *2)**
Pemain musik segera memainkan alat musik mereka dimana membuat lima penari itupun mulai menggerakkan tubuh mereka dengan gemulai tak terkecuali dengan Q.
Tarian yang begitu indah dari gadis cantik itu ditambah lagi penyamaran sempurna sebagai seorang penari praktis membuat semua mata tertuju padanya.
Penampilan Q tersebut membuat K tak dapat melepaskan pandangan dari gadis itu.
Q yang sedang menari indah itu rupanya membuat hati K berdetak cepat tak beraturan. K pun menepuk dada berkali-kali untuk membuat jantungnya berdetak secara normal.
Namun bukannya melambat, justru detakan jantung K makin tak terkendali seolah akan meledak.
(Ada apa denganku?! )
Kini hanya Q lah yang terlihat di mata K. Perlahan pria itupun melangkah mendekati sang partner.
Secara mengejutkan K ikut menari sehingga tarian kelompok itupun berubah menjadi dansa dimana dia sendiri tak menyadari tindakannya tersebut.
"Kendalikan dirimu Tuan K."
Percuma. Bisikan itu tak didengar sama sekali oleh K. Pria itu justru tetap mengiringi tarian Q tanpa memalingkan matanya sedikitpun.
Mereka baru berhenti ketika musik juga berhenti dilanjutkan dengan sorak sorai meriah dari para tamu.
"Luar biasa!"
Q pun melepaskan tubuhnya dari pelukan K. Dia memilih memalingkan wajahnya ke arah sang penyelenggara pesta yang datang mendekat karena tidak tahu harus mengatakan apa pada K yang masih menatapnya.
"Lucas."
Q tersenyum sambil mengulurkan tangan untuk menyambut tangan Lucas. Pria itu segera mencium tangan Q dengan lembut.
"Jika saja aku lebih cepat, mungkin aku lah pria beruntung yang bisa berdansa denganmu seperti tuan ini. Oh! Kau mengerti apa yang ku ucapkan kan, nona?"
"Sepertinya aku tak cukup pintar bagimu, Tuan Lucas."
"Tidak! Jangan salah paham! Aku bertanya seperti itu karena tadi kau bicara dengan bahasa yang tidak ku mengerti. Tolong jangan tersinggung.."
"Aku hanya bercanda." ucap Q sambil tersenyum.
"Astaga.. Kau benar-benar membuatku takut nona. Hmm.. Apa kau tak bisa mempertimbangkan undangan ku tadi? Kita bisa mengobrol di tempat yang lebih tenang."
Q sekilas melirik ke arah K yang entah mengapa hanya terdiam menatapnya.
Entah apa yang sedang dipikirkan rekannya itu hingga dia harus kembali menolak ajakan Lucas dan segera menggenggam tangan K.
"Akan ku pertimbangkan setelah aku bicara dengan pelayan ini. "