
Entah sudah berapa banyak orang yang berlalu lalang keluar masuk dari satu-satunya kantor pos yang berada di pinggiran Egras. Kepulan-kepulan asap rokok pun semakin menambah padatnya aktivitas pagi itu.
Federick menghela napas panjang sejenak di depan pintu kantor pos lalu menghisap rokoknya.
"Uhuk-uhuk.. Apakah asap rokok dari orang-orang itu masih belum cukup mencemari udara di sini hingga kau mau menambahnya lagi, kapten?"
Federick pun melirik pria muda disampingnya yang tampak acuh sambil mengunyah permen karet.
"Aww! Itu masih sakit, Tuan Federick!"
"Jika masih sakit berdiam dirilah di rumah atau di kantor! Mengapa malah mengikutiku?!"
Josh pun menghela napas dengan kesal sambil mengusap kakinya yang dipukul oleh Federick.
"Nyawa kaptenku yang sudah tua ini tengah diincar oleh sekelompok penjahat yang sampai sekarang belum berhasil kutangkap. Jadi mana mungkin aku bisa bersantai sedangkan kau sedang bertaruh nyawa di sini?"
"Ini aneh.."
"Apa yang aneh?"
"Mengapa aku menjadi kesal setelah mendengar kalimat empatimu itu?"
Federick pun lantas membuang rokoknya dan melangkahkan kaki untuk memasuki kantor pos. Pria itu lalu menuju resepsionis yang baru saja selesai menelepon.
"Ada yang bisa kubantu, tuan?"
"Bisakah kau melacak siapa orang yang telah mengirimkan hadiah ini untukku?"
Resepsionis itu mengamati kotak bekas tempat liontin yang diberikan oleh Federick. Untung saja kotak itu belum dia buang karena Vivian ingin agar kotak tersebut tetap disimpan sebagai kenang-kenangan.
"Maaf tuan, kapan tepatnya kau menerima paket ini? Aku kesulitan membaca tanggalnya karena telah memudar."
"Sekitar setahun lalu."
"Oh.. Sudah lama ternyata.. Kalau begitu sebaiknya kau menemui Nyonya Finn. Dialah yang bertugas menjadi resepsionis sebelum akhirnya pensiun dua bulan lalu."
Resepsionis tersebut lalu menuliskan alamat Nyonya Finn pada secarik kertas yang langsung disambut dengan senyuman di bibir Federick.
"Terima kasih. "
Sang kapten lantas pamit dan keluar dari kantor pos.
"Lho? Dia sudah pergi?" gumam Federick saat tak melihat keberadaan Josh di luar.
"Haish.. Itu yang dia bilang mengkuatirkan ku? Dasar tidak konsisten.."
Dia tidak menyadari bahwa tak jauh darinya terdapat segerombolan orang yang tampak panik tengah mengelilingi tubuh dari seorang pria yang berlumuran darah.
**
Ting tong..
...
Ting tong..
...
Kriett..
Karena tak kunjung ada jawaban dari tuan rumah, Federick pun nekat memutar gagang pintu yang ternyata tidak terkunci. Diapun melangkah dengan hati-hati saat memasuki rumah.
Pria itu lalu melihat foto dimana ada seorang wanita paruh baya yang tengah tersenyum sambil mengusap seekor anjing.
(Sepertinya dia Nyonya Finn)
"Halo.. Nyonya Finn? Apa kau dirumah? Aku Federick, Astorian. Bisakah kita mengobrol sebentar?"
Hening. Saking heningnya rumah itu seolah tidak berpenghuni.
Federick sempat bimbang pada awalnya. Tentu memasuki properti orang lain tanpa ijin seperti ini sudah termasuk melanggar hukum.
Namun entah mengapa rasa penasaran pria itu terlalu besar hingga Federick tetap melangkahkan kakinya untuk menjelajahi rumah Nyonya Finn.
"Astaga!"
Untunglah pria tua itu sempat berpegangan pada kursi saat dia tergelincir secara tiba-tiba.
Namun alangkah terkejutnya Federick ketika dia menyadari bahwa yang membuatnya tergelincir adalah cairan kental berwarna merah yang sudah tak asing lagi baginya.
Mata Federick pun mengikuti aliran darah itu sampai berhenti pada sesosok tubuh tak bergerak yang terjepit diantara lemari dan dinding.
"Nyonya Finn?!"
Baru saja akan mendekati Nyonya Finn, Federick mundur kembali ketika dia melihat siluet seseorang dari balik pintu kamar yang terletak berseberangan dengan lemari tempat tubuh Nyonya Finn terjepit.
Sosok itupun berjalan mendekati Federick dengan membawa sebilah golok yang berlumuran darah. Seringai di wajahnya pun semakin menambah kengerian pada sosok itu.
"Ckk.. ckk.. Seharusnya kau menunggu giliranmu dengan tenang kapten."