
Q lantas merasakan bahwa pelukan K semakin erat.
"Hmm.. Bahkan disaat cedera parah seperti inipun pelukanmu terasa kuat. Apa rahasia kekuatanmu ini, Tuan K?"
..
Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir K.
Dia lebih memilih untuk menikmati momen langka ini karena mungkin saja tak akan ada lagi kesempatan yang sama mengingat mereka harus segera melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
"Tuan K kau harus segera melepaskan ku sebelum kau melanggar prinsipmu bahwa.."
"Cinta tidak dibutuhkan dalam perang."
K lalu melepaskan pelukannya. Hal tersebut membuat Q sedikit kecewa dengan reaksi yang ditunjukkan oleh pria tampan itu walaupun sebenarnya dia tahu bahwa hal ini akan terjadi.
(Apa yang kuharapkan?)
Cup..
Alangkah terkejutnya Q ketika tiba-tiba K mendaratkan sebuah ciuman di bibirnya hingga dia hanya bisa terdiam dengan mata yang membulat.
Di sisi lain K pun berusaha dengan sekuat tenaga agar jantungnya tidak meledak akibat tindakan yang baru saja dia lakukan.
K lalu mengatur napasnya sesaat sebelum kembali mengatakan sesuatu.
"Kalimat itu adalah kalimat terbodoh yang pernah ku ucapkan. Kenyataannya aku hanyalah seorang pria pengecut yang terus menyangkal perasaanku sendiri terhadap gadis yang telah membuatku jatuh cinta sejak awal. Aku tidak mengerti bahwa perasaan inilah yang membuatku bisa bertahan dari luka apapun yang bersarang di tubuhku. Bahkan saat aku berada di alam bawah sadar akibat cedera kepala ini, kau lah yang selalu muncul dengan menggenggam tanganku dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Aku tahu semua ini tidak penting dan terdengar seperti lelucon bagimu.
"Penting."
Q lalu membelai wajah K sambil tersenyum.
"Menurutmu apakah seorang gadis gila yang tumbuh di dalam lingkaran kriminal ini akan mudah untuk menurut pada orang lain? Kau kira mengapa aku tak pernah membantah ucapanmu? Hal itu tak akan kulakukan jika saja kau tak memiliki tempat spesial di hatiku, Tuan K. Aku bahkan sering menunjukkan ketertarikan ku itu meskipun kau menganggap bahwa hal tersebut hanya bentuk godaan dari seorang gadis."
"Jadi kau menerima perasaanku?"
"Apakah aku masih harus menjelaskannya setelah ciuman tadi? Kau memang bodoh, Tuan K.."
K pun tertawa lirih. Pria yang sebelumnya begitu dingin itu pada akhirnya membiarkan cinta yang terlanjur bersemi dihatinya untuk tumbuh semakin subur.
"Padang savana di ujung Mounte. Kau mau pergi bersamaku setelah semua ini selesai?"
"Kalau begitu hari ini kita harus menyelesaikan pekerjaan kita!"
"Hei.."
"Oh, benar! Aku lupa bahwa kekasihku masih perlu beristirahat."
K lalu mencubit pipi Q yang membuatnya meringis kesakitan.
"Aww!"
"Ayolah.. Aku tak mencubit sekeras itu. Jangan bereaksi secara berlebihan."
"Maaf.."
(Jangan memancingku dengan ekspresi manis seperti itu atau aku tak akan bisa mengendalikan diri untuk menciummu!)
"Baiklah.. Jadi apa yang sudah kau lakukan seminggu ini? Kau bahkan baru kembali saat aku menghubungimu melalui Elf."
"Pertama-tama rebahkan tubuhmu kembali ke tempat tidur. Aku tak mau kau tiba-tiba terserang rematik karena yang akan ku ceritakan ini membutuhkan waktu yang lama."
Setelah memastikan bahwa K telah berbaring dengan nyaman, Q lantas memulai ceritanya tentang apa yang dia lihat dan dia dengar ketika berada di markas utama Salvador termasuk dimana saja letak dari markas-markas yang lain.
Di sepanjang cerita Q, K terus menggenggam tangan gadis yang baru saja menerima cintanya itu tanpa menyela sedikitpun.