
Gadis itupun lanjut menuang minuman ke gelas kosong K lalu tanpa permisi meminumkannya lagi ke pria di hadapannya.
Syut..
Hanya dengan dua gelas itu saja, kepala K mulai terasa pusing.
Tak pernah menyentuh alkohol selama hidupnya membuat pria itu mabuk dengan mudah setelah meminum dua gelas anggur.
Gadis itupun tertawa menggoda. Paras rupawan K telah membangkitkan hasrat untuk setidaknya mencuri satu atau dua ciuman dari bibir K.
Namun sebelum keinginannya terwujud, sebuah tangan tiba-tiba bertengger di wajahnya dan menarik gadis itu ke belakang.
"Hei!"
"Maafkan aku.. Sebenarnya aku berniat untuk menarik mu secara perlahan. Tapi setelah melihat bibir yang seperti orang kelaparan itu, tangan ini refleks melakukan tindakan barusan."
"Kau sungguh tak beretika!"
"Lalu bagaimana kau menyebut tingkahmu terhadap kekasihku tadi? Tidak berakal?"
Wajah gadis itu memerah karena malu. Dia lalu pergi dengan hati kesal karena tak mendapatkan yang dia inginkan.
Q lalu beralih menatap K yang berdiri dengan terhuyung-huyung.
"Jadi kau menyuruhku kesini untuk melihatmu berpesta atau bagaimana?"
"Sstt.."
K pun menutup bibir Q dengan telunjuknya sambil tersenyum. Pria itu lalu menyandarkan kepalanya di bahu Q.
"Kepalaku sakit sekali.."
"Hah.."
Q lalu memberikan air putih agar K meminumnya. Gadis itupun memegang kedua pipi K dan memperhatikan pria itu sejenak.
"Seharusnya air putih bisa mengurangi mabuk mu."
Setelah beberapa saat, K mulai bisa mengendalikan dirinya kembali walau sedikit.
"Targetnya adalah Tuan Federick. Dengan banyaknya orang, bukan tak mungkin para penjahat itu sudah ada di sini sekarang. Kau awasi keadaan di luar, biar aku yang menghadapi mereka di sini jika ada penyerangan terhadap pria itu."
"Bukan aku yang.."
Sesuatu terlintas di benak K hingga dia tertegun menatap Q di hadapannya.
"Bagaimana kau tahu bahwa aku tak bisa minum alkohol?"
"Kau sendiri yang mengatakannya."
K ingat betul bahwa dia tak pernah mengatakan hal tersebut pada siapapun termasuk Q.
Ingin sekali dia memulai perdebatan, namun pria itu tiba-tiba berlari ke arah Federick.
Dor!
Timah panas pun menembus dada K tepat setelah dia berhasil mendorong Federick. Dia lalu menendang pistol yang kini mengarah padanya.
Kejadian tersebut sontak membuat semua orang panik dan mulai berhamburan ke luar untuk menyelamatkan diri.
Josh dan Peter yang kebetulan sedang mendampingi Federick melihat seorang pria lainnya yang juga membawa pistol.
Tak hanya satu dua orang, bahkan ada sekitar tujuh pria dan semuanya bersenjata.
Terjadilah tembak-menembak di dalam ruangan yang belum kosong dari keramaian itu antara dua kubu yang berbeda.
Situasi tersebut dimanfaatkan oleh Q dengan menarik Federick dan K ke luar ruangan.
"Kandang kuda, Jl. Horasio!"
Hanya tempat itulah yang terpikirkan oleh Q sebagai tempat paling aman untuk persembunyian Federick sementara waktu.
Setelah kepergian Federick dengan kudanya, Q membawa K ke sisi gelap di luar gedung dan menyandarkan tubuh pria itu pada salah satu dinding.
"Terlalu berbahaya!" ucap K sambil menahan tangan Q.
Q tak menanggapi ucapan K. Dia merobek gaun yang dia pakai dan mengikat kain itu ke dada K yang terus mengeluarkan darah.
"Aku akan mengeluarkan peluru ini setelah menyelesaikan urusanku dengan mereka! Sampai aku tiba, berjanjilah padaku untuk tetap terjaga!"