
Pedagang itu mencoba melirik ke arah orang yang menodongkan pisau ke lehernya. Diapun hanya bisa melihat mata berwarna abu-abu yang menatapnya tajam.
"Di-dia ke arah Mounte beberapa hari lalu! Ta-tapi setelah itu aku tak melihatnya lagi! Akupun sedang mencari keberadaanya sekarang, percayalah!"
(Berarti itu saat dimana Q menemui Tuan Edzard. Artinya setelah dari Mounte dia langsung kembali ke Astoria dan menghilang begitu saja setelah insiden malam itu)
"Ehm.. Tuan.. Bisakah kau menurunkan benda tajam ini dari leherku? A-aku mulai merasa perih di bagian ini.."
K pun menurunkan pisaunya. Dia mulai memperkirakan dimana kiranya sang partner pergi.
Lalu terlintas lah di pikiran pria itu untuk kembali menuju tempat dimana dia dan Q terakhir bertemu, Zoya.
"Tuan!"
Pedagang itu tiba-tiba menghentikan K sebelum dia pergi.
"Kau teman dari nona itu, bukan? Bisakah kau memberikan ini padanya? Jujur aku tidak tahu bagaimana cara mengembalikan uangnya. Jadi aku hanya mengambil 10 butir mutiara saja dari yang dia berikan."
Pria tampan itu memandang kantong yang dibawa oleh pedagang. Melihat keraguan di mata K, pedagang tersebut kembali memohon.
"Aku mohon tuan.. Bantulah pria tua ini.."
K pun menghela napas. Dia lalu mengambil sekantong mutiara hitam itu lalu bergegas menuju Zoya.
"Ah.. Kenapa kau berikan ke pria itu?!"
"Diamlah! Kau lihat tadi aku hampir m*ti kan?! Lagipula dari yang dia tanyakan, sepertinya gadis gila tempo hari itu adalah temannya dan aku rasa mereka berdua sama-sama gila! Jadi daripada nyawaku melayang, lebih baik ku kembalikan mutiara itu!"
**
Hampir satu jam K mengobrak abrik seisi Zoya, namun pencariannya tersebut sama sekali tidak membuahkan hasil.
Bangunan tersebut sudah bersih. Hanya tersisa noda-noda darah yang masih terlihat di beberapa bagian.
Hal tersebut sangat wajar karena pasti para Astorian telah membersihkan tempat kejadian perkara sesaat setelah insiden terjadi.
K pun berjalan lesu meninggalkan Zoya. Dia terus berjalan tanpa arah sambil memikirkan kemungkinan kemana kiranya partnernya pergi.
(Tunggu! Mengapa aku memikirkan Q sampai seperti ini?)
Namun entah mengapa saat gadis cantik itu menghilang, sesuatu dalam dirinya juga ikut hilang dan dia tak mengerti apa sesuatu itu.
Dorr!
Suara tembakan tersebut membuyarkan angan-angan K.
Pria itupun mencari sumber suara dan alangkah terkejutnya dia ketika melihat orang yang tengah dia cari sedang terlibat tembak-menembak dengan seseorang.
Jleb!
Pertarungan itupun berhenti saat pisau Q menyayat leher lawannya hingga dia roboh bersimbah darah di atas tanah.
Baru saja menghela napas, Q langsung berbalik dan menodongkan pisaunya kembali ke seseorang yang datang mendekat.
"Tuan K?"
Mata biru itupun terbelalak ketika melihat orang yang baru saja akan dia cabut nyawanya ternyata adalah K.
Q lalu memperhatikan K dimana dia bisa melihat di dada pria itu telah terbalut perban bersih yang menandakan peluru yang bersarang di tubuh sang rekan sudah dikeluarkan.
"Bagaimana dadamu? Apa masih sakit?"
K hanya terdiam memandang Q.
Luka di pelipis, bibir sobek, lengan tersayat hingga berdarah-darah, semua hal tersebutlah yang tengah dilihat oleh K sekarang.
Tangan pria itupun sudah hampir memeluk Q jika dirinya tak menahan diri dengan sekuat tenaga.
"Kenapa kau diam saja? Apa terasa sakit lagi atau.."
"Bagaimana.."
"Hah?"
"Bagaimana bisa kau mengkuatirkan orang lain sedangkan dirimu sendiri sedang terluka?"