
"Entah misi berbahaya apa yang sedang kau lakukan sekarang. Tapi kapanpun kau terluka, kau tahu harus mencari siapa di Mounte, bukan?"
"Tentu.."
Arnold pun tersenyum lalu pergi meninggalkan tempat itu tanpa mengatakan apapun pada K.
"Aku tak tahu kau begitu akrab dengan pria yang bahkan baru saja kau kenal."
"Cantik, pintar, dan menyenangkan. Tentu para pria ingin mengakrabkan diri denganku. Dan mengingat kau tak pernah melibatkan perasaan dalam menjalankan suatu tugas, jadi seharusnya hal itu tak mengganggumu. Benar kan, Tuan K?"
Entah mengapa kali ini hati K yang merasakan sesak. Dia bahkan tak bisa menjawab pertanyaan sederhana dari Q dan memilih menyibukkan diri dengan mengotak atik Elf.
Q lalu menarik sesuatu dari lehernya dan melemparkannya ke arah K. Pria itupun dengan cekatan menangkap benda yang dilempar oleh Q.
"Apa ini?"
"Petunjuk yang sedang kau cari. Aku yakin liontin itu menyimpan sesuatu yang penting mengingat pria-pria itu rela mengorbankan nyawanya demi mendapatkannya kembali." ucap Q sambil menunjuk badan pria-pria tak bernyawa yang tergeletak tak jauh dari mereka.
K pun menyadari bahwa di belakang liontin terdapat sesuatu yang berkilau membentuk sebuah pola. Mata pria itu sedikit membelalak ketika tahu pola itu merupakan bentuk kepala singa.
Dia lalu memandang sang rekan yang membalas tatapannya sambil menyunggingkan senyum.
"Pakai jas terbaikmu dan pergilah ke Amore. Di sana kau akan menemukan sebuah pantai tersembunyi yang tak banyak diketahui oleh orang awam. Tapi kau harus cepat Tuan K! Sebentar lagi acaranya akan dimulai."
"Kau tidak ikut?"
"Kenapa kau menanyakan hal yang sudah jelas jawabannya? Tentu saja aku pun akan pergi ke sana setelah membeli beberapa barang."
**
K nampak tak asing dengan pemandangan yang dia lihat setibanya di tempat yang dimaksud oleh Q.
Pria tampan itu bisa menebak bahwa semua orang yang hadir di pesta tersebut berasal dari kalangan menengah ke atas. Tanpa membuang waktu, K pun berbaur dengan para tamu.
"Tunggu!"
"Apa kau pegawai baru? Kenapa kau berjalan tanpa membawa hidangan apapun di tanganmu?"
K baru menyadari bahwa jas yang dia kenakan serupa dengan seragam para pelayan di pesta itu. Dia lalu menundukkan kepalanya di depan pria asing yang mengajaknya bicara.
"Maafkan aku, tuan. Aku baru saja kembali dari kamar mandi sehingga belum sempat mengambil kembali hidanganku. Apa ada yang kau butuhkan?"
"Segelas anggur akan sangat sempurna untuk menemani pesta malam ini. Tolong ambilkan itu untukku."
"Tentu saja."
"Oh! Lalu kapan hiburannya dimulai? Aku sudah tidak sabar menantikannya."
"Bersabarlah sebentar lagi."
K menundukkan kepalanya kembali lalu beranjak menuju meja makanan dan minuman.
Terbiasa dengan keadaan yang tidak terduga, K tentu dengan mudah menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya walau dia tidak tahu hiburan apa yang pria tadi maksud. Dia bahkan tidak tahu pesta apa yang tengah berlangsung sekarang.
Namun alangkah terkejutnya dia saat melihat sesuatu yang tidak asing terukir indah dan hampir transparan terletak di bawah piring dan gelas yang dihidangkan.
(Kepala singa?! Ini..)
🎶🎶
Alunan musik klasik mengalun lembut saat seorang pria muda memasuki pesta.
Dengan sekali lihat, K langsung tahu bahwa pria itulah sangat penyelenggara pesta.
"Penghormatan tertinggi ku untuk tuan dan nyonya yang telah hadir di pesta sederhana ini."
Tepuk tangan riuh pun terdengar dari para tamu yang membuat K heran.
(Dilihat dari segi manapun pria ini jauh lebih muda dari tamu yang dia undang. Tapi mengapa dia begitu disegani?)