A Tale Of 'K&Q'

A Tale Of 'K&Q'
Saat Genting



"Ugh! Siapa kau?!"


Pria itu lantas menyerang Federick dengan membabi buta menggunakan golok.


Federick bahkan belum sempat mencerna maksud ucapan dari pria yang pastinya adalah tersangka pembunuhan sang resepsionis dan kini dia harus bertahan dari tebasan golok yang mengarah padanya.


Karena serangan yang terus dilancarkan oleh sang pembunuh, lama kelamaan ruang gerak Federick pun menjadi sempit dan dia terpojok di sudut ruangan.


Dengan sekuat tenaga Komandan Astoria itu menahan mata golok yang mengarah ke lehernya dengan tangan kosong.


Sang pembunuh terus mengerahkan tenaga untuk menekan golok agar segera mengoyak leher lawannya dan karena Federick sudah tidak muda lagi tentu dia menjadi kewalahan.


"Ha ha ha.. Sudah tak sabar untuk mati, kapten?"


"Aku tidak berencana mati hari ini."


Federick lalu menendang perut pembunuh itu hingga dia terjengkang ke belakang. Pria itupun segera bangkit dan membalik posisi goloknya.


Bugh!


Dia berhasil memukul kepala Federick dengan gagang golok yang terbuat dari besi.


Akibat kerasnya pukulan itu darah segar pun mengalir dari kepala Federick dan masuk ke dalam matanya. Alhasil pandangan mata sang komandan menjadi buram.


Kesempatan itu dimanfaatkan oleh sang pembunuh untuk kembali mengayunkan goloknya secara brutal.


Federick tak sempat menepis serangan itu sehingga kini tangan, kaki, dada, dan punggungnya tersayat golok dari sang pembunuh.


Kelelahan, Komandan Astoria itupun jatuh terduduk di depan sang pembunuh dengan tubuh yang penuh dengan darah.


"Sudah selesai bermainnya?"


"Bersyukurlah karena lawanmu adalah seorang pria tua. Jika kau berada pada masaku, tentu aku akan dengan mudah mematahkan lehermu sehingga kau tak bisa menyombongkan diri."


"Ah.. Aku takut sekali.."


Pembunuh itupun lalu meletakkan tangan Federick di lehernya.


"Tunggu apa lagi? Patahkan leherku."


Dengan tenaga yang sudah terkuras dan tubuh yang penuh dengan luka, tentu Federick tak mampu melakukan hal tersebut walaupun ingin sekali dia melakukannya.


"Ada permintaan terakhir?"


"Nama.. Siapa namamu?"


Alis pria itupun mengernyit. Namun dia berpikir tak ada salahnya jika dia menyebutkan namanya.


(Toh sebentar lagi pria tua ini mati)


"Toni. Sampaikan salamku ke istrimu."


Brakk!


Federick tersenyum lebar bersamaan dengan bunyi keras itu. Golok pun terlempar dari genggaman Toni ketika seseorang tiba-tiba muncul dan memukul wajahnya dengan keras hingga terpental menghantam dinding.


"Sudah selesai bermainnya?" ucap sosok itu pada Toni. Dia lalu mengalihkan pandangannya ke Federick.


"Ah.. Aku tahu telah memilih orang yang tepat. Tapi ada apa dengan penampilanmu? Kau belum sempat mengeringkan badan setelah mandi?"


"Perhatikan kondisimu terlebih dahulu sebelum mengomentari orang lain."


Tatapan K lalu beralih ke tubuh Nyonya Linn yang dia yakini telah menjadi mayat.


Melihat kondisi dari tubuh tak bernyawa itu, K bisa menebak bahwa pria yang kini tengah mengerang kesakitan di hadapannya adalah bagian dari Salvador.


"Apa target Salvador sudah berubah menjadi pembunuh para orang tua? Menyedihkan."


K pun kembali menyerang Toni. Setiap pukulan dan tendangan yang dia tujukan pada musuh, tak ada satupun yang meleset dan semuanya mengenai target.


Toni yang sebenarnya berbadan lebih besar dari K pun hanya bisa bertahan sambil menutupi wajahnya agar tak terkena pukulan dari K. Rasa ngilu pun segera dia rasakan di sekujur tubuhnya.


(Mengapa serangan pria ini begitu kuat padahal tubuhnya tak sebesar diriku?! Siapa dia?!)


"T-tunggu!"


Golok yang kini berpindah ke tangan K pun lantas berhenti beberapa mili dari kerongkongan Toni.


"A-Aku tak tahu mengapa kau menyebut tentang Salvador. Tapi percayalah aku bukan bagian dari mereka! Aku hanya pria miskin yang mencoba bertahan hidup dengan cara merampok!"


"Merampok?"