
"Karena memang seharusnya demikian."
Arnold menatap Q yang sedang berada di depannya itu dengan pandangan sedih.
"Aku hanya ingin membantu kalian."
"Bukankah itu yang sedang kau lakukan saat ini, Arnold?"
Q pun mengalihkan pandangannya ke arah K yang tergeletak tak jauh darinya.
"Kepalanya.. Apa luka itu parah?"
"Ya. Tapi untunglah tak sampai mengenai otaknya. Jika itu sampai terjadi maka.."
Q hanya dapat mengangguk setelah mendengar penjelasan dari Arnold. Dia lalu menatap Federick.
"Apakah di rumah ini ada tempat rahasia supaya Tuan K dapat beristirahat hingga keadaannya membaik?"
"Ada."
Arnold dan Federick diikuti oleh Q kemudian membawa K ke ruang bawah tanah.
Ruangan itu digunakan Federick untuk menyimpan koleksi senjatanya. Banyak senapan, pistol, maupun pisau yang berjejer rapi di dinding.
Pada salah satu sudut dinding terdapat persenjataan ninja dimana salah satunya adalah samurai.
Saat Federick meminta Q untuk memutar posisi dari samurai itu, seketika sebuah ruangan rahasia pun terbuka.
K lalu dibaringkan di atas tempat tidur yang telah tersedia di dalam ruang rahasia yang juga berisi bermacam-macam senjata yang lebih kuno itu.
"Kau juga harus beristirahat, Nona Q." ucap Federick.
"Tidak perlu. Aku harus menyapa seseorang di luar sana."
Grep!
"Sebagai dokter mu, aku tidak mengizinkanmu berkeliaran dalam kondisi seperti ini."
"Arnold.."
"Tidak! Kau memintaku untuk tenang dan salah satu cara agar aku tenang adalah dengan kau yang tetap berada di sini sampai setidaknya tulang bahumu kembali menyatu dengan sempurna. Aku hanya memintamu sampai kondisimu membaik. Setelah itu kau bebas melakukan apapun yang kau inginkan. Bisa kan?"
Mendengar permintaan dari Arnold, Q pun terdiam. Pada akhirnya gadis cantik itu mengabulkan permintaan sang dokter karena sebenarnya tenaga Q juga belum pulih.
"Baiklah.."
**
Sudah berapa kali Q membolak balikkan badan dan mencoba untuk tidur. Namun usahanya sia-sia dan justru membuat dirinya semakin terjaga.
Dia lalu melihat ke samping dimana K masih belum mau membuka matanya. Q pun berjalan mendekati ranjang K.
Wajah yang biasanya terlihat segar, sorot mata tajam, semua itu hilang dari K. Hanya wajah pucat lah yang Q lihat dari sang partner.
Gadis itupun membelai wajah K dengan lembut. Q memperhatikan wajah tampan itu lekat-lekat ketika jemari lentiknya masih setia membelai pipi K.
Rasa bersalah pun menguasai hati Q. Dia ingat betul bagaimana K tiba-tiba menariknya ke dalam pelukan pria itu dan membalik tubuhnya sesaat sebelum bom meledak.
Badan K yang lebih besar dari Q telah berhasil melindungi gadis itu dari ledakan sehingga justru tubuh K sendirilah yang terluka parah.
"Mengapa kau lakukan itu, Tuan K? Lihat bagaimana dirimu sekarang? Jika kau membiarkan ku berada di depanmu waktu itu, kau tak akan terluka. Biar tubuhku saja yang hancur, jangan dirimu."
Belum pernah Q merasa terpukul seperti ini. Gadis itupun tak kuasa melihat pria yang telah mengisi ruang kosong di hatinya itu tergeletak tidak berdaya.
"Jangan peduli padaku, jangan menyelamatkanku, dan jangan berkorban untukku. Kau bilang tidak melibatkan perasaan dalam perang, bukan? Seharusnya kau memegang teguh prinsip itu. Tolong jangan membuatku lemah seperti ini, Tuan K. Aku tak mau lagi kehilangan seseorang.."
Q terus meluapkan emosinya yang tanpa dia sadari sang partner mendengar semua yang dia ucapkan sehingga hal itu memberikan K kekuatan untuk akhirnya membuka mata.