A Tale Of 'K&Q'

A Tale Of 'K&Q'
Stein



Tuk.. tuk..


Q menyentuh pipi Josh beberapa kali dengan telunjuknya. Namun rupanya pria itu tak kunjung bereaksi terhadap sentuhan Q.


"Kapan dia akan bangun?"


"Entahlah.."


"Lalu mengapa kau menyuruh Arnold pulang jika tak bisa memastikannya? Padahal tak hanya Tuan Josh, Tuan K juga masih belum sembuh."


"Hah.. Bagaimanapun juga dia adalah penduduk Mounte yang tengah menjalani studi dalam ilmu kedokteran. Tentu saja aku tak bisa berlama-lama menahannya di sini. Ditambah lagi dia juga seorang zoologi yang mempunyai berlusin-lusin hewan dan tumbuhan yang harus dia rawat."


"Tunggu sebentar! Dia masih seorang pelajar?!"


"Benar. Bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu? Atau belum?"


"Wah, Tuan Federick.. Jadi kemarin aku, Tuan K, dan Tuan Josh tengah menggantungkan nyawa kami pada seorang pelajar?!"


"Tapi dia sudah berada di tingkat akhir!"


"Walau begitu tetap saja dia seorang pelajar! Ini masalah sertifikasi, Tuan Federick! Ser-ti-fi-ka-si!"


Kriett..


"Kau selalu berisik seperti biasa.."


"Tuan K? Bagaimana kondisimu? Kau seharusnya tak bangun dulu dari ranjang!"


K tak menanggapi ucapan Federick. Diapun duduk di dekat ranjang Josh lalu memperhatikan luka dari Astorian itu.


"Sebagai seorang pelajar, kurasa kemampuan Arnold di dunia medis sudah layak untuk diakui. Lihatlah bagaimana dia merawat Josh hingga dia bisa bertahan hidup setelah mendapatkan empat kali tusukan di dada dan perutnya. Jadi kau tak perlu meributkan tentang sertifikasi, Nona Q."


Mendengar hal tersebut, Q hanya mengangkat bahunya.


Dia lalu bersiul dan segera pergi bersama Lynn saat kucing besar itu menjemputnya.


K pun tersenyum kecil melihat tingkah gadis cantik itu.


Walaupun mereka berdua kini adalah sepasang kekasih, namun baik K maupun Q tidak akan saling membatasi.


Mereka bebas melakukan apapun ketika berada dalam suatu misi karena mereka sadar bahwa kisah cinta mereka sangat jauh dari kata romantis.


Hanya ada satu perjanjian diantara mereka, tetap hidup.


K lalu tak sengaja melihat Federick yang tengah tersenyum jahil padanya.


"Apa?"


"Tidak ada."


"Benarkah?"


"Haish.. Daripada itu katakan padaku dimana aku bisa mendapatkan detektor bom?"


"Untuk apa?"


"Katakan saja."


"Tunggu sebentar."


Federick lalu menuju ruang tamu untuk menelepon seseorang. Setelah beberapa saat, pria tua itupun kembali menghampiri K.


"Pergilah ke Coaca. Saat kau bertemu dengan orang-orang yang memakai rantai di saku celananya, bisikkan satu kata ini 'Stein'. Kau akan menemukan apapun yang kau inginkan jika berhasil menemukannya dan tentu dengan harga yang setimpal."


**


"Stein."


Pria yang tadinya dingin itu langsung berubah sikap saat K membisikkan kata tersebut.


Sesuai dengan ucapan Federick, pria yang memakai rantai di saku celananya ini lalu memberikan isyarat agar K mengikutinya.


Mereka berdua berjalan memasuki hutan lebat yang saking lebatnya, beberapa kali K harus melepaskan diri dari sulur-sulur tanaman yang tumbuh subur di tanah.


"Siapa yang memberitahumu tentang Stein?" tanya pria itu memecah keheningan.


"Seorang teman."


"Hmm.. Kurasa dia bukan teman sembarangan mengingat tak banyak yang tahu tentang ini."


Tak berapa lama mulailah terlihat satu keramaian yang berada beberapa meter di depan mereka.


(Sebuah pasar di dalam hutan?)


Mereka berdua berjalan membelah keramaian sampai tiba di sebuah bangunan kecil dengan cat kusam. Bahkan saking kusam nya K mengira bahwa tempat tersebut bekas terbakar.


Kriett..


K begitu terkejut saat ternyata isi dari bangunan itu lebih luas dari yang terlihat di luar.


Pria yang bersama dengan K lalu mengarahkan jari telunjuknya pada suatu tempat dimana terdapat seorang pria yang terlihat tengah mengelap sesuatu.


"Itu Stein."