
"Berani sekali kau.."
K seketika menghentikan ucapannya. Dia bingung mengapa dia begitu marah terhadap pria ini hingga mendorong Arnold dan menahan lehernya dengan lengannya yang kuat.
Arnold pun tak kalah kaget mendapat serangan tersebut.
"T-tunggu tuan! Ap-apa kita saling mengenal?! Apa pu-pula salahku?!"
Sontak K melepaskan pria itu.
(Apa yang sedang kulakukan?!)
"Kau.. baru saja akan di sengat oleh lebah jika tidak segera ku dorong."
"Lebah?"
Arnold melihat sekeliling dan memang ada seekor lebah yang terbang menjauh.
Namun sebenarnya hewan itu bukanlah lebah melainkan sebuah alat komunikasi antara dirinya dengan Q, berbentuk menyerupai lady bug, dan Q menamai alat itu 'elf'.
K sengaja menerbangkan elf untuk mendukung alasan atas perbuatannya terhadap Arnold supaya pria itu tidak curiga.
"Baiklah.. Aku sangat berterima kasih padamu tuan. Namun lain kali bisakah kau mengurangi tenagamu itu? Hampir saja aku tak bisa menghirup udara lagi!"
"Maaf."
K lalu menepuk-nepuk bahu Arnold dan berlalu pergi meninggalkan toko.
Sepanjang perjalanan K terus memikirkan perbuatannya tadi hingga tak terasa K sampai di depan sebuah bangunan terbengkalai di pinggir kota.
K langsung memanjat sebuah pohon ketika melihat dua orang keluar dari dalam sana.
Yang lebih mengejutkan lagi, Q pun tengah berada di pohon yang sama. Gadis itu duduk manis sambil memakan roti yang tadi diberikan oleh Arnold.
"Kau?! Hmm..!"
"Sstt! Suaramu itu bisa membuat pengintaian ku sia-sia, Tuan K!"
K pun hanya mengerutkan dahi sambil mulai mengunyah roti yang dijejalkan Q ke mulutnya. Keduanya kini fokus mendengarkan percakapan dari dua orang yang sepertinya tengah berdebat.
"Pelankan suaramu! Bagaimana jika ada Astorian yang mendengar?!"
"Aku tidak peduli! Aku lelah harus selalu menuruti keinginannya yang makin hari makin tak masuk akal!"
"Kenapa sekarang kau merengek seperti bayi?! Kau sudah menerima berkeping-keping emas darinya! Sudah sepantasnya kau melakukan apapun yang dia minta sebagai gantinya, bukan?! Jadi hentikan rengekan mu itu sebelum ku sobek mulutmu!"
Keduanya pun hening sejenak.
(Dia? Siapa 'dia' yang mereka maksud?)
"Huft.. Baiklah maafkan aku. Aku hanya tak mengerti jalan pikiran pria itu."
Pria yang satu lagi pun menepuk bahu temannya sambil tersenyum. Dia lalu mengeluarkan sebuah foto dari dalam saku.
K menyipitkan matanya untuk melihat wajah yang ada di foto itu. Namun dia hanya berhasil melihat kumis nya saja.
Saking fokusnya terhadap foto, K bahkan melewatkan pembicaraan kedua pria itu hingga mereka pergi.
K pun baru menyadari perubahan ekspresi Q saat menoleh ke arahnya. Gadis itu tampak serius namun masih tetap sibuk memakan rotinya yang tinggal sepotong.
"Nona Q?"
"Tuan K.. Entah yang mana yang akan mereka bunuh kali ini. Namun dari tiga wajah yang tercetak di foto itu, aku yakin melihat Tuan Edzard di salah satunya. Dan jika memang pria itu yang sedang mereka buru, maka tentu aku tak akan tinggal diam."
(Dia menghawatirkan pria yang selama ini menahannya di penjara? Mengapa dia begitu sulit ditebak?)
"Baiklah.."
K lalu melompat turun dari pohon setelah memberikan Q secarik kertas. Diapun menoleh kembali ke arah Q yang masih berada di atas.
"Setelah kau selesai dengan urusanmu, pergilah ke tempat itu dan temukan sesuatu di sana."
Q pun membaca sobekan koran yang diberikan oleh K.
"Zoya? Pabrik pembuatan minuman keras?"