
"Bagaimana?"
"Kondisinya memang belum stabil. Namun jika mendapatkan perawatan yang baik, dia akan pulih dengan cepat. Jadi kau tidak perlu kuatir, Tuan Federick."
Komandan militer Astoria itupun mengangguk. Dia lalu meminta Arnold untuk bermalam beberapa hari di rumahnya agar dapat memantau kondisi Josh.
Beberapa jam lalu Federick terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara auman di luar rumah.
Dia pun semakin terkejut ketika melihat sosok yang sudah familiar baginya belakangan ini tengah menurunkan sesuatu dari punggungnya yang besar.
Dengan mengabaikan sejuta pertanyaan yang saat itu memenuhi kepalanya, Federick lantas segera membawa masuk tubuh Josh yang baru saja diantarkan oleh Lynn lalu menelepon satu-satunya orang yang terlintas di pikirannya.
"Sebenarnya, Tuan Federick.."
Arnold pun menyerahkan selembar catatan yang berisi beberapa resep obat pada sang komandan sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Apa yang sedang terjadi di Astoria?"
"Tidak ada."
"Sungguh? Tapi berdasarkan dari pengamatan ku, mengapa aku merasa bahwa Astoria dalam bahaya?"
"Itu hanya perasaanmu saja."
"Bom, pembunuhan para prajurit, dan penyerangan terhadap dirimu yang merupakan komandan militer Astoria. Apa kau masih akan meyakinkan ku bahwa itu cuma perasaanku saja, Tuan Federick? Apa aku terlihat seperti seorang pria yang tidak bisa membaca situasi?"
Federick pun menghela napas panjang sambil memperhatikan Josh yang masih belum sadarkan diri.
"Apapun yang sedang terjadi, aku hanya bisa mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja."
"Benarkah? Mengapa kau seyakin itu? Apa ini ada hubungannya dengan kehadiran Nona Q dan pria menyebalkan yang selalu bersamanya?"
"Sebenarnya Tuan K tak terlalu menyebalkan setelah kau mengenalnya lebih jauh, Arnold."
Zoologis itupun menggelengkan kepala. Dia pada akhirnya duduk tenang sambil menyeruput kopi yang telah tersedia karena tak ada satu pun dari pertanyaannya dijawab dengan benar oleh Federick.
Namun Arnold tetap teguh pada keyakinannya bahwa bahaya besar tengah mengintai negeri yang saat ini sedang dia kunjungi.
Keyakinan tersebut semakin bertambah kuat ketika seseorang datang secara tiba-tiba melalui balkon.
"Kau.."
"Tolong.."
Brug!
Tenaga terakhir K pun lenyap. Tubuhnya yang berlumuran darah roboh setelah memastikan bahwa Q yang juga berlumuran darah telah dia baringkan secara lembut di lantai.
"Ya Tuhan!"
**
Sudah dua hari Arnold bermalam di rumah Federick. Selama itu pula dia berusaha menyelamatkan nyawa K dan Q dengan peralatan yang terbatas.
Arnold telah berhasil menghentikan pendarahan hebat di kepala K setelah mencabut sebuah plat besi yang menancap di tengkoraknya.
Dia kini beralih untuk berusaha menyambung tulang di bahu Q yang patah.
Sebelah mata Q pun robek dan untungnya tidak sampai membuat luka yang fatal bagi penglihatan gadis cantik itu.
Arnold lalu mencium tangan Q setelah membalut perban di bahunya. Tangannya yang lain juga mulai membelai pipi Q dengan lembut.
"Aku memang memintamu untuk datang menemui ku kapanpun saat kau terluka. Tapi aku tak menyangka kau akan menemui ku dengan kondisi yang memilukan seperti ini, Nona Q. Apa yang sebenarnya sedang kau dan pria itu lakukan hingga kalian harus bertaruh nyawa?"
Dengan mata yang berkaca-kaca Arnold kembali mencium tangan Q.
Kenyataannya ketertarikan Arnold terhadap gadis cantik itu telah berubah menjadi cinta walaupun mereka baru saling mengenal.
Sungguh melihat keadaan Q yang berdarah-darah telah membuat Arnold menjadi patah hati.
Dia lalu berdiri setelah mendengar suara pintu yang terbuka.
"Bagaimana? Apa mereka bisa pulih seperti sediakala, Arnold?"
Pertanyaan Federick itupun memancing kemarahan Arnold yang serta merta menarik kerah baju pria itu.
"Demi Tuhan! Jika kau tak memberitahuku apa yang sedang terjadi, maka aku akan membunuhmu!"