
Mata tua itupun terbelalak. Perlahan Federick mengambil liontin yang dipegang oleh K.
"Darimana kau mendapatkan liontin ini?"
K dan Q saling bertatapan. Mereka menyadari bahwa liontin itu adalah sebuah pemicu dibalik perubahan sikap Federick yang matanya kini tengah berkaca-kaca.
"Darimana, Tuan K?"
"Dari seorang pria yang telah kubunuh. Kenapa? Melihat reaksimu sepertinya kau tak asing dengan liontin itu, Tuan Federick?" ucap Q.
Federick pun lantas terduduk di atas tanah. Sambil masih mengamati liontin yang dia pegang, pria setengah baya itupun berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya.
"Ini milik istriku, Vivian."
"Apa?"
"Tunggu sebentar! Liontin itu milik istrimu? Jadi maksudmu kalian berdua sama-sama anggota dari Salvador?"
Walau K belum menceritakan situasi apa yang tengah terjadi sekarang, Q sudah bisa menebak mengapa rekannya begitu marah terhadap Federick.
"Tuan K aku sama sekali tak mengerti dengan maksud dari ucapanmu! Dari tadi kau bicara seolah aku adalah bagian dari Salvador! Bahkan setelah melihat liontin inipun kau juga menuduh istriku sebagai bagian dari Salvador juga?! "
"Biar aku saja yang menjelaskan, Tuan K."
Q segera menahan tubuh K yang sudah akan menghampiri Federick.
Gadis itu tahu bahwa amarah sang rekan kembali memuncak sehingga jika tak diredam, masalah liontin beserta keterkaitannya dengan Salvador tak akan mendapatkan jawaban yang pasti.
Q lalu duduk di depan Federick. Dia mengambil kedua liontin dari tangan Federick kemudian membalik liontin itu sehingga terlihatnya bagian belakangnya.
"Bagaimana? Kau melihat sesuatu?"
"Tidak."
Q lalu mengambil senter kecil dan menyorot bagian belakang liontin untuk memperlihatkan sesuatu ke komandan Astoria tersebut.
"Kalau sekarang bagaimana?"
"Nah, itulah yang membuat Tuan K berpikir bahwa kau dan istrimu adalah bagian dari Salvador. Sebuah ukiran kepala naga yang begitu samar tercetak di belakang liontin ini yang rupanya dimiliki oleh kalian berdua. Tapi karena Tuan K lebih banyak bertindak daripada bicara, dia jadi kesulitan untuk menjelaskan hal ini padamu sehingga hanya amarah lah yang dia tunjukkan."
"Aku sungguh tidak tahu ada hal semacam ini di liontin yang diberikan padaku dan Vivian! Aku bersumpah kami berdua bukanlah bagian dari Salvador!"
"Lalu siapa yang memberikannya padamu?"
"Entahlah.. Pada saat hari ulang tahun pernikahanku, sepasang liontin itu dikirimkan ke alamat rumah kami melalui pos dengan pengirim anonim."
**
Suasana kembali hening di tempat persembunyian K dan Q setelah Federick kembali ke kantornya.
Q melirik ke arah K yang memasang ekspresi serius sambil menggenggam dua liontin di tangannya.
(Wajah itu semakin tampan saat serius seperti ini)
Q pun menghela napas panjang. Dia lalu bermaksud untuk membuka pakaian bagian atasnya yang membuat K terkejut bukan kepalang.
"Ke-kenapa kau membuka pakaianmu?! Pakai kembali!"
Q menoleh ke arah K yang kini wajahnya berubah memerah. Pria tampan itu bahkan memalingkan wajahnya yang walaupun Q tak dapat melihat wajah K, dia tahu bahwa sang partner menahan malu karena rona di wajah tampannya tersebut menjalar sampai ke telinga.
Namun bukan Q namanya jika dia tak menggoda K setelah melihat betapa menggemaskannya tingkah pria itu saat malu. Dia semakin menurunkan lengan bajunya sehingga segera terlihat kulit putih bersih dari lengan gadis itu.
"Cuaca hari sangat panas. Ditambah lagi aku banyak berkeringat setelah menari. Bukankah aku harus melepas pakaianku agar tubuhku terbebas dari kuman?"
"Naikkan kembali lengan bajumu, Nona Q!"
"Ahaha.. Tidak mau."
"Kau sungguh.."
K langsung bangkit dari duduknya. Namun sebelum pria itu berhasil meraih Q untuk menaikkan lengan baju gadis itu, K langsung membalikkan tubuhnya kembali ketika Q benar-benar melepaskan baju yang dia pakai begitu saja.
(Astaga!)