
K pun memperhatikan bagaimana dadanya kini sudah terbalut perban putih. Beberapa meter di samping pria itu juga terdapat selembar kain tempat dimana peluru yang sempat bersarang di tubuh K berhasil dikeluarkan.
Pandangan K lalu tertuju pada kain berwarna merah yang K yakini adalah benda yang membalut luka sebelumnya dan tentu saja sobekan kain itu mengingatkan K dengan si empunya.
"Kau sudah memeriksa luka Nona Q?"
"Nona Q juga terluka?"
"Sepertinya begitu. Aku ingat sempat melihat darah di bahunya. Apa kau tidak menyadari hal itu saat dia membawaku ke tempat ini?"
"Siapa itu Nona Q?"
Mengabaikan pertanyaan dari Arnold, Federick mencoba mencerna maksud dari perkataan K.
"Tentu aku akan langsung menyuruh Arnold untuk melakukan perawatan terbaik terhadap Nona Q jika dia terluka. Masalahnya adalah dia tidak kembali bersamamu, Tuan K."
"Hah? Maksudmu dia belum kembali sejak dua hari yang lalu?"
"Benar."
K lalu mengeluarkan sebuah alat untuk melacak posisi Elf. Dia berpikir mungkin bisa menemukan Q dengan melacak Elf mengingat terakhir kali benda itu dibawa oleh sang rekan.
"Perbatasan Mounte?"
Sontak K bangkit dan segera memakai bajunya. Dia bahkan mengabaikan nyeri yang masih bisa dia rasakan pasca operasi.
"Tunggu!"
Langkah K terhenti saat Arnold menghadangnya. Tampak pria itu mengejar K yang sudah berjarak cukup jauh dari kandang kuda dengan susah payah.
Terlihat Arnold berlari sekuat tenaga dari bahunya yang naik turun diiringi dengan napas yang terengah-engah.
"Nona Q yang sedari tadi kau dan Tuan Federick bicarakan itu apakah nona bermata biru? Si cantik yang kapan hari merajuk gara-gara ulahku?"
K tak menjawab satupun pertanyaan dari Arnold. Dia hanya menatap tajam lawan bicaranya hingga membuat Arnold salah tingkah.
"Ijinkan aku ikut denganmu!"
"Tidak."
"Ayolah.."
K lantas menarik kerah baju Arnold. Entah mengapa dirinya sangat marah saat Arnold membicarakan tentang Q.
Terlebih lagi mata pria itu berbinar yang membuat semua orang akan langsung tahu bahwa dia menyukai orang yang sedang dibicarakan.
Arnold yang sebenarnya takut dengan K justru tak mau mengalah. Dia kesampingkan rasa takut itu demi ikut mencari Q.
"Wow! Situasi macam apa ini? Tenang saudara-saudara.."
Federick lantas melepaskan cengkeraman K dan tanpa menunggu lebih lama lagi, pria tampan itupun pergi.
"Apa masalahnya?! Aku hanya ingin membantu!"
"Sungguh? Benar-benar membantu atau karena kau tertarik dengan Nona Q?"
"A-aku.."
"Aku tak akan menyalahkan mu karena gadis itu memang mempesona. Masalahnya adalah kau menunjukkan ketertarikan mu itu di depan pria yang juga tertarik pada Q. Yah.. Walaupun dia tak menyadari hal itu.."
**
K memandang tanah becek di tepi sungai. Dia lalu menghela napas panjang sambil memungut sesuatu.
"Elf."
Pria itu melihat sekeliling. Sepanjang mata memandang, hanya terdapat para pedagang dan pembeli yang beraktifitas di pinggiran sungai dan tak ada tanda-tanda sedikitpun akan keberadaan Q.
"Gila! Kau bisa menjadi orang kaya jika menjual benda ini ke kolektor perhiasan!"
"Benar! Betapa beruntungnya dirimu!"
"Apanya yang beruntung! Aku harus mengembalikan sisanya pada gadis itu!"
"Mengembalikan? Aku tidak mengerti maksud ucapanmu!"
"Hah.. Jadi ada seorang gadis gila yang membeli kapalku dan dia memberikan ini untuk membayarnya. Masalahnya harga kapalku hanya 50 keping emas. Sedangkan mutiara-mutiara ini setara 1000 keping emas!"
"Kalau begitu kau tidak perlu mengembalikan sisanya."
"Benar! Salah sendiri kenapa dia langsung pergi begitu saja."
"Argh! Apa kalian tak mendengar kata-kataku tadi?! Dia itu gadis gila! Aku berusaha menipunya dan lihatlah! Tulang pipiku hampir berlubang karena tiba-tiba dia melemparkan pisau ke wajahku! Kalau aku tak mengembalikan sisanya, mungkin kali ini benar-benar akan ada lubang di wajahku!"
"Dan jika kau tidak mengatakan kemana arah gadis itu pergi, maka lehermu yang akan berlubang."
Ketiga pedagang kapal itu sontak terdiam terutama pedagang yang mendapat mutiara hitam dari Q dimana K telah menodongkan pisaunya di leher pria itu.