
"Oh, ini?"
Q pun memperhatikan lengannya yang dipenuhi oleh darah.
"Jangan kuatir, Tuan K. Ini hanya darah."
"Justru karena itu darah makanya aku.."
"Apa?"
"Lupakan."
Q lantas tersenyum jahil. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan gadis itu untuk selalu menggoda K di situasi apapun bahkan dalam keadaan bersimbah darah seperti sekarang.
Srak!
Baik K maupun Q langsung waspada mendengar suara itu. Mereka berdua semakin terkejut ketika tahu apa yang membuat suara berisik tadi.
"Wow.. wow.. Tenang saudara-saudara.."
Dengan tangan yang terangkat di atas kepala, Arnold pun muncul dari semak-semak. Senyum di bibir pria itu seketika lenyap ketika melihat kondisi Q.
"Astaga! Bagaimana kau bisa terluka seperti ini, nona?!"
"En.. tahlah.." jawab Q.
Q tak tahu bagaimana cara menjawab pertanyaan dari Arnold tersebut. Kemunculan pria itu yang secara tiba-tiba praktis membuatnya bingung sehingga hanya kata-kata terbata tersebutlah yang keluar dari bibirnya.
"Kau mengikuti ku?"
Suara dingin K lantas mengalihkan perhatian Q dan Arnold. Dari sorot mata K, terlihat jelas bahwa pria itu tak senang dengan kehadiran Arnold.
"Bagaimana kelihatannya?"
"Pergi."
"Dan jika aku menolak?"
K lantas memungut pistol dari pria tak bernyawa yang tergeletak di atas tanah. Pistol itupun tertuju ke arah Arnold dimana dia justru menempelkan dahinya tepat di depan moncong pistol.
"Dengan begini kau bisa membunuhku lebih cepat, bukan?"
(Situasi macam apa ini?!)
Sebelum keadaan semakin tak terkendali, Q pun lantas memegang pistol K dan menurunkannya dari wajah Arnold.
"Baiklah tuan-tuan. Aku tak tahu apa yang telah terjadi diantara kalian berdua sebelumnya. Tapi bisakah kita sudahi dulu perseteruan ini untuk sekarang? Entah mengapa tangan dan tubuhku mulai terasa perih."
"Bagian mana yang terasa perih, nona? Biar kuobati."
K pun menatap Q dengan tajam. Dari sorot mata abu-abu itu, K seolah berkata bahwa keberatan dengan interaksi yang ditunjukkan oleh Q dan Arnold.
Q pun tersenyum jahil yang justru membuat K semakin kesal. Pria itu lalu melemparkan sesuatu ke arah rekannya.
"Mutiara? Kau baru memancing?" tanya Q tanpa membuka isi kantong itu.
"Sepertinya temanmu tak menyukaiku, nona."
"Hmm.." jawab Q sambil mengangguk.
Arnold pun memandang Q dengan seksama. Mata biru yang dipadukan dengan lesung pipi saat Q tersenyum sungguh berhasil menghipnotis Arnold.
"Bagaimana bisa ada makhluk secantik ini?"
"Apa kau tak pernah melihat makhluk cantik lain sebelumnya?"
"Pernah. Tapi tak satupun dari mereka yang seindah dirimu."
"Ough!"
Q mengerang kesakitan saat tiba-tiba K menarik tangannya untuk menjauhi Arnold. Hal tersebut tentu membuat suasana antara dirinya dan Arnold kembali memanas.
"Berhenti bertele-tele dan segera pergi dari sini!"
"Apa masalahmu?!"
"Kau!"
"Kau tak suka dengan kehadiranku atau kau cemburu melihat kedekatanku dengan Nona Q?!"
(Cemburu?)
"Cemburu? Bagiku cinta tak diperlukan dalam perang."
Deg!
Suara K yang tadinya meninggi, kini kembali menjadi datar dan dingin. Pria tampan tersebut lalu menoleh ke arah Q.
"Kita belum menemukan bahkan secuil petunjuk pun yang lebih dekat dengan tujuan kita, Nona Q. Aku bisa mentolerirnya jika itu dikarenakan oleh dirimu yang sedang terluka. Tapi aku tak bisa memberikan toleransi yang sama jika dikarenakan oleh orang lain yang tidak ada hubungannya dengan misi ini. Aku harap kau paham maksud dari ucapanku."
"Tentu Tuan K. Aku paham semua kata-katamu, semuanya.."
Ada sedikit penekanan suara saat Q mengucapkan kata 'semuanya'.
Bukan karena berbaris-baris kata yang baru saja K ucapkan, melainkan sebuah kalimat yang diucapkan oleh K sebelumnya yang membuat hati gadis itu sedikit sesak.
"Seperti katamu, Tuan K. Cinta tak dibutuhkan dalam perang. Jadi jangan kuatir.. Aku akan selalu mengingat kalimat itu dan kau akan lihat sosok seperti apa aku saat berada di medan perang."
Q menatap K lekat-lekat sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Arnold. Gadis itupun lalu tersenyum.
"Dan untukmu tuan.."
"Arnold."
"Benar, Tuan Arnold. Aku sangat berterima kasih atas bantuanmu. Tapi kuharap kau bisa lebih membantuku lagi dengan tetap berada di Mounte. Dengan begitu aku tahu bahwa orang yang telah membantuku hari ini berada di tempat yang aman. Bisa kau kabulkan permintaanku ini?"
Arnold pun menghela napas dalam. Dia lalu meraih tangan Q dan menciumnya.
"Sesuai permintaan."